
...πππ...
Sementara Xander dan Aiden berada di rumah hantu. Zeevana dan Fredy menunggu di kursi panjang yang tak jauh dari rumah hantu. Fredy yang sudah bekerja 4 tahun untuk Xander, menceritakan semua yang terjadi selama ini pada Xander. Berapa terluka dan sakitnya pria itu ditinggalkan oleh Zeevana dan Aiden. Betapa terlukanya Xander karena rasa bersalah, atas keguguran yang dialami Zeevana. Padahal sejatinya pria itu tidak bersalah dan Aiden masih hidup. Dia selalu menyalahkan diri atas semua yang terjadi pada Zeevana.
Selama 6 tahun, Xander tak henti mencari keberadaan Zeevana. Bahkan pria itu terkena insomnia parah dan tanpa obat tidur dia tidak bisa tidur nyenyak.
"Nyonya...saya tau akan sulit mempercayai betapa cintanya pak Presdir pada nyonya. Namun yang saya rasakan, bukan rasa bersalah. Tapi pak Presdir memang benar-benar mencintai nyonya dan tuan muda. Saya mengatakan ini bukan karena membelanya, bukan karena beliau adalah bos saya. Namun ini murni karena apa yang saya rasakan dan saya lihat dari pak Presdir!" kata Fredy di akhir kalimat dan membuat Zeevana meneteskan air mata. Wanita itu diam seribu bahasa, memikirkan apakah dia harus memaafkan masa lalu dan memulai hidup yang baru?
****
Di dalam rumah hantu, Aiden dan Xander berjalan bergandengan tangan. Mereka menikmati wahana demi wahana hantu itu dengan santai. Aiden dan Xander sama-sama memiliki keberanian, tidak seperti Zeevana yang penakut. Gadis itu bahkan takut dengan gelap dan terkadang kalau tidur dia selalu menyalakan lampu. Atau harus ada sedikit cahaya yang terlihat.
"Sudah, jangan memegangku! Aku bisa jalan sendiri." Aiden menepis tangan Xander, ia tidak mau terlihat seperti anak kecil. Walaupun pada nyatanya dia memang anak kecil.
"Dasar anak ini..." Xander mengelus kepala Aiden dengan lembut.
Ketika mereka tiba di salah satu ruangan sepi dengan tema hantu rumah sakit. Aiden membuka mulutnya, dia menanyakan hal yang membuat Xander mengerutkan keningnya.
"Paman, apa benar paman tidak menginginkan kehadiranku saat aku berada didalam perut mommy?" tanya Aiden retoris.
"Kalau Daddy jawab tidak secara gamblang, kau pasti tidak akan langsung percaya. Tapi setidaknya kalau mommymu yang mengatakannya, kau pasti percaya bukan?"
"Mommy memang sudah mengatakan padaku bahwa kau tidak begitu. Tapi jika kau menginginkanku dan mommy, kau tidak akan berselingkuh dari mommy." seloroh Aiden yang membuat hati Xander mencelos seperti di benamkan ke dasar oleh batu yang berat. Omongan Aiden sangat tajam dan pedas.
Walaupun Xander takut, namun dia tetap menjelaskannya pada Aiden.Ini saatnya ia bicara agar tidak ada yang dia tutupi lagi.
"Untuk itu--daddy tidak bisa menyangkalnya. Saat mommymu menikah dengan Daddy, Daddy sama sekali belum memiliki perasaan apa-apa untuknya dan Daddy masih mencintai wanita lain. Tapi--"
Xander berat mengatakan hal yang selanjutnya, begitu pula dengan Aiden yang mulai berderai air mata. Mendengar kisah mommy dan Daddynya dari mulut Xander sendiri dan kisahnya sama dengan apa yang diceritakan Axel.
"Teruskan, aku ingin kita saling jujur paman!" ujar Aiden.
Pria tampan itu duduk berlutut didepan Aiden, tak peduli dengan hantu-hantu bohongan yang ada disana. Seakan dunia hanya milik mereka berdua. "Daddy mencoba untuk mencintai mommymu, tapi itu sulit. Namun lama kelamaan Daddy mulai merasakan perasaan itu tumbuh hari demi hari. Daddy juga sangat sayang padamu, son. Suatu hari Daddy melakukan kesalahan besar dengan tidur bersama dengan mantan kekasih Daddy. Tapi sungguh, setelah itu--daddy sudah jatuh cinta pada mommymu dan tidak punya perasaan apapun lagi kepadanya. Daddy..." air mata pria itu ikut luruh, hingga tangan mungil Aiden mengusapnya.
"Apapun yang telah terjadi di masa lalu, memang benar Daddymu ini BRENGSEK. Tapi--daddy akan mencoba untuk membahagiakanmu dan juga mommymu. Daddy sayang kalian, sumpah demi Tuhan." Xander menggenggam tangan Aiden dengan lembut. Keduanya sama-sama berderai air mata.
"Jangan diulangi lagi! Jangan pernah sakiti aku dan mommy, jika sampai terulang lagi...kau tidak akan mendapat maaf lagi. Paham?" ucapan si kecil itu sontak saja membuat Xander terperangah tak percaya. Inilah kesempatan untuknya, yang jelas tidak akan dia sia-siakan.
Mereka pun berpelukan dan sama-sama memberikan kesempatan untuk bersama. Yeah, ini juga yang diinginkan oleh Aiden, dia ingin keluarga yang utuh dan bahagia. Dia berharap ayahnya bisa berubah.
"Ayo kita keluar, mommy pasti sudah lama menunggu kita!" Aiden mengurai pelukannya.
"Iya, lagipula disini hantunya tidak menyeramkan." ucap Xander sambil tersenyum.
Terimakasih Tuhan, aku tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan ini.
"Walau tidak menyeramkan, jika mommy yang melihatnya dia pasti ketakutan!" seru Aiden sambil terkekeh membayangkan jika Zeevana berada disini.
"Kau benar, mommymu itu sangat penakut." Xander terkekeh mengingat Zeevana yang memang penakut.
#Flashback
10 tahun yang lalu...
Di mansion Sanderix.
Saat itu Zeevana masih duduk di bangku SMA, dia merengek pada mommy dan Daddynya bahwa dia ingin nonton film ke bioskop bersama teman-temannya. Namun Savana dan Javier tidak mengizinkannya karena Zeevana akan jalan bersama dengan teman prianya.
"Semua pria itu sama, kecuali ayahmu dan unclemu." ucap Javier pada putrinya. Savana juga setuju dan tidak mau jika Zeevana terluka dekat dengan pria, dia tidak mau kejadian cinta satu malam terulang lagi pada anak mereka. Apalagi Dave Satigo, anak dari Jonas Satigo tidak bisa dipercaya. Dulu Zeevana bersahabat dengannya.
"Benar, kalau kau mau pergi nonton pergilah bersama pamanmu." ucap Savana pada putrinya.
"No! Aku tidak mau nonton bersama paman," sergah gadis itu dengan bibir yang mengerucut.
"Uncle juga tidak mau nonton denganmu," kata Xander yang tiba-tiba muncul dan berdiri di belakang Zeevana. Pria itu terlihat tampan dengan menggunakan setelan casual, kemeja
lengan 3/4 dan celana jeans hitam.
Savana dan Javier berusaha membujuk Xander untuk mengajak Zeevana pergi karena gadis itu keras kepala ingin pergi bersama Rick dan Dave. Akhirnya dengan terpaksa Xander mengajak anak itu untuk nonton ke bioskop. Tanpa tau apa yang ditonton, Xander dan Zeevana masuk ke dalam gedung bioskop dan mengambil kursi paling belakang.
"Kyaakkk!! Uncle apa yang kau lakukan?" Zeevana berteriak dan sontak saja menutup mata dengan kedua tangannya. Ia tidak sanggup melihat
"Memangnya apa yang ku lakukan?" tanya Xander dengan santainya dia memakan pop corn dan menikmati Zeevana yang ketakutan.
"Uncle keterlaluan! Kenapa uncle mengajakku nonton film horor? Aku kan tidak suka, aku takut!" hardik Zeevana kesal.
"Tidak apa-apa, aku kan disini." Xander menyimpan pop cornnya lalu memegang tangan Zeevana.
"Uncle jahat...jahat sekali." gumam Zeevana dengan suara serak. Menyadari suara Zeevana yang terisak, Xander langsung menenangkannya dengan pelukan.
"Jangan menangis, aku disini. Tidak apa-apa." ucap Xander menenangkan Zeevana. Gadis itu sangat penakut, bahkan setelah selesai menonton filmnya ia masih parno.
#End Flashback
Xander tertawa renyah mengingat betapa imutnya Zeevana saat SMA dulu. Kenapa dia baru menyadari cintanya ketika sempat kehilangan Zeevana. Ya, tapi itu kan sudah berlalu. Sekarang dia akan mempertahankan cintanya.
****
1 bulan berlalu....
Sepertinya Xander telah mendapatkan kepercayaan dari Zeevana dan Aiden. Dia berusaha menjadi suami dan ayah yang baik untuk keluarga kecilnya.
Hari ini mereka akan pergi ke Chicago untuk menghadiri acara pernikahan Rachel dan Roby kekasihnya disana. Zeevana tidak pergi seorang diri, dia bersama Xander dan Aiden. Sesampainya di Chicago, Xander menerima telpon dari kakeknya yang mengatakan bahwa dia harus segera kembali ke Inggris untuk menyelesaikan masalah dan Xander harus kesana tanpa membawa Zeevana dan Aiden.
"Apa maksud kakek? Kenapa aku tidak bisa membawa Zeevana dan Aiden? Masalah apa sebenarnya?" Xander mengerutkan keningnya.
"Kakek tidak bisa mengatakannya di telpon, kau harus cepat kemari! Atau si wanita jalangg ini akan mengacau."
"Wanita gila?"
"Daddy, ayo!" ajak Aiden pada Daddynya yang masih menelpon.
"Baiklah nanti kita bicara lagi kakek. Cicitmu menunggu,"
"Dia pasti sangat imut, kakek jadi tidak sabar ingin kau segera membawanya kemari. Tapi sebelum itu kau harus menyelesaikan masalahmu."
Setelah itu Xander menutup teleponnya walaupun dalam hati ia resah karena memikirkan wanita gila yang di maksud Antonio.
...****...
Spoiler bab berikutnya...
"Kau terlalu meremehkanku, kau pikir aku akan menangis, melarikan diri seperti dulu? Kau salah! Aku bukan Zeevana yang dulu, nona." Zeevana menarik rambut panjang wanita itu dengan kasar, terlihat kemarahan di wajahnya pada wanita itu.