
Antonio jelas tidak percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan oleh Tessa, bahwa wanita itu mengandung anak dari cucunya 6 tahun yang lalu dan sekarang wanita itu membawa seorang anak perempuan ke mansion Dacosta.
"Kau jangan bicara sembarangan! Jika Xander punya anak, itu bukan dari wanita jalangg sepertimu, nona!" sergah Antonio yang tidak percaya begitu saja dengan perkataan Tessa.
"Tuan, tolong jangan bicara kasar didepan cicitmu..." lirih Tessa sambil memegangi anak perempuan itu. Wajahnya tampak memelas.
Antonio dapat merasakan bahwa wanita yang berada di hadapan ini bukanlah wanita baik-baik. Pasti ada niat kenapa Tessa sampai berbuat seperti ini.
"Saya tidak bisa mempercayai ucapan kamu," sanggah Antonio dengan atensi curiga pada Tessa.
Xander sangat mencintai istri dan anaknya, mana mungkin dia melirik wanita lain. Batin Antonio yang tau benar bahwa selama hidupnya Xander habiskan untuk mencari anak dan istrinya selama ini. Xander hanya mengatakan alasan istrinya pergi karena kesalahpahaman. Antonio tidak tahu kesalahpahaman apa.
"Kalau saya bisa membuktikannya, anda harus mengakui cicit anda...tuan." kata Tessa dengan senyuman percaya dirinya.
"Bagaimana bisa aku mengakuinya, sedangkan aku saja tidak yakin kau memiliki hubungan dengan Xander cucuku!" seru Antonio tajam.
Tessa tersenyum menyeringai, dengan santainya dia berjalan menuju ke arah Antonio dan menunjukkan sesuatu di ponselnya. Sontak mata Antonio melebar melihat apa yang ada di ponsel tersebut.
"Saya adalah mantan kekasih cucu anda dan saya pernah melakukan hubungan itu dengan cucu anda. Ini buktinya, anda bisa lihat sendiri!" kata Tessa dengan santainya.
"Ini...kapan ini terjadi?!" sentak Antonio bertanya pada Tessa. Dia ingin meyakinkan satu hal.
"Saat cucu menantumu yang sah sedang hamil anaknya dan tak lama setelah itu --cucu menantumu kehilangan anaknya." ungkap Tessa yang belum tau bila anak yang dikandung Zeevana saat itu masih hidup.
"Jadi--maksudmu aku akan percaya kalau Xander berselingkuh dengan wanita jalangg sepertimu dan meninggalkan istrinya yang sempurna?" lagi-lagi Antonio merendahkan Tessa. Wanita itu geram, tapi dia berusaha untuk sabar.
"Itu adalah faktanya tuan! Dan jika anda perlu bukti, biarkan tinggalkan kami tinggal disini lebih dulu dan kau bisa pastikan. Kau tidak bisa meninggalkan keturunan Dacosta di luar sana begitu saja--bukan??" kata Tessa dengan suara yang tegas.
Antonio bingung, apa yang dikatakan oleh Tessa memang benar. Jika anak perempuan itu adalah anak Xander, dia tidak bisa membiarkan keturunannya berada di luar sana. Baiklah, untuk kali ini dia akan membiarkan Tessa dan anak yang belum jelas itu tinggal di mansionnya, sampai Xander kembali dan menjelaskan semua padanya.
****
Perth, Australia.
Xander dan keluarga kecilnya masih menikmati liburan mereka di taman hiburan. Sederhana, tapi mereka terlihat bahagia dan menikmati kebersamaan. Bukankah kebersamaan itu adalah hal yang penting?
Dan bukan hanya keluarga Xander saja yang berlibur kesana. Fredy juga ikut liburan, dia ditugaskan untuk jaga-jaga juga sambil menikmati liburan gratisan dari bosnya ini. Kini mereka berempat tengah makan eskrim bersama sambil duduk menikmati suasana taman hiburan yang semakin malam semakin riuh.
"Pak, terima kasih eskrimnya." ucap Fredy sambil menjilati eskrim vanila chocochip miliknya dengan nikmat.
"Kau jangan senang dulu, apa yang kau beli hari ini akan ku potong dari gajimu!" serka Xander.
Raut wajah Fredy langsung memerah. "Woah...pak bagaimana bisa bapak begitu tega pada saya? Gaji saya sudah dipotong sebelumnya, tidak sekalian saja dihabiskan semuanya!" cicit Fredy dengan bibir yang mengerucut.
"Suka suka aku, aku bos nya." ucap Xander cuek.
Melihat Fredy bersedih, Zeevana lantas bertanya pada Fredy. Kenapa gaji di sekretaris itu sampai di potong? Memang apa kesalahan yang diperbuatnya?
"Nyonya...apa anda tau--gaji saya di potong karena nyonya mengucapkan terimakasih pada saya bukan pada pak Presdir!" Fredy mengungkapkan alias mengadu pada Zeevana tentang pemotongan gaji itu.
"Uncle, apakah itu benar? Kau kejam sekali!" Zeevana memicing menatap suaminya. Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Paman Fredy itu baik, dia selalu melakukan semua yang paman lakukan. Tapi ternyata paman sangat pelit!" seru Aiden yang ikut bicara dan menyudutkan Xander. Tentu saja pria itu tak terima disudutkan.
"Ini tidak begitu! Kalian salah paham, aku ini adalah bos paling baik..." ucap Xander membela diri. Dia tidak nyaman dengan tatapan
"Hey! Jangan lupa kalau aku menggajimu! Kau bukan kerja rodi!" seru Xander.
"Tapi pak Presdir memotong gajiku!" cetus Fredy yang memiliki keberanian didepan Zeevana dan Aiden.
"Mana bisa begitu uncle, kau tidak boleh kejam pada bawahanmu yang selalu bekerja keras untukmu. Kau memotong gajinya karena mood mu yang buruk? Ini tidak fair!"
"Sayang, tidak begitu--"
"Jangan potong gajinya! Kau tidak boleh begitu. Dan kau tuan Fredy, beritahu saja padaku jika memang uncle berani memotong gajimu lagi." cetus Zeevana pada Fredy.
"Siap nyonya!" Fredy tersenyum lebar.
"Dan kau Uncle, kau tidak boleh begitu lagi. Aku bisa melaporkanmu pada asosiasi pekerja. Kau bisa tamat nanti!" peringat Zeevana pada suaminya untuk tidak semena-mena kepada bawahannya.
"Ya sayang, aku tidak akan memotong gajinya lagi. Fredy, aku tidak akan memotong gajimu. Puas?" Xander kalah, dia tidak berkutik di depan Zeevana. Fredy tersenyum puas.
Sialan kau Fredy.
Sementara Fredy tertawa dalam hati karena sudah berhasil membuat bosnya tertekan, dia jadi mempunyai senjata bila Xander nanti bersikap menyebalkan. Zeevana dan Aiden.
Setelah makan eskrim dan makan makan disana. Xander mengajak putranya berdua saja untuk pergi ke rumah hantu, berhubung hari sudah gelap dan suasana tentunya mendukung.
"Mom, apa Mommy benar-benar akan berada disini? Mari kita masuk bertiga saja!" ajak Aiden pada Mommynya.
"Son, kau tau kan mommymu itu penakut.Jangan memaksanya." ujar Xander pada putranya.
"Tapi kan ada paman yang ikut," cetus Aiden.
"Tidak, mommy disini saja. Silahkan kalian pergi kesana." seloroh Zeevana yang memang sengaja ingin memberikan waktu kepada Xander untuk berduaan saja dengan putra mereka. Ini adalah salah satu kesempatan agar anak dan ayah itu semakin dekat dan menyelesaikan kesalahpahaman mereka.
"Tuan muda tenang saja, saya akan berada disini bersama nyonya." ucap Fredy yang sontak saja mendapatkan pelototan tajam dari Xander.
"Siapa bilang kau akan berduaan bersama dengan istriku?" pria itu cemburu.
"Kami tidak berduaan dan kami tidak akan melakukan hal yang bukan bukan. Aku hanya ingin mengajak tuan Fredy bicara."
Ya, aku harus bicara pada orang terdekatmu... agar aku tahu apa yang terjadi selama 6 tahun ini padamu, uncle.
"Tidak bisa! Kalian tidak bisa--"
"Uncle, disini ada banyak orang dan kami tidak berdua. Aku dan tuan Fredy akan bicara disana. Sudahlah kau masuk saja bersama Aiden!" seru Zeevana seraya mendorong-dorong tubuh suaminya agar semakin mendekat kepada Aiden.
"Awas kalau kau macam-macam pada istriku! Kalau kau macam-macam, bukan hanya gajimu yang ku potong--tapi juniormu!" ancam Xander tidak main-main.
"Baik tuan, saya tidak akan macam-macam." Kata Fredy patuh.
"Come on son, kita masuk ke rumah hantu!" ajak Xander seraya menggandeng tangan mungil Aiden. Anak itu membalas genggaman tangannya, sepertinya ia mulai nyaman dengan Xander.
Setelah melihat suami dan anaknya masuk ke dalam rumah hantu. Zeevana lantas langsung menginterogasi sekretaris dan sekaligus orang terdekat Xander selama ini. Dia ingin tau apa yang terjadi bertahun-tahun yang lalu kepada Xander.
...****...