One Night Stand With My Uncle

One Night Stand With My Uncle
Bab 17. Bad dream



...πŸ€πŸ€πŸ€...


Laura kaget dan cemas, melihat Zeevana menangis tergugu dan meminta padanya untuk membawa ia pergi dari sana, jauh dari suaminya.


"Zee, ada apa? Apa paman Xander mengacuhkannya lagi?" tanya Laura pada wanita itu, seraya memegang tangannya.


"Bukan hanya itu saja--Laura." Zeevana menggeleng.


"Lalu ada apa sehingga kau ingin jauh darinya? Apa dia berselingkuh?" tebak Laura asal-asalan. Dan ternyata reaksi Zeevana membenarkan semuanya.


"Zee, apa itu benar? Dia selingkuh dengan siapa??" tanya Laura sembari menggigit bibir bagian bawahnya. Antara percaya dan tidak.


"Kak Tessa, uncle kembali berhubung dengannya. Bahkan...bahkan...hiks..." Zeevana tidak sanggup lagi mengatakan semuanya pada Laura, sebab hatinya sudah terlalu sakit dengan dibohongi sebesar ini. Lukanya sudah terlalu dalam.


Laura menarik Zeevana ke dalam pelukannya. Ia tidak percaya bahwa semua dugaannya benar. Xander bukan belum membuka hatinya, tapi di hatinya memang masih ada cinta masa lalunya dan malah menyakiti Zeevana yang tidak bersalah. Laura pun mengambil keputusan dan membawa Zeevana pergi dari sana untuk sementara waktu. Tidak pergi jauh, hanya ke apartemennya saja untuk menenangkan diri. Itu karena Zeevana tidak mau keluarganya tau tentang masalah ini. Jujur, ia bingung harus menjelaskannya bagaimana lagi. Ia ingin berpisah, tapi ia berusaha menemukan alasan yang tepat. Zeevana tak mau Xander di salah-salahkan dan biarlah perselingkuhannya, tidak di ketahui oleh pihak keluarga.


******


.


15 menit kemudian..


Xander kembali ke rumah sakit setelah membawa makanan yang dipesan oleh Zeevana. Namun alangkah kagetnya dia begitu melihat di ruang rawatnya tidak ada siapa-siapa. Laura, maupun Zeevana tidak ada disana.


"Sayang...kau ada dimana? Zee... Zeevana!" Xander mulai panik, ia pun berlari keluar dari ruangan itu untuk mencari istrinya. Xander berlari sambil menghubungi nomor Zeevana dan Laura, namun ponsel dia wanita itu tak aktif. Ditengah kepanikannya ia malah bertemu dengan Tessa disana.


"Xander sayang, aku mau bicara." kata Tessa seraya memegang tangan Xander. Pria itu menepisnya dan berlari pergi. Tapi Tessa tidak tinggal diam, dia mengejar Xander.


"Xander tunggu! Kalau kau tidak mau berhenti...aku akan sebarkan video dan--"


"Terserah kau saja! Karena mu istriku pergi, kau sudah membuat semuanya hancur. Aku tidak akan menyakitinya lagi, aku akan jujur tentang semuanya! JADI JANGAN MENGGANGGUKU LAGI, TESSA!" teriak Xander dengan rahang mengeras, pria itu murka. Ditengah kepanikannya, dia murka dan dia lelah harus selalu menuruti Tessa. Sudah cukup, ia putuskan untuk jujur pada Zeevana. Dia tidak mau menyembunyikan kebenaran lebih dalam dan semakin menyakiti istrinya. Setelah mengucapkan semua itu pada Tessa, Xander berlari pergi dari sana untuk bertanya kepada beberapa orang di rumah sakit tentang Zeevana yang pergi.


"BAIK! Kalau itu maumu, aku akan sebarkan video ini!" kata Tessa kesal tapi sayang perkataannya tidak terdengar oleh pria itu yang sudah pergi jauh. "Baik...tidak masalah aku tidak memilikimu lagi, yang penting kau harus hancur Xander! Terutama wanita pelakor itu!" seru Tessa seraya tersenyum menyeringai, matanya penuhnya dendam. Dia mengambil ponselnya lalu mengetik sesuatu yang entah apa disana.


****


Disinilah Zeevana berada, di apartemen Laura yang lokasinya cukup jauh dari apartemennya maupun rumah sakit tempatnya di rawat. Laura menyiapkan makanan untuk Zeevana dengan perhatian, sebenarnya dia kasihan pada Zeevana. Wanita itu sudah berusaha menjadi istri yang baik untuk suaminya, berusaha bersikap dewasa meski usianya masih muda. Laura juga mengenal Zeevana sebagai pribadi yang penyabar diantara temannya yang lain. Namun untuk masalah perselingkuhan dan kebohongan, mana mungkin ia bisa sabar.


"Kau harus makan dulu Zee," ucap Laura seraya meletakkan mangkuk berisi sup ke atas meja. Dimana Zeevana tengah duduk di sofa depannya. "Maaf tanya ada sup saja, kau tau kan aku tidak bisa memasak." kata Laura lagi.


"Aku tidak mau makan." tolak gadis itu dengan wajah yang sangat masam. Menyiratkan luka mendalam.


"Zee, aku tau kau sedang marah. Tapi kau tidak bisa membiarkan anakmu kelaparan. Kasihan dia Zee," nasihatnya pada Zeevana.


"Kau benar juga, aku tidak boleh egois. Ada anakku di dalam sini, meski ayahnya sendiri tidak menginginkannya. Tapi--aku sayang padanya." ucap Zeevana polos seraya mengusap perutnya yang sedikit membuncit itu.


"Paman Xander pasti menginginkannya juga Zee, kau jangan bicara begitu." tukas Laura.


"Tidak, kalau dia menginginkan bayi ini--harusnya dia lebih perhatian padaku. Mungkin dia lebih ingin mempunyai bayi dari kak Tessa, itu sebabnya uncle sering menemuinya." tutur wanita itu miris.


Wanita itu pun makan supnya, walau mood sedang tidak baik. Tapi dia harus tetap memikirkan bayinya kan. Setelah makan dan menumpahkan kekesalannya dengan curhat pada Laura, Zeevana akhirnya tertidur di atas sofa.


"Paman, aku sudah mendengar semuanya dari Zee. Paman berselingkuh, benar?" tanya Laura kecewa.


"Itu..." Xander tidak mampu menjawab.


"Maaf paman, kalau aku terkesan ikut campur. Tapi Zee benar-benar marah kali ini. Jika aku jadi Zee, aku mungkin sudah mengadu pada orang tuaku. Tapi Zee tidak--dia tetap ingin menjaga perasaan keluarganya."


"Aku tau, aku salah...saat itu aku khilaf. Namun itu semua tidak dapat membenarkan semua yang aku lakukan, meski aku khilaf." ucap Xander penuh penyesalan. Seandainya ia bisa memutar waktu, ia akan memilih bersama istrinya daripada pergi ke reuni.


Mata Laura melotot. "Khilaf? Apa maksud paman? Apa paman sudah melakukan yang lebih dari--"


"Tidak! Bukan begitu!"


Sial! Xander hampir saja membongkar rahasianya sendiri. Dengan cepat ia menjelaskan, bahwa kekhilafan yang ia maksud adalah masih memiliki rasa pada Tessa, tidak lebih dari itu. Namun sekarang ia tidak memiliki perasaan apapun padanya. Laura sebenarnya sedikit tidak percaya dengan bantahan dari Xander. Tapi dia mencoba percaya saja, karena ia tau Xander tidak mungkin melakukan hal yang lebih dari itu. Selama ini ia mengenal Xander, sebagai pria dengan pribadi yang menjaga wanitanya.


"Kalau begitu, aku titip Zee...besok aku akan menjemputnya dan menjelaskan semua padanya." ucap Xander sebelum pergi meninggalkan apartemen itu.


"Iya paman dan semoga hubungan paman dan Zee, masih bisa dipertahankan." kata Laura berdoa dengan tulus. Menurutnya masih ada kesempatan kedua bagi setiap orang. Sepertinya Zeevana juga beranggapan yang sama, tapi entahlah kalau dia sudah tahu suaminya tidur bersama dengan wanita lain setelah mereka menikah.


****


Di pinggir jalan raya, terlihat Zeevana sedang berdiri sambil menangis. Savana melihatnya dari seberang. Savana hendak menghampiri putrinya, namun Zeevana berlari lebih dulu ke tengah jalan untuk datang padanya.


"Mom....aku ingin bersama mommy!" teriak Zeevana sambil berlari-lari.


"Tidak sayang, biar mommy saja yang kesana!" Savana hendak menyusul putrinya, namun sebuah mobil menabrak Zeevana hingga tubuhnya terpelanting, terguling cukup keras. Tubuh wanita itu berdarah-darah, terkapar diatas aspal. Pangkal pahanya juga mengeluarkan banyak darah.


Savana terkejut melihat putrinya, ia panik dan berlari menghampiri Zeevana. Lalu memeluknya. Zeevana menutup mata di dalam pelukan sang mama.


"Zee... Zee...sayang?!"


*****


"ZEE!! TIDAK!! TIDAK!!"


Javier terbangun dari tidurnya mana kalau ia mendengar suara istrinya yang menjerit-jerit memanggil nama putrinya. Benar saja, ia melihat sang istri tengah mengigau dengan wajah yang penuh peluh keringat.


"Baby, bangunlah...kau kenapa?" Javier menggoyang-goyangkan tubuh istrinya. Tak lama kemudian Savana terduduk dan langsung membuka matanya. Ia menangis, lalu memeluk suaminya.


"Hubby..."


"Ada apa sayang? Kenapa kau menangis dan memanggil-manggil nama Putri kita?" Javier membelai lembut rambut panjang sebahu istrinya. Ia cemas melihat istrinya begini.


"Aku bermimpi buruk, tentang putri kita...sayang, mari kita ke Paris...kita temui Zee!" seru Savana memohon pada suaminya. setelah mimpi barusan, ia sangat mencemaskan Zeevana.


"Sayang, belum lama kita pulang dari sana...sekarang kau sudah mau--"


"Kumohon hubby, ini firasat seorang ibu. Kumohon...kita kesana." pinta Savana pada suaminya dengan buliran air mata yang masih terus mengalir di wajahnya. Javier terlihat bingung dengan istrinya ini.


...******...