One Night Stand With My Uncle

One Night Stand With My Uncle
Bab 37. Karma ku



...πŸ€πŸ€πŸ€...


Padahal semua orang tidak setuju Xander tinggal di rumah itu, namun tanpa disangka-sangka bahwa Aiden mengizinkannya. Aiden nampaknya sudah membuka hati untuk Xander sedikit demi sedikit.


Savana terlihat kesal, ia pergi kamarnya dengan menahan marah dan seperti biasanya Javier berusaha menenangkannya.


"Kenapa dia bisa mengambil hati Aiden semudah itu? Kenapa juga dia begitu tidak tahu malu?" gerutu Savana sambil duduk di atas ranjang dengan kesal.


"Baby, inilah yang namanya ikatan batin antara ayah dan anak. Tidak heran mereka bisa dekat walau hanya kenal sesaat,"


"Hubby, dia tidak akan seperti itu kalau tau kelakuan ayahnya seperti apa! Aku akan beritahu dia." Savana beringsut dari tempat duduknya namun Javier segera menghentikannya.


"Savana jangan ikut campur, biarkan Xander dan Zee menyelesaikan urusan mereka. Dan sebaiknya kita meninggalkan rumah ini."


"No hubby! Aku tidak mungkin meninggalkan Zee dan Aiden disini bersama dengannya." sanggah Savana enggan pergi.


"Sayang, kita adalah orang tua... kita tidak berhak ikut campur dengan urusan rumah tangga anak kita. Tugas orang tua hanya mendoakan yang terbaik untuk anak-anak kita, bukan ikut campur dalam urusan mereka."


"Aku paham sayang, tapi Xander--"


"Aku tau, dia memang banyak berbuat kesalahan...namun setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua dan Xander belum mendapatkan kesempatan kedua itu dari Zee. Jadi--besok kita kembali ke Chicago saja." ucap Javier berusaha membujuk istrinya untuk lebih pengertian. Akhirnya Savana setuju, walaupun dalam hatinya dia masih berat.


"Baiklah, aku tidak akan ikut campur.Tapi jika Xander sampai melukai anak dan cucu kita, aku tidak akan tinggal diam." sergah Savana dengan lugas.


"Ya sayang, aku pun akan melakukan hal yang sama bila itu terjadi." Javier meraih tubuh Savana dan memeluknya. Ia bahagia karena Savana meruntuhkan keras kepalanya itu.


****


Malam itu Xander terpaksa tidur di kamar Aiden, sebab di rumah itu hanya ada 4 kamar saja. Kamar Zeevana, kamar tamu, kamar Aiden dan kamar Elara. Kamar tamu dipakai oleh kedua orang tuanya yang juga menginap malam ini dan yang tersisa hanya kamar Zeevana dan kamar Aiden.


"Aiden, kau tidak masalah kan tidur dengan uncle Xander?" tanya Zeevana pada Aiden dengan lembut, ia masih enggan mengakui bahwa Xander adalah ayah dari anaknya. Entah kenapa masih untuknya.


"Kenapa dia tidak di sofa saja Mom?" Aiden memberikan ide pada Zeevana bahwa dia ingin tidur sendiri dan meminta Xander tidur di sofa. Tidak sopan memang, tapi Aiden belum mau terlalu dekat dengan Xander. Apalagi dia belum tau apa yang terjadi di masa lalu dengan orang tua mereka, apa penyebab kedua orang tuanya berpisah besok akan dia tanyakan.


"Ide bagus, bagaimana bila kau tidur di sofa saja uncle? Kebetulan sofa di rumah kami kosong." kata Zeevana seraya tersenyum menatap Xander dengan tajam.


"Baiklah kalau Aiden tak mau tidur dengan Daddy, kalau begitu bagaimana kalau aku tidur di kamar mommymu saja."


Zeevana dan Aiden langsung tersedak saat mendengar Xander yang ingin tidur di kamar Zeevana.


"Apa yang kau katakan uncle?! Kita tidak boleh tidur bersama!" tolak Zeevana cepat.


"Kenapa tidak? Kita kan suami istri! Lagipula aku tidak mau tidur sendiri." bibir Xander mencebik. Dia menunjukkan wajah memelasnya.


"Tetap tidak boleh! Kau tidur di sofa atau pergi dari sini. Hanya itu pilihanmu!" ujar Zeevana tegas. Lalu dia pun membawa Aiden masuk ke dalam kamarnya. Dia mengacuhkan Xander, lalu pergi ke kamarnya juga. Berusaha tidak peduli pria itu tidur dalam kedinginan tanpa selimut, bantal atau apapun.


Ketika lampu sudah di matikan, Xander duduk di sofa dan mempersiapkan dirinya untuk tidur. Namun matanya belum bisa terpejam, tiba-tiba saja ia teringat dulu saat tinggal di apartemen bersama Zeevana.


#Flashback


6 tahun yang lalu...


Malam itu Xander pergi begitu saja dari apartemennya, meninggalkan Zeevana seorang diri karena dia mendapatkan telpon dari Tessa bahwa gadis itu akan bunuh diri. Xander pergi dan mencemaskan keadaan Tessa saat itu. Dia memiliki pergi ke apartemen yang ia berikan untuk Tessa.


Xander pulang dari apartemen Tessa ke apartemennya pukul 2 pagi, saat sampai disana dia melihat Zeevana tiduran di sofa sambil memegang ponselnya. Gadis itu kedinginan. Xander menyentuh keningnya dan membuat Zeevana terbangun.


"Uncle, uncle sudah pulang..."


"Kenapa kau tidur disini? Apa kau menungguku?" tanya Xander cemas.


"Iya uncle, uncle bilang akan pergi sebentar...jadi aku menunggu uncle disini. Apa uncle mau makan? Aku akan menghangatkannya dulu." Zeevana tersenyum, sambil berusaha membuka matanya dengan terpaksa karena ia sebenarnya masih mengantuk. Tapi demi suaminya dia berusaha untuk bangkit, takutnya Xander belum makan malam. Ia bahkan tak menyadari bahwa jam sudah menunjukkan pukul 2 pagi.


"Tidak sayang, aku sudah makan malam. Maafkan aku sudah membuatmu menunggu, kau tidur lagi saja ya...aku antar ke kamar." ucap Xander merasa bersalah, ia merasakan suhu tubuh istrinya yang dingin demi menunggunya. Tapi dia berbohong pada Zeevana dengan dalih pekerjaan.


"Tapi uncle--"


"Ya sudah, ayo kita tidur bersama."


"Um...ayo."


Kemudian Xander dan Zeevana pergi ke kamar mereka.


#End Flashback


Air matanya luruh begitu saja, mengalir dengan deras. Mengingat betapa bajingan dirinya dulu.


"BAJINGAN... BRENGSEK! Kau bajingan terburuk dari yang terburuk Xander...ini adalah karma ku dan ini belum seberapa!" Xander menyugar rambutnya dengan kasar. "Maafkan aku Zee, maafkan aku...pasti saat itu kau kedinginan...kau pasti kesepian. Maafkan aku, maaf...tapi aku akan menebus semuanya." Xander menangis, ia tergugu menyesali semua yang terjadi di masa lalu. Karena waktu tidak bisa di ulang, Xander bertekad untuk memulai lagi semuanya dari awal.


Tanpa dia sadari ada sepasang mata melihat Xander di sofa. Pria bertubuh tinggi yang berdiri diambang pintu kamar. Dia menatap sendu ke arah Xander. Kemudian dia pun kembali masuk ke dalam kamarnya.


Malam semakin larut, Xander yang berbaring tanpa sehelai selimut pun ditubuhnya tampan meringkuk sambil memeluk lutut. Udara juga semakin dingin.


Siluet seorang wanita berambut sebahu terlihat berjalan mendekati Xander sambil membawa sesuatu di tangannya.Wanita itu mulai terlihat jelas saat menghampiri Xander.


"Ada apa?" tanya Xander yang ternyata masih membuka matanya.


"Un-uncle belum tidur?" tanya Zeevana terkejut.


"Belum...aku menunggu Fredy." jawab Xander dengan mata yang sayu.


"Ke-kenapa?"


"Dia akan membawakan sesuatu yang bisa membuatku tidur." jelas Xander sambil memegang kepalanya.


'Sesuatu yang bisa membuat tidur? Apa itu? Ah...lebih baik aku tidak bertanya' batin Zeevana.


"Lalu kenapa kau ada disini? Apa kau membawakan selimut untuk suamimu?" tanya Xander sambil tersenyum melihat selimut yang dibawa Zeevana.


"Em...iya..."


"Terimakasih." Xander mengambil selimut itu dari tangan Zeevana, tangannya meraih tangan Zeevana juga. Mereka pun saling bertatapan namun tak lama sebab Zeevana langsung memalingkan wajah darinya dan menarik tangannya.


"Kalau begitu aku pergi dulu..."


Namun sebelum Zeevana pergi, seseorang sudah mengetuk pintu rumah itu dan langkahnya pun terhenti. Ia penasaran dengan apa yang dibawa oleh Fredy.


"Biar aku saja yang buka pintunya uncle." tawar Zeevana.


"Tidak, aku saja...kau kembalilah tidur." Xander beranjak dari tempat duduknya kemudian dia berjalan menuju ke arah pintu untuk membuka pintu tersebut.


Zeevana tidak menjawab, lalu dia pun membalikan badannya dan melanjutkan langkahnya dengan berat hati. Dia pun memutuskan untuk menguping.


Fredy, masuk ke dalam rumah kemudian dia menghampiri Xander. Dia memberikan sebotol obat tablet berwarna putih pada Xander.


"Pak, bukankah sejak malam bersama dengan nyonya...bapak sudah bisa tidur?" tanya Fredy seraya mengerutkan keningnya. Setahu dirinya, Xander bisa tidur nyenyak tanpa obat tidur saat bermalam bersama Zeevana.


"Hanya malam itu saja aku bisa tidur nyenyak saat dia sampingku. Tidak dengan malam-malam setelahnya, aku kembali seperti biasa."


"Pak... sebaiknya bapak hentikan meminum obat-obatan ini, kalau bapak over dosis lagi--bagaimana?"


Zeevana yang mendengar percakapan itu terkejut mendengar kata over dosis. Apa Xander pernah overdosis sebelumnya.


...****...


Haai Readers tersayang, kalau mau masuk grup ku...ke grup Kirana Ra ya 😁 jangan grup yang satunya 😍😍btw author ada novel baru genre nya remaja...mampir yuk ke F I Z Z O, nama pena Irma Kirana