One Night Stand With My Uncle

One Night Stand With My Uncle
Bab 46. Menyerah?



...🍁🍁🍁...


Axel mulai kehilangan akal sehatnya, kesabarannya diambang batas. Hingga dia mencium bibir Zeevana yang selama ini dia inginkan. 6 tahun ia menunggu, tapi dia tidak bisa membuat gadis itu berpaling padanya. Nyatanya pemilik hati Zeevana adalah Xander.


BRUGH!


Axel yang tadinya sedang memeluk dan mencium bibir Zeevana, tiba-tiba jatuh karena pukulan dari seseorang. Zeevana terkejut ketika melihat suaminya yang berada disana. Xander datang dengan kemarahan di wajahnya. Terlihat pria itu memakai pakaian casual dengan kemeja 3/4 dan celana jeans yang tampak memperlihatkan jiwa mudanya.


"Uncle..." lirih Zeevana, ia bingung kenapa pria itu berada disana, harusnya dia ada di taman hiburan bersama Aiden bukan?


"Brengsek! Apa yang kau lakukan padanya BAJINGAN!" hardik Xander pada pria yang masih terduduk di lantai itu. Sudut bibirnya terluka akibat pukulan dari pria itu.


Xander menarik kerah baju Axel hingga pria itu kembali berdiri berhadapan. Tatapan Xander begitu tajam pada pria itu. "Kau--"


"Uncle, hentikan!" gadis itu memegang tangan Xander yang satunya, dia menghentikan Xander untuk tidak memukul Axel.


"TIDAK mau!" bantah Xander dengan tangan dengan siap memukul Axel yang sudah berani mencium bibir istrinya.


"Uncle please." pinta Zeevana yang masih memegang tangan Xander.


"Aku tidak akan membiarkan dia yang begitu lancang sudah menciummu!" seru Xander yang masih dikuasai emosi.


"Uncle ayo kita pergi!" ajak Zeevana yang berusaha mengalihkan perhatian Xander. Dia benar-benar takut Xander akan menyakiti Axel yang nantinya akan berujung maslahat berbuntut panjang. Zeevana tidak mau hal itu sampai terjadi.


Namun Xander masih dengan emosinya. Hingga Axel kembali menyulut api di hati pria itu. "Aku mencintai istrimu, aku mencintai Zeevana."


Kali ini Zeevana tidak dapat menahan bogem mentah Xander yang mengenai wajah Axel. Pria itu tersungkur ke meja yang ada di ruang rapat, sampai menimbulkan bunyi gaduh disana.


"Seharusnya kau begini dari dulu, Xander." gumam Axel sambil tersenyum, menunjukkan giginya yang berdarah-darah akibat ulah Xander.


"Apa kau bilang?"


"Dulu kau tidak begini, saat istrimu bersama pria lain kau acuh saja. Tapi sekarang kau merasakannya kan? Perasaan ini?" tanya Axel seraya menatap dalam pada Xander. Beberapa detik kemudian, Xander langsung paham apa yang dimaksud oleh Axel.


Axel berdiri lalu mendekati Zeevana dan Xander. "Kalian sudah saling mencintai, lalu apa peranku disini?" pria itu tersenyum getir, cinta yang selama ini ia simpan selama 6 tahun ternyata tidak akan pernah jadi miliknya. Ia sadar akan hal itu.


"Xander, jangan pernah menyakiti Zee lagi. Cintai dia sampai akhir hayatmu, berikan dia dan Aiden banyak cinta. Selama ini dia selalu mencintaimu, kau raja dihatinya." pria yang lebih tua satu tahun dari Xander itu menepuk pelan bahu Xander.


Xander dan Zeevana terkejut mendengarnya, mereka terdiam selama beberapa saat. Hingga akhirnya terlihat senyuman getir dengan air mata mengalir dari mata Axel.


"Padahal aku sudah kalah sejak awal, sebelum berjuang, tapi aku tetap saja berani. Maafkan aku Zee, maafkan aku Xander." lirih pria itu kepada Xander dan Zeevana.


"Pak Axel, kau--"


"Pergilah, bukankah kalian akan jalan-jalan bersama dengan Aiden? Aku tidak apa-apa, sungguh."


Xander tersenyum lalu memeluk Axel, rupanya pria itu langsung berubah sikap saat Axel mengatakan dia menyerah dan malah berbalik mendukungnya. Setelah melihat cinta di mata Xander dan kecemburuan yang besar dari pria itu, mana mungkin Axel tidak lemah.


"Terima kasih...terima kasih....mari kita berteman mulai sekarang." Xander tersenyum lebar mengajak Axel berteman.


...****...