One Night Stand With My Uncle

One Night Stand With My Uncle
Bab 29. Siapa Aiden?



...πŸ€πŸ€πŸ€...


Anak laki-laki itu diam dengan wajah dinginnya, dia memang tidak berkata apapun. Mengoceh seperti anak lainnya, ketika Aiden benar-benar marah ia lebih memilih diam dengan raut wajah yang menyeramkan.


Diamnya Aiden membuat Elara gelisah, sebab anak itu tidak mengeluarkan sepatah katapun untuk mengekpresikan kekesalannya. Kalau sudah seperti ini, artinya Aiden sudah kelewat kesal dan yang membuatnya kesal adalah Zeevana, mommynya.


"Tuan Aiden, saya sudah menghubungi nona Zee...tapi telponnya tidak tersambung. Mungkin nona Zee masih ada pekerjaan yang belum diselesaikan makanya nona pulang terlambat."


"Dasar pembohong, mommy pembohong." ucap Aiden dengan raut wajah memerah karena marah. "Mommy pasti pulang terlambat karena mommy tidak mau memberitahuku tentang Daddy." gerutu Aiden geram.


"Tuan muda, saya yakin tidak seperti itu. Pasti ada sesuatu yang terjadi pada nona." kata Elara berusaha menenangkan Aiden yang marah. "Lebih baik tuan masuk ke dalam rumah, cuaca begitu dingin. Kita tunggu nona di dalam rumah saja, tuan." kata Elara membujuk.


"Aku akan tetap disini dan menunggu mommy sampai mommy pulang!" seru Aiden yang sama sekali tidak mendengarkan bujukan dari Elara. Dia akan menunggu Mommynya sampai pulang.


'Astaga, sikap pemarah dan keras kepalanya ini sebenarnya mirip siapa? Aku pikir tidak mirip dengan nona Zeevana' batin Elara bingung.


"Tuan, bagaimana kalau saya telpon tuan Axelo? Mungkin dia tau keberadaan nona."


"Ah iya, kau benar juga nyonya Elara. Kenapa aku tidak memikirkannya dari tadi? Ayo kita telpon dia!" seru Aiden yang baru kepikiran tentang Axel.


****


Sementara itu di dalam kamar hotel. Zeevana baru saja membuka matanya, ia merasakan sekujur tubuhnya sakit terutama di bagian intinya. Seakan di robek dengan paksa, ya memang dia dipaksa oleh Xander. Pria yang ia anggap sebagai mantan suaminya.


"Eughh..." erang gadis itu sambil mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia berusaha bangkit untuk duduk, namun terlalu sulit. Saat ini ia menyadari bahwa di tubuhnya, telah memakai baju tidur dan tubuhnya juga dirasa sudah bersih, meski masih banyak rasa sakit.


"Kau sudah bangun?"


Sontak saja Zeevana menoleh ke asal suara itu, suara yang membuatnya marah. Terlihat Xander saat ini sedang berjalan menghampirinya. Zeevana menatapnya dengan tajam dan penuh kebencian.


"Jangan menatapku begitu sayang. Aku sudah memberimu kenikmatan belum lama ini." kata Xander dengan mulut pedasnya. Zeevana yakin, Xander sudah bukanlah uncle nya yang lembut dan baik hati. Xander seperti dirasuki iblis.


Plakk!


Zeevana menampar pipi Xander dengan keras penuh kemarahan. Dadanya bergemuruh, ia tidak dapat menahan rasa marahnya lagi. Ia sudah dilecehkan seperti wanita murahan.


"Kurang ajar! Beraninya kau menggagahiku! Dasar binatang." ketus Zeevana dengan buliran air mata yang perlahan mulai turun dari matanya.


Xander diam, wajahnya tampak datar seolah tamparan dari Zeevana bukan apa-apa. Sakit ini memang tidak ada apa-apanya dibandingkan sakit hati ditinggalkan oleh Zeevana 6 tahun yang lalu.


"Terserah kau mau bilang apa. Yang jelas, aku akan membuatmu hamil anakku lagi." tegas pria itu.


"Kau sudah gila uncle, kau sudah benar-benar berubah. Kau tidak seperti dulu lagi, kau bukan uncle Xander yang ku kenal!" Zeevana menangis, tapi Xander tak terenyuh sedikitpun.


"Aku memang bukan Xander Sanderix lagi, aku bukan Pamanmu lagi. Aku Xander Dacosta. Dan karena siapa aku berubah? Apa kau tidak paham?" tanya Xander menusuk ke dalam relung hati Zeevana.


Saat Zeevana akan kembali menampar Xander, pria itu menahan kedua tangannya dengan erat. "Lepaskan aku BRENGSEK! Aku membencimu, aku benci!"


"Tapi aku mencintaimu." balas Xander dengan senyuman iblis yang terbit dibibirnya.


Mata Zeevana masih mengeluarkan air mata, tak bisa dipungkiri bahwa ada rasa rindu di dalam sana. Namun ada juga rasa benci karena perbuatan pria itu padanya hari ini. Niat Zeevana yang tadinya akan memberitahukan tentang Aiden pun urung.


"Kau tidak boleh pergi kemanapun sebelum kau mengandung anakku. Tidak boleh." Xander memeluk Zeevana semakin erat.


Zeevana menggigit tangan Xander, hingga pria itu melepaskan pelukannya dari Zeevana. Gadis itu menyambar tas selempang miliknya, lalu ia pun bergegas pergi dari sana. Namun Xander tidak membiarkan Zeevana pergi dari sana, ia membopong tubuh gadis itu dan melemparnya kembali ke atas ranjang.


"Kau sangat keterlaluan! Aku harus pulang, ada yang menungguku..."


"Siapa? Aiden?" tanya Xander dengan sorot mata tajam dan membuat Zeevana tercengang.


'Apa dia sudah tau tentang Aiden? Tidak, dia tidak boleh tau' Zeevana panik.


"Jadi benar, kau punya kekasih ketika aku menderita karena mu?" sontak saja pertanyaan itu membuat Zeevana bingung.


"Kekasih?"


"Kau bahkan memanggilnya sayang dalam tidurmu, teganya kau--"


Xander menatapnya dengan nyalang, ia kembali menyerang Zeevana dengan paksa. Menuntaskan semua kemarahannya dengan bercinta, yang jelas bahwa semua ini salah. Apa yang dia lakukan malah menambah kebencian Zeevana padanya.


1 jam berlalu sejak pergumulan yang panas itu, Zeevana masih terjaga. Ia menangis terisak karena tubuhnya sudah seperti wanita murahan yang menjadi pemuas nafsu Xander. Ia melihat Xander tertidur pulas dengan marah, akhirnya Zeevana memanfaatkan kesempatan itu untuk kabur. Ia berjalan dengan tertatih-tatih dan memakai pakaian tidur.


Zeevana juga mengelabui dua orang pria bertubuh kekar didepan kamar itu, mereka ditugaskan untuk menjaga Zeevana agar tidak kabur. Setelah berhasil kabur ke lantai bawah dengan susah payah, Zeevana terkejut melihat ada Axel dan Aiden disana.


'Ya Tuhan, kenapa Aiden datang kesini?' Zeevana panik, ia tidak mau Aiden melihatnya dalam keadaan seperti ini dan ia juga tidak mau Xander sampai menemukan Aiden, tidak untuk sekarang.


"Mommy!"


Terlambat, Aiden sudah melihat Zeevana yang baru saja turun dari lift. Anak itu menghampiri Mommynya. Axel juga menyusulnya dari belakang.


"Aiden..."


"Zee, mau darimana saja? Aiden--dia menelponku dan--"


"Ughh..."


"Mommy? Mommy kenapa?" tanya Aiden cemas, melihat mommynya memegang perut dan meringis kesakitan.


"Mommy tidak apa-apa, sayang." jawab Zeevana sambil menahan rasa sakit di perutnya. 'Tidak, aku tidak boleh tumbang didepan Aiden dan pak Axel'


"Zee, apa kau baik-baik saja?" tanya Axel cemas, ia melihat raut wajah Zeevana yang pucat dan ada jejak kemarahan di lehernya.


"Saya baik-baik saja pak Axel, saya..." tubuh Zeevana ambruk dan dengan sigap Axel menangkapnya. Aiden panik melihat mommynya tidak sadarkan diri.


"Mommy! Mommy kenapa? Mommy!" teriak Aiden panik.


"Zee, Zeevana!" Axel juga panik melihat Zeevana tidak sadarkan diri, ia pun segera menggendong wanita itu ala bridal style. Lalu dia dan Aiden membawa Zeevana ke rumah sakit.


...****...