
...πππ...
Xander baru saja keluar dari ruang ganti, ia baru selesai berganti baju. Ruang ganti tempat Zeevana berada tidak jauh dari ruang ganti tempatnya ganti baju barusan. Kini pria tampan itu tengah berjalan menuju ke ruang ganti tempat Zeevana ganti baju. Pintu ruangan itu masih tertutup.
"Sweetie, apa kau sudah selesai?" tanya Xander dari depan pintu ruang ganti. Sementara Zeevana tengah bersandar di balik pintu itu, dia gelisah mencari sesuatu untuk mengusap darah di hidungnya. Mimisannya masih belum berhenti, ditambah lagi kepalanya begitu pusing sekarang.
Zeevana memegang kepalanya yang berdenyut nyeri, tubuhnya lemas dan masih belum bisa berdiri dengan benar. Bagaimana jika Xander melihatnya? Apa yang akan ia pikirkan? Pasti pria itu akan cemas dan otomatis dia akan tau tentang penyakitnya.
"Ya Tuhan...apa sakit kanker memang seperti ini? Apakah aku dan anakku bisa bertahan bersama? Atau hanya salah satu dari kita yang akan selamat?" gumam Zeevana sambil meneteskan air matanya. Dia memegang perutnya yang masih datar. "Tidak! Jika ada yang harus mati, biar mommy saja yang mati sayang....kau jangan. Kau harus bertahan, mommy akan bertahan untukmu."
Tok,tok,tok!
Pintu ruang ganti itu diketuk-ketuk dengan cukup kencang oleh Xander. Sontak saja Zeevana baru teringat suaminya yang ada disana.
"Zee, sayang? Kenapa kau belum keluar? Apa kau baik-baik saja?!" sentak Xander yang mulai cemas tak ada jawaban disana.
"Aku baik-baik saja...aku kesulitan menarik resletingnya." ucap Zeevana, mencoba kembali berdiri.
"Mau ku bantu?" tawar Xander cemas.
"Jangan! Kalau kau membantuku, yang ada kau malah mesum. Tunggu saja diluar, sebentar lagi aku akan keluar...kau jangan cemas." kata Zeevana menenangkan suaminya, walau sebenarnya dia terisak.
"Apa kau baik-baik saja bila ku tinggalkan sendiri?" tanya Xander dengan suara cemas.
"Aku hanya ganti baju, tidak akan terjadi sesuatu padaku. Jangan berlebihan, aku baik-baik saja bunny." ucap Zeevana dari dalam sana. Ia berusaha menetralkan suaranya setenang mungkin agar Xander tak curiga.
Diluar sana, Xander masih terlihat gelisah. Dia merasa bahwa suara Zeevana tidak menunjukkan bahwa wanita itu baik-baik saja.
"Aku akan disini, sampai kau selesai ganti baju sweetie." kata Xander.
Apa? Gawat! Kalau sampai bunny menungguku disini, aku tidak akan sempat menyembunyikan bekas darah ini. Zeevana panik, dia menatap gaun pengantin yang ia pakai dan ada noda darah disana.
"Bunny, pergilah duluan."
"Aku akan tetap disini." kata Xander tidak bisa diganggu gugat dan membuat Zeevana gelisah bukan main.
"Bunny, aku..."
πΆπΆπΆ
Belum sempat Zeevana menyelesaikan ucapannya. Suara dering telpon Xander terdengar berbunyi cukup kencang. Xander mengangkat telponnya, dia bicara dengan Arsen. Pria itu mengatakan bahwa dia tidak. bisa menjemput Aiden dan meminta Xander untuk menjemput Aiden. Supir di rumah Sanderix juga sedang mengantar Savana pergi ke rumah temannya.
Zeevana mendengar pembicaraan suaminya dengan adiknya, dia meminta pada Xander untuk tidak terlambat menjemput Arsen. Awalnya Xander menolak dan ingin pergi bersama-sama dengan Zeevana untuk menjemput putra mereka, namun Zeevana menolaknya karena dia masih ingin memilih gaun yang pas, ia beralaskan gaunnya sempit.
"Cepatlah bunny! Kasihan anak kita menunggu, jangan sampai terlambat menjemput Aiden, im fine. Ingat apa yang aku ucapkan padamu? Kau harus lebih mementingkan anak-anak kita dibandingkan diriku!"
"Kau dan anak-anak, sama pentingnya untukku sayang. Jangan pernah bicara begitu." tukas Xander.
"Oke, oke...sekarang lebih baik kau pergi untuk menjemput anak kita. Nanti kau jemput aku lagi kesini, selagi aku memilih gaun." kata Zeevana.
Setelah itu Xander meninggalkan Zeevana di butik dan pergi untuk menjemput Aiden di sekolah. Setelah yakin Xander sudah pergi, Zeevana segera keluar dari ruang ganti dengan pakaiannya yang tadi dia kenakan sebelum mengganti pakaian dengan gaun pengantin. Ia membawa gaun pengantin yang tadi berlumur darahnya ke luar ruangan, ia menyerahkan gaun itu pada salah satu pegawai butik. Zeevana bermaksud untuk meminta maaf pada pegawai butik itu karena sudah mengotori gaunnya.
"Apa kau terluka nona? Kenapa bisa ada darah disini?" tanya pegawai butik itu terkejut karena ada noda darah di gaun putihnya.
"Ya, tadi saya datang bulan dan tembus ke gaun ini. Saya minta maaf, biarkan saya yang membawanya ke laundry." kata Zeevana pada wanita itu. Dia beralibi dirinya sedang datang bulan, biarkan saja karena orang-orang ini tidak tahu bahwa dia sedang hamil.
"Tidak apa-apa nona, biar pihak kami saja yang menyelesaikannya. Ini bukan masalah besar." ucap si pegawai butik itu tidak keberatan. "Tapi--apakah nona akan memilih gaun yang ini? Atau mungkin yang lain?" wanita itu lanjut bertanya.
"Suamiku ingin aku memakai yang ini, katanya aku terlihat cantik. Jadi yang ini saja ya." ujar wanita cantik itu sambil tersenyum. Dia membayangkan Xander memujinya cantik tadi memakai gaun itu.
"Baiklah nona, akan saya serahkan ke bagian laundry terlebih dahulu. Saya pastikan dalam dua hari, nona akan memakai gaun ini." pegawai butik itu tersenyum ramah pada Zeevana.
"Oh ya--tolong jangan katakan pada siapapun ya, kalau saya datang bulan. Saya malu, hehe." alibi Zeevana pada pegawai butik itu agar merahasiakan tentang luka Zeevana di gaun pengantin.
"Tentu nona."
Setelah itu Zeevana menunggu Xander untuk menjemputnya disana. Sambil meminum obat kanker yang aman untuk ibu hamil. Tidak bereaksi banyak, hanya sebagai penghilang rasa sakitnya. Ya, sejak Zeevana di vonis mengidap kanker darah stadium dua, dia rajin meminum obat tersebut tanpa sepengetahuan siapapun. Dia hanya menyimpan semua ini sendiri. Ketika sedang duduk sendiri dan habis meminum obat, dia merenung sendirian di ruangan yang tidak ada siapapun selain dirinya itu.
Zeevana teringat perkataan dokter Alice dan dokter Yoshua padanya beberapa waktu yang lalu tentang kankernya.
"Anda harus segera melakukan kemoterapi, ini masih stadium dua dan anda masih bisa sembuh...nyonya Zeevana. Sel kankernya belum menyebar luas." ungkap Yoshua pada wanita itu.
"Bukankah anda bilang kemoterapi akan berakibat pada perkembangan janin saya. Saya tidak bisa melakukan hal yang bisa membahayakan janin saya!" Zeevana memegang perutnya yang masih datar dengan rasa yang berkecamuk patah dan takut.
"Zeevana, aku mohon jangan keras kepala. Kau harus merelakan bayi itu. Demi kebaikanmu, demi kesembuhanmu,"
"Dokter Alice! Ini anakku dan sampai kapanpun aku tidak akan pernah menggugurkannya. Lebih baik dokter memberikanku obat untuk menahan rasa sakitnya, obat yang aman untuk ibu hamil!" sentak Zeevana keras kepala pada dua dokter itu.
"Mommy tidak akan pernah membunuhmu sayang, tidak! Kau adalah buah cinta mommy dan Daddy," Zeevana mengelus perutnya yang datar. Dia tidak rela bila buah cintanya harus diambil darinya. Ibu mana yang rela bila disuruh menggugurkan kandungannya sendiri.
****
Sementara itu Xander baru sampai di sekolah dasar terbaik di Chicago, untuk menjemput anaknya. Dia melihat Aiden sedang bersama Natasha, seorang anak perempuan dan juga seorang anak laki-laki lainnya disampingnya. Ketiga anak itu aktif berbicara pada Aiden, namun Aiden begitu cuek pada mereka berdua.
"Aku senang karena Aiden bukan kakakku, karena nanti ketika dewasa--mungkin aku bisa berjodoh dengannya!" seru Natasha sambil tersenyum ceria dengan polosnya.
"Jangan bicara sembarangan! Aiden tidak suka wanita yang cerewet, ya kan Aiden? Kau itu lebih suka wanita sepertiku?" tanya Luna pada Aiden, dia sangat percaya diri bahwa Aiden menyukainya. Padahal Aiden sama sekali tidak memikirkan hal itu sama sekali.
Aiden masih terlihat dingin, dia bahkan tidak peduli dengan kedua anak perempuan yang mengejar-ngejarnya itu.
"Kenapa kalian selalu mendekati Aiden? Aku juga tampan sama sepertinya!" seru Theo, salah satu teman Aiden juga.
"Aku juga cerdas, aku juara tiga di kelas!"
"Tapi Aiden juara satu." sanggah Luna yang memuji Aiden terus menerus. Theo mencebikkan bibirnya, dia tidak suka Luna memuji Aiden.
"Sudah-sudah jangan berisik. Kita semua bersahabat dan tidak ada cinta-cintaan! Lagipula aku mau fokus belajar, bukan seperti itu." cetus Aiden dengan cueknya sambil membaca buku bisnis ditangannya. Buku yang bukan bacaan anak seusianya.
"Baiklah kita sahabatan saja! Itu lebih bagus, hehe. Lagipula kita masih kecil, jangan memikirkan masalah cinta-cintaan dulu." ucap Natasha membenarkan.
"Ya sudah kita sahabatan dulu saja!" kata Luna seraya menatap Aiden dengan kagum.
"Iya kita sahabatan saja." Theo menganggukkan kepalanya, setuju.
Xander senyum-senyum sendiri melihat dan mendengar anak-anak itu berbicara. Dia tidak menyangka bahwa anaknya itu persis seperti dirinya waktu kecil, cuek dan cool. Tapi Aiden lebih dingin darinya.
Tampaknya anakku populer sama seperti diriku dulu haha. Batin Xander.
"Aiden." panggil Xander pada putranya, sambil berjalan menghampiri ke empat orang itu.
"Uncle Xander!" seru Natasha yang lebih dulu memanggil Xander, dia tersenyum ceria melihat sosok pria tampan dan gagah berwibawa itu.
Walaupun Natasha adalah anak dari mantan kekasihnya yang ia benci, namun ia tidak bisa membenci Natasha karena anak itu tidak salah apa-apa. Malah Xander kasihan padanya karena diabaikan oleh kedua orang tuanya.
"Hai cantik." sapa Xander pada Natasha. Lalu Luna dan Theo juga ikut mendekati Xander untuk menyapanya.
"Hai uncle!" kata Luna dan Theo kompak. Luna sebenarnya adalah cucu dari Justin, artis terkenal yang dulu pernah naksir dengan Savana. (Justin ada di novel terjerat pesona ayah sahabatku)
"Hai Luna, hai Theo." sapa Xander ramah pada keduanya. Lalu tatapannya pun beralih pada sang putra yang berdiri didepannya.
"Daddy, kenapa Daddy yang menjemput? Kenapa bukannya uncle Arsen?" tanya Aiden dengan kening berkerut.
"Unclemu sedang ada urusan, jadi hari ini Daddy yang menjemputmu. Ayo kita pulang dan menjemput mommymu." ucap Xander pada putranya.
"Oke, dad." jawab Aiden.
"Kalau begitu kami pulang dulu ya, Luna, Theo, Natasha!" kata Xander pamit pada ketiga teman Aiden yang masih menunggu jemputan mereka.
"Dadah Uncle, hati-hati dijalan!" kata ketiga anak itu pada Xander.
Setelah Xander dan Aiden pergi dari sana. Natasha dan Luna senyum-senyum sendiri. Mereka merasa kagum pada Xander yang sudah tampan,baik dan ramah pada mereka.
"Luna, setelah aku pikir-pikir...uncle Xander tampan juga ya." celetuk Natasha seraya melirik pada Luna.
"Woah...ternyata kau berpikiran hal yang sama denganku! Jika saja Aiden memiliki sikap seperti Daddynya--dia pasti akan sangat perfect!"
"Aku pun berpikir demikian." ucap Natasha membenarkan.
"Hey, kalian berdua kenapa mesum sekali? Jangan pernah berpikir untuk menggoda uncle Xander, atau kalian akan mendapatkan masalah! Uncle Xander sangat mencintai aunty Zee." tutur Theo pada kedua anak perempuan itu.
"Kami tidak segila itu TAU!" Natasha dan Luna berteriak pada Theo dan membuat pria itu tercengang.
***
Dua hari kemudian.
Hari yang paling bersejarah dan membahagiakan untuk Zeevana dan juga Xander yang akan melaksanakan resepsi pernikahan mereka di salah satu pantai indah di Chicago. Tema outdoor, tema yang sama dengan pernikahan Rachel dan Robby beberapa waktu lalu.
Zeevana masih terlihat langsing, tentu saja karena kandungannya masih berusia 2 bulan. Gadis itu sedang melihat dirinya di cermin, ia memakai gaun putih yang menawan. Dia baru saja di rias oleh sahabat Savana, yaitu Alexa dan tak lain ibu dari Laura.
"Kau sangat cantik sayang--sama seperti ibumu, aunty berharap agar Laura segera menyusulmu juga." kata Alexa seraya melirik pada Laura.
"Mommy!" sentak Laura seraya menyenggol lengan mamanya yang selalu membicarakan masalah jodoh pada Laura. Diantara tiga sahabat, Rachel, Laura dan Zeevana, hanya Laura saja yang belum menikah.
"Aunty jangan khawatir, karena Laura pasti akan segera menikah!" cetus Zeevana pada Laura. Seketika gadis bernama Laura itu langsung malu-malu dan membuang mukanya.
Karena dia menyukai Arsen, adikku. Dan mungkin Laura akan menjadi adik iparku. Batin Zeevana.
"Benarkah? Zee, apa kau tau siapa calonnya? Anak ini tidak mau mengatakan pada Mommynya tentang siapa pria itu, dia selalu saja tertutup kalau masalah asmara kepada mommynya." jelas Alexa dengan bibir yang mengerucut.
"Nanti aunty akan tau dan pastinya aunty akan senang." kata Zeevana seraya mengedipkan satu matanya pada Laura. Laura senyum-senyum dan teringat beberapa hari yang lalu saat Arsen menciumnya, disana juga mereka resmi menjadi pasangan kekasih. Zeevana tau juga hal itu karena dia melihat adegan Arsen dan Laura yang berciuman.
"Siapa Zee? Ayo katakan pada aunty...hem..." Alexa mencoba membujuk Zeevana untuk mengatakan siapa pria itu padanya. Namun Laura terus menggelengkan kepalanya.
Tibalah saatnya dimana Zeevana dan Xander akan mengucapkan janji suci yang sakral didepan keluarga dan juga dihadapan Tuhan. Kali ini perasaan mereka berbeda, semua berlandaskan cinta.
"Saya mengambil engkau Zeevana Talisha Sanderix menjadi istri saya, untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita dan inilah janji setiaku yang tulus." tutur Xander seraya mengangkat satu tangannya dengan penuh kesungguhan.
"Saya mengambil engkau Xander Andara Dacosta menjadi suami saya, untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita dan inilah janji setiaku yang tulus." balas Zeevana sambil tersenyum, lalu dia menatap suaminya.
Mereka saling menatap satu sama lain penuh cinta, perasaan yang benar-benar berbeda dari sebelumnya.
Ya Tuhan, tolong jangan pisahkan aku dengan orang-orang yang kucintai lagi. Batin Xander berdoa.
Ya Tuhan, izinkan aku hidup lebih lama untuk menikmati semua kebahagiaan ini. Aku ingin menua bersama suamiku dan melihat anak-anakku tumbuh dewasa.
Setelah ciuman sumpah dan memasangkan ulang cincin di jari masing-masing, semua orang sontak bertepuk tangan dengan meriah dan mengucapkan selamat atas pernikahan Xander dan Zeevana.
Dari kejauhan seseorang menatap mereka penuh kebencian, dia menangis melihat kebahagiaan pasangan suami-istri itu. Wanita itu membawa pisau ditangannya.
...****...