
Tak hentinya anak laki-laki yang bernama Raphael itu mengejek Aiden dan mengatakan ibunya adalah jalangg, dia terus memancing amarah anak itu. Sampai di ruang guru pun mereka berani berkelahi lagi. Wali kelas mereka Bu Betty tidak ada pilihan lain selain memanggil kedua orang tua dari dua anak laki-laki ini ke sekolah.
****
Di kantor cabang Dacosta grup, Xander tengah menyelesaikan pekerjaannya bersama Fredy. Sebelum dia akan kembali ke rumah sakit dan menjenguk Zeevana. Dia akan memulai usaha untuk mendapatkan kembali istri dan anaknya, menciptakan keluarga yang utuh dan pastinya itu tidak akan mudah.
Ketika tengah berdiskusi, ponsel Fredy bergetar dan berbunyi. Xander menegurnya yang tidak mematikan ponsel disaat serius seperti ini.
"Cepat angkat telponnya, berisik!" seru Xander kesal.
"Baik pak, maafkan saya." Fredy merogoh saku celananya lalu membuka ponselnya. Fredy melirik ke arah Xander setelah ia melihat siapa yang menelpon.
"Kenapa kau malah melihatku? Tidak diangkat?" tanya Xander sinis.
"Maaf pak--tapi ini dari pihak sekolah tuan muda. Tadi bapak menyuruh saya untuk menyerahkan nomor telpon pada wali kelas tuan muda dan sekarang wali kelas tuan muda yang menelpon."
Mendengar penuturan dari Fredy, Xander langsung meminta ponsel sekretarisnya itu dan dia yang akan mengangkat telponnya. Dia cemas mungkin terjadi sesuatu pada Aiden di sekolah.
"Halo selamat siang."
Tidak terdengar suara dari sana, hanya terdengar suara Xander saja. "APA? Baiklah saya akan segera kesana, istri saya sedang sakit. Dan tolong jangan beritahukan hal ini pada istri saya." jelas Xander.
Tak lama kemudian Xander menutup telponnya. Ia langsung mengembalikan ponsel itu pada Fredy. "Pak, anda mau kemana?" tanya Fredy saat melihat Xander memakai jasnya lagi. Wajah pria itu terlihat lelah, ya semalaman di jeruji besi dia tidak tidur, paginya dia pergi ke rumah sakit menjaga Zeevana, lalu dia langsung pergi bekerja dan sekarang dia akan pergi lagi.
"Aku akan pergi ke sekolah putraku. Ada masalah."
"Tapi pak--bagaimana dengan proposal dari para perusahaan desain ini?" tanya Fredy bingung.
"Kau sudah tau mana yang terbaik, tentu saja Rainer design." Kata Xander tanpa basa-basi lagi. Fredy langsung paham, dia mengurus semua dokumen persetujuan kerjasama dengan perusahaan Rainer dan sudah bisa ditebak bahwa Xander tidak akan kembali ke Inggris sebelum masalahnya disini selesai.
Dia perlu merebut hati istri, anak dan juga mertuanya. Itu sangat berat, tapi Xander tak akan menyerah. Tanpa ditemani Fredy, Xander pergi ke sekolah Aiden. Beruntungnya Bu Betty belum sempat menelpon Zeevana yang ada di rumah sakit, sebab Bu Betty ingat pesan Elara dan Fredy bahwa Zeevana di rumah sakit.
****
Di sekolah TK itu, ibu dari Raphael datang dan memarahi Aiden habis-habisan karena anak itu sudah membuat anaknya terluka. Tapi--Aiden juga sama terlukanya dengan Raphael. Namun semua luka di tubuhnya tak sebanding dengan rasa sakit di dalam hatinya karena ibunya di hina.
"Apa yang kau lakukan dasar anak JALANGG? Kau lihat ini? Putraku sampai terluka karenamu, memang kau anak yang tidak punya sopan santun!" hardik wanita yang bernama Joanna itu pada Aiden.
"Tolong jangan menghina mommyku, anda tidak berhak begitu!" serka Aiden sambil melotot pada Joanna.
"Apa? Anak JALANGG ini...kau berani menyela orang tua bicara?!" sentak Joanna dan membalas tatapan tajam anak itu.
"Nyonya Satigo, mohon perhatikan ucapan anda!" seru Bu Betty yang tidak tahan lagi dengan mulut pedas Joanna.
"Kalau anda adalah orang tua, bicaralah seperti orang tua. Jangan bicara kotor didepan anak kecil! Kau dan anakmu sama saja, nyonya." seru Aiden berani dan membuat Joanna semakin emosi. Bu Betty mencoba menenangkan Aiden yang marah, anak itu sangat sakit hati bahkan air matanya mulai mengucur.
"APA KAU BILANG? Aku tidak heran dengan sikap kurang ajarmu ini, pasti ibumu yang jalangg itu yang mengajarimu begini? Ya, tidak heran...sebab ayahmu saja tidak jelas siapa. Jadi tidak ada yang mengajarimu sopan santun," ketus wanita bernama Joanna itu pada Aiden.
"Jaga bicara anda nyonya! Siapa yang bilang ayah Aiden tidak jelas?"
Suara seorang pria yang tegas itu membuat atensi semua orang di ruang guru tertuju pada seorang pria yang tengah berdiri diambang itu. Ya, dia adalah Xander dan kini dia sedang berjalan menghampiri Aiden.
Para guru berbisik-bisik, mereka mengenali wajah Xander sebagai pengusaha besar termuda di benua Amerika. Dacosta grup, namanya terkenal dan hampir semua produk menggunakan namanya. Jelas, mereka jadi tau siapa pemimpinnya.
Aiden sempat menoleh ke arah Xander, lalu dia kembali menundukkan kepalanya. Tak berani melihat sosok Xander. Menyembunyikan wajah yang terluka dan matanya yang mulai memanas karena air matanya akan runtuh.
Kepala sekolah yang tadi diam saja, dia langsung beranjak dari tempat duduknya dan menyambut sosok pengusaha besar yang selalu terlihat di majalah dan berita itu.
"Tuan Dacosta, selamat datang tuan." sapa pria paruh baya yang menjabat sebagai kepsek disana.
"Saya datang kesini bukan untuk berbasa-basi, tapi untuk anak saya Aiden." kata Xander dengan wajah dinginnya.
"Aiden? Maaf tuan, ada hubungan apa tuan dengan anak tidak jelas ini?" tanya Joanna pada Xander yang langsung mendapatkan lirikan sinis dari pria itu.
Xander kehilangan kesabaran, lalu mengangkat tubuh Joanna dengan satu tangannya. Semua orang di ruang guru terkejut dengan apa yang dilakukan Xander. Aiden juga melihat apa yang dilakukan Xander. "Kau bilang anakku tidak jelas?" sarkas pria itu pada wanita yang mulutnya tak bisa dijaga.
"Apa yang kau lakukan? Apa kau mau memukulku?" tanya Joanna terbelalak dan dia berusaha melepaskan dirinya dari Xander.
"Tuan Dacosta mohon tenang! Ini di sekolah tuan..." kata pak kepala sekolah pada Xander, ia berusaha melerai, takutnya terjadi sesuatu.
"Mari kita bicara baik-baik tuan Dacosta, nyonya Joanna." kata Betty yang berusaha melerai juga.
"Andai kau pria, pasti kau sudah habis ditanganku nyonya! Baik, kita selesaikan ini dengan bicara dulu sebelum aku merobek mulutmu itu!" Xander melepaskan wanita itu dengan gerakan sedikit mendorongnya.
Lalu mereka pun bicara sambil duduk di sofa, dengan kedua orang tua dan anak mereka juga. Betty menjelaskan duduk permasalahannya. Bahwa kedua anak itu berkelahi karena Aiden memukulnya duluan sampai wajah Raphael babak belur, tapi Aiden tidak memukulnya tanpa alasan.
"Saya yakin anak saya punya alasan kenapa dia memukul temannya lebih dulu." ucap Xander membela Aiden.
"Itu sudah jelas karena anak ini tidak tau sopan--" Joanna kembali emosi dan Xander juga ikut emosi. Dia sangat gemas dengan mulut Joanna.
"Nyonya Joanna, mohon jangan menyela. Kita tanya anak-anak lebih dulu." Betty kembali menengahi.
"Aiden, kenapa kau memukul Raphael? Apa ada hal yang membuatmu marah?" tanya Betty lembut, Xander juga tak jauh darinya dan menatap putranya itu.
Aiden terdiam, dia tidak mau mengatakan bahwa Raphael menghina ibunya. Hatinya semakin terluka bila dia mengatakan dengan bibirnya sendiri.
"Tanyakan saja padanya, bibirku tidak boleh mengucapkan kata-kata kasar itu sebab aku masih anak-anak." ucap Aiden sambil membuang muka, menyembunyikan tangisnya.
Xander pun mendekatinya, ia duduk jongkok didepan putranya. Ia yakin ada yang disembunyikan oleh Aiden. "Son, katakan pada Daddy...apa yang dilakukannya sehingga kau memukulnya? Kau pasti punya alasan kan?" pria itu berusaha meraih tangan Aiden, tapi anak kecil itu menjauh darinya. Baiklah, kini Xander tau bahwa anaknya pun sulit di luluhkan.
"Apa mungkin dia mengatakan sesuatu yang menyakitimu?" tanya Xander lagi dan kali ini Aiden merespon dengan menoleh ke arahnya. Matanya berkaca-kaca.
"Sudahlah! Ini sudah jelas bahwa anak tidak jelas ini bersalah." ucap Joanna ketus dan kali ini Xander langsung beringsut lalu mengangkat tangannya didepan wanita itu.
Namun dia masih ingat ada dimana dan ada siapa saja disana. Dia berusaha menahan emosinya.
Tak lama kemudian, dua orang anak laki-laki datang ke ruang guru. Mereka mengatakan apa yang terjadi pada semua orang yang ada disana, apa yang membuat Aiden marah.
"Bu guru, Aiden tidak bersalah...dia memukul Raphael karena Raphael sudah mengatai ibunya jalangg dan ayah Aiden tidak jelas siapa." jelas anak laki-laki itu polos dan apa adanya. Akhirnya semua pertanyaan itu terjawab, dan Xander tidak terima istrinya di hina seperti ini.
"Benar kau bilang begitu?" tanya Xander dengan tatapan tajam pada Raphael dan membuat anak itu ketakutan. "Jawab!" teriak Xander.
"Mommy yang mengatakannya...mommy bilang ibunya Aiden menggoda Daddyku. Dan ayah Aiden tidak jelas."
Sontak saja penjelasan dari Raphael membuat wajah Joanna memucat. Ya, dia memang mengatakan itu pada anaknya. Itu karena suaminya masih berusaha mendekati Zeevana meski sudah menikah dan punya anak.
"Beraninya kau mengatakan hal seperti ini pada anakmu dan membuatnya menghina anak dan istriku. Tidak...ini tidak bisa dibiarkan dan tidak bisa dibicarakan baik-baik." decak Xander kesal.
Bu Betty dan kepala sekolah meminta Joanna dan Raphael meminta maaf saja agar masalahnya cepat selesai. Dengan terpaksa mereka meminta maaf pada Xander dan Aiden, tapi itu tidak membuat Xander puas karena tetesan air mata putranya sempat jatuh karena kata-kata hinaan itu.
"Tuan...saya sudah minta maaf, jadi masalah ini sudah selesai. Mohon maafkan kami." kata Joanna.
"Siapa nama suamimu?" tanya Xander tiba-tiba.
"Apa?"
"Siapa nama suamimu?" ulang Xander kembali bertanya.
"Dave...Dave Satigo." lirih Joanna pelan.
Tanpa banyak bicara, Xander menelpon Fredy dan memerintahkan padanya untuk menarik semua modal dari perusahaan Satigo. Tak lama setelah itu, Joanna menerima telpon dari suaminya. Dia berusaha meminta maaf pada Xander dan Aiden, tapi mereka tidak mendengarkannya.
Xander membawa Aiden pergi setelah mengobati luka-luka di wajahnya. Mereka tidak langsung ke rumah sakit, Xander membawa Aiden untuk makan siang lebih dulu. Mereka berada di sebuah restoran ayam tepung.
"Maaf, Daddy membawamu kesini...Daddy tidak tau kau suka apa. Biasanya anak-anak suka ayam tepung."
"Aku suka." jawab Aiden dingin sambil memakan ayam tepungnya.
"Baguslah, Daddy pikir kita sama...Daddy juga suka ayam tepung. Dulu ibumu selalu membuatkannya untuk Daddy." sahut Xander lembut, ia teringat masa-masa dulu saat di apartemen.
"Maaf...apakah benar kau dan mommyku pernah menikah? Apa kalian masih suami-istri?" tanya Aiden seraya menatap tajam pada Xander.
"Iya dan Daddy adalah ayahmu." jawab Xander tegas.
"Lalu--kenapa kalian berpisah?" tanya Aiden yang sontak saja membuat Xander tidak langsung menjawab, namun membutuhkan waktu lama untuk berpikir. Haruskah dia membahas dosanya di masa lalu pada anaknya? Bahasan orang dewasa yang tidak seharusnya Aiden tau?
****