
Pagi itu...
Ini pertama kalinya lagi Xander menginjakkan kakinya di kediaman Sanderix setelah 4 tahun yang lalu dia meninggalkan kediaman ini. Sebab selama 2 tahun setelah Zeevana pergi, hampir setiap hari Xander pergi ke rumah kakak angkatnya itu untuk menanyakan Zeevana dan saat itu jawabannya nihil. Di mansion ini, dimana dia banyak menghabiskan waktu disana, dia diberikan kasih sayang oleh Javier dan Savana. Disinilah dia bertemu dengan wanita yang ia cintai, Zeevana.
Xander menatap sekeliling mansion itu, tak ada yang berubah. Masih sama dan suasananya masih seperti dulu. Xander sangat merindukannya, apalagi saat ia kembali bersama Zeevana dan Aiden.
"Mom, Dad, Arsen." lirih Zeevana saat melihat tiga anggota keluarganya duduk di sofa ruang tengah.
"Grandma, grandpa, uncle Arsen!"
Arsen, Savana dan Javier langsung beranjak dari tempat duduk mereka saat melihat kedatangan Zeevana dan Aiden. Arsen langsung berlari menghampiri Aiden lalu menggendong anak laki-laki itu sampai ke atas. Betapa rindunya Arsen pada keponakannya itu, mereka sering video call tapi jarang bertemu.
"Uncle sangat rindu padamu jagoan!" Arsen masih mengangkat tubuh mungil Aiden lalu menggoyang-goyangkannya ke kiri ke kanan.
"Aku juga rindu uncle...tapi tolong jangan menggendongku begini uncle! Aku malu!" kata Aiden pada pamannya itu.
Disisi lain, Zeevana sedang menyapa Savana dan Javier dengan pelukan. Xavier juga menyapa kedua mertua yang sebelumnya pernah menjadi kakak dan kakak iparnya dengan hangat. "Apa kabar ayah, ibu mertua?"
"Baik, silahkan duduk." Savana menyahut namun suaranya masih tidak bersahabat. Ya setidaknya wanita itu sudah mulai menunjukkan respon.
Mereka semua pun duduk di sofa ruang tengah, sambil bercanda gurau. Aiden menjadi sasaran dari Arsen dan Arsen selalu menjahilinya.
"Uncle... uncle sangat jahil seperti mommy...uncle nakal." Aiden berlari-larian mengitari ruang tengah itu. Arsen terus mengejarnya dengan senyum jahilnya, pria itu memegang bangkai kecoa di tangannya.
"Ayolah jagoan...kau tidak boleh takut pada cacing. Kau kan pemberani, kau bahkan tak takut hantu!" Arsen masih tersenyum menyeringai, dia masih mengejar Aiden.
"Ah...uncle...aku bukannya takut aku geli... tolong singkirkan itu dariku...ishh..." tubuh Aiden menggelinjang kegelian, hanya melihatnya saja membuat Aiden gemetar.
"Ayolah jagoan, ini hanya kecoa mati!" seru Arsen yang masih asyik menjahili Aiden, dia sangat geli dengan kecoa.
Selagi mereka berlarian dan bermain berdua, Zeevana, Xander, Savana dan Javier masih duduk duduk disana dengan santai. "Apa Aiden takut dengan kecoa? Aku baru tau, Zee." kata Xander seraya melirik Zeevana.
"Dia mirip denganmu, bukankah kau juga takut dengan dengan kecoa?" jawab Javier saat mengingat masa kecil Xander dulu. Xander juga takut pada kecoa.
"Iya benar, Aiden takut dengan kecoa sama seperti dengan daddynya." ucap Zeevana menimpali.
"Aku tidak takut dengan kecoa, aku hanya geli. Aiden pun sama." sanggah Xander menepis semua ucapan Javier dan Zeevana.
Ayah dan anak itu malah terkekeh saat mendengar penyangkalannya. Kini hubungan mereka sudah semakin baik. Apalagi Rachel akan menikah pusat dan hari ini Zeevana akan menginap di rumah Rachel bersama dengan Laura sahabatnya dan juga teman-teman yang lainnya. Mereka akan mengadakan pesta perawan, katanya. Malam itu Zeevana terlihat berdandan dan memakai mini dress berwarna maroon dengan turn neck yang tampak membuat gadis itu tampak seperti gadis 17 san.
"Ekhem,"
Mendengar suara seseorang berdehem, sontak saja membuat Zeevana menoleh ke arahnya. Yeah, sang suami sudah berada diambang pintu kamarnya. "Mau apa uncle kemari?" pria itu semakin mendekat ke arah Zeevana.
"Hey! Apa kau lupa? Kita belum bisa sekamar dan kau tidak bisa masuk ke kamarku."
"Ck, padahal kita suami istri." Xander berani memeluk istrinya, dia meletakkan kepalanya di bahu Zeevana dan membuat ia membungkukkan badannya.
"Uncle, kau apa-apaan--lepaskan..."
"Kau sangat wangi my wifey, kau mau kemana berpenampilan cantik dan seksi begini?" tanya pria itu sambil menciumi bahu Zeevana yang polos.
"Uncle, hentikan--geli." pinta Zeevana.
"Jawab aku my wifey, kau mau pergi kemana?" tanya Xander sambil meraba-raba paha mulus istrinya dan tentu saja membuat Zeevana menggelinjang, tubuhnya mulai meliuk-liuk.
"Uncle hentikan...ahh...uncle..." tanpa sadar desahann pun keluar dari bibir cantik yang diolesi lipstik berwarna merah itu.
"Kau mau pergi kemana? Jawab aku sayang," ujar Xander dengan jari-jari yang masih mengelus-elus paha mulus Zeevana.
"A..aku akan pergi ke tempat pesta lajang Rachel dan aku akan menginap disana."
"Oh begitu ya? Maaf sayang--tapi suamimu tidak mengizinkan."
"Uncle....kumohon...ini hari penting untuk Rachel. Ja-jadi..." Zeevana kegelian, ketika sang suami mulai menyentuh dua bongkahan miliknya yang indah. "Uncle hentikan--uhh--"
"Jangan pergi ya sayang--disini saja bersamaku?"
"Uncle, aku harus pergi...Rachel keponakanku, please." gadis itu memohon kepada suaminya untuk mengizinkannya pergi ke tempat Rachel. Sebab lusa adalah hari yang penting dan bersejarah untuk Rachel, mana mungkin Zeevana tidak menemaninya di saat-saat terpenting dalam hidupnya.
"Tapi--"
Zeevana memegang tangan Xander agar tangannya tidak bergerilya kemana-mana. Dia pun menghadap ke arah suaminya. "Aku tidak akan berbuat macam-macam, hanya ada perempuan disana...dan setelahnya kami akan pesta piyama di rumah Rachel."
Xander sebenarnya tidak ingin mengizinkan Zeevana pergi kesana. Tapi dia tidak mau terlalu mengekang wanita itu. Apalagi Zeevana belum bisa menerima Xander sepenuh hatinya. Tidur pun masih terpisah.
"Baiklah, kau boleh pergi."
"Benarkah? Bolehkah?"
"Hem...pergilah sepuas hatimu, aku tidak akan menganggu dan aku akan menjaga anak kita di rumah." ucap Xander yang berkebalikan dengan hatinya.
"Bagus! Kau harus berperan sebagai ayah yang baik dan suami yang baik, hehe. Terimakasih."
Cup!
Tanpa aba-aba wanita itu berjinjit dan mengecup pipi Xander dengan gemasnya. Xander terdiam dan matanya membulat sempurna.
"Aku pergi dulu ya uncle," ucap gadis itu lalu dia berlari pergi keluar dari kamar dengan buru-buru.
"I-iya...jauhi alkohol...ingat itu!" teriak Xander pada istrinya. "Shitt! Aku harus mengikutinya, bagaimana bisa aku membiarkannya pergi dengan baju seperti itu." gumam Xander tak rela Zeevana pergi keluar dengan pakaian seperti itu dan sudah bisa dia tebak kemana Rachael membawanya.
"Hey kakak ipar, kau mau ikut denganku?" tanya Arsen yang bersandar di ambang pintu kamar itu. Sontak Xander melirik ke arahnya.
"Kemana? Aku sedang ada urusan."
"Aku rasa urusan kita sama kak," jawab Arsen sambil tersenyum. Tak lama kemudian Arsen bisikan sesuatu ke telinga kakak iparnya.
"Sstt...sudahlah, ayo kita pergi. Kita ikuti mereka!" ujar Arsen dengan senyum jahilnya.
Kedua pria itu pun pergi dari rumah dan mengikuti Zeevana. Sementara Aiden bersama dengan grandpa dan grandmanya di rumah.
****
Di sebuah club' malam, terlihat 5 orang gadis tengah bersenang-senang disana. Rachel yang mentraktir keempat temannya untuk makan dan minum-minum sepuasnya disana. Malam itu sampai besok adalah moment untuk para wanita. Rachel, Zeevana, Laura, Agatha dan Vivian adalah 5 wanita yang dijuluki sebagai 5 wanita tercantik di zaman SMA dulu. Mereka adalah Primadona SMA dan Zeevana menempati nomor 1 dalam urutan popularitas. Dia adalah queen of SMA di Chicago dulu.
"Malam ini kita akan bersenang-senang...ini dunianya para wanita." kata Rachel pada keempat temannya. Dan satunya adalah bibinya, ya siapa lagi kalau bukan Zeevana.
"Happy wedding Rachel!" seru Zeevana, Agatha, Laura dan Vivian.
Zeevana dan ketiga teman yang lainnya bersulang minuman yang sudah tersedia didalam gelas. Mereka terlihat bahagia dan akan melakukan pesta lajang.
Kenapa waktu menikah dengan uncle--aku tidak melakukan pesta lajang ya?
Tanpa mereka sadari ada 3 orang pria yang memperhatikan mereka secara diam-diam dengan penyamaran. "Ish... Rachel, aku sudah bilang padamu--bahwa kau tidak boleh minum alkohol!"
Mendengar suara dari pria bermasker itu, sontak Arsen dan Xander yang juga menyamar, langsung melihat ke arahnya. Arsen membuka maskernya. "Robby? Kau ada disini?"
"Arsen? Kau juga? Dan ini--" pria bernama Robby itu melihat ke arah Xander. Pria itu pun membuka maskernya.
"Uncle Xander, kau ada disini? Apa kabar?" Robby menyapa Xander. Dia sudah lama tidak bertemu dengan Xander. "Uncle sebenarnya aku fans mu!" kata Robby sambil berjabatan tangan dengan Xander.
"Terimakasih tapi kumohon jangan berisik, sebab aku sedang sibuk." ucap Xander berbisik, matanya menatap istrinya yang berada diantara ke empat wanita itu.
Aku sudah bilang untuk menjauhi alkohol, tapi dia malah....ckck.
"Baiklah, aku pun sedang sibuk melihat calon istriku." tukas Robby dengan mata yang terarah pada Rachel, gadis itu sedang tertawa-tawa mengobrol dengan teman-temannya. Terutama dengan Zeevana, dia duduk dekat Rachel.
"Kau kan calon pengantin, apa kau tidak mengadakan pesta lajang juga sama seperti calon istrimu? Kenapa kau malah ada disini?" tanya Arsen pada Robby.
"Aku...aku tidak mengadakan hal seperti itu. Lagipula mana bisa aku membiarkan Rachel pergi ke tempat seperti ini!"
"Ya, berarti kita sama! Aku tidak suka kak Laura berada ditempat seperti ini." kata Arsen yang satu pemikiran dengan Robby, dia tidak suka wanita yang dia sukai berada di tempat ini meskipun dengan teman wanita.
Rupanya 3 pria itu sangat pencemburu, mereka tak mau terjadi apapun pada wanita mereka. Ketiga pria itu anteng mengawasi mereka tanpa ketahuan sambil minum kopi.
Sementara kumpulan wanita itu terlihat ngobrol-ngobrol disana. Mereka bertiga masih bisa mendengar obrolan itu.
"Oh ya aunty Zee, aku dengar dari mommy... kau kembali bersama grandpa Xander? Apa itu benar?" tanya Rachel seraya menatap Zeevana dengan intens. Sontak keempat temannya juga melihat ke arahnya. Mereka taunya Zeevana sudah bercerai.
"Ya, aku kembali dengannya." sahut Zeevana.
"Kalian kembali bersama? Uh-- kenapa aku tidak setuju setelah aku mendengar apa yang dia lakukan padamu." kata Vivian pada Zeevana. Xander yang mendengarnya jadi takut Zeevana akan kembali goyah.
"Kalau aku, aku mendukung semua keputusanmu. Setiap orang bisa berubah, mungkin sekarang dia sudah mencintaimu." ucap Laura yang selalu mendukung keputusan Zeevana.
"Ya, aku percaya bahwa dia bisa berubah. Aku yakin dia mencintaiku." ucap Zeevana yang membuat Xander tenang mendengarnya.
"Jika dia mencintaimu, harusnya dia menyiapkan pernikahan seperti yang kau inginkan. Bukannya aku memanasimu, tapi--bukankah dulu kalian menikah dengan sederhana? Harusnya dia memberikan kejutan atau sesuatu, dia masih kurang perjuangan menurutku." kata Agatha panjang lebar.
"Entahlah, sepertinya cintanya tidak sedalam itu padaku." kekeh Zeevana dengan senyum getir dibibirnya.
Xander, Arsen dan Robby tergelak saat mendengarnya. Arsen sontak menatap tajam pada kakak iparnya itu. "Benar, sepertinya kau memang kurang mencintai kakakku...kau bahkan tidak pernah memberikannya kejutan seperti kau memberi kejutan pada si Tessa itu." ucap Arsen yang membuat Xander mencelos dan diam dengan raut wajah sedih. Namun pria itu terlihat berpikir dalam.
****
Ketika Zeevana izin ke kamar mandi, gadis itu tak sengaja berpapasan dengan wanita yang ia tidak sukai. "Oh...hai, sudah lama tidak bertemu."
Zeevana kaget dengan kehadiran sosok Tessa disana dan dia bertanya-tanya kenapa wanita itu ada disana. Gadis itu memilih untuk mengacuhkannya saja. "Tunggu!" Tessa menahan tangan Zeevana.
"Kau tidak penasaran kenapa aku ada disini?" tanya Tessa.
Zeevana menepis tangan Tessa dengan kasar. Dia berusaha menahan rasa penasarannya. Kali ini dia tidak mau kalah lagi. "Palingan kau sedang mencari mangsa baru," tatapan gadis itu meremehkan pada Tessa yang berpakaian.
"APA maksudmu?"
Zeevana melangkah pergi dari sana, tapi Tessa menjambak rambut panjangnya dengan kasar. "Ack!!"
"Apa yang kau lakukan JALANGG?!" hardik Zeevana pada wanita itu.
"Kepada siapa kau katakan itu jalangg?" sentak Tessa pada Zeevana. Gadis itu membalikkan keadaan, dia menjambak rambut Tessa kali ini.
"ACKKK!"
"Kau--beraninya kau--" Tessa melorot karena tangan Zeevana menjambak rambutnya dengan kasar. "Lihat saja, sebentar lagi kau akan kehilangan Xander! Lihat saja! Xander masih mencintaiku."
""Kau terlalu meremehkanku, kau pikir aku akan menangis, melarikan diri seperti dulu karena ucapanmu? Kau salah! Aku bukan Zeevana yang dulu, nona." Zeevana menarik rambut panjang wanita itu dengan kasar, terlihat kemarahan di wajahnya pada wanita itu.
Tessa kaget dengan raut wajah Zeevana yang tajam, padahal dulu gadis itu menangis dan hanya bisa menangis. Kini dia tampak berbeda. Zeevana pergi dari sana setelah mendorong tubuh Tessa ke tembok, dia masih terlihat marah. Dan semakin marah manakala ia melihat sosok Xander berada disana.
"Oh--jadi kalian punya janji bertemu disini?" tanya Zeevana sinis. Seketika mood wanita itu menjadi buruk. Apakah keberadaan Xander dan Tessa disini memang sudah direncanakan?
"Sayang, apa maksudmu?" tanya Xander tidak mengerti.
"Xander!" seru Tessa seraya menghampiri Xander dan Zeevana. Xander sendiri kaget kenapa mantan kekasihnya berada disana. Zeevana melangkah pergi dari sana dengan wajah kesal.
"Oh SHITT!!" Xander menatap Zeevana yang pergi, dia mengejarnya dan mengacuhkan Tessa disana. Xander yakin Zeevana salah paham.
...*****...
Bab ini udah panjang ya guys ππ