
...πππ...
Savana yang sangat merindukan cucu juga putrinya, memutuskan untuk terbang ke Australia di waktu senggangnya. Tadinya ia ingin pergi sendiri karena Javier yang sibuk, namun suaminya itu tidak mau sang istri pergi sendiri. Dia cemburu karena pernah ada satu masa Savana pergi bersama Elena dan tidak membawa pasangan, mereka digoda oleh laki-laki muda dan disangka belum menikah. Maka dari itu Javier tidak mau membiarkan istrinya yang masih terlihat usia belasan tahun ini berjalan sendirian tanpanya.
Mereka yang sudah sampai di bandara tidak langsung pergi rumah Zeevana, mereka mampir terlebih dahulu ke sebuah toko yang menjual aneka menu sarapan karena mereka belum sempat sarapan pagi.
****
Rumah sakit, ruang rawat Zeevana.
Xander masih berada disana, sikapnya melembut meski Zeevana bersikap kasar sekalipun padanya. Tentu saja sikap kasar Zeevana tidak sebanding dengan kejadian malam itu di hotel. Zeevana tidak pernah lupa dengan luka yang ditorehkan oleh Xander, di perkosa berkali-kali olehnya. Sebagai wanita dia merasa sudah hilang harga diri, jadi pantas kan dia marah?
Disana tidak hanya ada Xander, tapi Axel yang menang akan menjenguk Zeevana. Pria itu membawakan bunga dan makanan untuk Zeevana.
"Terimakasih pak, bapak sudah repot-repot datang kemari dan membawa semua ini untuk istri saya. Tapi saya rasa bapak tidak perlu melakukannya lagi." kata Xander sarkas.
"Jangan bicara sembarangan tuan Dacosta, Zee bukan istri anda." sanggah Axel pada Xander.
Xander melirik ke arah Zeevana."Sayang, dia bilang kau bukan istriku...katakan padanya tentang hubungan kita saat ini. Atau--aku harus tunjukkan surat nikah dan surat cerai yang tidak aku tandatangani itu." ucap Xander yang membuka Axel terkejut bukan main. Dia berpikir apakah yang dikatakan oleh Xander benar atau bohong?
"Zee, apa benar tuan Dacosta dan kau--"
"Kami memang belum bercerai pak Axel." jawaban dari Zeevana yang tegas itu membuat Axel menelan salivanya dan menggigit bibirnya karena terkejut. Itu artinya dia mengejar istri orang dan apa benar dugaannya selama ini bahwa di dalam lubuk hatinya, Zeevana masih mencintai Xander.
Setelah Zeevana menghabiskan makanannya dan dokter memeriksa kondisi Zeevana, kedua pria itu menunggu di luar ruangan dan terlihat mengibarkan bendera permusuhan.
"Jangan pernah bermimpi untuk menjadi suami dari istri saya dan juga ayah dari anak saya, tuan Rainer." sarkas pria itu seraya mendelik sinis pada Axel, CEO dari perusahaan design ternama di Australia.
"Sepertinya anda yang jangan pernah bermimpi untuk kembali mendapatkan cinta dari Zee dan Aiden," sahut Axel tak mau kalah. Diam-diam pria ini ternyata masih berharap banyak pada Zeevana. Dia cukup percaya diri bahwa dirinya lebih dekat dengan Zeevana dan Aiden.
"Anda harusnya tau diri, Zee adalah istri saya dan ibu dari anak saya. Anda telah mengejar istri orang, lebih baik carilah yang masih lajang...saya pikir anda masih cukup UMUR untuk mencari yang lajang." sarkas pria itu lagi dengan mulut pedasnya.
"Tuan Dacosta--anda--" Axel hendak membalas perkataan Xander. Namun dokter sudah keluar dari ruangan Zeevana dan mengatakan ingin bicara dengan suami dari pasien yang dia tangani itu.
Axel pun pergi dari sana sebab Prisa sekretarisnya sudah menelpon bahwa di kantor ada rapat penting. Terpaksa ia meningkatkan Zeevana disana bersama Xander.
Dokter mengatakan pada Xander bahwa Zeevana hanya perlu istirahat dan rajin mengoleskan luka dibagian inti tubuhnya dengan salep, maka dia akan cepat sembuh. Xander paham dan dia mematuhi apa yang dikatakan oleh dokter. Selesai bicara dengan dokter, Xander hendak kembali ke kamar Zeevana namun saat itu langkahnya terhenti saat melihat sosok ibu dan ayah mertuanya.
Mereka menatap Xander dengan tajam, tapi pria itu berjalan dengan penuh percaya diri ke depan mereka berdua.
"Apa kabar ayah dan ibu mertua? Lama tidak bertemu." sapa Xander ramah.
...****...
Maaf baru ke up, reviewnya lama guys ,padahal ketiknya dah dari tadi soreπ