
Wanita bertudung hitam dan berkacamata itu tidak sendiri, ternyata dia bersama seorang pria berambut pirang. Mereka masuk ke dalam mobil mewah didepan bandara secara diam-diam.
"Sayang, terimakasih kau sudah membantuku bebas dari rumah sakit jiwa." kata Tessa seraya menggamit lengan pria itu dengan manja. Dia bahkan berani menunjukkan bongkahan miliknya guna menggoda pria itu. Ya, pria disampingnya saat ini adalah salah satu pria koleksi Tessa, dia adalah putra seorang menteri dan memiliki kekuasaan besar. Dia sudah memiliki istri, namun masih bermain dengan Tessa dibelakang istri dan anaknya.
"Apapun akan aku lakukan untukmu, sayang. Asalkan kau mau menuruti perintahku!" kata Aaron seraya mengecup bibir Tessa sekilas, dia sangat candu dengan tubuh Tessa. Tapi tak ada niat untuk menikahinya. Aaron mengecup bibir Tessa tidak peduli mereka berada di mana saat ini dan siapa yang melihat mereka. Di depan tempat kemudi, supir Aaron terlihat fokus dan sama sekali tidak menoleh ke arah Tessa.
"Kau ingin apa dariku honey?" tangan Tessa bergelayut manja di leher pria itu.
"Aku tunggu kau di ranjang nanti," bisik Aaron sensual. Tessa hanya tersenyum, harga dirinya sudah hilang sejak dulu dan sepertinya jadi musnah karena Xander, satu-satunya pria yang ia cintai menolaknya lagi dan lagi
"Kalau begitu, aku juga ingin meminta bantuanmu honey." jari tangan Tessa meraba-raba ceruk leher pria itu dengan sensual, tatapannya pun begitu nanar dan menggoda pada Aaron.
"Apa sayang?"
"Aku ingin kau mencari informasi tentang Zeevana Dacosta." jawab Tessa.
"Fine, jika kau bisa memuaskanku malam ini...aku akan langsung mengabulkan keinginanmu." Aaron tersenyum, tangannya menepuk-nepuknya bokong Tessa, membuat wanita itu melenguh nakal.
"Uh...baiklah, akan aku puaskan dirimu. Tidak perlu menunggu malam, setelah ini pun bisa." tawar Tessa yang membuat Aaron semakin senang. Dan setelah itu Aaron membawa Tessa ke apartemennya, mereka melakukan aktivitas layaknya suami istri. Tessa bahkan pandai melakukan hal yang membuat Aaron kenikmatan, dia memang pandai memuaskan lawan mainnya diatas ranjang.
"Tessa...faster..baby..." desahh Aaron ketika Tessa memainkan miliknya dibawah sana.
"Kau suka ini baby?" Tessa mendongak menatap pria paruh baya yang masih tampan itu dengan senyum binalnya.
Dalam sekali hentakan, Aaron mengangkat tubuh Tessa dan membuat wanita itu berada di bawah tubuh Aaron. Dengan cepat Aaron membenamkan miliknya yang sedari tadi sudah menegang ke dalam lubang viana milik Tessa yang sudah terjamah oleh beberapa pria di luar sana.
"Mulai sekarang, lubangmu hanya menjadi milikku Tessa!" kata Aaron sambil mempercepat tempo gerakannya menghujam Tessa. Di bawah sana Tessa mendesahh penuh kenikmatan, Aaron sungguh membuatnya tak berdaya.
"Yes Aaron, i'm yours...ahhh!" Tessa mengerang menikmati setiap hentakan dari Aaron. Tessa tidak masalah bila dia menjadi wanita jalangg asalkan dia bisa hidup dan membalaskan dendamnya pada Zeevana.
****
Di depan rumah sakit, Inggris.
Joana, Dave, Raphael dan Natasha berjalan menaiki lift untuk menuju ke ruang rawat Zeevana. Natasha bahkan membawakan banyak permen dan coklat untuk Aiden, dia berharap kedatangannya bisa menghibur Aiden.
Di dalam lift itu, Raphael selalu menganggu Natasha. Dia terus mencubit cubit lengan Natasha, Raphael benci dengan saudaranya itu. "Raphael, sakit...hentikan!" seru Natasha kesal.
"Dasar anak haram! Diam kau!" sentak Raphael pada Natasha. Namun Dave tidak membelanya, dia membiarkan Natasha di ejek seperti itu.
Bukankah dia Daddyku? Kenapa dia tidak membelaku? Kenapa dia diam saja, ketika aku dihina seperti ini? Natasha membatin sedih, dia tidak menyangka bahwa hatinya akan sesakit ini karena Dave, pria yang disebut sebagai ayahnya begitu dingin padanya. Namun Joana yang hanya merupakan ibu tiri, begitu baik padanya.
"Raphael! Jaga bicaramu!" tegur Joana sekali lagi pada Natasha. Ditegur seperti itu, Raphael tidak merasa bersalah dan dia malah menjulurkan lidahnya mengejek Natasha.
Dave kenapa kau diam saja? Dasar. Batin Joana kesal karena Dave begitu cuek pada Natasha.
Ting!
Pintu lift pun terbuka dan berhenti di lantai 4 rumah sakit itu. Dave, Joana dan Raphael jalan berdampingan, sementara Natasha berada di belakang mereka. Gadis kecil itu tersenyum masam, dia juga ingin keluarga yang utuh. Meski Joana baik padanya, tapi rasanya berbeda karena Joana bukan ibu kandungnya dan dia juga masih terkesan menjaga jarak pada Natasha. Dan Natasha juga merasa bahwa Joana baik padanya karena rasa kasihan.
Aunty Joana, terima kasih karena aunty telah menerimaku. Walaupun aunty hanya kasihan padaku. Batin Natasha sambil menahan air matanya yang mulai jatuh.
"Nath, ayo!" ajak Joana pada Natasha.
"Iya aunty!" gadis kecil itu menyeka sedikit air matanya yang hampir jatuh, ia pun berlari menghampiri Joana yang sudah berjalan lumayan jauh darinya. Dia berusaha terlihat baik-baik saja dan tersenyum.
Tak lama kemudian, keluarga Satigo pun sampai di depan ruangan Zeevana. Disana ada Aiden dan Savana baru saja keluar dari ruang rawat tersebut. Savana tersenyum dan menyapa mereka semua.
Aiden bertatapan muka dengan Natasha dan Raphael, Natasha tersenyum melihat Aiden. Dia bahkan mengisyaratkan pada Aiden untuk semangat, namun anak laki-laki itu terlihat datar seperti biasanya.
"Aunty Savana, apa kabar?" tanya Dave pada Savana.
"Aku baik. Apa kalian ke sini untuk menjenguk Zee?" tanya Savana ramah seraya melihat Joana dan Dave bergantian.
"Iya aunty," jawab Joana.
"Ya sudah, masuklah! Di dalam ada Xander dan juga suamiku. Aku dan Aiden akan pulang ke rumah dulu." Savana lantas berpamitan kepada keluarga Satigo, ya mereka harus pulang terlebih dahulu ke rumah untuk berganti baju. Terutama Aiden yang masih mengenakan seragam sekolahnya kala itu.
"Baiklah, hati-hati di perjalanan aunty." jawab Dave seraya tersenyum pada Savana.
Sayang sekali aunty Savana tidak jadi mertuaku. Ah...tapi ini sudah takdir yang diberikan oleh Tuhan. Dave sangat menyayangkan bahwa dirinya tidak jadi menantu Savana, wanita yang sudah berumur itu dan menolak untuk tua. Bentuk tubuhnya masih sangat indah, wanita itu masih terlihat seperti usia 17-an. Apalagi Zeevana, putrinya cantiknya sungguh luar biasa. Bisa diibaratkan dengan gitar Spanyol. Itulah salah satu alasan kenapa Dave begitu menggilai Zeevana. Namun sekarang dia tidak akan memikirkan wanita lain lagi, dia hanya akan berfokus kepada istrinya saja Joana dan keluarga kecilnya.
Dave, Joana dan juga Raphael masuk ke dalam ruang rawat tersebut. Sementara Natasha masih berdiri di luar ruangan dan melihat Aiden pergi. Lantas gadis kecil itu memusatkan atensinya kepada Aiden, kemudian dia pun berlari mengejar anak laki-laki itu.
"Aiden tunggu!"
Langkah Aiden dan neneknya terhenti saat berada di depan pintu lift, sontak keduanya pun menoleh ke belakang dan melihat Natasha berada di sana.
"Halo Oma," sapa Natasha pada Savana dengan ramah. Gadis kecil ini telah berhasil mencuri perhatian Savana, meski dia adalah anak perempuan dari Satigo. Savana yakin gadis kecil ini akan berbeda.
"Halo cantik, ada apa?" tanya Savana.
"Aku perlu berbicara sesuatu dengan Aiden, Oma, hanya sebentar saja." sahutnya seraya melirik ke arah Aidan yang berdiri tepat di samping Savana.
"Oh..silahkan."Savana menganggukkan kepalanya.
"Ada apa?" tanya Aiden dengan datar seperti biasanya.
Gadis kecil itu membuka tas kecil miliknya, kemudian dia mengepalkan kedua tangannya dan menyodorkannya kepada Aiden. Aiden tidak paham dengan apa yang dilakukan oleh Natasha, keningnya berkerut.
"Ayo, pilihlah!" ujar Natasha pada Savana dan Aiden. Savana lalu tersenyum dan memilih tangan kanan Natasha.
"Kalau begitu Aiden yang kiri ya." cetus Natasha, lalu ia pun membuka kedua tangannya. Terlihat ada permen disebelah kiri dan coklat disebelah kanan.
Natasha memberikan permen dan coklat itu pada Aiden dan Savana. Diam-diam Aiden menahan senyum, dia senang Natasha datang kesana untuk menemuinya dan memberikan permen yang selalu meledak di mulut itu. Jujur, Aiden merindukan Natasha. Sudah beberapa bulan dia tidak bertemu dengan Natasha.
"Maaf Aiden, kau dapat permen yang meledak lagi. Bagaimana bisa jadi begini? Aneh sekali...kau selalu dapat permen yang meledak daripada coklat." gerutu gadis kecil itu sambil menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal.
"Kau sangat menggemaskan sekali little girl." ucap Savana yang lalu mencubit gemas pipi Natasha yang tembem itu. "Kau tidak usah cemas, Aiden sangat menyukai apapun yang kau berikan. Lihat, dia bahkan tersenyum." goda Savana pada cucunya.
"Aku tidak tersenyum, Oma." sangkal Aiden sambil memalingkan wajahnya.
"Benarkah? Kau senang kan?" tanya Natasha polos. Dia mengikuti arah kepala Aiden, hingga akhirnya netra mereka pun bertemu.
"Tidak! Aku tidak senang!" sangkal Aiden dengan bibir mengerucut.
"Padahal aku sudah jauh-jauh kesini untuk bertemu denganmu. Huh...tapi aku kesini bukan untukmu saja, aku kesini untuk mendoakan aunty Zee agar cepat siuman karena masih banyak orang yang mencintainya dan aku tidak mau kau sedih. Aku ingin kau bahagia Aiden." kata gadis kecil itu yang berhasil membuat Aiden terenyuh, dia berhasil membuat Aiden memusatkan atensinya pada Natasha.
Jadi dia ingin aku bahagia? Dia tidak mau aku sedih? Dia kesini demi aku? batin Aiden terharu.
Sementara Savana senyum-senyum melihat itu, dia senang karena cucunya berteman dengan orang baik dan orang itu bisa membuat cucunya merasa nyaman.
"Terima--ka--kasih." kata Aiden terbata dan pelan.
"APA? Aku tidak dengar?" tanya Natasha polos, dia memasang Indra pendengarannya baik-baik.
"Aku bilang... te-terimakasih...karena kau sudah datang kesini. Terima kasih sudah menghiburku!" Aiden bukan anak yang mudah mengungkapkan isi hati dan saat ini dia sedang mengungkapkan isi hatinya.
"Sama-sama, kita kan sahabat. Tapi di dalam persahabatan, tidak ada kata terima kasih ataupun maaf. Jadi--kau tidak usah berterima kasih padaku Aiden, kita kan bersahabat." jelas Natasha dengan senyum lebar yang memperlihatkan dua lesung pipinya. Persis seperti Tessa, ibunya yang juga cantik memiliki dua lesung pipi.
"O-oma...ayo kita pergi, bukankah kita harus cepat pulang. Aku harus berganti baju dulu!" ajak Aiden tiba-tiba pada Savana, dia bahkan memalingkan wajahnya setelah diberikan permen oleh Natasha.
"Oh baiklah... Natasha cantik, kami pergi dulu ya. Kau kembalilah bersama dengan kedua orang tuamu ke ruang rawat aunty Zeevana." ucap Savana lembut.
Gadis kecil itu menganggukkan kepalanya, lalu berjalan pergi dari sana. Savana dan Aiden pun masuk ke dalam lift. Aiden memasukkan permen berwarna biru dan selalu meledak-ledak didalam mulut itu kalau di makan.
"Sepertinya...ada yang malu..." Savana menggoda cucunya itu. Aiden tidak menanggapi dan hanya memalingkan wajahnya. "Ehem....Natasha cantik ya, dia juga baik, Oma harap dia bisa tetap menjadi sahabatmu. Sama seperti Oma yang bersahabat dengan aunty Alexa dan juga aunty Elena."
Aiden hanya tersenyum, tanpa bicara apa-apa. Namun di dalam hati Aiden juga berharap persahabatannya dengan Luna, Theo dan Natasha tetap langgeng walaupun mereka berbeda negera. Siapa tau nanti mereka akan kembali dipertemukan dan kembali dekat.
****
Di dalam ruang rawat Zeevana. Xander terlihat masih setia menunggu Zeevana disana, dia bersama Javier, Dave, Joana, Natasha dan juga Raphael. Javier tampak mengobrol dengan Dave, sedangkan Xander berada disisi lain bersama dengan Natasha. Gadis kecil yang ceria itu berhasil membuat Xander tersenyum dan kembali tersenyum.
"Uncle, aku sudah buatkan ini untuk aunty Zee...tapi aku tidak yakin apakah dia akan menyukainya ini atau tidak." cicit Natasha pelan, dia mengeluarkan mahkota bunga yang sudah ia buat sendiri.
"Aunty Zee sangat menyukainya, dulu waktu kecil... aunty Zee juga sering membuat mahkota seperti ini dari bunga. Uncle juga pernah membuatkannya." lirih Xander saat melihat mahkota bunga yang dibuat oleh Natasha. Mahkota bunga itu mengingatkannya saat Zeevana waktu kecil, dia selalu membuat mahkota bunga sendiri. Hingga pada suatu hari Xander tak sengaja merusak mahkota bunganya dan Zeevana menangis saat itu.
"Uncle jahat...hiks...uncle merusak mahkota bungaku..." Zeevana kecil menangis saat melihat mahkota bunganya hancur karena ulah Xander. Pria itu tak sengaja menginjaknya.
"Maafkan uncle, uncle tidak sengaja." mohon Xander pada gadis kecil itu. Dia menyesal telah membuat Zeevana menangis.
"Aku tidak mau tau, kau harus membuatkan mahkotanya lagi untukku! Harus kau yang buat!" cetus Zeevana merajuk.
"Tapi aku tidak bisa, bagaimana kalau gantinya eskrim saja? Hem... bagaimana?"
Saat itu Zeevana menangis dan tetap memaksa Xander membuatkan mahkota bunga untuknya. Xander membuatkan mahkota itu walau tidak bagus seperti buatan Zeevana, namun Zeevana sangat menyayangi mahkotanya sampai menyimpannya di rumah dan dibingkai agar tidak rusak.
Sungguh sikap Natasha mengingatkannya pada Zeevana. Tapi kembali lagi pada kenyataan, bahwa wanita itu masih terbaring lemah dengan mata terpejam entah sampai kapan.
"Ayo pakaikan mahkotanya pada aunty Zee, bukankah kau ingin mendoakan kesembuhannya?" tawar Xander pada gadis kecil itu.
Xander pun menggendong tubuh mungil Natasha, lalu Natasha memakaikan mahkota bunga itu ke kepala Zeevana. "Aunty, cepatlah sembuh. Kasian Aiden dan adik bayi, aunty...mereka membutuhkan aunty. Mereka sayang aunty." Natasha mendoakan Zeevana dengan tulus. Dia tidak mau Aiden sahabatnya sedih, karena Aiden selalu mengatakan bahwa Zeevana adalah segalanya.
"Ya sudah kalau begitu, kami pamit dulu ya. Semoga cepat sembuh untuk Zeevana." ucap Joana setelah hampir 3 jam lamanya berada disana.
"Terima kasih sudah menjenguk istriku. Setelah ini kalian akan langsung pergi ke Australia?" tanya Xander basa-basi.
"Tidak, rencananya kami akan pergi ke hotel terlebih dahulu. Oh ya, tuan Dacosta...dimana bayi Zeevana?" Joana bertanya karena sedari tadi dia tidak melihat sosok bayi Zeevana.
"Oh, anak kami ada di inkubator. Dia sedang bersama kak Elena saat ini." jawab Xander pada Joana.
"Baiklah."
Dave, istri dan kedua anaknya berpamitan pergi dari sana. Namun sebelum itu mereka melihat bayi Zeevana yang masih berada di ruangan bayi, di inkubator. Bayi itu sedang berada di dalam gendongan Elena. Bayi mungil nan cantik, bibirnya merah, cantik seperti Zeevana hanya tubuhnya lebih kecil dari bayi pada umumnya. Joana dan Dave berdoa akan Zeevana bisa cepat siuman.
****
Malam itu, Xander menjaga istrinya seorang diri sambil mengerjakan pekerjaannya dirumah sakit. Selama 3 hari ini, Xander memusatkan lebih perhatiannya pada sang istri. Setelah pekerjaannya selesai, Xander mendekati Zeevana dan membelai lembut wajahnya. Dia selalu menceritakan hal-hal pada Zeevana.
"Sayang, kumohon bangunlah...jangan begini terus. Apa kau tidak kasihan melihat bunnymu ini? Perlu kau tau, aku kurusan dan sekarang aku malas mandi. Ayolah protes sayang! Bukankah kau tidak suka kalau aku tidak mandi, kau selalu bilang aku bau dan jangan dekat-dekat denganmu. Kenapa sekarang kau diam saja? Huh... benar-benar..." Xander kembali terisak, dia menundukkan kepalanya.
"Kalau begitu... cepatlah mandi, kau bau dan kau membuat tanganku basah."
Suara lirih dari seorang wanita itu membuat Xander mendongak ke atas. Matanya terbuka lebar saat melihat sepasang mata berwarna biru itu tengah menatapnya dengan intens.
"Sa-sayang!!"
Ya, benar--Zeevana sudah membuka matanya, kini wanita itu tersenyum tipis padanya. Dibalik masker oksigen yang dipakainya itu.
...*****...