
...πππ...
Pagi itu Laura terbangun di kamar apartemennya, saat ia dibangunkan oleh seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah asisten rumah tangga di apartemennya itu. Namanya Greta, wanita paruh baya itu selalu datang setiap pagi hari ke apartemen Laura untuk bersih-bersih, mencuci, atau memasak.
"Non...ini sudah siang, bukankah nona ada kuliah pagi?" tanya Greta pada nonanya yang baru saja membuka mata. Laura tidak langsung menjawab pertanyaan dari Greta, namun matanya mencari sosok wanita hamil yang semalam tidur bersamanya di atas ranjang tersebut.
"Zee pergi kemana? Kenapa dia tidak ada?" gumam Laura cemas. "Apa dia sudah dijemput paman Xander? Ah... tidak mungkin, kalau dia sudah dijemput pasti dia minta izin dulu padaku untuk pulang dan pasti tidak semudah itu baginya untuk pulang bersama paman Xander." gumamnya lagi pelan.
"Nona, nona mencari siapa?" tanya Greta yang terheran-heran melihat nonanya kebingungan seperti sedang mencari sesuatu.
"Bi, apa kau melihat Zee? Dia tidur bersamaku tadi malam." tanya Laura dengan kening yang berkerut.
"Nona Zee? Saya tidak melihatnya di sini, tapi tadi saya sempat melihat dia di lantai bawah apartemen." jelas Greta.
"Dia bersama siapa?"
"Saya lihat dia bersama seorang wanita dan masuk ke dalam mobil. Oh ya, wanita itu terlihat seperti artis dan dia sangat cantik." kata Greta menjelaskan lagi. Penjelasan Greta berhasil membuat Laura sangat terkejut, pasalnya ciri-ciri yang disebutkan oleh Greta seperti Tessa.
Kenapa Zeevana pergi bersama dengan Tessa pagi-pagi seperti ini? Mau apa? Mau kemana? Laura tidak bisa tinggal diam, dia akan menghubungi Xander saja. Firasatnya tidak enak.
Sementara itu Savana dan Javier masih berada dalam perjalanan menuju ke Paris. Mereka berangkat pukul 1 dini hari karena Savana ingin cepat sampai di Paris pada pagi harinya. Ya, perjalanan dari Chicago ke Paris dengan menggunakan pesawat terbang, membutuhkan waktu kurang lebih 7 jam.
****
Pagi itu, Tessa memang mengirimkan pesan kepada Zeevana untuk bertemu karena ia ingin bicara empat mata bersama wanita itu, tanpa diketahui oleh siapapun terutama oleh Xander. Kini mereka berdua pergi ke apartemen Tessa, disanalah Zeevana melihat banyak hal-hal yang tidak pernah dia ketahui tentang suaminya. Pertama-tama, ia baru tahu bahwa apartemen yang ditempati oleh Tessa adalah apartemen pemberian dari Xander. Kedua, di dalam apartemen itu banyak foto-foto mesra Tessa dan juga Xander.
"Benarkah--ini apartemen yang diberikan uncle padamu? Kenapa aku tidak tahu?" tanya Zeevana sambil menahan amarah yang sudah bergemuruh di dadanya.
"Aku pikir kau sudah tau, padahal dia selalu bilang padaku--kalau kau sangat dekat dengannya. Kenapa hal seperti ini saja tidak tahu?" kata Tessa seraya menunjukkan surat kepemilikan apartemen itu pada Zeevana, yang sebelumnya adalah milik Xander dan beralih nama menjadi miliknya. Hati Zeevana semakin sakit melihat fakta itu. Seberapa jauh Xander berhubungan dengan Tessa di belakangnya setelah mereka menikah?
'Uncle...jadi janji suci itu semuanya bohong?'
Tak hanya soal apartemen, Tessa juga menunjukkan pada Zeevana tentang cincin yang ia kenakan saat ini. Tessa membuka cincin itu dan menyerahkannya pada Zeevana. Wanita itu melihat ukiran cincin inisial X dan T disana.
"Maafkan aku Zee, 3 bulan yang lalu Xander melamarku."
"A-apa?" Zeevana di buat stok berkali-kali oleh perkataan Tessa. Lagi-lagi hatinya di hantam sesuatu yang berat, kadang ia merasa tenggelam dalam lautan luka.
Setengah jam berlalu sejak mereka bicara di dalam apartemen Tessa. Zeevana tiba-tiba pamit, ia tak sanggup lagi mendengar semua kebohongan dan pengkhianatan suaminya. Sudah cukup! Ia akan meminta perpisahan, tapi sebelum itu ia akan mencari alasan berpisah pada keluarganya lebih dulu.
Wanita itu baru saja keluar dari apartemen Tessa, dari kejauhan Tessa tersenyum melihat wajah Zeevana yang patah hati itu. Zeevana berjalan dengan langkah gontai dan berurai air mata, mencari taksi dipinggir jalan.
"Zee!"
Lamunan Zeevana buyar manakala ia mendengar suara suaminya, sekarang Xander sudah berada tepat disampingnya. Baru saja itu turun dari mobil. Nafasnya terengah-engah karena ia langsung buru-buru kesana mencari Zeevana.
"Sayang,"
"Benarkah--bahwa uncle tidur dengannya setelah 1 bulan kita menikah? Jawab yang jujur uncle..." Zeevana berat saat menanyakannya. Tapi dia harus tau jawabannya.
Xander terhenyak, ia tak berani menatap Zeevana. "Benar."
"Haaahh..." Zeevana memegang dadanya yang semakin sesak. Kakinya lemas, Xander hendak memegangnya tapi Zeevana menepis cepat tangan itu.
"Maafkan uncle, uncle memang tidur dengannya tapi itu semua tidak sengaja. Uncle tidak mencintainya lagi, uncle mulai ada rasa padamu....Zee berikan uncle kesempatan, uncle mohon lupakan masa lalu!" seru Xander pada istrinya,memohon dengan wajah memelas.
"Kesempatan? Kalau saja kau belum menikah saat kau berbagi peluh dengannya, mungkin--aku bisa mempertimbangkan untuk memberikanmu kesempatan. Tapi tidak untuk ini--kau melakukannya saat berada dalam ikatan pernikahan denganku! Kau berselingkuh dariku, padahal kau tau aku sangat mencintaimu! Alasan tidak sengaja pun, tidak bisa mengembalikan hatiku yang hancur SEBAB KAU JUGA MENIKMATINYA! KAU BAHKAN Melamarnya!" Zeevana menumpahkan semua amarahnya pada Xander, tak peduli mereka ada dimana. Wanita itu menangis, mengingat perih hatinya saat ia sibuk berjuang tapi pria itu sibuk selingkuh.
"Melamar? Zee...siapa yang..."
Zeevana melepaskan cincin pernikahannya, cincin yang menjadi lambang kesetiaannya selama ini. "Uncle jangan lupa, bahwa aku dan anak kita akan meninggalkan uncle--kalau uncle melanggar janji suci pernikahan kita. Ini...aku kembalikan ini pada uncle, semua janji itu sudah hancur dan sekarang kita sudah berpisah."
Xander kaget bukan main saat Zeevana lagi-lagi membahas soal perpisahan. Sungguh ia tidak mau berpisah, ia sudah mulai mencintai wanita yang pernah jadi keponakannya itu. Xander bahkan menolak cincin yang diberikan oleh Zeevana, sampai cincin itu terlempar ke jalan. Tapi Zeevana tak peduli, ia seolah mati rasa. Air matanya juga terlalu banyak mengalir, ia sudah lelah dengan semua drama pernikahan yang penuh kebohongan ini.
"Kita tidak akan berpisah Zee! Tidak!"
"Kita akan tetap berpisah, suka atau tidak suka. Dan ini juga bagus untuk Uncle, karena uncle bisa bersama dengan wanita yang uncle cintai itu!" cetus Zeevana lalu ia berlari menyebrang jalan tanpa melihat kanan kiri. Xander mengejarnya, namun beberapa detik kemudian....
Ckittt!!!
BRUGH!!!
Seseorang terpelanting dan terguling-guling setelah sebuah mobil berwarna hitam menabraknya. Endingnya, wanita itu terkapar di atas aspal dengan kondisi tubuh penuh luka.
"ZEE!!" teriak seorang wanita dari seberang jalan sana panik.
Wajah Xander pucat pasi, ia berlari mendekati wanita itu yang posisinya berada di tengah jalan.
...****...