One Night Stand With My Uncle

One Night Stand With My Uncle
Bab 45. Green light dari Savana



...🍁🍁🍁...


Xander tercengang dengan mata melebar saat Zeevana mengatakan dengan santainya bahwa dia akan bertemu dengan Axel, pria yang menyukai istrinya dari dulu. Bagaimana tidak marah, jelas dia cemburu.


"Sepertinya kau lupa aku masih suamimu." ucap Xander ketus. "Dan sepertinya kau lupa dengan pembicaraan kita semalam!" ungkapnya lagi kesal. Xander menganggap bahwa Zeevana yang ingin bertemu dengan Axel karena tidak menganggap omongan mereka semalam hanyalah angin lalu. Xander merasa tidak dihargai, pasalnya percuma dia berjuang kalau yang diperjuangkan pergi pada pria lain.


"Aku tidak pernah lupa, tapi--aku bertemu dengannya untuk urusan bisnis. Dan ada hal yang harus kami bicarakan." jelas Zeevana datar. Tadi pagi-pagi sekali Zeevana menerima telpon dari Axel, pria itu ingin bicara soal juga Aiden. Zeevana tau pria itu tidak akan berani macam-macam, selama ini ia tau Axel adalah pria baik yang selalu menjaga batasan. Jadi dia menerima ajakan bertemu dari bosnya itu.


"Kalau aku melarangmu, bagaimana?" tanya Xander dengan kedua alis terangkat ke atas, tatapannya sangat retoris kepada wanita itu.


"Aku akan tetap pergi, tapi--aku akan segera kembali. Kau dan Aiden pergi saja duluan ke taman hiburan, nanti aku menyusul." ucap Zeevana.


"Zee, aku tidak mau kau pergi." pinta Xander merengek pada wanita itu.


"Uncle, kau harus percaya padaku. Aku sudah berjanji maka pasti akan ku tepati, aku tidak akan berbuat macam-macam." lugas Zeevana pada Xander. Pria itu tau bahwa saat Zeevana memutuskan sesuatu, pasti dia akan tetap dengan keputusannya. Salah satu keputusannya yang tidak bisa diubah adalah saat Zeevana membohongi Xander tentang anak mereka yang masih hidup dan pergi 6 tahun yang lalu. Dan Xander juga percaya bahwa ketika wanita itu sudah berjanji akan sesuatu, dia pasti akan menepatinya. Hanya saja Xander tidak mau Zeevana menemui Axel, bukannya dia tidak percaya pada wanita itu, namun dia tidak percaya ada Axel.


Xander tidak bicara apa-apa lagi selain mengiyakannya, dia membiarkan istrinya untuk pergi menemui pria lain. Meski curiga ada di hatinya. Setelah Zeevana keluar dari kamar itu, Xander langsung menelpon seseorang dan menyuruh orang itu untuk mengikuti istrinya. Biarlah dia disebut sebagai suami pencemburu, ia tak peduli. Setelah menelpon anak buahnya, Xander bergegas menyiapkan pakaian untuk Aiden. Ia akan melakukan tugas seorang ayah yang belum sempat dia lakukan selama ini.


Sebelum berangkat menemui Axel, Zeevana melihat kedua orang tuanya mendorong koper seperti akan segera pergi dari sana. Hatinya mencelos melihat wajah Mommy dan Daddynya masih muram meski dia sudah meminta maaf tadi pagi.


"Mom...dad,"


"Ya sayang?" sahut Javier pada putrinya, sedangkan Savana hanya tersenyum tipis menanggapi Zeevana. Biasanya Savana tidak seperti ini, dia akan selalu menanggapi putrinya. Entahlah, mungkin dia masih marah dengan tuduhan Zeevana kemarin. Zeevana sungguh merasa tidak nyaman sudah menuduh mamanya yang bukan bukan.


"Mommy-- Daddy, apakah kalian benar-benar akan pergi hari ini? Kalian akan kembali ke Chicago, hari ini?" tanya Zeevana dengan menatap pada mommy dan daddynya segera bergantian.


"Iya, sudah waktunya kami untuk kembali. Lagipula Daddy tidak bisa meninggalkan Arsen disana sendiri, dia masih membutuhkan pengawasan dari Daddy mengenai pengelolaan perusahaan." tutur Javier panjang lebar, agar Zeevana tidak merasa bersalah. Sebenarnya apa yang dikatakan pria itu tidak sepenuhnya alibi, memang benar dia dan istrinya harus segera kembali ke Chicago sebab banyak pekerjaan yang menanti disana. Namun alasan lain dari kembalinya mereka kesana adalah karena Savana yang masih memendam rasa kecewa pada Zeevana.


Bisa-bisanya Zeevana menuduh mommynya yang sudah memberitahukan identitas perihal masa lalunya dan Xander. Sebenci apapun Savana pada Xander, ia tidak mungkin mengatakan hal yang bisa membuat cucunya terluka hatinya. Tidak mungkin! Dan Savana kecewa pada Zeevana yang menyalahkannya. Semalam dia menangis di dalam pelukan suaminya, tapi hal itu tidak dapat mengurangi rasa sakit di hatinya terhadap Zeevana.


"Dad, mom, maafkan aku...maafkan aku karena aku sudah menyakiti hati mommy." Zeevana mendekati ibunya dan memegang tangan Savana. Wanita yang melahirkannya.


"Lupakan saja. Mommy harap kau bahagia dengan Xander dan Aiden disini." tegas Savana tanpa menoleh ke arah Zeevana.


Dari sini Zeevana yakin bahwa Mommynya masih merasakan sakit karena tuduhannya semalam.


"Mommy maafkan aku, mommy jangan marah lagi." pinta Zeevana dengan mata yang berkaca-kaca. Dia tidak berharap keadaannya dan Savana akan jadi seperti ini.


"Mommy baik-baik saja, mommy hanya butuh waktu. Nanti juga kesal mommy hilang--kau tau kan kalau mommy paling tidak bisa marah lama-lama padamu. Nanti kita bertemu di pesta pernikahan sepupumu." ucap Savana, terlihat wanita paruh baya itu memaksakan senyumannya, walaupun dia merasa kesal kepada putrinya karena kejadian semalam. Namun sebenarnya dia bukan tipe orang yang pendendam. Mana bisa dia marah terlalu lama kepada putri kesayangannya itu.


"Mom..."lirih gadis itu seraya memandangi mamanya dengan tatapan yang sendu.


Savana menarik tubuh putrinya ke dalam pelukannya. Wanita itu mengatakan bahwa dia selalu mendoakan yang terbaik untuk kebahagiaan dan juga rumah tangga putrinya. Ya, Savana berharap bahwa pilihan dan keputusan yang diambil oleh putrinya tidak salah. Ia akan mencoba untuk tidak memiliki perasaan benci kepada menantunya itu. Dia akan mencoba membuka hati untuk menerima menantunya kembali ke dalam kehidupan putri dan juga cucunya.


Zeevana tersenyum bahagia dengan apa yang dikatakan oleh Savana, wanita paruh baya itu telah memberikan kesempatan kepada pria yang masih berstatus sebagai suaminya untuk kembali ke dalam kehidupannya lagi. "Mom, apa mommy serius? Mommy--benar-benar memberikan kesempatan kepada uncle untuk memperbaiki dirinya?" tanya wanita itu dengan tatapan mata yang tak percaya.


Savana tersenyum dan menganggukkan kepalanya dengan yakin. "Tapi--kalau mommy mendengarnya menyakitimu lagi, mommy tidak akan segan-segan untuk menikahkanmu dengan pria lain. Mommy serius!" Savana memberikan ultimatum kepada putri dan menantunya, bila rumah tangga mereka memiliki masalah mengenai perselingkuhan lagi. Maka dia akan kembali ikut campur dalam rumah tangga mereka.


Diambang pintu kamar Aiden, Xander tampak berdiri dengan mata yang berkaca-kaca seolah tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Mertuanya yang killer dan keras kepala seperti batu itu, akhirnya memberikan kesempatan kepadanya untuk memperbaiki hubungan rumah tangganya dengan Zeevana. Xander mendadak seperti orang bodoh, dia langsung berlari menghampiri Savana lalu memeluknya.


"Mama mertua, kau tenang saja. Apa yang kau takutkan tidak akan pernah terjadi lagi. Aku bersumpah demi nyawaku, aku akan selalu mencintai putrimu dan mencintai cucu kesayanganmu. Dan aku juga menyayangi mama dan papa mertua!" pria itu tersenyum lebar hingga menampakkan satu lesung di pipinya. Ini sangat wow! Ibu mertuanya itu telah memberikan greenlight.


"Baik mama! Terimakasih! Papa juga." pria itu girang.


Xander masih dengan senyumannya, dia mengecup punggung tangan ibu dan ayah mertuanya secara bergantian. Tak lupa dia mengucapkan banyak syukur kepada Tuhan Yang maha kuasa, sebab ada hati yang luluh lagi menerimanya.


Pria itu berikrar di dalam hatinya, bahwa dia tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan ini. Kini dia akan mulai meluluhkan hati Zeevana dan Aiden sepenuhnya.


Setelah pembicaraan yang membahagiakan itu, Savana dan Javier kembali ke Chicago mengendarai pesawat pribadi. Mereka khawatir pada Arsen yang mengelola perusahaan di usia muda.


****


Usai mengantar kedua orang tuanya, Zeevana langsung pergi menemui Axel dan Prisa di perusahaan. Sementara Xander bersama dengan Elara dan Aiden di rumah. Rencananya Xander, Zeevana dan Aiden akan jalan-jalan ke taman hiburan.


Awalnya Zeevana dan Axel hanya membicarakan masalah pekerjaan dan proyek yang akan mereka kerjakan bersama. Namun setelah pembicaraan itu selesai, Axel mengajak wanita itu untuk jalan berdua saja. Ya, tujuannya sudah jelas bahwa dia ingin meminta maaf. Tapi Zeevana tidak menyangka bahwa bosnya itu adalah orang yang sudah menceritakan kisah masa lalunya dan Xander yang tragis kepada Aiden.


"Maafkan aku Zee, aku tau aku salah karena sudah memberitahukan hal itu kepada Aiden. Aku tidak akan membuat alibi maupun alasan, karena aku memang bersalah."


"Ya, pak Axel memang bersalah dan tidak seharusnya bapak menceritakan hal itu kepada anak saya. Tapi--semua sudah terjadi, saya memaafkan anda pak. Mungkin memang Aiden sudah seharusnya mengetahui tentang masa lalu kedua orang tuanya." jujur saja, Zeevana kesal dengan Axel, tapi dia tidak bisa menyalahkan pria itu terus menerus lantaran semuanya sudah terbongkar juga. Aiden sudah tau, jadi apa yang harus disesali?


"Sekali lagi maafkan aku, maaf Zee. Bagaimana keadaan Aiden?" tanya Axel kemudian. Dia masih merasa bersalah.


"Dia marah pada uncle, tapi tidak apa...kami akan menyelesaikannya dan pak Axel' tidak perlu merasa bersalah." kata Zeevana seraya tersenyum.


"Tunggu--kami?" Axel sedikit tidak senang karena ada kata kami disana. Kami adalah Zeevana dan Xander.


"Ya, kami... Saya dan uncle akan mencoba meluluhkan hati Aiden." ucap Zeevana memperjelas. "Kalau tidak ada yang dibicarakan lagi, saya pamit dulu pak Axel. Saya sudah janji akan pergi bersama uncle dan Aiden." wanita itu bangkit dari tempat duduknya, namun Axel masih tertegun. Dia seperti syok menyadari bahwa Zeevana dan Xander sudah kembali dekat. Ya, melihat pria itu yang tidak pantang menyerah dan tidak tahu malu. Xander dapat meluluhkan hati Zeevana kembali.


"Tidak! Kau tidak boleh pergi!" Axel tiba-tiba memegang erat tangan Zeevana.


"Pak Axel, apa yang anda lakukan?" tanya Zeevana terkejut dengan apa yang dilakukan Axel. "Lepaskan saya pak Axel! Anda--"


"Akhh!!" Pekik Zeevana terkejut saat pria itu bukan melepaskannya tapi malah memeluknya erat dengan begitu intim. Axel menatap Zeevana dengan lain.


"Selama ini aku sudah cukup bersabar menunggu, 6 tahun...bahkan lebih dari itu. Tapi kenapa bukan aku?!" sentak Axel, menunjukkan wajah aslinya.


"Pak Axel... sebenarnya apa yang pak Axel katakan? Lepaskan saya." pinta Zeevana, dia berusaha melepaskan tubuhnya dari pelukan Axel. Akan tetapi pria itu masih memeluknya erat, begitu posesif. Bahkan Axel lupa bahwa dirinya dan Zeevana berada di ruang rapat kantor design grup.


"Aku mencintaimu, jangan bilang kau tidak tahu!" seru Axel dengan mata berkaca-kaca.


"Apa?" Zeevana memang sudah mendengar pernyataan Cinta dari pria itu sebelumnya, tapi dia tidak menganggapnya serius.


"Aku mencintaimu dan aku tidak mau bersabar lagi," cetus pria itu, lalu dia mendekatkan wajahnya pada Zeevana. Dia membenamkan bibirnya pada bibir ranum berwarna nude milik Zeevana. Dengan kedua tangan yang mengukung tubuh gadis itu.


"Hmphh---pak--"


...***...


Hai Readers, maaf aku gak balas semua komennya satu-satu 🙏☺️ Pokoknya thanks yang masih stay baca dan komen disini 😍😍lope lope deh...❤️


Kalau sempat aku up lagi malam ya ☺️🙏soalnya aku nulis bukan disini aja, di F I Z Z O juga kakak kakak...❤️