
...πππ...
Para petugas kepolisian kala itu sudah mengetahui tentang Xander yang diduga kuat sebagai pelaku. Kedatangan petugas kepolisian menemui Xander adalah untuk meminta keterangan pada pria itu karena dia adalah orang yang membawa Zeevana dengan paksa ke dalam kamar hotel. Walaupun dia belum ditetapkan sebagai tersangkanya.
"Tuan Xander Dacosta, silahkan ikut kami untuk dimintai keterangan di kantor polisi!" ujar salah seorang anggota kepolisian pada Xander. Pria itu menatap semua pria berseragam polisi dengan tajam, tanpa rasa takut. Walau dalam hati ia merasa bersalah pada Zeevana karena telah melukainya.
"Silahkan pergi tuan Dacosta! Polisi sudah menjemput anda." kata Axel sembari tersenyum sinis.
"Kau juga harus pergi dari sini, aku tidak mau mau berada disisi istriku." ucap Xander dingin.
"Maafkan saya, tapi ada seseorang yang sudah mempercayakan Zee pada saya." kata Axel yang membuka darah emosi pria itu semakin naik. Ketika Xander hendak memukul Axel, tiba-tiba saja ia berhenti saat ada anak kecil yang menghampiri Axel.
"Jangan sakiti uncle Axelo!" hardik Aiden, lalu dia berdiri ditengah-tengah Xander dan Axel.
Ketika mata Xander bertemu pandang dengan anak laki-laki itu, dia merasakan hal aneh didalam hatinya. Dia merasa tidak asing juga saat melihat wajah anak laki-laki itu.
'Kenapa aku merasa aneh saat melihat anak ini? Wajahnya tidak asing' batin Xander seraya berjalan mendekat ke arah Aiden.
Aiden memicingkan mata saat melihat sosok pria dewasa yang tampan dan tampak akan memukul Axel. Dia menelisik pria itu dan melihat baik-baik ke dalam matanya, Aiden pun menyadari bahwa warna mata mereka sama. Tidak hanya itu, Aiden merasa bahwa wajah mereka mirip. Tapi siapa pria ini?
"Kau...kau anak yang tadi? Kau--kenapa kau--" Xander terbata-bata, ia bingung mau bertanya apa. Tapi dia tau bahwa anak laki-laki ini adalah anak yang tadi memanggil Zeevana dengan mommy.
"Pak polisi cepat bawa dia!" titah Axel pada polisi sebelum Xander berhasil mendekati Aiden lebih jauh. Entah kenapa ia jadi takut kalau mereka tau bahwa mereka adalah ayah dan anak.
Saat polisi itu bergerak akan memegang tangan Xander, Xander langsung meminta polisi untuk diam terlebih dahulu. "Tunggu pak! Saya pasti akan ikut ke kantor polisi, tunggulah sebentar!" ujar Xander dengan atensi yang tak terlepas dari Aiden.
Xander duduk jongkok di depan Aiden, dia melihat wajah anak itu dengan lekat. Xander membelai wajahnya. Ada rasa aneh lagi saat memegang kulitnya yang mulus dan mungil itu.
"Kau...siapa namamu nak?"
"Mommy bilang, aku tidak boleh sembarangan mengatakan namaku pada orang asing." ketus Aiden pada Xander, entah kenapa dia merasa tertusuk dengan kata-kata Aiden.
"Mommymu, dia Zeevana? Benar?" Xander mengganti pertanyaannya.
"Aku adalah suami dari mommymu, son. Mungkinkah kau adalah--"
"Itu tidak benar Aiden, mommymu sudah bercerai dengannya dan dia adalah pria yang sudah membuat mommymu masuk rumah sakit." sanggah Axel dengan cepat memotong ucapan Xander.
'Ya Tuhan...kenapa aku bicara begini? Kenapa aku ingin Aiden membenci ayahnya sendiri?' batin Axel.
Rahang Aiden mengeras, terlihat wajahnya yang memerah. Ia teringat saat melihat sakitnya Zeevana tadi, pergelangan tangannya memar. Sungguh, Aiden sakit hati melihat mamanya seperti ini. "Jadi--kau adalah orangnya? Kau yang sudah melukai mommyku? Kau orang jahat! Aku benci padamu! Kau pantas di penjara!" teriak Aiden murka.
Xander terdiam, hatinya tersentak mendengar kata-kata benci keluar dari bibir Aiden. Perlahan air matanya luruh. "Tolong jangan bilang benci padaku," ucapnya sendu.
'Kenapa aku merasa aneh saat didekatnya? kenapa aku menangis?' batin Xander.
"Maaf pak! Anda tidak bisa berlama-lama disini, pembicaraan bapak dan anak bapak bisa dilakukan nanti setelah bapak dimintai keterangan." jelas polisi itu tegas.
Sontak saja kalimat si pak polisi itu membuat Aiden dan Xander tercengang. Apalagi Xander yang menang menyadari ada kemiripan diantara mereka.
'Apa dia anakku dan Zee? Tapi mana mungkin--anak kami saat itu sudah meninggal. Namun--dia sangat mirip denganku, aku pun merasa familiar dengannya' batin Xander yang mulai meyakini bahwa Aiden adalah putranya dan Zeevana, apalagi usia Aiden juga mungkin sama dengan anaknya yang keguguran saat itu.
"Dia bukan ayahku! Dia itu orang jahat!" seru Aiden.
"Aku ayahmu nak, aku yakin itu. Dan--ayah pasti akan kembali padamu. Tolong jaga ibumu dan sampaikan permintaan maaf dari ayahmu ini." Xander tersenyum tipis, ia membelai wajah Aiden. Anak itu sontak saja menghindar.
"Jangan sentuh aku! Kau bukan ayah ku!" seru Aiden menggebu.
"Jaga ibumu baik-baik, ayah akan segera kembali." kata Xander seraya mengusap kepala Aiden meski anak itu menghindar.
'Zee, apa yang sebenarnya kau lakukan? Kenapa kau menyembunyikan tentang anak kita? Kau berhutang banyak penjelasan padaku' batin Xander.
Xander pun dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan. Ia tak lupa meminta sekretaris yang untuk membawa seorang pengacara andal agar bisa membebaskan diri dengan cepat. Dia juga ingin melakukan tes DNA terhadap Aiden secara diam-diam untuk mengukuhkan bahwa anak laki-laki itu memang benar anak kandungnya.
...****...