One Night Stand With My Uncle

One Night Stand With My Uncle
Bab 41. Teringat luka lama



...πŸ€πŸ€πŸ€...


Wajah Xander nampak kesal, di ruang rapat itu semua orang merasakan kekesalan Xander. Apalagi tidak adanya Zeevana disana membuat Xander semakin kesal.


"Tuan Rainer, apakah kau menganggap hari ini tidak penting? Sampai-sampai kepala desainer mu tidak datang kemari." ucap Xander dingin dan tegas.


"Maafkan saya pak, nona Sanderix sedang ada kepentingan di luar...jadi dia tidak bisa ikut." kata Axel formal. Didepan semua orang mereka bersikap formal.


"Aku tidak bisa melanjutkan ini jika ada salah seorang tidak hadir! Dan sepertinya kalian tidak serius ingin bekerjasama dengan Dacosta grup!" seru Xander lalu pergi begitu saja keluar dari ruangan itu bersama dengan Fredy. Semua orang menatap kepergiannya dengan gelisah.


"Bagaimana ini? Tuan Dacosta sangat marah, ini semua karena gadis itu." ujar seorang pria perwakilan dari perusahaan lain.


"Mr. Rainer, bagaimana ini? Kalau sampai tuan Dacosta menandai kita karena kelakuan kepala desainermu itu, kau harus bertanggungjawab!" ujar seorang pria kesal.


"Ya, lebih baik kau suruh wanita itu datang kemari agar Mr. Dacosta tidak kesal." sahut seorang wanita setuju.


"Saya akan mencoba menghubunginya," jawab Axel dan setelah itu dia pergi dari sana begitu saja, diikuti oleh Prisa dibelakangnya.


Prisa yang dari tadi diam saja langsung berkomentar, kenapa Xander sangat menginginkan kehadiran Zeevana disana. Wanita itu jadi menebak-nebak mungkinkah Xander dan Zeevana ada hubungan spesial.


"Pak, kenapa Mr. Dacosta sangat mengharapkan kehadiran nona Zeevana? Apakah mereka punya hubungan spesial? Bapak jangan marah--saya hanya menebak." kata Prisa yang merasa bersalah, dia sempat lupa bahwa bosnya ini memiliki perasaan lebih kepada Zeevana.


Axel tidak menjawab, dia hanya berekspresi dingin lalu mengambil ponselnya di dalam saku jas. Ia langsung mengirimkan pesan pada Zeevana, tidak enak bila dia langsung menelponnya. Takut menganggu.


Disisi lain Xander tampak kesal, nafasnya memburu kasar karena Zeevana tidak kuning mengangkat telpon darinya ataupun sekedar membalas pesannya. Xander jadi nethink.


"Pergi kemana dia!! Harusnya kemarin saat di hotel aku pasangi saja GPS ditubuhnya!" Xander mengacak-acak rambutnya dengan kasar. Pria itu gusar karena takut Zeevana bertemu dengan pria lain di luar sana, sungguh rasa cemburunya sekarang sangat besar setelah dia menyadari bahwa ia mencintai gadis itu.


"Fredy!"


"Ya, tuan?" sahut Fredy yang hampir tersedak karena sedang menyeruput kopi dingin. Bos dan bawahan itu kini berada di cafe hotel tersebut.


"Kenapa kau malah santai-santai begini? Cepat cari tau dimana istriku berada, atau ku pangkas habis semua gajimu itu! Dasar pemalas!" ketus Xander lalu beranjak dari tempat duduknya. Ia melampiaskan kekesalannya pada Fredy.


"Aku salah apa...bukankah dia sendiri yang meminta kami untuk makan dulu? Dasar ckckck." gerutu Fredy, lalu dengan cepat dia menyeruput kopi dingin yang ada di dalam gelas itu dan dia menyusul bosnya yang sudah melenggang pergi dari sana.


****


Di sebuah cafe yang tak jauh dari hotel Dacosta, disinilah Zeevana berada. Dia bersama dengan Joana, istri dari Dave Satigo. Pria yang selalu mengganggunya dan bernafsu kepadanya.


Melihat sosok Zeevana yang cantik, selalu membuat Joana insecure. Tak heran bila Dave begitu menggilai Zeevana meski wanita itu tidak menjadi miliknya. Namun tujuan Joana datang kesini bukan untuk mengagumi Zeevana, ataupun mencari ribut. Dia datang kesini untuk meminta maaf pada gadis itu.


"Maaf, ada hal yang penting apa hingga Mrs. Satigo datang menemui saya?" tanya Zeevana sopan. Walaupun dia sudah sering mendapatkan hinaan dari Joana.


"Saya...saya ingin meminta maaf pada anda Mrs. Sanderix." Joana menundukkan kepalanya seraya memohon maaf kepada wanita yang duduk di hadapannya itu. Dia terpaksa melakukannya demi Dave dan rumah tangganya. Padahal dalam hati, dia membenci Zeevana karena wanita itu masih menguasai hati suaminya.


"Minta maaf untuk apa Mrs. Satigo?" tanya Zeevana dengan tatapan dingin pada Joana.


"Untuk semuanya... sa-saya minta maaf." Joana masih menundukkan kepalanya. Sebenarnya wanita ini tidak pandai berbasa-basi, tapi dia terpaksa. Lidahnya bahkan kaku untuk mengucapkan kata maaf.


"Untuk apa? Katakan semua kesalahan anda." ujar Zeevana dengan nada kesal. Itu karena dia teringat dengan kondisi Aiden kemarin.


Joana pun buka mulut, dia mengatakan satu persatu kesalahannya kepada Zeevana dan Aiden. Termasuk menghina Zeevana juga didepan Aiden.


"Saya minta maaf...saya bersalah...jadi oleh karena itu, saya mohon tolong kembalikan Satigo seperti semula!" Joana, wanita itu berharap ini terakhir kalinya dia memohon maaf pada Zeevana. Ya, semoga saja Zeevana mudah luluh. Namun dugaan Joana salah.


"Mrs. Satigo, saya tidak bisa membantu anda perihal perusahaan. Karena itu bukan wewenang saya. Dan satu lagi, saya belum bisa memaafkan anda atas kata-kata kasar anda yang sudah menyakiti hati anak saya." kata Zeevana lalu beranjak dari tempat duduknya. Dia merasa percuma bicara dengan wanita yang tidak tulus meminta maaf padanya dan Aiden.


GREP!


Joana menahan tangan Zeevana, bahkan dia berlutut didepan wanita itu.


"Mrs. Sanderix saya mohon...saya mohon maaf. Tolong selamatkan rumah tangga saya! Bila anda tidak memaafkan saya dan juga membantu Satigo grup untuk berdiri, rumah tangga saya akan hancur...saya tidak mau itu terjadi." Joana akhirnya runtuh, dia terisak. Dia sangat takut kehilangan Dave, pria yang dicintainya dari zaman SMA.


Zeevana melihat wanita yang kini berlutut didepannya itu dan tindakan Joana sontak saja membuat atensi semua pengunjung cafe tersebut tertuju pada mereka.


Sekelebatan ingatan kembali terngiang di kepalanya, dimana dia dan Xander bertengkar dulu. Dimana dia merasakan rasa takut dan sakit saat rumah tangganya terancam. Perasaan Joana saat ini tak jauh beda dengan perasaan Zeevana dulu.


#Flashback


Setengah jam berlalu sejak Zeevana dan Tessa bicara di dalam apartemen Tessa. Zeevana tiba-tiba pamit, ia tak sanggup lagi mendengar semua kebohongan dan pengkhianatan suaminya. Sudah cukup! Ia akan meminta perpisahan, tapi sebelum itu ia akan mencari alasan berpisah pada keluarganya lebih dulu.


Wanita itu baru saja keluar dari apartemen Tessa, dari kejauhan Tessa tersenyum melihat wajah Zeevana yang patah hati itu. Zeevana berjalan dengan langkah gontai dan berurai air mata, mencari taksi dipinggir jalan.


Hal yang paling membuat Zeevana sakit adalah saat ia melihat video suaminya tengah berhubungan badan dengan Tessa, tertera jelas tanggalnya disana bertepatan dengan satu bulan pernikahan mereka berdua.


"Zee!"


Lamunan Zeevana buyar manakala ia mendengar suara suaminya, sekarang Xander sudah berada tepat disampingnya. Baru saja itu turun dari mobil. Nafasnya terengah-engah karena ia langsung buru-buru kesana mencari Zeevana.


"Sayang,"


"Benarkah--bahwa uncle tidur dengannya setelah 1 bulan kita menikah? Jawab yang jujur uncle..." Zeevana berat saat menanyakannya. Tapi dia harus tau jawabannya.


Xander terhenyak, ia tak berani menatap Zeevana. "Benar."


"Haaahh..." Zeevana memegang dadanya yang semakin sesak. Kakinya lemas, Xander hendak memegangnya tapi Zeevana menepis cepat tangan itu.


"Maafkan uncle, uncle memang tidur dengannya tapi itu semua tidak sengaja. Uncle tidak mencintainya lagi, uncle mulai ada rasa padamu....Zee berikan uncle kesempatan, uncle mohon lupakan masa lalu!" seru Xander pada istrinya,memohon dengan wajah memelas.


"Kesempatan? Kalau saja kau belum menikah saat kau berbagi peluh dengannya, mungkin--aku bisa mempertimbangkan untuk memberikanmu kesempatan. Tapi tidak untuk ini--kau melakukannya saat berada dalam ikatan pernikahan denganku! Kau berselingkuh dariku, padahal kau tau aku sangat mencintaimu! Alasan tidak sengaja pun, tidak bisa mengembalikan hatiku yang hancur SEBAB KAU JUGA MENIKMATINYA! KAU BAHKAN Melamarnya!" Zeevana menumpahkan semua amarahnya pada Xander, tak peduli mereka ada dimana. Wanita itu menangis, mengingat perih hatinya saat ia sibuk berjuang tapi pria itu sibuk selingkuh.


"Melamar? Zee...siapa yang..."


Zeevana melepaskan cincin pernikahannya, cincin yang menjadi lambang kesetiaannya selama ini. "Uncle jangan lupa, bahwa aku dan anak kita akan meninggalkan uncle--kalau uncle melanggar janji suci pernikahan kita. Ini...aku kembalikan ini pada uncle, semua janji itu sudah hancur dan sekarang kita sudah berpisah."


Xander kaget bukan main saat Zeevana lagi-lagi membahas soal perpisahan. Sungguh ia tidak mau berpisah, ia sudah mulai mencintai wanita yang pernah jadi keponakannya itu. Xander bahkan menolak cincin yang diberikan oleh Zeevana, sampai cincin itu terlempar ke jalan. Tapi Zeevana tak peduli, ia seolah mati rasa. Air matanya juga terlalu banyak mengalir, ia sudah lelah dengan semua drama pernikahan yang penuh kebohongan ini.


"Kita tidak akan berpisah Zee! Tidak!"


"Kita akan tetap berpisah, suka atau tidak suka. Dan ini juga bagus untuk Uncle, karena uncle bisa bersama dengan wanita yang uncle cintai itu!" cetus Zeevana lalu ia berlari menyebrang jalan tanpa melihat kanan kiri. Xander mengejarnya, namun beberapa detik kemudian....


Ckittt!!!


BRUGH!!!


Seseorang terpelanting dan terguling-guling setelah sebuah mobil berwarna hitam menabraknya. Endingnya, wanita itu terkapar di atas aspal dengan kondisi tubuh penuh luka.


#End Flashback


Zeevana berkaca-kaca, dia jadi teringat kejadian 6 tahun lalu. Dimana awal mula rumah tangganya hancur. Dan saat ini ada seorang wanita yang memohon kepadanya untuk menolong rumah tangganya.


"Saya mohon...Dave akan menceraikan saya bila kau tidak mau membantu." pinta Joanna sambil menangis.


"Berdirilah! Aku akan mencoba bicara dengan Xander," jawab Zeevana seraya membantu wanita bernama Joanna itu untuk berdiri.


"Terimakasih Mrs. Sanderix, terima kasih...dan maafkan saya karena selama ini--"


"Aku terima maafmu, asalkan kau tulus. Kalau begitu, aku pergi dulu." ucap Zeevana pamit. Dia jadi teringat luka lama saat bicara dengan Joanna. "Tapi nona Joana..." Zeevana kembali membalikkan badannya dan melihat ke arah Joanna.


"Ini hanya saran dariku, kenapa kau masih bertahan dengan sikap suamimu? Kau tau kan suamimu itu suka bermain wanita diluaran sana, lalu kenapa kau masih memaafkannya?"


"Mrs. Sanderix, di dunia ini ada yang namanya kesempatan dan saya sedang memberikan kesempatan itu kepada suami saya. Dan--saya punya anak yang membutuhkan kasih sayang ayahnya, sayang tidak bisa egois dan memikirkan perpisahan seenaknya." ucapan Joanna sontak saja membuat hati Zeevana mencelos. Apa yang dikatakan Joana tidak salah.


...****...


Aiden sudah pulang sekolah, dia baru saja menyelesaikan PR. Setelah itu ia mencoba membujuk Savana dan Javier agat menceritakan tentang bagaimana orang tuanya jatuh cinta, lalu berpisah. Anak ini tidak tahu saja, bahwa dulu kedua orang tuanya terpaksa menikah bukan karena cinta. Javier dan Savana menolak menceritakan tentang hal itu kepada Aiden dan membuat anak itu yakin bahwa memang ada yang disembunyikan oleh para orang tua ini.


Tak lama kemudian, Axel datang ke rumah itu untuk mencari Zeevana. Namun Zeevana belum pulang.


"Tuan Axel, maaf ya...tapi Zee belum pulang. Kami juga tidak tahu kemana." kata Savana ramah pada Axel.


"Tidak apa-apa dan tolong jangan memanggil saya dengan sebutan tuan, panggil saja saya Axel." kata Axel seraya tersenyum.


"Baiklah, ayo masuk...kita tunggu didalam saja." sambut Savana. Axel pun berjalan mengikuti Savana masuk ke dalam rumah. Aiden melihat kedatangan Axel, dia jadi berpikiran untuk bertanya kepada pria itu tentang masa lalu orang tuanya.


...****...