One Night Stand With My Uncle

One Night Stand With My Uncle
Bab 13. Kenapa harus bohong?



...🍁🍁🍁...


Wanita itu syok bukan main saat ia menemukan sebuah bungkus alat pengaman yang sudah di buka di saku kemeja suaminya. Pikirannya tidak bisa positif saat melihat benda itu, dia ambil kemeja itu dan memegangnya. Dari kejauhan sudah tercium parfum disana, bukan parfum yang biasanya di kenakan Xander, tapi harus parfum lain seperti parfum wanita.


Zeevana meremass bungkus alat pengaman itu dengan erat, tubuhnya melemas. Wajar kan bila ia syok saat menemukan benda terlarang itu di sana? Jelas ini adalah bukti, tapi apakah bukti itu nyata? Atau hanya manipulasi saja.


"Tidak! Uncle tidak mungkin mengkhianatiku, Uncle bukan orang seperti itu...dia sudah berjanji padaku...dia tidak akan begitu. Ini pasti hanya salah paham saja dan aku akan menanyakan padanya. Come on Zee, come on...be positif!" Zeevana mencoba menetralkan nafasnya yang terengah, menenangkan diri untuk saat ini. Tidak boleh emosi, dia harus percaya pada Xander. Namun sisi hatinya yang lain tidak memungkiri bahwa dia memiliki rasa curiga setelah ucapan ibunya tadi.


Kata-kata Savana terus terngiang di kepalanya bak kaset yang terus di putar berulang kali. Ia kembali teringat dengan fakta bahwa Xander belum mengucapkan cinta padanya selama 3 bulan pernikahan mereka. Sedangkan ia sudah terjatuh dalam rasa cinta pada Xander yang dulunya merupakan pamannya, kini sudah berganti menjadi suami di hati Zeevana. Fakta itu membuat dadanya berdebar kencang, bagaimana jika benar Xander punya wanita lain?


Dia bangkit dari lantai, kembali berdiri dan menyeka air matanya yang masih menggenang di bawah mata.


"Huft..huft...sekarang lebih baik aku pergi ke rumah sakit, sambil menyerahkan tugas desainku pada dosen di kampus." ucap Zeevana dengan menghela nafas.


****


Di salah satu kampus ternama dengan basic desain di Paris, Zeevana tengah berjalan sambil menggendong tasnya menuju ke ruangan dosen untuk menyerahkan tugas desainnya dan setelah ini dia akan menemui Xander di rumah sakit.


"Mr. Axel, maafkan saya karena saya datang ke kampus hari ini tidak bicara dulu dengan Mr." ucap Zeevana meminta maaf pada dosennya yang masih muda, dia adalah dosen desainnya yaitu Mr. Axelo Rainer.


"Tidak apa-apa, tapi--tugasnya masih ada tenggat waktu dan dikumpulkan dua hari lagi." kata Axel pada mahasiswi kesayangannya itu. Di mata Axel, Zeevana adalah sosok yang cerdas, cantik, masih muda dan--Axel sedikit ada rasa padanya.


"Kebetulan saya ada urusan ke rumah sakit, jadi sekalian saja saya datang kemari. Kalau begitu--saya pergi dulu ya Mr." pamit Zeevana ramah.


"Maaf, ta-tapi apakah kau butuh tumpangan? Kebetulan aku juga mau ke rumah sakit, kau tau kan kalau aku punya saudara di rumah sakit." kata Axel seraya berdiri dengan panik dan gugup.


"Ah iya...saya tau Mr, dokter Alice dokter kandungan saya adalah saudara Mr. Axel." jelas Zeevana pada pria itu.


"Kalau begitu--apa kau mau berangkat dengan saya?" tawar Axel.


Zeevana menerima tawaran dari Axel untuk pergi ke rumah sakit bersama. Di dalam perjalanan, Axel terus menghidupkan suasana agar Zeevana bisa bicara dengannya. Hingga tanpa sengaja ban mobil Axel tiba-tiba saja meletup. Pria itu pun mengerem mendadak.


Ckittt!!


"Zee, apa kau baik-baik saja?" Axel menahan kepala Zeevana agak tidak terbentur.


"Sa-saya tidak apa-apa." jawab Zeevana dengan nafas naik turun karena syok.


Axel dan Zeevana pun keluar dari mobil, Axel memeriksa mobilnya. Beruntung tak jauh dari sana ada bengkel dan mereka berhenti tepat di depan sebuah restoran. Axel meminta Zeevana menunggunya di restoran itu, sementara ia dan juga orang bengkel akan membawa mobil ke bengkel yang hanya geser 2 gedung dari restoran tersebut.


Zeevana lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam restoran. Namun dari kejauhan, atensinya tercuri saat melihat suaminya sedang duduk sendiri di sebuah meja seperti sedang menunggu seseorang.


"Bukankah uncle ada di rumah sakit dan sedang ada operasi? Kenapa dia ada disini?" gumam Zeevana bingung. Saat ia akan mendekat, tiba-tiba ia berhenti di tempat saat melihat sosok wanita dengan posisi bloking duduk di depan Xander.


Entah muncul dari mana ide itu, Zeevana mengambil ponsel di tasnya kemudian menelpon Xander dengan perasaan marah. Tak lama kemudian, telpon itu diangkat.


"Ya sayang? Ada apa? Kau mau makan sesuatu? Apa terjadi sesuatu--"


"Kau ada dimana, uncle?" Zeevana memutuskan pertanyaan Xander yang selalu perhatian padanya itu.


"Aku...ya aku ada di rumah sakit. Aku ada operasi sayang." jawab Xander dari seberang sana tanpa ada rasa gugup sama sekali. Sungguh berbeda terbalik dengan apa yang dilihat Zeevana saat ini.


"Oh...di rumah sakit ya?" air mata Zee luruh seketika saat mendengarnya. Sungguh hatinya sakit dengan kebohongan yang di katakan Xander. Tega sekali pria itu mengingkari janjinya.


'Kenapa kau harus berbohong padaku?' Zee membanting.


"Iya Zee, kau kenapa? Apa terjadi sesuatu?" tanya Xander terdengar cemas.


Zeevana semakin sakit hati, dimana Xander pandai berbohong bahkan tidak menunjukkan bahwa ia berbohong sama sekali. Sikapnya rapi.


"Tidak apa-apa, aku tutup telponnya ya. Maaf menganggu uncle."


Tut...


Tanpa menunggu jawaban dari Xander, Zeevana langsung memutuskan telponnya lebih dulu. Bibirnya gemetar, hidungnya memerah, tapi ia memberanikan diri untuk memotret Xander dan wanita itu yang masih membelakangi dan tak kelihatan wajahnya.


"Tunggu--dari bentuk tubuhnya aku seperti mengenalnya. Rambut pendeknya, dia tidak mungkin--" mulut Zeevana menganga dengan cepat ia menutup mulut dengan satu tangannya agar tangisnya tidak pecah.


"Tidak mungkin...uncle tidak mungkin...." Zeevana meninggalkan restoran itu dengan perasaan berkecamuk.


...****...