
...πππ...
"Son, apa yang kau katakan? Apa yang terjadi?" tanya Xander heran melihat perubahan sikap Aiden padanya, tadi pagi anak itu baik-baik saja. Malah mereka juga sudah bisa berkomunikasi dengan baik.
"Jangan sentuh aku! Aku benci kau! Aku tidak akan biarkan kau kembali bersama mommy!" sentak Aiden emosi.
Zeevana juga kaget melihat anaknya yang berani bersikap dan berkata kasar pada Xander. Bagaimana pun juga Zeevana tak pernah menginginkan hal ini. Dia ingin anaknya akur dengan Xander, ayahnya sendiri.
"Aiden, apa yang terjadi? Kau tidak boleh bicara seperti itu padanya....dia adalah Daddymu. Apa mommy pernah mengajarkanmu untuk bersikap kasar kepada orang yang lebih tua?" wanita itu berusaha menegur anaknya baik-baik.
"Kenapa mommy malah membelanya? Bukannya dia sudah membuat mommy terluka! Kenapa mommy masih mau menerimanya di rumah ini?" teriak Aiden marah-marah.
Xander menundukkan badannya dan setengah berlutut didepan anaknya itu. "Son, what happened to you? Apa Daddy berbuat kesalahan?"
"Jangan sebut kau Daddyku bila kau sendiri tidak menginginkan kehadiranku di dunia ini." ucap Aiden dingin dan sungguh menyakitkan hati Xander. Ternyata begini rasanya dibenci oleh darah dagingnya sendiri.
"Siapa yang bilang begitu? Aiden...kau kenapa nak? Apa ada seseorang yang mengatakan sesuatu padamu?" tanya Zeevana pada putranya.
"Tidak penting siapa yang bilang, tapi aku tidak mau mommy disakiti lagi olehnya. Biarkan saja dia dengan selingkuhannya itu, dia tidak mencintai mommy." lirih Aiden dengan air mata yang terus mengalir deras membasahi pipinya.
Aiden telah mengambil kesimpulan sendiri dari cerita Axel, padahal Axel sama sekali tidak melebih-lebihkan cerita karena dia hanya menceritakan apa yang dia ketahui pada Aiden.
Dari ucapan Aiden, Zeevana dan Xander jadi yakin memang ada seseorang yang menceritakan tentang masa lalu mereka. Padahal Zeevana baru memutuskan untuk memberi Xander kesempatan, tapi sekarang Aiden yang malah tak menerima.
"Aiden, mommy dan Daddymu akan menjelaskannya padamu...kau harus--"
Sebelum Zeevana menyelesaikan kata-katanya, Aiden langsung berlari pergi masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Zeevana dan Xander yang bingung.
"Kau bilang kau akan memberiku kesempatan Zee, tapi--"
"Aku tau arah pembicaraanmu akan kemana. Tapi aku tidak akan pernah mengatakan tentang masa lalu kita yang akan menyakiti Aiden. Aku tidak akan pernah melukai Aiden, bahkan selama ini aku selalu menjaganya." Zeevana berkaca-kaca, ia tidak menyangka bahwa Xander menuduhnya.
"Maafkan aku, aku tidak berpikir panjang. Kau tidak mungkin melakukan ini. Maaf Zee...aku terbawa emosi."
"Kau tenang saja, aku akan bicara padanya." Zeevana berjalan pergi dengan wajah kecewa. Tapi Xander tidak membiarkannya, dia memegang tangan wanita itu lalu memeluknya dari belakang.
"Zee, jangan ubah keputusanmu lagi. Kau sudah janji akan memberiku kesempatan. Kau sudah janji dan aku akan berusaha yang terbaik untuk kalian berdua."
"Aku tidak pernah mengingkari janjiku, tidak sepertimu dulu." tukas Zeevana sambil melepaskan tangan yang melingkar di tubuhnya. "Aku akan bicara pada Aiden, aku tidak mau Aiden membenci Daddynya."
Xander tersenyum tipis, ada rasa senang didalam hatinya saat mendengar Zeevana mengakuinya sebagai ayah Aiden. Tapi disisi lain dia cemas karena Aiden sekarang yang menolaknya.
"Kita akan bicara bersama."
Malam itu Zeevana berusaha untuk bicara dengan Aiden. Dia akan meluruskan apa yang terjadi, bahwa Xander tidak pernah tidak menginginkan kehadirannya ke dunia ini. Tapi Aiden tidak mau bicara, dia masih dengan kemarahan yang sama.Zeevana jadi menduga-duga siapa yang sudah bicara padanya.
"Mom..." Zeevana menemui Mommynya yang sedang ada di ruang tengah.
"Zee, kau belum tidur? Bagaimana Aiden--apa dia sudah mau bicara padamu? Sebenernya apa yang terjadi dengan anak itu?" tanya Savana cemas.
"Mom, jangan berpura-pura lagi. Apa yang sudah mommy katakan pada Aiden?"
"Apa maksudmu Zee? Mommy tidak mengatakan apapun."
"Aku tau mommy tidak suka pada uncle, tapi mommy tidak harus menceritakan masa lalu kami pada Aiden. Mom, selama ini aku sudah merahasiakannya sebab dia belum mengerti." jelas Zeevana.
Savana langsung beringsut dari tempat duduknya dan dia tersentak kaget mendengar ucapan Zeevana yang secara langsung menuduhnya mengatakan sesuatu pada Aiden yang berkaitan dengan masa lalu putrinya dan Xander.
"Apa kau menuduh mommy?"
"Mom, aku hanya ingin kau jujur..." lirih Zeevana. "Katakan saja apa yang mommy katakan pada Aiden, nanti aku yang akan memperbaikinya." imbuhnya lagi.
Savana sakit hati, dia tertawa sinis. Savana tidak menyangka bahwa Zeevana akan menuduhnya seperti ini. "Kalau mommy bilang, mommy tidak mengatakan apapun...apa kau percaya?" tanya Savana dengan mata yang mengembun.
"Daddy tidak menyangka kau mengatakan ini, Zee." Javier tiba-tiba datang dan merangkul tubuh istrinya. Dia mendengar semua yang dikatakan Zeevana pada Savana, Javier juga sakit hati.
"Dad, aku hanya bertanya. Aku tidak bermaksud untuk-"
"Kau menuduh bukan bertanya, itulah yang Daddy dengar barusan. Tapi satu hal yang perlu kau tau, kami tidak akan mengatakan hal yang membuat Aiden terluka." Javier menatap istrinya yang sudah menangis karena ucapan Zeevana.
"Maafkan aku mommy..." lirih Zeevana menyesal karena sudah membuat Mommynya sakit hati.
"Kita ke kamar ya sayang," ucap Javier pada istrinya. Tampaknya pria itu juga kecewa dengan sikap Zeevana yang menyalahkan Savana.
"Besok kita pulang hubby," ucap Savana tiba-tiba, sambil menyeka air matanya.
"Mom, jangan bicara begitu...maafkan aku mom." pinta Zeevana, namun Savana tidak menghiraukan Zeevana. Wanita itu melenggang pergi dari sana, diikuti oleh Javier dibelakangnya.
"Maafkan aku Dad, maaf." ucap gadis itu merasa bersalah karena sudah membuat Mommynya menangis. Javier hanya menghela nafas lalu ia pergi tanpa berkata apapun lagi pada Zeevana.
'Jadi bukan mommy yang mengatakannya. Lalu siapa?' batin Zeevana merasa bersalah pada Savana.
Zeevana pun pergi ke kamar Aiden, dia melihat putranya sudah tertidur pulas dengan Xander disampingnya. "Kenapa uncle ada disini? Kembalilah ke sofa. Kalau Aiden sadar kau ada disini, dia malah semakin marah." ucap Zeevana berbisik-bisik karena takut Aiden bangun.
Xander beranjak dari tempat tidur itu perlahan-lahan, dia duduk diatasnya dan memandang Zeevana lekat. "Aku tidak pernah tidak menginginkannya. Walau dulu pernikahan kita tanpa cinta dan karena kehadirannya, tapi aku menginginkannya. Aku senang dia masih hidup dan sudah tumbuh sebesar ini. Meski--aku baru tau tentang kehadirannya."
"Maaf uncle, saat itu aku berbohong tentang keguguran." ucap Zeevana menyadari kesalahannya.
"Aku paham, aku juga salah karena telah membuatmu memilih pilihan itu. Karenaku juga kau begitu." pria itu tersenyum, ia berusaha memahami dan bicara dengan kepala dingin tidak dengan emosi. "Zee, terimakasih telah memberiku kesempatan meski itu karena Satigo grup."
'Tidak uncle, sebenarnya bukan karena Satigo
Grup, tapi karena aku ingin membuka hatiku seperti apa kata Joana' Zeevana tidak bicara, dia hanya diam memandang Xander.
"Maaf--sudah memperkosamu saat pertama kali kita bertemu kembali. Maaf, itu pasti sangat menyakitkan."
"Hem..."
"Kau sudah melalui banyak hal menyakitkan karena diriku, kini giliran ku! Demi kau dan Aiden--" Xander tidak melanjutkan kata-katanya sebab dia menggenggam tangan Zeevana. Dan wanita itu tidak menepisnya.
"Kalau kau melakukan kesalahan lagi dengan kesempatan ini, maka aku benar-benar akan membuangmu dari hidup kami." kata Zeevana pada Xander serius.
"Akan aku pastikan itu semua tidak akan terjadi. I promise...i'll do it the best for you and for our son." lirih Xander seraya mengecup punggung tangan Zeevana.
Keduanya bertatapan dengan dalam, keduanya tersenyum tipis. Mereka memutuskan untuk memberikan ruang didalam hati mereka masing-masing demi keluarga, demi Aiden.
Yang satu akan berjuang, satunya lagi akan melihat kesungguhan dan meluluhkan hatinya sendiri dari rasa keras kepala.
****
Di sebuah kamar apartemen mewah, Axel terlihat gelisah sambil melihat indahnya langit malam di negara itu. Tangannya memegang gelas berisi minuman berwarna merah fanta. Dia menyesal perlahan minuman itu.
"Bagaimana ini? Aiden sangat marah--bagaimana jika Zee tau bahwa aku yang sudah memberitahu Aiden tentangnya dan Dacosta. Aku harus meminta maaf padanya besok pagi, aku harus menjelaskan semuanya sebelum dia bertambah marah." gumam Axel seraya menghela nafas. Dia sadar bahwa bujukan seperti apapun seharusnya tidak membuatnya mengatakan tentang masalah pribadi orang lain. Tapi dia luluh pada Aiden dan mengatakan semuanya tanpa filter.
Axel salah, dia salah. Dia hanya ingin terlihat baik di mata Aiden, sebagai pria jujur dan tidak menyembunyikan apapun. Tapi tidak seharusnya dia membongkar semuanya.
****
Sinar mentari pagi menyelinap masuk lewat jendela kamar Aiden. Anak laki-laki itu terbangun dan mendapatkan sambutan dari laki-laki yang memakai celemek. "Hai son, morning...ayo kita sarapan bersama. Hari ini Daddy dan mommy akan mengajakmu jalan-jalan." kata Xander seraya tersenyum dan mengusap kepala Aiden. Aiden langsung menghindar, tatapannya masih begitu tajam pada Xander.
"Iya sudah kau mandi dulu ya. Mau Daddy temani?"
"Kau bukan Daddyku, jadi jangan bicara sembarangan!" tegur Aiden sinis.
"Aiden, jangan bicara begitu--" kata Zeevana yang berada dibalik pintu.
"Zee, tidak apa-apa." Xander tersenyum sabar, dia meminta agar Zeevana tidak menegur Aiden lagi. Urusan Aiden dia akan menyelesaikannya.
Anak laki-laki itu pun masuk ke dalam kamar mandi dan mengacuhkan kedua orang tuanya. Zeevana menghela nafas panjang, sepertinya ini akan sulit untuk Aiden.
"Kau akan perlu banyak waktu untuk bisa menyentuh hatinya." desah Zeevana pelan.
"Tenang saja, aku punya banyak waktu." Xander santai.
"Banyak waktu apanya? Kau adalah CEO dari sebuah perusahaan terbesar di dunia, bagaimana bisa kau punya banyak waktu? Pekerjaanmu akan terbengkalai." gumam wanita itu.
"Oh--jadi sekarang kau mulai mencemaskanku?" tanya Xander seraya menggoda istrinya.
"Siapa yang mencemaskanmu? Aku hanya--mencemaskan para karyawan Dacosta grup bila si CEO nya saja bersantai seperti ini."
"Oh begitu ya? Tapi sayang, kau tidak usah cemas akan hal itu. Keluarga tetap nomor satu untukku dan pekerjaan nomor sekian. Perusahaan Dacosta tidak akan bangkrut hanya karena aku tidak ada. Kau lupa? Aku masih punya keluarga lain di Inggris." tutur Xander menjelaskan. Zeevana terdiam mendengar penjelasan Xander, tentang keluarga kandung Xander. Wanita itu belum tau sama sekali.
Tiba-tiba saja Xander sudah berdiri didepan Zeevana, pria itu menangkup pipinya lembut. "Tenang saja, aku akan memperkenalkanmu kepada keluargaku nanti. Dan--bukan sebagai keponakanku, tapi istriku. Kekasihku seumurku hidup."
Zeevana menepis pelan tangan Xander yang menyentuh pipinya. Ada sedikit rasa di dalam hatinya saat Xander mengatakan kata-kata itu. "Aku titip Aiden sebentar."
"Kau mau kemana? Ini kan hari libur?" Xander memperhatikan baju yang dikenakan Zeevana saat ini. Wanita itu mengenakan dress selutut, tidak seksi namun menampakkan cantiknya. Rambutnya juga tergerai.
"Aku mau bertemu dengan pak Axel." jawab Zeevana lurus.
"APA?!!" teriak Xander emosi.
...****...