One Night Stand With My Uncle

One Night Stand With My Uncle
Bab 69. Jesslyn Ivana Dacosta



Tidak ada yang bisa menggambarkan perasaan Xander saat ini, dia sangat-sangat bahagia karena istri yang selama ini ia tunggu telah sadar dari komanya. Dia kembali padanya sesuai dengan harapannya.


Sepasang mata berwarna biru dan senyuman manis itu masih bisa lihat dari si cantik Zeevana. Ibu dari dua anaknya. Jantung dan hati Xander berdebar tidak karuan karena bahagia. Saking bahagianya, Xander sampai meneteskan air mata.


"Sayang, kau benar-benar sudah bangun? Kau--kau benar-benar..."


Tangan Zeevana terangkat lemah, dia berusaha menyentuh pipi Xander yang saat ini dibasahi oleh air mata. Xander memegang tangan Zeevana yang masih lemah itu, kini tangannya menyentuh pipi Xander.


"Dasar...cengeng..." kekeh Zeevana yang sebenarnya terharu dengan suaminya saat ini. Seakan air mata berlinang itu adalah bukti cinta tulus Xander padanya.


"Kau benar-benar keterlaluan, kau tidak tahu betapa aku sangat mencemaskanmu! Kau tidak tahu betapa takutnya aku selama beberapa hari ini! Beraninya kau bilang begini, dasar... ckckck."


"Kau mirip Aiden kalau sedang merajuk." lirih Zeevana.


"Aku akan panggil dokter Alice, tunggu sebentar." ucap Xander seraya melepaskan tangan Zeevana dari tangannya. Namun Zeevana kembali menahan tangan suaminya.


"Bunny, bayi kita...bayi kita selamat kan?" tanya Zeevana cemas dengan keadaan kedua bayinya. Xander menatap dalam pada istrinya, mana mungkin dia mengatakan bahwa salah satu bayi mereka telah tiada disaat Zeevana baru siuman.


"Nanti akan aku jelaskan." ucap Xander lalu melepaskan tangan Zeevana dan bergegas pergi dari sana untuk memanggil dokter Alice.


Zeevana mengernyit heran, kenapa suaminya tidak langsung menjawab ketika ditanyakan soal anak kembar mereka. Wanita itu Jadi bertanya-tanya sebenarnya apa yang telah disembunyikan oleh suaminya?


Tak lama kemudian, dokter Alice dan dokter Yoshua datang bersama dengan Xander. Mereka bahagia karena Zeevana kembali siuman, padahal sebelumnya keadaan Zeevana tidak baik dan sempat mati suri. Tapi tidak ada yang tau kehendak Tuhan, bukan?


"Kankermu masih di stadium 3, anda harus segera mendapatkan pengobatan setelah ini nyonya Dacosta." ucap Yoshua pada Zeevana setelah memeriksa kondisi wanita yang baru bangun dari koma itu.


"Iya dokter terima kasih. Saya akan melakukan perawatan sekarang, tapi bayi saya--"


"Bayi anda--"


Ketika Yoshua akan menjelaskan, Xander langsung mengisyaratkan dokter spesialis kanker itu untuk diam. Dialah yang akan menjelaskan semuanya pada Zeevana. Mereka butuh waktu berdua dan akhirnya kedua dokter itu pun pergi dari ruang rawat Zeevana, karena hari juga sudah larut.


Kini pasangan suami-istri itu berada dalam masa bahagia dimana mereka bisa kembali bicara. Tapi sebelum bicara banyak, Xander meminta agar Zeevana makan dulu. Dia sendiri yang menyuapinya, meski dia menolak makan dan menanyakan bayi kembarnya.


"Bunny, ini sudah cukup! Sekarang katakan bagaimana keadaan anak-anak kita dan dimana mereka? Aku ingin bertemu dengan--huppp..."


Sebelum Zeevana bicara lebih banyak, Xander kembali membungkam bibir wanita itu dengan makanan ke dalam mulutnya. "Bunny...kau..." terpaksa wanita itu pun mengunyah makanannya.


"Habiskan dulu makanannya, lalu bicara!" tukas Xander pada istrinya.


Maaf sayang, bukannya aku tidak mau memberitahumu...tapi sebenarnya aku masih mengumpulkan nyali untuk bicara tentang anak-anak kita.


Bunny, apa yang kau sembunyikan dariku? Kenapa kau membuatku bertanya-tanya? Zeevana tidak bicara sepatah katapun, tapi dia menatap suaminya dengan penuh pertanyaan.


Usai menghabiskan semua makanan yang ada di dalam mangkok dan meneguk air putih. Dengan tidak sabar Zeevana menanyakan kondisi kedua bayinya pada Xander. Jangan sampai perjuangannya menahan untuk tidak minum obat, tidak sia-sia. Dia berharap kedua anaknya hidup dan sehat.


"Sekarang katakan padaku, bagaimana keadaan anak-anak kita dan dimana mereka?" tanya Zeevana dengan tatapan retoris pada sang suami. Xander menghela nafas sejenak.


"Iya, aku janji." jawab Zeevana seraya membalas genggaman tangan suaminya. Hatinya berdebar dengan apa yang akan dikatakan oleh Xander.


"Zee, kedua anak kita berhasil lahir ke dunia. Hanya saja--kita kehilangan salah satu dari mereka." ucap Xander dengan iras yang memperhatikan Zeevana.


Deg!


"A-apa?" bulir air mata Zeevana mulai berjatuhan. Dia syok mendengar kabar ini, salah satu bayinya meninggal?


"Sayang, tenang dulu hey..."


"Bunny, anak kita meninggal?" isak Zeevana sedih. Xander langsung memeluk istrinya dan berusaha menguatkannya, bukan hanya dia saja yang sedih, tapi Xander sebagai ayahnya juga sedih.


"Sayang, aku tau kau sedih...aku pun sama. Kita tidak boleh berlarut-larut dalam kesedihan sayang, masih ada Aiden dan baby girl yang membutuhkan kita. So, setelah ini hapus air matamu dan kita menua bersama, melihat anak-anak kita tumbuh dewasa." tutur Xander berusaha menenangkan.


"Baby girl? Apa kita punya anak perempuan?" tanya Zeevana.


"Hem, iya--sayangnya dia mirip denganmu." Xander melepaskan pelukannya dan melihat raut wajah Zeevana.


"Memangnya kenapa kalau mirip denganku?"


"Tidak apa-apa, hanya saja cantik dan imut." jawab Xander memuji istrinya. Lalu dia mendekatkan wajahnya dan hendak mencium Zeevana, namun Zeevana menutup mulut Xander dengan tangannya.


"Aku belum gosok gigi, sudah tiga hari." kata Zeevana.


"Aku tidak peduli, yang jelas aku rindu." Xander meraup bibir Zeevana tanpa permisi. Dia sangat merindukan istrinya, ia senang karena dunianya tidak jadi runtuh.


Tak hentinya Xander berterima kasih pada yang kuasa karena Zeevana telah kembali dengan selamat. Kini mereka tinggal menunggu hari-hari bahagia setelahnya. Meskipun mereka berduka karena Ainsley, namun masih ada Aiden dan baby girl yang belum diberi nama oleh Xander.


****


Keesokan harinya semua orang berkumpul di rumah sakit, mereka bahagia karena Zeevana sudah siuman. Meski begitu, Zeevana masih harus mendapatkan perawatan dan melakukan kemoterapi.


"Zee sayang, bagaimana keadaanmu? Apa ada yang sakit?" tanya Elena cemas pada adiknya itu.


"Hanya sedikit pegal saja, dokter bilang ini karena aku tiduran terus." kekeh Zeevana pada kakaknya.


"Benar, nanti pegalnya akan hilang sendiri. By the way, senang melihatmu kembali." Elena memeluk Zeevana dengan penuh kasih sayang. Dia senang adiknya kembali.


"Oh ya, baby yang beautiful ini namanya siapa? Apa kakak dan kakak ipar sudah memberinya nama?" tanya Arsen yang saat ini sedang menggendong baby girl Zeevana dan Xander.


Zeevana dan Xander saling melirik lalu dengan kompak mereka berkata. "Jesslyn Ivana Dacosta!" semua orang sontak saja tersenyum bahagia dan tampan setuju dengan nama itu. Bahkan baby Ivana juga tersenyum begitu mendengar namanya dipanggil, ya dia menyukai nama itu.


...*****...