
...πππ...
Keesokan harinya, Xander sudah bebas dari kantor polisi dengan mudahnya. Dia membawa pengacara ternama untuk menyelesaikan masalahnya, namun status Xander adalah tahanan yang wajib lapor dan masih dalam pemantauan walau ia sudah keluar dari jeruji besi.
Apalagi Xander menunjukkan bukti bahwa ia dan Zeevana masih dalam status pernikahan, ia sama sekali tidak pernah menandatangani surat cerai itu. Artinya Zeevana masihlah istrinya yang sah, meski wanita itu belum tau.
"Fredy, apa kau sudah mengambil rambut anakku?" tanya Xander pada sekretaris sekaligus orang kepercayaannya, begitu dia keluar dari penjara.
"Salah seorang petugas rumah sakit sudah mengambilnya pagi itu secara sembunyi. Beruntung petugas rumah sakit itu mau bekerja sama."
"Lalu kapan hasilnya keluar?" tanya Xander pada Fredy dengan wajah datarnya.
"Sekitar 7 hari pak." jawab Fredy.
"Terlalu lama, aku mau hari ini." balas Xander dengan mudahnya. Dia tidak sabar ingin mengetahui hasilnya secepat mungkin.
"Pak, hari ini tidak bisa! Menurut peraturan rumah sakit dan prosedur--"
"Lupakan prosedur dan berikan saja berapa uang yang mereka inginkan. Aku mau hasilnya hari ini!" seru Xander tegas dengan tatapan tajam pada Fredy.
"Pak, ini bukan masalah uang. Anda juga adalah dokter, anda pasti tau--"
Xander langsung memotong ucapan Fredy. "Dengan uang segalanya bisa cepat! Besok, bisa." pria itu menegaskan bahwa besok hasil tes DNAnya harus keluar. Ia tau benar bahwa tes DNA bisa cepat keluar sesuai dengan biaya yang dikeluarkan. Tak masalah bagi Xander mengeluarkan biaya sebanyak apapun asalkan hasil itu cepat keluar. Xander yakin Aiden adalah anaknya dan Zeevana.
Setelah keluar dari penjara, Xander langsung pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Zeevana. Dia ingin meminta maaf karena sudah membuatnya terluka. Sekalian menanyakan soal Aiden, tapi sepertinya tak akan semudah itu.
Sesampainya di rumah sakit, Xander melihat Aiden disana bersama Elara. Dia tidak tau siapa Elara, tapi dia merasa Elara adalah teman Zeevana.
"Mau apa kau datang kemari?" tanya Aiden suara yang meninggi. Zeevana dan Elara terkejut saat mendengar Aiden begitu marah pada Xander, Zeevana tidak tahu apa yang terjadi. Tapi dia yakin bahwa sebelumnya Aiden mungkin sudah bertemu dengan Xander.
Xander tidak datang sendiri, ia datang bersama dengan Fredy yang selalu mengikutinya kemanapun dia pergi. Zeevana, Elara dan Aiden terkejut melihat kedatangan Xander dan Fredy kesana. Penampilan Xander masih lusuh karena dia belum sempat pulang setelah semalam berada di jeruji besi dan langsung datang ke rumah sakit.
"Hei son, lihat...aku bawakan apa untukmu dan mommymu." pria itu tersenyum seraya melirik ke arah Fredy. Fredy menganggukkan kepala, lalu ia menunjukkan bungkusan yang dibawanya pada Aiden, Elara dan Zeevana.
"Uncle, kenapa kau datang kemari?" tanya Zeevana dengan sorot mata sendu, wajahnya masih terlihat pucat. Dia menarik tangan Aiden dengan erat. Rasanya ia ingin menangis setiap melihat Xander, namun kini pria itu menangkap ada sorot mata tegang disana. Dan Xander yakin, bahwa ini tentang Aiden.
"Uncle? Kenapa mommy memanggil dia dengan panggilan uncle?" tanya Aiden heran pada mamanya, dia jadi berpikir apakah Xander paman ibunya. "Bukankah dia berada di penjara? Kenapa dia bisa bebas?" gumam Aiden pelan.
"Dia adik dari kakek Javier, sayang." jawab Zeevana.
"Bukan, aku adalah ayahmu son." balas Xander seraya tersenyum.
Zeevana terbelalak mendengarnya. Ia mengepalkan tangannya dengan erat. Dia tidak tahu harus bagaimana didepan Aiden saat ini yang terlihat bingung. Ada berbagai macam perasaan di hatinya untuk Xander, marah, rindu, kecewa dan takut.
"Kau tidak pandai berbohong, Zee." ucap Xander dengan sorot mata tajam.
'Aku tau arti tatapan itu uncle, kau pasti butuh penjelasan. Dan mari kita bicara' batin Zeevana yang paham dengan sekali melihat sorot mata tajam Xander.
"Elara...tolong bawa Aiden pergi. Dia harus pergi sekolah sebelum terlambat." titah Zeevana pada Elara.
"Mom, ini baru pukul setengah 7." bantah Aiden seraya melihat mamanya dan dia enggan pergi dari sana.
"Aiden, pergilah! Kau harus pergi ke sekolah." tukas Zeevana pada Mommynya.
"Tidak, aku tidak mau pergi dari sini dan membiarkan mommy bersama orang jahat yang mengaku sebagai Daddyku ini!" serka Aiden keras kepala, matanya terus menatap tajam pada Xander.
"Aiden, mommy perlu bicara dengan pria ini berdua saja. Dan kau harus pergi ke sekolah, pria ini tidak akan berani macam-macam pada mommy karena sebentar lagi uncle Axelo akan datang." ucap Zeevana pada putranya. Aiden jadi lembut ketika nama Axel disebut, tapi tidak dengan Xander. Dia terlihat marah sebab pria bernama Axel itu dekat dengan putranya.
"Kalau ada uncle Axelo aku akan tenang. Dengarkan aku tuan, kalau kau macam-macam pada mommyku...kau akan mati ditanganku!" ancam Aiden begitu galak pada Xander.
"Tenang son, kemarin adalah kesalahan...aku tidak akan menyakitimu dan mommymu lagi. Aku akan memperlakukan kalian dengan baik." pria itu bersungguh-sungguh, kemarin dia khilaf dan dia berbuat kesalahan. Dia tidak akan mengulanginya lagi.
Aiden tidak menjawab, dia hanya menatap sinis ke arah Xander. Lalu dia pun jadi anak yang patuh dan pergi dari sana bersama Elara. Dan kini di ruang perawatan itu hanya ada Xander dan Zeevana saja, sebab Fredy dia suruh menunggu di luar.
Hening sesaat dan mereka berdua tenggelam dalam tatapan. Hingga akhirnya Zeevana bicara lebih dulu. "Mau apa kau datang kemari?"
"Kau sudah berubah, tapi dalam sisimu yang satu ini...kau masih sama. Menjawab pertanyaan dengan pertanyaan." seloroh Zee sambil menghela nafas.
"Sepertinya benar kata dokter, kau sudah baik-baik saja. Aku kesini--ingin meminta maaf padamu Zee," ujar Xander lembut.
"Maaf?" wanita itu mengernyitkan dahinya.
"Kemarin aku terlalu emosi dan terlalu rindu, jadi aku menyakitimu tanpa sengaja."kata pria itu tulus. Ini sungguh bukan alasan, perasaannya saat itu marah, rindu, bercampur jadi satu. Dan saat itu dia mabuk.
"Tanpa sengaja kau bilang?" Zeevana melotot, pertanda tak setuju dengan kata terakhir dalam kalimat yang dilontarkan pria itu.
"Aku tau, tak seharusnya aku mengatakan maaf dengan mudah setelah membuatku terluka. Tapi--izinkan aku menunjukkan ketulusanku dan memperbaiki semuanya." ucap Xander.
"Ketulusan apa? Apa yang harus diperbaiki? Hubungan kita bahkan sudah berakhir sejak lama." beo Zeevana lirih.
"Tidak, belum berakhir sayang. Kau masih istriku!"
"No! Aku sudah menandatangani surat cerai dan sudah menyerahkan kepadamu di hari itu!" tukas Zeevana. "Kita sudah berakhir hari itu,"
"Lalu--apa kau pikir aku akan menandatanganinya?" tanya Xander dengan satu sudut bibir yang terangkat. Zeevana pun memperhatikan raut wajah dan tatapan Xander.
"Kau--" Zeevana bingung.
"Aku tidak pernah menandatangani surat itu, kita masih menikah, kau masih istriku."
Deg!
Zeevana terdiam saat mendengarnya, lalu bulir air mata pun mulai jatuh dari pelupuk matanya. Kemudian dia bertanya kenapa Xander tidak menandatangani surat cerai itu? Xander menjawab, dia tidak mungkin dan tidak akan pernah menceraikan wanita yang ia cintai. Wanita yang sudah mengandung anaknya dan wanita yang sudah mengisi hatinya.
"Bohong, kau sama sekali tidak mencintaiku. Kau mencintai kak Tessa!" sanggah Zeevana sedih, karena mengingat kembali Tessa. Tidak mudah baginya untuk melupakan video Xander dan Tessa yang tengah berhubungan intim.
"Aku harus bilang berapa kali lagi, agar kau paham bahwa hatiku sudah berubah! Kau selalu mencurigai hatiku, kau selalu tidak percaya padaku. Hatiku sudah jatuh padamu, tidak ada lagi wanita bernama Tessa, hanya kau Zeevana!" seru Xander dengan suara meninggi, seraya menegaskan isi hatinya.
"Kata-kata saja tidak cukup untuk meyakinkanku, uncle dan apa yang kau lakukan kemarin...aku tidak bisa menerimanya."
"Kalau begitu beri aku kesempatan. Kesempatan untuk meminta maaf, untuk menunjukkan ketulusanku...untuk membuat keluarga kecil kita kembali utuh. Berikan aku kesempatan." Xander menatap lembut Zeevana, matanya berkaca-kaca. Terlihat penyesalan di sana, apalagi sikapnya kemarin yang seperti binatang.
"Keluarga kecil yang mana?" tanya Zeevana pura-pura tak tahu.
"Aiden adalah putraku, jangan berusaha menyembunyikan atau menyangkalnya lagi. Aku tau dan aku langsung mengenalinya dalam sekali lihat. Tapi--untuk sekarang aku tidak akan mempertanyakan tentang kenapa kau menyembunyikan keberadaan seorang anak dari ayahnya--"
Mendengar kata-kata Xander, hati Zeevana tertampar dan merasa bersalah. Sebab ia mengakui dalam hatinya, bahwa dirinya memang sudah menjauhkan Xander dari Aiden karena luka hatinya pada pria itu.
"Apa yang aku lakukan memang kesalahan yang fatal, aku berselingkuh, ya jelas aku bersalah dan membuatku terluka. Tapi--itu bukan berarti kau membohongiku, menjauhiku dari Aiden, anak kita Setelah aku merenung semalam di dalam jeruji besi, aku sadar bahwa aku egois dan kau melakukan ini karena kecewa padaku...namun kau juga. Kita sama-sama egois Zee. Tapi aku ingin memperbaiki semuanya, untuk memperbaiki itu aku butuh peranmu juga. Dan aku butuh kesempatan, karena saat itu kau belum memberiku kesempatan."
Xander berkata dengan lembut, dia seperti orang yang berbeda dengan sosok iblis yang kemarin menyiksa Zeevana di atas ranjang. Zeevana juga menyadari dari kata-kata Xander, dia sama egoisnya dengan pria itu.
Xander berusaha melembut, agar dia bisa mendapatkan cinta dari istri dan anaknya lagi. 6 tahun sudah cukup baginya menderita, dia ingin bahagia bersama orang yang ia cintai.
"Dibandingkan semua rasa marah itu, aku lebih merindukanmu Zee. Aku menyesal atas semuanya." Xander akan memeluk gadis itu, namun Zeevana menghindar darinya dengan cepat.
"Baiklah, tidak apa kalau kau tidak mau ku sentuh. Tapi kau harus makan, aku akan menyuapimu." ucap Xander perhatian dan membuat Zeevana gemetar menahan menangis.
'Tidak Zeevana, kau tidak boleh lemah'
****
Di bandara internasional Australia. Terlihat sepasang suami-istri baru saja turun dari pesawat. Mereka terlihat sangat bahagia ketika menginjakkan kakinya di negeri kangguru itu.
"Hubby, terimakasih kau sudah meluangkan waktu untuk datang kemari bersamaku!" kata wanita paruh baya itu senang.
"Sayangku, mana mungkin aku membiarkanmu seorang diri ketika akan menemui cucu kita." ucap pria itu sambil tersenyum. Pria yang sudah tidak muda lagi, namun masih terlihat tampan.
...****...