One Night Stand With My Uncle

One Night Stand With My Uncle
Bab 59. Xander Kecelakaan?



Xander tidak menyangka bahwa saat Zeevana melahirkan putranya, terjadi hal yang sangat menakutkan. Dia bahkan baru tau, bahwa saat itu mungkin Zeevana sangat menderita sampai koma selama 1 Minggu. Dan hinggaplah rasa bersalah di hati Xander karena tidak ada disisi Zeevana saat itu. Dokter tersebut kembali menjelaskan bahwa salah satu faktor yang membuat kandungan Zeevana lemah karena kecelakaan yang menimpanya, ya dulu Zeevana pernah mengalami kecelakaan mobil saat dia tau Xander berselingkuh dengan Tessa.


"Dok, jika bayinya memang membahayakan istri saya...saya tidak apa-apa bila bayinya digugurkan." ucap Xander tiba-tiba.


"UNCLE!" Zeevana berteriak marah, ia tidak percaya Xander akan bicara seperti itu. Ya, Xander bicara begitu bukan tanpa alasan, ia takut terjadi sesuatu pada istrinya.


"Dokter Xander dan nona Zeevana tenang saja...sejauh ini saya tidak menemukan sesuatu yang sangat mengancam. Kandungan nona memang lemah, tapi masih bisa bertahan asalkan nona tidak melakukan aktivitas berlebihan, perbanyak istirahat dan makan makanan bergizi, mungkin akan membantu." jelas dokter itu.


"Baik dok, saya mau istri saya dan kandungannya di periksa secara menyeluruh." kata Xander.


"Uncle, aku baik-baik saja...tidak perlu seperti ini!" seru Zeevana pada suaminya.


"Aku tidak bisa mengambil resiko tentang kesehatanmu, honey. Kau akan dirawat sampai dilakukan pemeriksaan menyeluruh." ucap Xander tegas dan tidak bisa diganggu gugat.


"Uncle!"


Percuma saja bicara dengan pria itu, Zeevana sama sekali tidak digubris olehnya. Seolah Xander menulikan pendengarannya. Zeevana tidak mau dirawat di rumah sakit, dia tidak mau membuat semua orang cemas padanya. Dan benar saja Savana, Javier mencemaskannya. Mereka menemui Zeevana yang sudah ada di ruang rawat bersama Xander.


"Benarkah kau hamil lagi sayang?" tanya Savana pada Zeevana.


"Mom, sudah 5 kali mommy bertanya pertanyaan yang sama. Tadi kan mommy sudah dengar apa kata dokter." kata Zeevana seraya mendesahh pelan.


"Astaga...kapan kalian melakukannya? Usianya sudah 2 bulan, apa saat di Australia?" tanya Savana sambil menutup mulutnya sendiri karena terkejut.


"Iya begitulah Mom." sahut Xander dengan santainya.


"Menantuku ini rupanya sangat tokcer," kata Javier sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, terukir sedikit senyuman di wajahnya.


"Kau harus belajar dari aku ayah mertua," canda Xander sambil terkekeh.


"Hey son! Kau yang harus belajar dariku, dulu saat Savana mengandung putriku--sekali melakukan juga langsung jadi." sahut Javier tak mau kalah dari menantunya.


"Astaga...mertua dan menantu ini tak mau kalah." Savana berdecak melihat kelakuan suami dan menantunya. Zeevana malah tersenyum lalu tertawa mendengar candaan Xander dan Javier. Sudah lama ia tidak merasakan kehangatan ini lagi.


"Kau mau apa sayang? Apa ada sesuatu yang mau kau makan?" tanya Javier perhatian pada putrinya.


"Daddy mertua, maaf tapi itu tugasku untuk bertanya!" lagi-lagi Xander dan Javier malah berdebat.


"Apa aku tidak boleh bertanya apa yang diinginkan oleh cucuku? Kau ini terlalu memonopoli calon cucu dan putriku!" seru Javier dengan bibir mencebik.


"Astaga...mereka begini lagi." Zeevana tertawa bahagia melihat semua orang tersayangnya menjadi lebih dekat dari sebelumnya setelah badai menimpa keluarga mereka.


Setelah Zeevana ditemani makan oleh mommy, Daddy dan suaminya. Zeevana tertidur pulas sebab dia sudah meminum vitamin yang membuatnya tidur. Dia juga mendapatkan suntikkan penguat kandungan. Barulah setelah Zeevana tertidur, Xander mengajak Javier dan Savana untuk berbicara mengenai kondisi Zeevana sebelumnya.


"Dokter mengatakan kandungannya lemah, dad, mom." kata Xander mulai serius, dia menatap kedua mertuanya dengan intens.


"Sebenarnya saat itu dokter melarang Zee untuk hamil lagi." kata Savana seraya menghembuskan nafasnya. Dia mengatakan tentang kondisi Zeevana dari dokter yang merawatnya di Australia.


Xander tercekat mendengar ucapan ibu mertuanya, dia lantas bertanya apa maksudnya? Apa Zeevana sakit atau ada kondisi yang membuatnya tidak boleh hamil lagi?


"Kenapa mom? Apa Zee sakit--atau--" Xander menggantung ucapannya disana.


"Tidak! Dia baik-baik saja, hanya dokter itu mengatakan akan beresiko besar bila Zee sampai hamil lagi. Akan ada komplikasi saat dia melahirkan kelak, pendarahan hebat, atau bahkan koma seperti saat itu. Tapi semoga saja tidak." jelas Savana saat itu. Dia mengingat benar saat Zeevana meregang nyawa saat melahirkan Aiden dalam persalinan normal. Wanita itu koma selama satu minggu.


Mendengar hal ini membuat Xander cemas, dia tidak mau hal buruk sampai terjadi pada Zeevana. Xander memutuskan akan bicara dengan Alice untuk memikirkan solusi dari semua ini, kalau perlu dia akan melakukan tes darah untuk Zeevana. Dia akan melakukannya karena tidak mau terjadi sesuatu pada Zeevana kelak.


****


Setelah mengurus keponakannya usai anak laki-laki itu pulang sekolah, Arsen mengajaknya ke rumah sakit untuk menjenguk Zeevana. Mereka berdua sama-sama merasa bersalah karena sudah membuat Zeevana terluka tadi pagi. Mereka pun naik mobil menuju ke rumah sakit berdua saja.


"Tenanglah, pasti mommymu baik-baik saja." Arsen mengelus kepala Aiden, sedari tadi ia menangkap raut wajah Aiden yang murung.


"Iya, semoga mommy dan calon adikku baik-baik saja ya uncle." kata Aiden datar.


"Eh? Kau tidak marah?" Arsen terheran-heran karena Aiden tidak marah dan terlihat biasa saja.


"Kenapa aku harus marah? Marah karena apa?" tanya Aiden dengan kedua alis yang terangkat.


"Kau akan punya adik baru, uncle melihat di film-film biasanya seseorang kakak akan marah bila punya adik baru. Tapi tampaknya kau senang!" celetuk Arsen.


"Tentu saja aku senang uncle, aku akan punya adik. Tapi--aku harap adiknya laki-laki."


"Eh...kau tidak boleh bilang begitu. Adik laki-laki atau perempuan kan sama saja. Lagian kenapa kau tidak mau adik perempuan? Bukankah menggemaskan bila punya adik perempuan?" Arsen bertanya seraya melirik Aiden sesekali yang duduk disampingnya, matanya lebih fokus menyetir.


"Adik perempuan akan menyebalkan sama seperti dia." cicit Aiden geram, menyebalkan sekali rasanya kalau punya adik perempuan. Dia tidak mau, cerewet dan menganggu hidupnya yang tenang. Ya, Aiden beranggapan begitu.


"Dia? Dia siapa? Ah...apa dia itu Natasha?" tanya Arsen pada anak laki-laki itu.


"Hahaha...pasti dia. Uncle rasa dia adalah anak yang manis, dia juga baik tidak seperti ibunya. Kalau kau punya adik perempuan sepertinya pasti sangat imut." goda Arsen pada keponakannya itu.


"Tidak mau, amit-amit!" Aiden bergidik, dia tidak mau punya adik perempuan seperti Natasha. Cukup satu saja dia mengenal makhluk seperti Natasha yang selalu menempel padanya.


Arsen terkekeh. "Jangan terlalu membenci seseorang, bisa jadi nanti orang itu akan dekat denganmu. Ya, siapa yang akan tau masa depan."


"Jangan sok menasehatiku paman, lebih baik paman pikirkan saja bagaimana aunty Laura akan menerimamu." kata Aiden pedas.


"Kau ini--kadang bermulut pedas seperti ayahmu." cibir Arsen sebal, sebab Aiden mewarisi sifat Xander yang kadang dingin dan mulutnya pedas.


Setelah menempuh perjalanan sekitar 15 menit, akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Arsen dan Aiden sangat mencemaskan kondisi Zeevana, beruntunglah bayi dikandungan Zeevana baik-baik saja. Aiden juga terlihat senang karena Mommynya akan segera memberikan adik, yang artinya adalah teman bermain untuknya. Namun dia tetap meminta adik laki-laki, ya itupun kalau tuhan mengabulkan.


****


Malam itu Xander tiba-tiba pamit pergi meninggalkan Zeevana seorang diri di ruangannya. Dia bilang akan membeli makanan untuk Zeevana. Namun setelah 2 jam berlalu, Xander belum kembali juga dan membuat Zeevana cemas.


"Kak!"


"Arsen? Kenapa kau kemari? Ada apa? Kenapa kau ngos-ngosan begitu?" Zeevana langsung beranjak duduk di ranjangnya saat melihat adiknya tiba-tiba datang sambil berlari terengah-engah.


"Kak, kak Xander kecelakaan!" seru Arsen dengan wajah serius dan sama sekali tidak kelihatan bercanda.


"A-apa yang kau katakan? Dia sedang berbelanja untukku." Zeevana berdebar saat mendengar adiknya bahwa Xander kecelakaan, apalagi melihat raut wajah Arsen saat ini.


"Ya, aku tau kak! Saat dalam perjalanan kesini, mobilnya tertabrak truk dan dia--" Arsen terisak dengan raut wajah yang pilu.


"Dimana dia?!" seru Zeevana lalu buru-buru turun dari ranjangnya, tanpa peduli selang infusnya akan terlepas. Arsen dengan sigap membantunya.


"Ayo ikut aku kak," ajak Arsen pada Zeevana sambil memegang tangannya. Wanita itu memegang selang infus juga.


Dengan hati-hati mereka berdua keluar dari ruangan Zeevana, namun Arsen bukan membawanya ke salah satu ruangan rumah sakit melainkan ke taman rumah sakit.


"Arsen, kenapa kau membawaku kemari? Disini gelap dan--" Zeevana terheran-heran saat melihat adiknya sudah tidak ada disampingnya lagi. Dia bingung, ada apa ini?


Tiba-tiba saja Zeevana dibuat kaget dan bingung bersamaan saat melihat lampu taman menyala dengan indahnya, berkelap-kelip. Disana juga terlihat beberapa orang berpakaian suster membawa setangkai bunga mawar. Lalu mereka memberikannya kepada Zeevana tanpa bicara apa-apa dan hanya tersenyum. Jumlah tangkai mawar itu ada 10, sama seperti 10 orang suster yang mengantarkannya.


"Ada apa ini?" Zeevana melihat jalanan penuh kelopak bunga mawar di sana.


Tiba-tiba saja terdengar suara seseorang memetik gitar, sambil bernyanyi. Zeevana melihat lampu menyorot pada seorang pria yang berdiri didepannya.


Jantung Zeevana berdebar saat itu juga, matanya berkaca-kaca. Dengan tangan memegang 10 tangkai bunga mawar dan selang infus disebelahnya lagi. Zeevana lega karena pria itu baik-baik saja.


๐ŸŽถ๐ŸŽถ๐ŸŽถ


Heart beats fast


Colors and promises


How to be brave?


How can I love when I'm afraid to fall?


But watching you stand alone


All of my doubt suddenly goes away somehow..


One step close...


I have died every day waiting for you


Darling, don't be afraid


I have loved you for a thousand years


I'll love you for a thousand more...


๐ŸŽถ๐ŸŽถ๐ŸŽถ


Pria itu mendekat ke arah Zeevana sambil membawa balon hello Kitty, setelah selesai menyanyi. Dia terlihat sangat tampan dengan jas dokternya. Keduanya bertatapan dengan dalam.


"Uncle..."


"Will you marry me?" pria itu duduk berlutut didepan Zeevana, dia menyodorkan boneka itu yang ternyata membawa kotak cincin berwarna merah disana. Air mata Zeevana luruh, bibirnya menyunggingkan senyuman tipis. Dia menatap pria didepannya ini.


...****...