One Night Stand With My Uncle

One Night Stand With My Uncle
Bab 23. Kesempatan satu minggu



...πŸ€πŸ€πŸ€...


Zeevana menepis tangan suaminya tangan akan menyentuhnya, tanpa menatapnya sedikitpun. Xander merasa kemarahan gadis itu memang sangat wajar, setelah ia melukai hati istrinya begitu dalam. Lalu sekarang bagaimana? Bayi mereka sudah tiada, akan sehancur apa Zeevana sekarang? Xander pusing memikirkannya, tapi Zeevana harus tau walau ini pasti sangat berat.


"Anakku...anakku baik-baik saja kan? Kenapa tidak ada yang menjawab?" kali ini Zeevana sudah beranjak duduk meski keadaannya masih lemah. Ia menatap semua orang disana satu persatu, namun tak ada yang memberikannya jawaban. "Jawab aku? Bayiku...dia selamat bukan?"


'Maafkan aku, maaf aku berbohong pada kalian. Tapi nanti aku akan memberitahu semuanya tentang anakku, setelah uncle dan aku bercerai'


Raut wajah Savana, Darren, Javier dan Xander pucat. Mereka tidak sanggup mengatakan kenyataan ini pada Zeevana yang baru saja sadar dari komanya.


"Xander, kau yang jawab. Kau ayahnya." kata Savana melimpahkan pertanyaan Zeevana pada Xander untuk dijawab.


"A-aku..."


"Xander, lakukan!" ujar Javier yang juga berat karena baru saja kehilangan cucunya. Dia tidak mau menyakiti putrinya dengan berita duka ini.


Xander memejamkan matanya untuk sejenak, ia menghembuskan nafas perlahan dan sepertinya pria itu tak punya pilihan. Xander harus memberitahu semuanya pada Zeevana. "Zee, kau harus kuat ya...anak kita...anak kita sudah berada di atas. Tuhan, sudah mengambilnya."


"Apa? Coba katakan sekali lagi!" sentak Zeevana berakting kaget, namun cukup meyakinkan. Buktinya Xander tampak sedih dan menyesal.


'Kenapa kau tidak bahagia uncle? Bukankah harusnya kau bahagia? Tapi kenapa aku malah melihat sesal di matamu itu?' batin Zeevana heran dengan raut wajah Xander saat ini.


"Anak kita...anak kita tidak selamat, maafkan aku....maafkan aku Zee..." Xander akan memegang tangan Zeevana, namun gadis itu lagi-lagi menepisnya. Tanpa memberikan kesempatan pria itu untuk memeluknya. Disisi lain Savana, Javier dan Darren juga masih terpukul dengan berita ini.


"Tidak! INI SEMUA BOHONG! KAU PASTI BOHONG! Anak kita...dia...dia.... baik-baik saja...dia..." Zeevana histeris, lebih tepatnya berpura-pura. Apakah Zeevana jahat bersikap seperti ini? Setelah selama ini dia diabaikan oleh Xander sebagai istrinya.


Semua keluarga Sanderix berusaha menenangkan Zeevana yang tampak sangat terpukul dengan berita duka ini. Tapi Xander sama sekali tidak diizinkan untuk mendekatinya apalagi menghiburnya. Di depan ruang rawat itu masih terdengar suara kesakitan dari seorang ibu yang baru saja kehilangan anaknya dan di luar sana juga ada tangisan penyesalan dan kesedihan dari seorang suami dan calon ayah, tapi semuanya sudah pupus.


Ditengah duka dan terpuruknya pria itu, seorang wanita datang mengusap bahunya dan mencoba menghiburnya. "Sabar sayang, kau masih bisa punya anak denganku."


"TESSA!" sentak Xander seraya menghindar dari Tessa. Ia berdiri dan menatap pria itu dengan tajam.


"Iya sayang, ini aku. Aku tau berat untukmu karena kehilangan bayi itu, tapi aku bisa memberikannya untukmu. Kita menikah saja Xander, aku masih mau denganmu." kata Tessa dengan mudahnya. Tangan Xander tiba-tiba saja mencengkram leher Tessa.


"Ukh...Xander!"


"Jangan...jangan salahkan aku. Salahkan dirimu sendiri karena kau tergoda olehku, karena kau masih mencintaiku. Kau kehilanganmu bayimu bukan karena aku Xander! Salahkan dirimu sendiri karena kau tidak tegas pada masa lalumu dan kau tidur denganku!" Tessa tertawa sinis.


Deg!


Hati Xander tersentil dengan ucapan Tessa, apa yang dikatakan oleh gadis itu memang tidak sepenuhnya salah. Sebagian salahnya karena dia labil dan masih tergoda oleh Tessa dan saat itu ia masih mencintai wanita itu. Mengingat malam itu, lagi-lagi Xander frustasi. Inilah penyebab semua petaka rumah tangganya, yang berasal dari hatinya sendiri.


"Masih mau menyalahkan ku? Sudahlah Xander, lebih baik kita bersama saja sekarang. Aku yakin istrimu akan meminta cerai." kata Tessa yakin seratus persen.


"Tidak Tessa, aku tidak mencintaimu lagi.Aku mencintaimu dan aku akan mempertahankan rumah tangga kami!"


'Ada atau tidak ada anak kita, aku akan tetap mempertahankan rumah tangga kita'


****


Selama Zeevana masih di rawat di rumah sakit, Xander selalu menemuinya dan memberikan perhatian pada wanita itu. Ia mengatakan tegas pada Zeevana, bahwa dia akan mempertahankan rumah tangga mereka.


"Mau sampai kapan uncle seperti ini?" tanya Zeevana dengan darah yang mendidih.


"Sampai kau memaafkanku."


"Aku sudah bilang, aku sudah memaafkanmu uncle. Jadi pergilah!" ujar Zeevana dengan tatapan tajam pada pria yang masih berstatus suaminya itu. "Apapun yang kau lakukan, kita akan tetap berpisah. Anak kita sudah tidak ada, jadi apa yang bisa diharapkan dari hubungan kita uncle? Bukankah kau menikahiku karena anak ini?"


"Awalnya begitu, tapi sekarang aku sadar aku mencintaimu Zee."


"Maaf, aku tidak percaya dan aku ingin kita berpisah. TITIK!"


Ketegasan dan keras kepala Zeevana tidak bisa diganggu gugat lagi. Tapi Xander tidak akan menyerah, ia percaya bahwa ia bisa membuat Zeevana mengubah keputusannya.


"Kumohon berikan aku kesempatan, 1 bulan...ah tidak...1 Minggu saja, aku akan buktikan kalau aku benar-benar mencintaimu." jelas Xander dengan sorot mata yang tulus.


...****...