One Night Stand With My Uncle

One Night Stand With My Uncle
Bab 65. Kritis



...🍁🍁🍁...


Pria itu memulai aksinya dengan ciuman ciuman lembut nan memabukkan untuk mengawali percintaannya dan Zeevana. Jika sebelumnya dia selalu memaksa dan kasar pada Zeevana saat melakukan hubungan intim, kali ini dia tidak akan begitu. Dia akan mengulang malam pertama mereka dengan indah, dengan manis, berkesan dan lembut.


"Bunny..."


"Call me uncle please," ucap Xander seraya melepaskan tali dari lingeriie hitam yang dipakai istrinya saat ini.


"Huh? Kenapa panggil uncle?" tanya Zeevana dengan wajah polosnya.


"Aku hanya rindu dengan masa lalu kita dulu, saat kau dan aku masih paman keponakan. Rasanya bagus kalau memanggilku dengan panggilan uncle." ucap Xander lalu mulai menghujani leher Zeevana dengan ciumannya. Hingga dia menyesap dan meninggalkan beberapa jejak kemerahan di leher istrinya.


Xander benar-benar melakukan kegiatannya dengan lembut, ia menjamah tubuh sang istri setiap incinya dengan sangat hati-hati. Terlebih lagi saat ia memasukinya, ia ingat ucapan dokter Alice bahwa kandungan Zeevana lemah.


Kegiatan panas itu berakhir ketika waktu sudah memasuki dini hari. Zeevana langsung tertidur pulas setelahnya dan Xander masih terjaga, dia menatap wajah cantik sang istri dengan penuh kasih sayang.


"Betapa beruntungnya aku memilikimu sweetie. Kau memaafkan semau kesalahanku, memberikanku kesempatan kedua. Pastinya tidak akan aku sia-siakan kesempatan itu, aku tidak akan mengizinkan diriku untuk menyakitimu...tidak akan sweetie. I love you.... really love you. Dan jangan pernah tinggalkan aku, mari kita menua bersama." lirih pria itu seraya tersenyum, lalu mengecup kening istrinya cukup lama. Kemudian ia pun beranjak dari tempat tidurnya dan pergi ke kamar mandi.


Setelah Xander pergi ke kamar mandi, wanita yang tadi sedang tertidur itu tiba-tiba membuka matanya. Ternyata dia tidak tertidur, dia masih terjaga dan kini matanya meneteskan air mata. Satu tangannya menutup mulut, agar isakannya tidak terdengar.


"Maaf uncle, aku tidak tau apakah aku masih bisa menua bersamamu atau tidak. Tapi anak kita...pasti bisa selamat..." gumam Zeevana sedih.


****


5 bulan berlalu, kini usia kandungan Zeevana sudah memasuki bulan ke 7. Perutnya sudah terlihat membuncit dan dokter mengatakan bahwa Zeevana mengandung bayi kembar. Dia juga berhasil menyembunyikan keadaannya dari suaminya selama ini secara diam-diam. Namun semakin hari, keadaannya semakin memburuk apalagi Zeevana tidak mengkonsumsi obat-obatannya, dia tidak tahu bagaimana caranya menahan semua ini lagi dari suaminya. Hanya tinggal menunggu waktu sampai Xander dan semua orang tau semuanya.


Selama ini Zeevana hanya mengkonsumsi minuman herbal yang aman dan sayur-sayuran untuk menguatkan dirinya. Tapi akhir-akhir ini, semakin besar kandungannya, dia semakin tidak bisa mengendalikan tubuhnya. Dia tidak merasa baik-baik saja.


Pagi itu, ketika menyiapkan sarapan untuk anak dan suaminya. Zeevana mimisan cukup banyak.


"Ya Tuhan...aku harus bagaimana? Tak lama lagi bunny pasti akan tau tentang kondisiku." gumam Zeevana sambil mengusap darah di hidungnya.


Tiba-tiba saja Zeevana merasakan ada tangan melingkar di tubuhnya dan memeluknya dari belakang. Zeevana terkejut sebab dia belum sepenuhnya membersihkan darah di hidungnya.


"Sayang, kenapa kau sudah bangun pagi-pagi begini? Cuaca sedang dingin sayang. Seharusnya kau tiduran lagi saja." Xander bersandar di bahu Zeevana, hingga nafas pria itu terasa hangat di leher Zeevana.


"A-aku sedang membuatkan sarapan. Ta-tapi kenapa kau sudah bangun?" tanya Zeevana tanpa ada niat membalikkan tubuhnya dan melihat suaminya. Zeevana takut ketahuan.


"Tentu saja aku bangun, saat kau tidak ada di sisiku. Aku bahkan belum mendapatkan morning kiss ku." tangan Xander sudah memegang dagu Zeevana, sebentar lagi dia bersiap untuk membalikkan tubuh istrinya dan menciumnya seperti biasa.


Namun Zeevana melepaskan tangan suaminya dengan panik, dia menghindar dan Xander jelas sudah tau itu.


"Sayang, kau kenapa?" tanya Xander terheran-heran merasakan tubuh istrinya gemetaran dan terlihat panik.


"Lebih baik kau mandi dulu dan bangunkan Aiden, aku akan menyiapkan sarapan." tukas Zeevana pada suaminya.


Xander merasa ada yang tidak beres dengan istrinya, akhir-akhir ini ia merasa Zeevana selalu menghindar tanpa alasan secara tiba-tiba. Lalu Xander pun membalikkan tubuh istrinya dengan cepat untuk melihat wajah Zeevana. Alangkah kagetnya Xander saat ia melihat hidung, bibir bahkan pakaian Zeevana yang berlumuran darah.


"Sweetie! Kau kenapa?" Xander panik, dia menangkup kedua pipi Zeevana dan menatapnya cemas.


"A-aku..." Zeevana bingung menjelaskannya, melihat wajah panik Xander membuatnya blank dan tak tahu harus bicara apa. Tapi satu hal yang ada di dalam hatinya saat ini. Ia takut Xander akan tau semuanya.


Sudah aku duga kau akan panik begini.


"Mana yang sakit? Sweetie, jawab aku! Jangan buat aku cemas!" seru Xander seraya mengusap usap pipi Zeevana. "Tubuhmu dingin sayang." katanya lagi setelah merasakan suhu tubuh istrinya yang dingin.


"Aku baik-baik saja, aku tidak apa-apa bunny." Zeevana berusaha tersenyum, meski saat ini ada yang akan meledak didalam dirinya. Zeevana merutuki dirinya sendiri, kenapa harus sekarang?


"Bagaimana mungkin tidak apa-apa--"


Dan tak lama kemudian, Zeevana memuntahkan darah dan membuat Xander semakin panik. Darah itu bahkan sampai tumpah di lantai. "ZEE!" teriak Xander tercengang. Teriakan Xander sampai membuat Elara yang sedang berada di halaman belakang langsung menghampiri nonanya.


"Nyonya, tuan..." Elara terkejut melihat apa yang terjadi pada Zeevana, saat ini nyonyanya berlumuran darah. "ASTAGA! Nyonya!"


"Aku...tidak apa-apa...ini sudah sering terjadi. Kau jangan cemas..." lirih Zeevana lemas, dia berusaha menenangkan suaminya walaupun dalam keadaan seperti itu.


Susah sering terjadi? Xander berpikir keras tentang ucapan istrinya. Namun ia simpan dulu pertanyaan itu untuk nanti, sebab ia harus membawa Zeevana ke rumah sakit.


"DIAM!" sentak Xander dengan panik, lalu dia menggendong istrinya ala princess. "Elara, cepat bersihkan semua ini! Jangan beritahu Aiden tentang apa yang terjadi saat ini!" titah Xander pada pembantu rumah tangganya.


"Ba-baik tuan." ucap Elara patuh, dia terlihat mencemaskan keadaan Zeevana.


"Elara tolong jaga Aiden..." pinta Zeevana dengan nafas yang sesak.


Zeevana pun jatuh tidak sadarkan diri didalam gendongan suaminya. Xander buru-buru membawa Zeevana keluar dari rumah, ia masuk mobil diantar oleh supirnya dan menuju ke rumah sakit. Beruntung Antonio dan Aiden belum bangun sehingga mereka tak tau apa yang terjadi pada Zeevana.


Sesampainya di salah satu rumah sakit di Inggris, Zeevana dibaringkan diatas brankar dan dilarikan ke UGD. Tentu dengan Xander yang terus berada disampingnya, ia memegang erat tangan istrinya. Meski dia tidak tahu apa yang sebenernya terjadi pada istrinya, tapi ia rasa ini bukan suatu hal yang baik.


"Sayang, aku mohon...jangan sampai terjadi sesuatu padamu...kumohon..." gumam Xander dengan tangan yang tak mau melepaskan tangan Zeevana.


"Mohon maaf pak, silahkan tunggu diluar. Kami akan memeriksa pasien terlebih dahulu." kata seorang suster saat Zeevana berada di depan ruang UGD rumah sakit itu.


"Tapi saya suaminya dok, saya ingin bersama istri saya!" ujar Xander yang tak mau meninggalkan istrinya.


"Dokter Alice!"


"Dokter Xander, tolong tunggu di luar. Keadaannya darurat, dokter Yoshua dan aku harus segera memeriksa kondisi istrimu."


"Tapi kenapa dia juga, dia kan dokter spesialis kanker...kenapa dia..." Xander tau tentang identitas Yoshua, tapi dia bingung kenapa Yoshua harus menangani istrinya juga.


"Kita bisa bicarakan nanti, nyawa istri dan anak kalian berada dalam bahaya!" Alice dan Yoshua langsung membawa Zeevana masuk ke dalam ruang UGD.


Xander berdiri mematung disana, melihat pintu itu tertutup. Dia berusaha mencerna apa yang dikatakan Alice dan bagaimana raut wajahnya. Dia jadi teringat sikap Zeevana yang mencurigakan akhir-akhir ini.


"Apakah...apakah Zee...terkena penyakit kanker?" gumam Xander takut, perasaannya berkecamuk. Dia baru menebak, tapi rasanya sudah sesakit ini. Tanpa berpikir panjang, dia berlari menerobos masuk ke dalam ruang UGD, dimana istrinya berada saat ini.


****


Di sebuah hotel mewah, Paris. Pasangan pengantin baru Arsen dan Laura baru saja bangun dari tidur mereka setelah ritual suami-istri yang mereka lakukan semalam. Mereka baru menikah seminggu yang lalu, namun pasangan ini masih betah berbulan madu.


"Arsen, bangunlah! Ini sudah siang." Laura menunjuk-nunjuk pipi Arsen dengan jari tangannya.


Arsen, pria itu masih tidur tengkurap dengan bertelanjang dada. Meskipun masih muda, tapi otot-otot tubuhnya sangat bagus, dia rajin merawat tubuh demi Laura.


"Eum...aku masih ngantuk sayang." erang Arsen yang masih setia memejamkan matanya. Matahari sudah terik, namun pria itu masih enggan bangun.


"Ish...dasar kau ini!" geram Laura melihat suaminya masih berada ditempat tidur. Setelah menikah, Arsen selalu kecanduan dengan tubuh sang istri. Terkadang Laura sulit mengimbangi permainan suaminya, mungkin karena Arsen lebih muda darinya dan semangatnya masih menggebu-gebu.


"Kalau kau tidak mau bangun, aku tak akan memberikanmu jatah seminggu!" ancam Laura kesal.


Lantas Arsen langsung membuka mata dan memeluk istrinya dengan posesif. "Tidak! Jangan berkata begitu! Mana bisa begitu?" protes Arsen, tak dapat jatah artinya adalah neraka untuk Arsen.


"Ya sudah, kalau begitu ayo bangun. Tadi ada telpon dari mommy Savana." tukas Laura para suaminya. Arsen mengurai pelukannya, lalu dia pun melihat ponselnya diatas nakas lebih dulu. Benar saja dia melihat banyak panggilan tak terjawab dari Savana.


"Kenapa kau tidak mengangkatnya sayang?" tanya Arsen pada istrinya.


"Aku baru saja sampai disini dan kau masih tidur. Memangnya kenapa?"


"Mommy meneleponku berkali-kali." gumam Arsen.


"Sepertinya ada hal penting, ayo telpon balik." Laura menatap suaminya yang terlihat cemas.


Arsen pun hendak menelpon Mommynya, namun sebelum itu Savana sudah menelponnya lebih dulu. Lantas Arsen langsung mengangkatnya.


"Halo mom!"


"Arsen, kenapa kau baru mengangkat telponnya? Mommy mau menelpon Laura juga tak tahu nomornya. Kau ini--hiks.."


"Mom, kenapa mom menangis? Ada apa?" tanya Arsen cemas mendengar isak tangis dari Mommynya di seberang sana. Laura juga mendengar suara Savana karena Arsen menekan loudspeaker di ponselnya.


"Arsen...kakakmu... terjadi sesuatu padanya. Hiks...dia kritis dan...hiks..."


"Savana, tenanglah sayang." terdengar suara Javier tengah menenangkan Savana.


"Mom, dad, ada apa? Kak Zee kenapa?" tanya Arsen pada mommy dan Daddynya.


"Datanglah ke rumah sakit di Inggris, Arsen." jawab Javier.


Setelah itu Javier memutus sambungan telponnya begitu saja. Arsen dan Laura jadi cemas dengan apa yang dikatakan oleh Javier dan Savana.


"Sayang, ayo kita ke Inggris sekarang juga! Aku takut terjadi sesuatu pada Zee." kata Laura yang mencemaskan sahabat dan sekaligus kakak iparnya juga.


"Iya sayang, ayo kita bersiap!" ujar Arsen pada istrinya. Dia juga khawatir dengan kondisi Zeevana. Perjalanan dari Paris ke Inggris bisa ditempuh sekitar 2 jam, tapi dari Chicago tempat Savana dan Javier berada bisa berjam-jam. Sepertinya Arsen dan Laura yang akan sampai lebih dulu di rumah sakit.


****


Inggris.


Setelah memberitahu kondisi Zeevana pada orang tuanya yang ada di Chicago.


Siang itu di rumah sakit, Xander masih syok saat mengetahui kondisi Zeevana yang sebenarnya. Istrinya mengalami kanker darah stadium 3, awalnya ia marah karena Zeevana menyembunyikan semua ini darinya dan menyimpan rasa sakitnya seorang diri. Namun apa gunanya marah? Bukankah saat ini kondisi Zeevana dan bayinya lebih penting dari segalanya?


"Kita harus melakukan persalinan lebih awal, agar Zee bisa mendapatkan pengobatan kemoterapi. Tapi--ini akan beresiko untuk bayi kembar kalian." jelas Alice pada Xander yang masih menemani istrinya. Zeevana masih belum sadarkan diri, ya dia dinyatakan dalam keadaan kritis saat ini.


"Jadi aku harus bagaimana? Apa yang baik saat ini untuk menyelamatkan nyawa istriku?!" tegas Xander bertanya dengan raut wajah yang kacau dan memerah.


"Maafkan aku dokter Xander, operasi harus segera dilakukan. Namun kau harus memilih."


"Memilih? Apa yang harus ku pilih?!" sentak Xander seraya menatap tajam ke arah Alice. Alice terlihat gelisah.


...****...


Bersambung dulu ya nanti di lanjut lagi...


Btw sad apa happy ending ya 🀧🀧 Kenapa komennya sepi sekali ya kakak kakak, padahal author mau bikin sekuel loh.