One Night Stand With My Uncle

One Night Stand With My Uncle
Bab 53. Rachel wedding



Cahaya mentari masuk melalui celah-celah jendela kamar sebuah apartemen mewah di Chicago, salah satu negara di benua Amerika serikat. Sontak saja sinarnya membuat mata si cantik yang tadinya tertidur pulas itu, jadi membuka matanya. Perlahan tapi pasti, si cantik itu sudah membuka matanya, sesekali ia menguap dan meregangkan otot-otot tubuhnya yang kaku.


"Hish..." Zeevana meringis kesakitan sambil memegangi kepalanya. Gadis itu duduk di atas ranjang sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling, ia melihat ruangan yang didominasi oleh cat berwarna biru muda. Ia yakin bahwa ruangan ini bukanlah kamarnya.


"Aku dimana?" gumam gadis itu bertanya-tanya.


"Oh-kau sudah bangun honey? Kebetulan sekali, aku sudah menyiapkan sarapan pagi yang spesial untukmu."


Suara bariton rendah seorang pria yang tengah berjalan ke arahnya itu, sontak saja membuat si cantik terkesiap saat melihatnya. Kenapa Xander ada disini? Bukankah semalam dia pergi bersama dengan Rachel dan teman-temannya ke club. Astaga! Dia baru mengingat sampai sini. Semakin dia mengingat maka kepalanya akan semakin sakit.


Xander mendekati istrinya sambil membawakan nampan berisi sepiring dan mangkuk yang entah apa dan segelas susu hangat, rasa vanila sepertinya. Pria itu mendekati Zeevana, ia mengambil tempat duduk disampingnya. "Kau mau makan dulu atau mandi?" tawar Xander bak seorang istri yang melayani suaminya.


"Kenapa aku bisa ada disini? Apa kita sudah--? Kau sudah janji untuk tidak menyentuhku sebelum aku memberikan keputusan final padamu!" seru Zeevana pada Xander sambil menarik selimutnya ke atas untuk menutupi dadanya yang sedikit terlihat dibalik gaun merah miliknya.


"Aku tidak berbuat apapun padamu honey. Aku tak mungkin mengingkari janjiku. Apa kau tidak ingat kejadian semalam?"


Pertanyaan dari Xander membuat Zeevana menatap langit-langit, mencoba mengingat apa yang terjadi semalam padanya. Mungkin ada satu atau ingatan yang dia ingat.


"Ah iya--aku ingat bertemu dengan mantan kekasihmu di toilet wanita, lalu aku menjambak rambutnya." Mengingat semalam ia bertemu dengan Tessa dan tepat saat itu juga dia bertemu dengan Xander. Zeevana curiga, mungkin mereka janjian.


"Zee, aku tau apa yang kau pikirkan saat ini. Tapi apa yang kau pikirkan itu tidak benar! Aku dan dia sudah tidak ada hubungan apapun. Kau tau hatiku cuma ada satu dan sudah kuberikan padamu juga Aiden dan calon adiknya nanti, tidak untuk dibagi lagi." seloroh pria itu yang membuat Zeevana kesal dan memukul lengan bispeknya.


Plakkk!


"Sakit...aduh...aku salah apa?" tanya Xander sambil memegang lengan kirinya yang terkena pukulan Zeevana.


"Sembarangan bicara soal adik Aiden! Masih lama untuk kesana, hubungan kita saja belum jelas." tukas Zeevana kesal sebab Xander sudah bicara soal adik untuk Aiden.


"Tapi usia Aiden sudah cukup untuk mempunyai adik,biar dia ada teman mainnya juga kan? Dan hubungan kita jelas suami-istri, bagian mana yang tidak jelas?" goda Xander seraya memajukan wajahnya pada sang istri. Sontak Zeevana berdecih dan semakin mundur darinya.


"Jauh-jauh dariku! Dasar mesum!"


Dipikir-pikir, bajuku juga masih utuh... sepertinya aku tidak melakukan apapun dengan uncle. batin Zeevana lega karena dirinya masih utuh dan Xander menepati janji.


"Kau yang mesum, semalam kau menciumku dengan sangat bergairah." tukas Xander yang membuat Zeevana melotot.


"Aku? Kapan?"


"Kau sepertinya masih lupa kejadian semalam, tapi sungguh semalam kau sangat imut seperti kucing liar." pria itu mengelus lembut pipi Zeevana,lalu mencuri kecupan di pipinya.


"UNCLE!" seru Zeevana dengan semburat merah yang kini terlihat di wajahnya.


"Sudah, kau mandi dulu dia...kau bau asam hehe." kekeh pria itu pada Zeevana.


"Huh! Aku tidak bau, tidak!" sangkal Zeevana lalu dia pun dari tempat tidurnya dan pergi ke kamar mandi sambil membawa bathrobe yang memang sudah disiapkan oleh Xander. Pria itu bahkan sudah menyiapkan pakaian ganti untuk Zeevana.


Xander tersenyum melihat Zeevana yang berlari kecil masuk ke kamar mandi. Selagi menunggu Zeevana yang sedang mandi, Xander menelepon sekretarisnya.


"Fredy, bagaimana hasil penyelidikanmu?" tanya Xander.


"Menurut penyelidikan detektif kita, nona Tessa membawa seorang anak perempuan ke sebuah apartemen kemarin."


"Anak perempuan?" sentak Xander terkejut saat mendengarnya. "Siapa anak perempuan itu? Kau sudah memverifikasi identitasnya?" tanyanya lagi.


"Dari Informasi yang saya dapat, anak perempuan itu adalah anak perempuan nona Tessa dan--" Fredy menggantung ucapannya disana.


"Lanjutkan Fredy! Dan apa? Jangan setengah-setengah kalau bicara." ujar Xander tak sabar.


"Nama ayahnya adalah--"


Beberapa saat kemudian Xander terkejut karena mendengar nama ayah dari anak perempuan bernama Natasha itu disebutkan. Xander jadi paham apa yang akan dilakukan oleh Tessa di pesta nanti. Jika apa yang diperkirakan nya benar, pasti Tessa akan mengacau di pesta Rachel dan Robby.


"Bawa bukti tes DNA anak itu, lakukan secara diam-diam!" ujar Xander pada Fredy.


'Tidak akan aku biarkan kesalahpahaman sedikitpun terjadi. Tessa, jika kau memang berniat macam macam kepadaku dan keluargaku. Maka kau tamat di tanganku!' batin Xander.


"Baik pak!"


Setelah itu Xander segera menutup telponnya begitu mendengar suara pintu kamar mandi yang terbuka. Dia melihat bidadari cantik yang baru saja selesai membersihkan tubuhnya. Xander dibuat terpesona, bahkan dia sengaja dengan gaya rebahan seolah menunggu kedatangan si cantik.


"Uncle, kenapa kau masih ada disini? Kau tidak keluar?" tanya Zeevana sambil mengusap-usap rambut basahnya dengan handuk kecil. Wanita itu tampak seksi dengan bathrobe diatas lututnya.


"Aku menunggu bidadari mandi, aku mau bantu memakaikannya baju." pria itu mengerlingkan satu matanya, senyuman terpatri di bibirnya dengan lebar.


"Hah? Apa-apaan ini? Kau seperti gigolo saja, huh!" cetus Zeevana sambil menyambar hairdryer yang memang sudah ada diatas nakas.


Xander pun menurut pada Zeevana dan memilih menghubungi ibu mertuanya sekalian pendekatan. Seperti biasanya Savana masih ketus, namun setidaknya dia masih merespon Xander alias tidak bersikap dingin. Ya, ini sudah lebih baik dari sikap Savana yang sebelumnya sangat acuh padanya.


"Aiden baik-baik saja, dia sedang bersama Arsen." ucap Xander melapor usai menelpon Savana.


"Baiklah, kalau begitu kita harus segera pulang." kata Zeevana setalah selesai berpakaian lengkap dan sarapan bersama Xander.


"Kenapa buru-buru? Bagaimana kalau kita--" tatapan Xander para Zeevana saat ini sangat mesum, hingga Zeevana kembali memukulnya.


"Kenapa kau jadi galak begini sayang? Waktu mabuk kau sangat imut dan menggemaskan."


"Mana ada!"


"Mau lihat bagaimana semalam kau mabuk? Kebetulan ada CCTV di apartemen ini." ucap Xander seraya melihat kamera CCTV yang terpasang di ruang tengah apartemen itu. Dimana Zeevana menyanyi tidak karuan.


Tentu saja Zeevana tidak percaya, sampai Xander benar-benar menunjukkan rekaman CCTV di ponselnya. Zeevana tidak percaya bahwa dia melakukan hal konyol seperti yang ada di video CCTV itu.


"Ini bagus kan? Aku akan simpan video ini dan melihatnya ketika aku sedang badmood. Ah--bagaimana kalau Aiden melihatnya juga? Dia pasti tertawa bukan?"


"Ish!! Jangan coba-coba kau lakukan itu ya! Cepat hapus! Hapus uncle." serka Zeevana kesal. Dia berusaha meraih ponsel Xander dan terjadilah cekcok pasangan suami-istri yang menggemaskan diantara mereka berdua. Xander bahagia, sangat bahagia sebab Zeevana dan dirinya bisa saling bicara dengan bercanda seperti ini. Xander ingin selamanya begini.


Lihat saja, nanti Xander akan melamar Zeevana seperti wanita lain pada umumnya. Dia sudah menyiapkan semuanya. Ketika mendengar perbincangan para wanita semalam, membuat Xander bahwa dia tidak pernah memberikan hal-hal romantis untuk istrinya.


****


Siang itu Tessa baru berhasil keluar dari toilet setelah salah satu waiters di tempat itu datang ke toilet wanita dan mendengar suara gaduh di dalam salah satu biliknya. Ternyata ada Tessa disana dalam keadaan terikat, mulut disumpal dan juga rambut yang acak-acakan. Jangan lupakan wajahnya yang acak-acakan juga, eyeliner, maskara, lipstik yang sudah belepotan kemana-mana menambah keindahan Tessa.


"Astaga nona! Saya pikir nona adalah hantu!" pekik pria itu setelah dia berhasil membuka ikatan dan sumpalan mulut Tessa.


"Kurang ajar! Jangan bicara sembarangan ya!" kata Tessa sambil memegangi bokongnya yang terasa pegal karena semalam dia duduk di toilet.


"Bukannya terimakasih, malah marah-marah! Huh tidak tau diri. Lebih baik kau cepat bersihkan dirimu, kau bau comberan!" gerutu waiters pria itu lalu berlalu pergi dari sana dengan sebal.


Tessa melihat dirinya di dalam cermin, betapa kumalnya dia saat ini. Dia kesal pada Zeevana dan teman-temannya. "Lihat saja besok! Aku akan membuat kalian menyesal telah memperlakukan ku seperti ini!"


Di sepanjang perjalanan pulang,banyak orang yang melihat Tessa dengan pandangan aneh. Selain penampilannya yang acak-acakan, dia juga di kita gembel dan tubuhnya bau.


****


Keesokan harinya, di Pantai North Avenue dekat Lincoln Park adalah pantai paling populer di Chicago. Di musim panas, tempat ini memberikan suasana California Selatan, dengan tim bermain bola voli, anak-anak membangun istana pasir, dan semua orang melompat ke danau untuk berenang saat cuaca memanas. Pantai ini adalah pantai terpopuler di Chicago itu menjadi tempat pernikahan Rachel dan Robby. Tema pernikahan mereka adalah outdoor. Ini adalah keinginan si pengantin wanita.


Rachel terlihat cantik dengan balutan gaun berwarna putih dan rambut yang dicepol dengan Tiara di kepalanya. Semua orang memuji kecantikannya, gadis itu tersenyum lebar. Apalagi kedua orang tuanya, Elena dan Mark mereka senang karena Rachel putri mereka satu-satunya bisa mendapatkan pasangan.


Semua tamu undangan yang hadir menikmati acara pernikahan yang khidmat itu, dimana janji suci terucap antara Robby dan Rachel. Namun Zeevana tersenyum getir saat melihat keduanya.


Dulu aku juga menikah seperti itu, tapi uncle sama sekali tidak mencintaiku. Batin Zeevana.


Xander menoleh ke arah Zeevana yang tampak sedih. Xander tau isi hati Zeevana ,dia ingin pernikahan yang benar-benar karena cinta. Dulu mereka menikah bukan karena cinta. 'Kau tenang saja sayang, pernikahan impianmu juga akan segera terwujud'


"Sekarang kau bisa mencium mempelaimu." ucap seorang pendeta pada kedua pasangan pengantin yang baru sah menikah itu.


Robby tersenyum manis melihat pengantinnya yang cantik, diangkatnya kain penghalang wajah Rachel. Lalu dia memberikan kecupan di bibir Rachel.


Prok, prok, prok!


Semua orang bertepuk tangan, ikut bahagia dan memeriahkan acara pernikahan yang telah terjadi itu. Dan kini adalah acara resepsinya, para tamu terlihat menikmati acara resepsinya.


Namun tiba-tiba saja sosok seorang wanita yang tidak diinginkan datang ke pesta itu sambil menggandeng tangan seorang anak wanita. Sontak semua orang menoleh ke arahnya.


"Maaf semuanya, aku terlambat." ucap Tessa dengan senyuman tak tahu malunya.


"Mau apa dia kemari?" begitulah tatapan semua orang pada Tessa saat ini.


Anak perempuan bernama Natasha yang umurnya tak beda jauh dengan Aiden itu berlari ke arah Xander lalu memeluknya. "Daddy! Akhirnya aku bisa bertemu denganmu!!" kata anak perempuan itu girang.


Semua keluarga Mavericks sangat terkejut dengan kehadiran Tessa dan anak yang memanggil Xander dengan panggilan Daddy ini. Aiden dan Zeevana yang terlihat paling marah.


Sementara Xander tersenyum tipis, dia tampak tenang menghadapi situasi ini seperti sudah bersiap sebelumnya.


"Xander! Kenapa dia memanggilmu Daddy?! Kau--" Savana lebih dulu angkat bicara.


"Akan saya jelaskan semuanya," jawab Xander kalem , namun tatapannya begitu tajam pada Tessa.


...****...