
...πππ...
Setelah menempuh perjalanan sekitar 10 menit ke rumah sakit terdekat disana, akhirnya Xander dan Zeevana sampai di rumah sakit. Wanita itu masih merintih kesakitan di dalam gendongan suaminya.
"Sabar ya sayang, uncle akan bawa kamu ke dokter Alice!" ujar Xander cemas, sambil berlari menggendong istrinya. Zeevana tidak mengindahkan ucapan Xander yang memperhatikannya dan cemas padanya, sumpah demi Tuhan dia tidak peduli. Ia hanya peduli pada bayi yang ada di dalam kandungannya.
Tak lama kemudian, Xander sampai didepan ruangan dokter Alice, kakak sepupu Axelo dosen Zeevana di kampus. Alice juga adalah teman satu almamater bersama Xander. Kebetulan Alice baru saja selesai memeriksa pasien dan jadwalnya kosong, sehingga ia bisa cepat menangani Zeevana.
"Ugh...." rintih Zeevana sambil memegang perutnya.
"Alice, tolong cepat!" seru Xander sambil memegangi tangan istrinya, ia melihat Alice yang sedang mengambil sebuah suntikan di atas meja kerjanya.
"Sebentar." sahut Alice lalu berjalan menghampiri Zeevana setelah mengisi sesuatu di dalam suntikan itu.
"Aku disini sayang, kau jangan--"
"Lepas! Kau malah menambah rasa sakitku!" tukas Zeevana seraya menepis tangan Xander, terlihat matanya memerah penuh kemarahan.
Alice menyadari ada yang aneh dengan pasangan suami-istri itu. Namun ia memusatkan fokusnya pada Zeevana yang masih merintih kesakitan. Alice menyuntikkannya cairan pereda rasa sakit yang aman untuk wanita hamil. Setelahnya Zeevana merasa lebih baik walau nafasnya terengah.
"Bagaimana? Sudah lebih baik Zee?" tanya Alice ramah.
"Iya dokter," sahut Zeevana lemas, lalu perlahan matanya terpejam. Tangannya terkulai diatas ranjang itu.
"Zee--kau--" Xander panik melihat istrinya tiba-tiba memejamkan matanya begitu saja.
"Tenanglah, dia tidak apa-apa. Dia hanya tertidur karena efek obat pereda rasa sakit yang aku berikan." jelas Alice seraya menenangkan Xander. Kemudian pria itu dan Alice mulai bicara tentang kondisi Zeevana.
"Alice, sebenarnya ada apa dengan istriku?"tanya Xander cemas.
"Kau baru tanya ini sekarang? Kemana saja kau selama ini? Sudah 2 bulan kau tidak mengantar istrimu untuk periksa kandungan bukan? Suami macam apa kau ini, Xander?" Alice mengomeli Xander karena sudah dua bulan, Zeevana memeriksakan kondisi kehamilannya seorang diri tanpa ditemani Xander.
"Aku...aku...setahuku, kandungannya baik-baik saja." gumam Xander bingung, mau menjelaskan bagaimana.
"Jangan gunakan sibuk sebagai alasan. Sesibuk apapun dirimu, apa kau tidak bisa menyempatkan menemani istrimu kontrol kandungan?" Alice kembali mengomel pada pria itu. Alice mengenal Xander sekilas, tapi dia bisa tau bahwa sikap Xander sangat dingin pada wanita lain. Namun tidak pada Tessa, Xander sangat baik dan lembut pada Tessa. Cinta pertamanya.
"Jangan mengomeliku, katakan saja apa yang terjadi? Kenapa istriku kesakitan? Apa terjadi sesuatu pada bayi kami?" sentak Xander pada Alice.
"Kita bicara di ruanganku." Alice mengajak Xander untuk berbicara di ruangan dokter kandungan itu agar lebih leluasa.
Sesampainya disana, Xander terus mencecar Alice dengan pertanyaan dan ia tak sabar mendengar jawabannya. Alice mengatakan bahwa Zeevana mengalami keram perut karena stress. Alice juga menjelaskan bahwa tekanan darah Zeevana tinggi, untuk ukuran ibu hamil. Keadaan Zeevana bisa dikatakan tidak baik. Xander terdengar cemas saat mendengarnya, ia semakin merasa bersalah sebab selama ini tanpa sadar dirinya telah mengacuhkan Zeevana dan anak mereka. Tapi tetap saja Xander tak bisa jujur.
"Kau seorang dokter, meski kau bukan dokter kandungan. Kau pasti tau kan kalau ibu hamil tidak boleh stress. Tubuhnya juga terlalu kurus, selama melakukan pemeriksaan. Kondisi istrimu sangat tidak baik, Xander. Aku selalu ingin bicara padamu, tapi kau malah sibuk dengan Tessa."
Deg!
Xander tercekat dan langsung menoleh tajam ke arah Alice. Dalam hati ia bingung, kenapa Alice bisa tau tentang dirinya yang selalu bertemu dengan Tessa.
"Kenapa? Kau mau menyangkal? Aku sudah tau semuanya dan mungkin istrimu juga sudah, makanya dia dalam keadaan seperti ini. Xander kau sungguh bodoh, kenapa kau masih berhubungan dengan wanita Players itu? Istrimu sangat baik, dia cantik, masih muda dan mempunyai sikap lembut, tapi kau--"
"Aku punya alasan." kilah Xander.
"Alasan apapun tidak dibenarkan dalam perselingkuhan. Percayalah Xander, kau akan sulit mendapatkan kesempatan! Karena kau membuat orang ketiga berada diantara kalian." jelas Alice ikut marah, saat ia mengetahui kejadian beberapa hari yang lalu. Ketika ia melihat Tessa datang ke rumah sakit dan berpelukan dengan Alice. Bukan hanya itu, Alice juga memergoki Xander masuk ke dalam apartemen Alice.
"Aku...aku pasti akan mendapatkan kesempatan itu dan mempertahankan rumah tangga kami. Masih ada calon dari buah cinta kami..." gumam Xander meski ia meragu. Ia pun merasa bahwa kebohongannya sangat fatal.
"Kau yakin itu buah cinta? Bukankah kau melakukannya dengan Zeevana karena kecelakaan, karena rasa sakit hatimu pada Tessa?" Alice sarkas. Jangan lupakan bahwa Alice adalah teman Tessa juga. Ia benci pada Tessa karena gadis itu pernah merebut kekasihnya. Dan sekarang dia juga merusak rumah tangga orang lain, mantan kekasihnya.
"Tapi aku tidak mencintainya lagi!" kata Xander serius.
"Aku..."
"Sebenarnya ada apa denganmu Xander, mengapa kau berat berpisah darinya?" tanya Alice heran, kenapa Tessa begitu penting sampai pria itu mengabaikan Zeevana.
'Bagaimana bisa aku menjauhinya? Jika aku jauh darinya dan tidak menurutinya, maka--video itu akan disebarkan dan Zee pasti akan sangat marah padaku? Tuhan...aku juga dilema, kejujuran ini akan sangat menyakitkan'
Xander terdiam dengan mata berkaca-kaca, ia teringat tentang kejadian malam itu, 2 bulan yang lalu. Saat ia sedang menghadiri acara reuni jurusannya, Xander pergi ke sebuah club' malam. Zeevana tidak ikut kesana sebab ia ketiduran di apartemen Laura. Di acara itu dia minum sesuatu yang ia pikir adalah jus, padahal bukan. Pria itu mulai kehilangan kesadarannya, ia bertemu dengan Tessa. Tessa membawanya pergi dari sana ke apartemen, kemudian gadis itu menggodanya dengan mulai mencium bibirnya. Xander tau itu Tessa, tapi memang dasar ia tidak tahan dengan godaan tubuh Tessa yang begitu aduhai.
Xander mencumbuinya, menggagahi gadis itu untuk pertama kalinya. Namun Tessa bukanlah gadis pertamanya, sebab tempat pertama sudah menjadi milik Zeevana. Jujur, saat itu Xander masih menyimpan rasa pada Tessa. Hingga secara naluri, nafsu, tergerak penuh gairah pada malam itu. Dia telah melakukan khilaf terdalam.
Setelahnya Xander menyesal, sangat menyesal bahwa ia sempat lupa dirinya sudah menikah dan akan punya anak. Sungguh, Xander merasa bersalah tapi semua tak ada gunanya, faktanya Xander memang sudah tidur dengan Tessa. Niatnya yang ingin melupakan semua kejadian one night stand bersama mantannya, malah membuatnya terikat sebuah rantai dari ancaman Tessa padanya tentang video one night stand mereka berdua.
****
Setelah mendengarkan saran dari Alice, Xander memutuskan untuk merahasiakan hal ini pada Zeevana. Padahal Alice memintanya jujur, kalau jujur maka banyak yang akan hancur. Ia juga tidak mau berpisah dengan gadis itu dan jujur saja Xander sudah ada sedikit rasa pada Zeevana.
"Sayang, kau sudah bangun? Apa kau lapar?" tanya Xander pada istrinya. "Kata dokter Alice, kau bisa pulang tapi besok. Sebab ini sudah malam." jelasnya lagi tanpa mendapatkan tanggapan dari Zeevana. Hanya tatapan tajam yang tertuju pada suaminya.
"Sayang, apa kau mau makan sesuatu? Atau--kau masih sakit?" tanya Xander lagi, sebab pertanyaannya tak kunjung mendapatkan jawaban.
"Sayang..." Xander akan menyentuh tangan Zeevana, tapi wanita itu kembali menghindar.
"Jangan sentuh aku, jangan panggil aku sayang. Aku jijik," tatapan Zeevana yang semula selalu lembut pada Xander, kini berubah jadi penuh amarah, mungkin juga ada kebencian. Pantaskah Xander untuk sakit hati mendapatkan perlakuan seperti ini? Setelah semua yang ia lakukan, bahkan itu lebih kejam pada Zeevana.
"Sayang..." Xander memegang tangan Zeevana dan sontak saja wanita itu kembali menepisnya.
"LEPAS!" teriak Zeevana emosi.
"Maafkan aku--kumohon tenangkan dirimu, nanti bayi kita kaget. Jangan berteriak-teriak sayang," pinta Xander cemas.
"Peduli apa kau soal bayiku? Sana pergi saja dengan kekasihmu itu, menjijikkan!" teriak Zeevana marah. Zeevana turun dari ranjangnya, kemudian dia mencabut selang infus itu.
"Kau mau kemana sayang? Kau masih sakit!" Xander terpaksa memegangi Zeevana dengan paksa.
"Bukan urusanmu," tukas Zeevana marah.
"Zee!"
"Telpon Laura dan suruh Laura kemari, aku ingin ditemani Laura..." lirih Zeevana meminta. Nafasnya terengah karena lemas.
"Tapi aku ada disini, ada aku yang menemanimu." ucap Xander seraya memeluk paksa istrinya.
"Aku tidak mau di temani oleh pria yang suka celap celup sepertimu. Aku mau ditemani Laura, kalau kau tidak mau mengabulkan. Aku akan pergi ke apartemennya." ancam Zeevana tegas.
"Baik...aku akan menelponnya sayang, baik." Xander mengalah, ia tidak mau membuat Zeevana dan calon bayinya semakin stress. Dia turuti keinginan Zeevana yang ingin ditemani oleh Laura.
Setelah Laura datang kesana, Zeevana meminta Xander untuk membelikannya makanan di luar. Selagi Xander pergi, Zeevana mulai bicara pada Laura sahabatnya.
"Ada apa Zee? Kenapa kau bisa masuk rumah sakit?" tanya Laura cemas. Pertanyaan Laura sontak saja membuat gadis itu menangis, padahal sedari tadi ia sudah menahannya.
"Eh..kenapa kau menangis? Ada apa, Zee?"
"Laura...aku mohon..bawa aku pergi aku dari sini sekarang juga. Bawa aku pergi jauh dari uncle. Aku tidak mau bersamanya lagi..."
Laura bingung melihat sahabat baiknya menangis dan meminta dibawa pergi dari sana.
...****...