One Night Stand With My Uncle

One Night Stand With My Uncle
Bab 22. Anakku baik-baik saja kan?



...πŸ€πŸ€πŸ€...


Sepeninggal Xander, tak lama kemudian seseorang masuk ke dalam ruangan Zeevana. Gadis itu kembali memejamkan mata namun sudah terlambat.


"Zee, aku sudah melihatmu." ucap Alice yang membuat Zeevana kembali membuka matanya perlahan. Wajahnya masih pucat dan lemah, ditutupi selang oksigen.


"Dokter Alice." lirih Zeevana.


"Syukurlah kau sudah siuman, artinya aku tidak perlu mengeluarkan bayimu. Kau dan bayimu selamat." kata Alice lega.


"Dokter Alice...aku punya permintaan." Zeevana membuka selang oksigennya agar lebih memudahkannya untuk bicara. Alice berjalan mendekatinya.


"Ada apa Zee?"


"Kumohon...jangan katakan pada siapapun bahwa aku sudah siuman sampai besok. Katakan bahwa kau mengoperasiku dan bayiku sudah tiada. Kau harus pura-pura mengambil bayiku, aku mohon..." lirih Zeevana seraya memegang tangan Alice. Ia memohon pada wanita itu, entah apa yang membuat Zeevana berpikir untuk berbohong seperti itu.


"Zee..."


"Aku mohon dokter, hanya ini satu-satunya agar aku bisa bercerai darinya. Kumohon dokter Alice...kumohon." gadis itu memohon pada Alice dengan buliran air mata yang membuatnya tidak tega untuk menolak. Apakah Alice akan menerima permintaan dari Zeevana?


****


Keesokan harinya, tibalah hari dimana Xander dan semua orang harus mengambil keputusan besar untuk mengeluarkan janin di dalam kandungan Zeevana. Salah satu alasan kuat kenapa mereka berdua menikah.


Karena Zeevana masih belum siuman dari komanya, maka bayi yang ada di dalam kandungannya harus digugurkan sebab bayi itu semakin lemah. Padahal Zeevana sudah siuman dan semua hanya kebohongan Alice. Alice menyetujui permintaan Zeevana.


"Kau harus segera menandatanganinya dokter Xander, aku harus segera mengambil tindakan kuret untuk kandungan istrimu yang melemah." ucap Alice tegas, berusaha untuk tidak terlihat berdusta.


Wajah Xander pucat pasi saat melihat surat persetujuan untuk menggugurkan kandungan ditangannya saat ini. "Aku tidak bisa dokter Alice...aku..."


"Jangan sok lemah, aku tau kau senang karena bayi itu akan digugurkan dan kau bisa bebas bersama selingkuhanmu itu." kata Savana yang lagi-lagi emosi. Percayalah bahwa saat ini ia juga kacau karena nyawa calon cucunya harus gugur.


"Ma, apa mama tidak bisa lihat aku sedang sedih? Aku juga tidak mau ini terjadi! Aku juga tidak mau kehilangan anakku." untuk pertama kalinya Xander menyahuti ucapan Savana, biasanya dia hanya diam.


"Hey kau--"


"Savana, tenang." kata Javier menenangkan istrinya emosi. "Xander, lakukanlah! Tanda tangani itu." sambung Javier seraya menatap intens pada Xander yang sudah berkaca-kaca.


"Ini demi kebaikannya juga, dia pasti akan paham." kata Javier lagi dengan hati yang sedih juga karena akan kehilangan calon cucunya.


Setelah bergulat dengan batinnya, akhirnya Xander terpaksa menandatangani surat persetujuan itu. 1 jam kemudian, Alice dan dua suster itu keluar dari ruang operasi. Alice mengatakan pada semua orang disana bahwa bayi Zeevana sudah di keluarkan dengan cara di kuret. Xander dan semua anggota keluarga Sanderix patah hati mendengarnya.


Tubuh Xander lemas seperti tak bertulang, ia tidak tahu bagaimana ia menghadapi Zeevana setelah ini. Tak berselang lama kemudian, suster memberitahu bahwa Zeevana sudah sadar setelah bayinya di gugurkan.


"Hubby, ayo kita lihat putri kita." ucap Savana pada suaminya dengan perasaan lega.


"Darren, ayo!" ajak Javier pada putranya juga. Mereka bertiga masuk ke dalam ruang rawat itu untuk menemui Zeevana yang katanya sudah siuman. "Kau juga masuk Xander." kata Javier lagi dingin pada Xander.


"Dia tidak perlu--" Savana melotot pada Xander, sudah jelas ia melarang pria itu untuk masuk menemui putrinya.


"Savana, Xander masih suami dari putri kita." tegas Javier pada istrinya. Bukan maksud membela, tapi Xander memang punya hak untuk menemui istrinya sendiri.


Mereka berempat pun masuk ke dalam ruang rawat itu, terlihat Zeevana sudah membuka matanya, namun ia masih terbaring lemah dengan selang oksigen di mulutnya. Zeevana berkaca-kaca melihat keluarganya datang.


Savana, lebih dulu memeluk putrinya. Ia kecup kening putrinya penuh kasih sayang. "Sayang, syukurlah kau sudah sadar nak."


"Mom...dad... Dare, apa anakku baik-baik saja?" tanya Zeevana lebih dulu. Ia sedang berusaha berakting.


"Sayang..."


"Anakku baik-baik saja kan?" tanya Zeevana dan tidak ada jawaban dari siapapun disana. Hanya hening terasa, sampai akhirnya Zeevana melihat Xander menangis lalu mendekatinya.


"Zee..."


"Menjauh dariku, uncle." tukas Zeevana sinis.


'Maafkan aku uncle, aku harus melakukan ini agar kau bahagia. Agar kita sama-sama bahagia, berpisah adalah jalannya' Zeevana sudah melakukan kebohongan besar, tapi orang yang sudah diliputi amarah pasti akan kalap dan berbuat yang tidak-tidak.


...****...


Maaf author slow update πŸ˜… kemalaman terus πŸ˜• lagi gak semangat nih...apalagi gak ada yang kasih vote sama gift 🀧