
...πππ...
"Maaf, aku tidak percaya dan aku ingin kita berpisah. TITIK!"
"Kumohon berikan aku kesempatan, 1 bulan...ah tidak...1 Minggu saja, aku akan buktikan kalau aku benar-benar mencintaimu." jelas Xander dengan sorot mata yang tulus.
"Tidak uncle."
Ketegasan dan keras kepala Zeevana tidak bisa diganggu gugat lagi. Tapi Xander tidak akan menyerah, ia percaya bahwa ia bisa membuat Zeevana mengubah keputusannya.
"Uncle mohon Zee," mohon pria itu dengan sangat. Namun Zeevana memalingkan wajahnya, juga hatinya untuk Xander. Meski dalam hati ia masih mencintai Xander.
"Tidak uncle, aku tidak--hmptt--"
Ucapannya terhenti manakala Xander membungkam bibirnya dengan ciuman intens. Zeevana memukul-mukul tubuh pria yang masih berstatus sebagai suaminya itu, namun dia malah mencium Zeevana semakin dalam.
'Uncle menangis?' batin Zeevana saat merasakan buliran hangat membasahi pipinya, namun bukan berasal darinya melainkan dari Xander.
"Uncle, kau--"
Begitu Zeevana menggigit bibir pria itu, barulah pagutan bibir mereka terlepas. Dengan sedikit tenaganya yang baru pulih, Zeevana menampar pipi pria itu.
Plakk!
"Jangan kurang ajar! Aku jijik berciuman denganmu." sarkas wanita itu tidak terima.
Tamparan itu sakit, tapi Xander lebih tertampar dengan ucapan dan sikap Zeevana yang sepertinya sudah sangat membencinya. Tapi ia tau besarnya rasa sakit, besarnya rasa benci, begitu pula besar rasa cintanya, makanya Zeevana sangat tersakiti oleh Xander.
"Kita tidak akan bercerai, itu keputusanku Zee." ucap Xander dengan tegas. Dia tidak akan melepaskan wanita yang ia cintai. Melepaskan wanita sebaik Zeevana, adalah kebodohannya.
"Kau mengatakan ini hanya karena kau merasa bersalah tentang bayi kita. Bukan karena kau mencintaiku, jadi hentikan semua drama ini dan akhiri saja. Aku tidak mau menjadi istrimu lagi." ucap Zeevana tegas.
Seringai terlihat di bibir pria itu. "Benarkah? Tapi kenapa aku masih melihat--kau masih ingin bersama denganku. Kau masih mencintaiku."
"Tidak, aku tidak mencintaimu lagi. Memang pernah, tapi aku tidak akan berikan hatiku pada orang yang salah lagi." ucapan Zeevana sangat tajam, namun Xander tak peduli. Ia tetap ingin mempertahankan pernikahan mereka.
"Kau masih milikku Zee, hatimu juga ragamu." Xander memeluk Zeevana dengan memaksa. Gadis itu mendorong-dorong suaminya dengan marah.
"Lepaskan aku BRENGSEK! TIDAK TAU DIRI!"
"Ternyata...kau bisa mengumpat juga. Kau terlihat sangat manis kalau marah, Zee." Xander malah tersenyum dan menggoda gadis itu. Tapi sorry, Zeevana tidak terpengaruh. Setiap melihat pria itu ia selalu teringat video dimana suaminya bercinta dengan wanita lain dan hatinya sakit mengingat itu.
"Kau gila." cetus Zeevana sinis seperti biasanya.
Meski Zeevana sudah mengatakan bahwa ia tidak akan memberikan kesempatan untuk Xander. Pria itu tidak menyerah, setiap hari bahkan kerap kali setiap saat, Xander datang menemui Zeevana di ruangannya. Padahal Savana dan semua keluarga Sanderix tidak bersikap baik ataupun ramah padanya. Xander tebal muka dan tidak pantang menyerah untuk mendapatkan kembali cinta istrinya lagi. Selain itu dia berusaha memperbaiki hubungannya dengan Javier, Savana.
"Mau apa lagi uncle kemari? Kau tidak pernah lelah ya." ucap Darren sinis.
"Mengejar cinta istri dan keluarga istriku, aku tidak akan pernah menyerah." kata Xander lalu melengos masuk ke dalam apartemen Zeevana yang berada di Paris. Karena keadaan gadis itu masih belum pulih, jadi dia belum bisa kembali ke Chicago.
Xander masuk membawa bunga dan juga makanan untuk Zeevana, istrinya. Di sofa ruang tengah, terlihat Zeevana tengah menonton film. Beruntung saat itu tidak ada Javier dan Savana. Hanya ada Darren dan Zeevana saja.
"Uncle? Kau--"
Tanpa tau malu, Xander mendekatkan dirinya lalu mengecup kening istrinya. "Apa kabarmu hari ini sayang?"
"Kurang ajar!" sarkas Zeevana.
"Sepertinya kau semakin jago mengumpat ya," ucap Xander lalu mengambil tempat duduk tepat di samping Zeevana. Ia tersenyum lalu membuka bungkusan yang di bawa. "Zee, aku bawakan kau dan juga adik iparku, steak kesukaan kalian."
"Siapa yang kau panggil adik ipar?" ketus Darren, lalu ia duduk di atas sofa tepat diseberang tempat duduk Zeevana dan Xander.
"Tentu saja kau Darre, siapa lagi." jawab Xander santai. Begitu pria itu membuka bungkusan steak, Zeevana tiba-tiba saja beranjak dari tempat duduknya.
'Ya Tuhan, jangan sampai aku mual-mual disini...nanti uncle bisa curiga' batin Zeevana menahan rasa mual dan pusingnya. Padahal sudah lama dia tidak merasakan seperti ini lagi. Tapi saat mencium bau steak, perutnya bergejolak.
"Kakak kenapa?" tanya Darren cemas.
"Wajahmu pucat sayang, apa kau baik-baik saja?"Xander ikut berdiri, ia cemas melihat Zeevana yang wajahnya pucat.
Rasa mualnya tak tertahankan lagi, Zeevana pun berlari menuju ke kamar mandi, Xander mengikutinya. Namun ia belum sempat masuk ke dalam mandi karena Zeevana keburu menutup pintunya. Xander hanya bisa mendengar suara Zeevana yang muntah-muntah di dalam sana. Xander menunggu dengan cemas.
Ceklet!
Tak lama kemudian pintu itu pun terbuka.
"Sayang, apa kau baik-baik saja? Kau sakit? Aku akan memeriksamu." Xander memegang tangan Zeevana, tapi gadis itu menepisnya lagi.
"Aku tidak apa-apa," jawab Zeevana dengan raut wajah tegang. Ia takut Xander akan tau bahwa bayi mereka masih ada. Zeevana sudah memikirkan rencana untuk secepatnya pergi dari sini, kalau bisa sekarang juga.
"Kakak hanya masuk angin," jawab Darren lalu menarik tangan Zeevana menjauh dari Xander. Darren, dia sudah tau bahwa calon keponakannya masih ada di dalam rahim sang kakak.
"Benarkah? Kalau begitu, aku aka memeriksa--"
"AKU BILANG TIDAK PERLU! APA KAU TULI?!" hardik Zeevana emosi dan membuat Xander sedikit terdiam saat itu juga.
Pria itu sama sekali tidak diberi kesempatan untuk bicara, tapi ia tetap keras kepala. Zeevana kesal dengan keras kepala Xander, dia sungguh sudah memantapkan hatinya untuk bercerai. Akhirnya ia membuat manipulasi untuk menipu Xander, agar pria itu tidak mengetahui ataupun mencegah kepergiannya.
"Baiklah, kalau kau terus kepala. Aku akan memberimu kesempatan." ucap Zeevana sambil menghela nafas.
"Sungguh? Kau mau?"mata Xander berbinar-binar dengan ucapan Zeevana. Sebuah kesempatan? Tentu ia tidak akan melewatkannya.
"Iyah, besok kita bertemu di dekat menara Eiffel. Jam 1 siang, jangan terlambat." seloroh Zeevana tegas.
'Maaf uncle, maafkan aku'
"Terimakasih... terimakasih kau sudah memberikan aku kesempatan Zee. Aku pasti datang dan aku tidak akan terlambat.'
Zeevana tidak mempedulikan bagaimana raut wajah Xander saat ini. Yang ia pedulikan adalah kepergiannya besok tanpa ada masalah apapun dan pastinya ia akan jauh dari Xander. Rasa cintanya seolah sudah hilang untuk pria itu, hatinya terbakar setiap mengingat perselingkuhan suaminya. Tidak semua orang berhak mendapatkan kesempatan kedua, tidak jika dia benar-benar yang berselingkuh. Baginya Xander tak berhak, meski ada berapa orang yang meminta Zeevana untuk memberikan Xander kesempatan. Tapi ia tidak bisa, ia tidak mau di sakiti lagi. Anggapannya, Xander tidak pernah mencintainya dan menikahinya hanya karena anak.
*****
Keesokan harinya, Xander sudah berdandan rapi dan membawa seikat bunga. Ia izin cuti satu hari dari pekerjaannya di rumah sakit. Syukurlah hari itu tak ada operasi.
Pria itu seperti orang bodoh, berdiri tak jauh dari menara Eiffel. Hingga satu dua jam berlalu, Zeevana tak kunjung datang. Xander anggap ini tidak apa-apa, ini tidak sebanding dengan penantian Zeevana yang selalu dia tinggalkan demi bertemu Tessa.
"Tidak apa-apa Xander, kau memang pantas dapatkan ini." gumam Xander menghibur dirinya sendiri. "Tidak peduli, kau sengaja atau tidak...aku akan menunggumu sampai kau datang."
Sementara itu di dalam pesawat, Zeevana berangkat sendirian dengan tujuan ke Australia. Dia akan pergi kesana untuk memulai hidup barunya, tentu setelah kedua orang tuanya setuju.
"Pasti dia sudah menerima surat cerai dariku. Maafkan aku uncle, inilah akhir dari kita. Memang tidak seharusnya aku mencintaimu, uncle. Tapi kau tenang saja, aku akan menjaga anak kita baik-baik. Silahkan kau hidup bahagia." gadis itu memegang perutnya, ia meneteskan air mata. Semoga saja keputusannya ini memang yang terbaik. Biarlah dia egois, dia hanya ingin menjaga hatinya.
****
Hujan deras mengguyur kota Paris, pria itu Xander masih menunggu kedatangan Zeevana. Hingga malam pun tiba, dia masih berada disana. Tak lama kemudian, seseorang turun dari mobil dengan membawa payung dan juga sebuah dokumen ditangannya.
"Kakak?"
"Ternyata kau masih ada disini Xander. Pulanglah, Zee tidak akan datang." kata Javier datar.
"Aku dan dia sudah memiliki janji bertemu, dia pasti datang. Aku akan menunggunya." kata Xander teguh.
"Dia tidak akan datang, dia menitipkan ini padamu." Javier tidak banyak basa-basi, ia langsung menyerahkan dokumen tersebut kepada Xander. Pria itu berteduh sejenak di bawah payung Javier untuk melihat apa yang ada di dokumen itu.
Mata Xander terbuka lebar manakala ia melihat apa yang tertera disana dan tanda tangan yang terbubuh disana.
...Divorce Agreement...
Ya, dokumen itu berisikan surat cerai yang sudah ditandatangani oleh Zeevana dan hanya tinggal menunggu tanda tangan dari Xander saja.
"Kakak...apa maksudnya semua ini?"
"Kau dan Zee sudah berakhir, tapi kau tenang saja. Aku masih menganggap mu sebagai adikku." ucap Javier menghibur.
"Dimana Zee? KATAKAN PADAKU DIMANA DIA?!" teriak Xander dengan hati yang tersayat sayat,ia telah dibohongi oleh wanita itu.
...****...