One Night Stand With My Uncle

One Night Stand With My Uncle
Bab 43. Red lamp dari Aiden



Axel terdiam mendengar apa yang ditanyakan oleh Aiden. Dia tidak bisa menjawabnya langsung, masalahnya Aiden masih kecil dan ini masalah orang dewasa. Namun seharusnya Xander atau Zeevana sudah memberitahu tentang ini bukannya menyembunyikannya. Bukankah ketika Aiden tau dari orang lain, itu akan sangat menyakitkan.


"Paman, aku mohon...aku bertanya pada paman karena semua orang tidak mau memberitahuku. Mommy, Uncle Xander, Grandma dan grandpa tidak mau memberitahuku--tapi aku harus tau." oceh Aiden seraya membujuk Axel untuk bicara.


"Maaf jagoan, tapi uncle tidak bisa memberitahu tentang ini. Dan kau tidak seharusnya tau." kata Axel sambil mengusap kepala Aiden.


"Kumohon uncle...aku janji tidak akan memberitahu tentang ini. Aku tidak akan mengatakan pada siapapun bahwa uncle yang bicara tentang ini! Aku akan merahasiakannya, jadi kumohon uncle." anak itu memelas ,membujuk Axel sekuat tenaganya. Dia ingin mengorek informasi tentang kedua orang tuanya dari orang lain, agar tidak ada yang ditambahkan atau di kurangi saat menceritakannya. Ya, begini juga bagus.


Axel tidak tega melihat wajah memelas Aiden, hatinya mulai runtuh.Namun dia juga tidak boleh sembarangan mengatakan tentang masa lalu kedua orang tuanya. Bukan haknya untuk mengatakan ini semua.


"Maafkan uncle Axel, uncle tidak bisa mengatakannya kepadamu."


"Paman, aku mohon...aku janji tidak akan marah, tidak akan memberitahukan ini pada siapapun juga bahwa aku tau semua ini dari paman." Aiden terus membujuk pria itu untuk mengatakan masa lalu kedua orang tuanya, terutama bagaimana mereka berpisah dulu.


Axel, CEO Rainer design itu mendesah kasar. Dia tidak tahu harus bagaimana. Akhirnya Axel menganggukan kepalanya seraya menyetujui apa yang diminta oleh Aiden. Dalam hitungan detik, senyuman terpatri di bibir anak laki-laki itu.


"Baiklah, uncle akan menceritakannya--tapi kau tidak boleh emosi dulu. Ini hanya cerita dari sisi uncle." ucap Axel.


"Oke." Aiden tersenyum dan mengangguk-anggukan kepalanya, anak laki-laki itu sangat semangat mendengar cerita tentang kedua orang tuanya. Ia ingin mengetahui kenapa kedua orang tuanya berpisah sangat lama. Padahal dia melihat bahwa pria yang mengaku sebagai ayahnya itu sangat mencintai ibunya.


Axelo pun menceritakan semua yang ia tahu tentang hubungan Zeevana dan Xander di masa lalu. Tanpa ada yang dilebihkan atau dikurangkan dalam cerita tersebut. Dari mulai hubungan Zeevana dan Xander yang bermula dari keponakan dan paman. Lalu tentang Tessa juga dibahasnya. Axel berharap bahwa ceritanya ini, tidak menimbulkan masalah yang besar.


Namun, saat Axel menceritakan kepada Aiden tentang sosok Tessa dan bagaimana perselingkuhan ayahnya dengan wanita ini. Rahang Aiden mengeras, dia tidak menerima sakit hati yang dirasakan oleh ibunya di masa lalu.


"Pantas saja mommy terlihat sangat membenci uncle Xander, dan sepertinya dia juga tidak menginginkan kelahiranku."cetus Aiden kecewa, dia menarik kesimpulan sendiri bahwa Xander tidak pernah menginginkan kehadirannya di dunia ini.


"Tidak Aiden! Bukan seperti itu, dia menginginkanmu--hanya saja saat itu dia masih menjalin hubungan wanita lain." Axel menangkap raut wajah Aiden yang kelam, matanya tampak nyalang penuh kemarahan.


"Tidak uncle Axel! Sekarang aku paham, dia tidak pernah menginginkan kehadiranku--itu sebabnya mommy marah. Karena dia tidak pernah mencintai mommy dan hanya mencintai kekasihnya itu! Aku juga tidak akan pernah menerimanya sebagai ayahku!"


Axel panik manakala dia melihat kemarahan Aiden yang begitu menggebu-gebu, setelah diceritakan tentang masa lalu kedua orang tuanya.Tidak! Bukan ini maksud Axel menceritakan semuanya.


Shittt! Seharusnya aku tidak pernah menceritakan tentang semua ini.


Seketika sesal lihat di wajah Axel, dia menyesal karena sudah memberitahukan kepada Aiden tentang masa lalu kedua orang tuanya. Niat hati bermaksud baik, tapi Aiden sudah keburu emosi.


"Aiden tenanglah..."


"Aku akan bertanya pada mommy dan pria itu nanti!" geram Aiden yang enggak menyebut Xander dengan namanya, tapi dengan kata 'pria itu'.


****


Di cafe tempat Xander dan Zeevana bertemu. Kedua insan yang masih terikat dengan tali suci pernikahan itu, kini terlihat duduk saling berhadapan di sebuah meja eklusif, memiliki pemandangan yang paling indah di cafe tersebut.


Xander tau bahwa Zeevana sangat menyukai pemandangan yang bernuansa air. Contohnya cafe tempat mereka bertemu saat ini, memiliki pemandangan air. Ada kolam ikan disana. Pria itu datang lebih dulu dibandingkan dengan istrinya, dia sengaja ingin menunggu Zeevana. Ia datang setelah melihat hasil tes DNA antara dirinya dan Aiden yang diberikan oleh Fredy. Memang tanpa tes DNA pun dia sudah tau bahwa Aiden adalah darah dagingnya.


"Sayang, apa kau habis menangisi?"tanya Xander kepada Zeevana begitu wanita itu duduk di hadapannya. Xander bisa melihat manik mata berwarna biru itu merah dan sembab.


"Tidak, aku baik-baik saja. Daripada itu--Aku ingin membicarakan masalah perusahaan Satigo."


Seketika Xander menjadi negatif thinking saat Zeevana mengatakan tentang Satigo. Ia berpikir apakah gadis itu baru bertemu dengan Dave? "Zeevana, apa tadi kau bertemu dengan si bajingan itu?"


"Istrinya menemuiku, bukan dia." jawab Zeevana memperjelas.


"APA? Lantas--dia membuatmu menangis?" tanya Xander lirih. Suara yang tadi sempat meninggi itu tiba-tiba menjadi rendah.


"Tapi aku masih ingin membahasnya--apa dia membuatmu menangis? Jawab aku!" Bukan Xander namanya bila dia tidak memperpanjang masalah. Entahlah, dulu wanita itu mengenal sosok Xander sebagai paman yang baik dan lemah lembut. Tapi sekarang sikapnya berubah.


"Bukan dia." desah Zeevana kesal.


"Lalu siapa yang sudah membuat air matamu menetes? Siapa?!" sentak pria itu penasaran.


"Kau."


Jawaban itu sontak saja membuat Xander kontan menatap wanita didepannya dengan retoris. Apa dia salah dengar? Tidak, dia yakin bahwa Zeevana mengatakan kau. Tatapan keduanya terkunci dalam beberapa saat, kemudian Zeevana pun kembali fokus pada tujuan utamanya bertemu dengan Xander.


"Sekarang berhenti membahas hal tidak penting itu dan mari kita bahas tentang Satigo grup." ucap Zeevana lugas.


"Kau menangis--itu hal yang penting untukku." decak Xander pelan. Namun Zeevana masih bisa mendengarnya. Dan wanita itu tidak peduli.


"Berhentilah bergumam! Kita akan membahas hal penting disini, tentang rumah tangga seseorang yang terancam karena ulahmu!" seru Zeevana menumpahkan kekesalannya.


'Taukah kau Xander? Setiap kali melihatmu kadang aku merasa kesal, kadang aku rindu, kadang aku merasa ingin memelukmu, kadang aku luluh padamu seperti semalam. Tapi--egoku mungkin terlalu kuat, atau rasa sakit ku' batin Zeevana yang lagi-lagi campur aduk saat melihat Xander.


"Rumah tangga siapa yang terancam?" tanya Xander.


Wanita pun menjelaskan permasalahan Joana dan Dave, ia meminta Xander untuk mengembalikan perusahaan orang tua Dave agar rumah tangga kedua orang itu bisa tetap bertahan. Tapi Xander tidak mau, dia menolak untuk memenuhi permintaan Zeevana.


"Aku tidak bisa."


"Uncle!" serka Zeevana.


"Jika kau menemui ku hanya membicarakan masalah rumah tangga orang lain--lebih baik jangan bicara." pria itu beranjak dari tempat duduknya.


Zeevana ikut berdiri juga, ia merasa kasihan pada Joana yang sudah memohon padanya. Percayalah sekeras apapun hati Zeevana, dia tetap seorang wanita, seorang ibu yang memiliki hati lembut.


"Jika kau menolong Joana, maka aku akan mempertimbangkan rumah tangga kita!" cetus Zeevana yang membuat pria itu menoleh ke arahnya, menelisik berusaha mencari kebohongan di wajah Zeevana. Namun Xander tidak menemukannya. Xander berjalan mendekati Zeevana.


"Kau tidak bohong kan?"


"Iya, aku serius. Tapi kau jangan terlalu percaya diri, ini aku lakukan demi Aiden. Demi anak kita." seloroh wanita itu.


Tertarik dengan tawaran Zeevana tentang hubungan rumah tangga mereka. Xander seperti mendapatkan green light dari gadis itu. "Kalau begitu, mati kita kembali duduk dan berbincang...Mrs. Dacosta." Xander tersenyum.


"Jangan tersenyum, aku muak!" peringat Zeevana sinis.


"Aku bahagia, tentu aku tersenyum. By the way, kau sangat manis ketika marah." puji Xander menggoda.


****


Malam itu Zeevana dan Xander pulang bersama, Aiden tampak berada di luar seperti sedang menunggu kedatangan mereka berdua. Aiden dapat melihat wajah Xander yang berseri-seri, sementara Zeevana tampan datar seperti biasa.


"Aiden...kau belum tidur?" tanya Xander seraya mengusap pipi Aiden, akan tetapi dengan cepat anak laki-laki itu menepisnya.


"Aku benci paman! Tidak akan aku biarkan kau kembali pada mommyku! Tidak AKAN!" ujar Aiden secara tiba-tiba dan membuat Zeevana Xander terkejut bukan main.


Zeevana telah memberikan lampu hijau dan red lamp dari Aiden. Xander bingung sendiri, padahal hubungan mereka baik-baik saja ia rasa, tapi kenapa jadi begini?


...****...