One Night Stand With My Uncle

One Night Stand With My Uncle
Bab 55. Gejala hamil lagi



...πŸ€πŸ€πŸ€...


Raut wajah Dave langsung berubah menjadi pucat saat Joana menangis dan mengatakan bahwa dia ingin berpisah dengan dirinya. Padahal selama ini dia tidak merasakan apapun pada Joana, pernikahannya pun dan Joana dilakukan terpaksa karena perjodohan kedua orang tua mereka.


"Maaf, aku tidak bermaksud merusak rumah tanggamu nona Joana. Kau salah paham, aku dan suamimu tidak ada hubungan apapun sebatas partner ranjang. Kau tau sendiri kan? Suamimu adalah pria yang suka berbagi tubuhnya pada wanita lain." cetus Tessa jujur. Ia tidak bermaksud mengacaukan rumah tangga Joana dan Dave. Meski ia tau bahwa Natasha anak Dave, dia sama sekali tidak punya niatan untuk memberitahu Dave tentang ini. Malah Tessa mengatakan sebelumnya kalau anak yang dia kandung sudah tiada, sebab dia tidak mau terikat dengan Dave dan ingin mengakui Natasha sebagai anak Xander.


Sungguh, Tessa tidak mau merusak rumah tangga Joana. Dia hanya ingin merusak rumah tangga Xander dan Zeevana dengan alasan Natasha karena dia masih mencintai Xander, selain ingin hartanya. Tapi sayang rencananya gagal.


"Aku tidak peduli akan hal itu, apapun yang kalian lakukan--aku tidak peduli karena aku akan berpisah darinya." kata Joana dengan senyuman getir di bibirnya yang menyiratkan sejuta luka disana.


"Joana--aku tidak bisa berpisah darimu!" seru Dave tanpa sadar.


"Kenapa? Bukankah selama ini kau selalu menginginkan kebebasan? Aku berikan kau kebebasan! Tapi aku tidak bisa menunggu lagi untuk kau mencintaiku, tidak bisa Dave. Aku tidak mau berjuang untuk menunggu yang tidak pasti, aku tidak bisa menunggu dirimu menyambutku dan aku terus menerus tersakiti." Joana berusaha menahan air matanya yang terus mengalir. Selama ini dia sudah berusaha sabar menghadapi Dave dengan segala Casanovanya yang selalu bermain wanita. Joana selalu berusaha memaafkannya, tapi sabar juga ada batasnya. Kecewa dan hancur Joana rasakan saat tau bahwa suaminya punya anak dengan wanita lain.


"Joana--" lirih Dave.


"Stop Dave! Aku tau kau khawatir tentang harta warisan bukan? Tenang saja, aku akan bicara pada Papamu sebelum kita berpisah. Aku pastikan kau tetap mendapatkan harta warisanmu, aku janji!" kata Joana lalu pergi meninggalkan Tessa dan Dave berdua saja disana. Joana sudah berada di ujung kesabaran, jika dia masih bertahan maka dia adalah wanita terbodoh di dunia. Seketika dia jadi ingat dengan Zeevana, mungkin nasib wanita itu masih lebih beruntung darinya karena Xander mencintainya. Tapi Dave sama sekali tidak mencintai dirinya.


"Kenapa kau datang kemari dan membawa anak itu? Bukankah anak itu sudah mati! Kau bilang dia sudah mati!" seru Dave pada Tessa dengan kesal. "Aku menyuruhmu untuk menggugurkannya, tapi kenapa kau malah mempertahankannya?" tanya Dave seolah menghakimi Tessa yang sudah melahirkan Natasha.


"Bagaimana bisa aku menggugurkannya ketika usia kandunganku ternyata sudah 4 bulan saat itu? Tadinya aku akan menggugurkannya, tapi saat aku mendengar detak jantungnya di dalam rahimku--aku mengurungkan niat itu dan aku berencana manfaatkan anak itu untuk mendapatkan Xander! Tapi--semuanya gagal dan malah jadi begini."


"Hah!"


"Sekarang karena sudah gagal dan kau juga sudah tahu bahwa Natasha adalah putrimu, kau urus dia!" serka Tessa pada Dave yang tentunya langsung mendapatkan penolakan dari pria itu.


"Aku tidak pernah punya anak darimu," ketus Dave lalu dia pergi menyusul istrinya, sebelum masalah bertambah besar kalau ayahnya tau tentang semua ini.


Namun ternyata Dave terlambat, ia melihat ayahnya Jonas Satigo tengah memeluk Joana yang menangis. Sepertinya Jonas sudah tau semuanya.


"Sial!" umpat Dave.


****


"Hoekkk...hoekkk..."


Zeevana masih memuntahkan cairan kental yang tidak jelas, perutnya bergejolak dan mulai merasakan perih di kerongkongan karena mual-mual ini. Xander dengan setia mengusap-usap punggung dan tengkuk Zeevana. Dia menatap istrinya dengan cemas dan dia baru saja wajahnya pucat.


"Hey honey, are you all right?" tanya Xander begitu Zeevana mulai berhenti muntah. Pria itu mengusap basah dibibir Zeevana tanpa rasa jijik sedikitpun. Zeevana menyingkirkan tangan Xander, karena takut dia jijik dan mengusap bekas muntahnya sendiri.


"Aku pusing dan aku sedikit mual, entah kenapa." jawab Zeevana jujur.


"Honey, apa mungkin kau hamil?" tebak Xander langsung pada intinya. Sontak saja Zeevana terbelalak saat mendengarnya.


"Itu tidak mungkin!" sanggah wanita itu sambil menggelengkan kepalanya.


"Sayang, bukankah kemungkinan itu bisa saja terjadi. Kita melakukan malam bergairah di hotel itu kan? Dan aku mengeluarkan milikku berkali-kali di dalammu." kata Xander tak tahu malu. Jangan lupakan dia juga seorang dokter, walaupun dokter bedah tapi dia tau sedikit tentang gejala yang dialami Zeevana. Persis saat hamil Aiden dulu.


"Aku minum pil kontrasepsi setelah itu, jadi tidak mungkin!" seru Zeevana menepis semua pikiran bahwa dirinya hamil.


"Tapi sebelumnya kau tidak meminum pil kontrasepsi kan? Coba kau pikir-pikir lagi, mungkin kau sempat lupa meminumnya? Zee kau tau kan tembakan ku itu dahsyat."


"Uncle! Bisa tidak jangan bicara mesum?" Zeevana melotot pada suaminya.


Apa aku hamil? Tapi mana mungkin--aku baru sekali melakukannya dan langsung hamil? Kedua kalinya oleh uncle? Batin Zeevana bingung.


"Kenapa? Kau takut anak kita yang didalam sini mendengarnya?" goda Xander seraya melingkarkan tangannya di perut Zeevana yang masih datar itu.


"Hentikan itu! Kita harus segera keluar dari sini, nanti ada yang melihat kita dan malah berpikir yang macam-macam."


"Biarkan saja, toh kau adalah istriku!" kata pria itu dengan melempar ciuman bertubi-tubi pada wajah istrinya.


"Belum, kita belum jadi suami istri yang sebenarnya!" seru Zeevana lalu mendorong pria itu dan dia pergi dari sana dengan setengah berlari.


"Honey, jangan lari-lari begitu! Nanti bayi kita kenapa-napa." pria itu terlihat bahagia seandainya jika Zeevana benar-benar hamil. Dia sudah menyiapkan lamaran untuk Zeevana, lamaran yang indah dan akan mengulang pernikahan mereka nanti.


Xander menyusul istrinya yang ternyata sudah berkumpul dengan keluarganya. Savana, Javier, Elena dan Mark berada disana. Zeevana bermaksud meminta izin untuk pulang lebih dulu pada Elena, Mark, terutama pada Rachel dan Robby karena tubuhnya benar-benar tidak nyaman.


"Kau sakit sayang? Wajahmu pucat." Savana membelai pipi putrinya dengan penuh kasih sayang.


"Aku sedikit tidak enak mom," jawab Zeevana.


"Iya ibu mertua, putrimu harus banyak istirahat karena dia tengah berba--"


Dengan cepat Zeevana membekap mulut Xander dengan kedua tangannya. Xander tersenyum sambil memegang kedua tangan Zeevana itu.


Kenapa sekarang dia suka bicara tanpa di filter? batin Zeevana kesal karena sikap Xander yang sekarang blakblakan dan jahil. Kemana sikapnya yang dingin dan cuek itu?


Para orang tua menatap pasangan suami-istri itu dengan bingung. Mereka penasaran dengan apa yang diucapkan oleh Xander.


"Tengah berba--apa?" tanya Elena seraya memandang Xander dengan tatapan curiga. Apalagi gelagat Zeevana seperti menyembunyikan sesuatu.


"Tidak apa-apa kak! Kalau begitu aku mau pulang dulu." Zeevana terlihat panik.


"Ya, ayo kita pulang honey. Aku akan menemanimu. Ah--kita ajak Aiden dulu ya." tawar Xander, karena tak mungkin Aiden ditinggalkan sendirian disini kalau kedua orang tuanya pulang duluan.


"Tidak perlu, kalian pulang duluan saja. Biar mommy dan Daddy yang jaga Aiden disini. Sepertinya Aiden masih asyik bermain bersama Arsen dan Laura juga." cetus Savana seraya melihat ke arah Arsen, Laura dan ketiga anak yang sedang asyik makan cemilan sambil duduk.


Namun kepulangan Zeevana dan Xander harus tertunda karena ada sesi foto keluarga, terpaksa Zeevana dan Xander mengikuti sesi foto keluarga, mereka tak mungkin mengecewakan Rachel dan Robby bukan? Sebelumnya Zeevana sempat lupa dengan sesi foto.


Setelah sesi foto selesai, Zeevana merasakan pandangannya mulai buram. Tubuhnya mulai tak terkendali, sangat pusing. Xander memeganginya, pandangannya juga tak pernah lepas dari wanita yang sudah melahirkan buah hati tampan dan lucu itu. "Kita pulang sekarang ya sayang, aku khawatir."


"Ehm...iya." sahut Zeevana yang sudah tidak kuat lagi.


"Xander, tolong jaga Zee ya. Karena sepertinya kami masih harus berada disini sampai acara berakhir." pesan Javier mempercayakan Zeevana pada suaminya.


"Iya ayah mertua, aku pasti akan menjaga istriku." ucap Xander sambil memapah sang istri dengan penuh hati-hati.


Aiden yang sedang bersama Natasha dan Raphael, melihat Zeevana dipapah oleh Xander. Aiden lantas langsung berlari menghampiri mommy dan Daddynya. Aiden terlihat cemas melihat mommynya yang pucat.


"Mommy...mommy kenapa uncle?" tanya Aiden yang masih saja memanggil Xander dengan panggilan uncle.


"Mommy tidak apa-apa sayang." jawab Zeevana lemas.


"Mommymu hanya sedikit tidak enak badan, Daddy akan membawa mommymu pulang untuk beristirahat. Kau disini saja, son." jelas Xander pada putranya.


"Aku ikut pulang mommy!" seru Aiden cemas pada keadaan Mommynya.


"Tidak usah sayang, mommy hanya butuh tidur dan istirahat. Kau disini saja dengan aunty." celetuk Laura sambil tersenyum pada Aiden.


"Iya, ada uncle Arsen juga disini! Sekalian aunty Laura sama uncle belajar jadi orang tua," kata Arsen sambil cengengesan. Laura langsung menajamkan matanya pada Arsen, dari tadi Arsen terus bicara soal pernikahan dan punya anak kepadanya.


"Baiklah, kalian jaga anak-anak ya sekalian latihan jadi orang tua." Xander menimpali sambil tersenyum.


Arsen tersenyum lebar mendengar itu, sementara Laura semakin kesal karenanya. Lalu kedua orang itu pun membawa Aiden ke tempat lain, sementara Zeevana dan Xander kembali pulang ke rumah.


****


Sesampainya di rumah Zeevana langsung merebahkan dirinya diatas ranjang kamarnya. Dia terlihat lesu, letih dan pusing. Beruntung mualnya sudah mereda. Setelah dipikir-pikir, gejala yang dialaminya ini memang sama dengan apa yang dialami saat ia mengandung Aiden. Tapi mana mungkin dia hamil lagi? Secepat ini? Padahal baru selain berhubungan? Lalu jawaban apa yang tepat terkait dengan sebulan dia terlambat datang bulan.


"Aku akan buatkan air minum hangat untukmu."


"Ambilkan obat juga uncle, obat sakit kepala." ucap Zeevana meminta tolong.


"Kau tidak boleh minum obat sembarangan dulu! Aku sudah panggil dokter Alice, sebentar lagi dia akan datang memeriksamu." seloroh Xander khawatir pada istrinya. Di pesta tadi ia sempat menelpon Alice untuk datang memeriksa istrinya.


"Uncle! Aku tidak hamil!" sanggah Zeevana.


"Kau hamil honey."


"Kalau aku hamil bagaimana?" Zeevana malah terlihat bingung dan gelisah. Dia seakan takut untuk hamil lagi.


"Ya...aku akan jadi Daddy lagi dan kau akan jadi mommy lagi. Apa masalahnya? Dan kau juga punya suami, kau tak perlu malu."


"Uncle jangan bercanda! Aku serius...aku belum siap untuk semua ini karena aku belum yakin padamu." ucap Zeevana jujur, itulah yang membuat dia gelisah dan belum siap mempunyai anak lagi. Apalagi anak itu hasil perkosaan suami sendiri, ya lucu bukan? Kedua kalinya hamil karena hasil pemaksaan lagi?


"Kau masih belum percaya padaku?" tanya Xander yang sebenarnya agak kecewa dengan Zeevana yang bilang belum percaya padanya. Setelah semua yang dia lakukan sepertinya masih belum cukup.


"Belum." jawab Zeevana sekenanya. Dia memang jujur, itulah hatinya perasaannya. "Aku tidak salah kan? Aku hanya ingin menjaga hatiku."


"Kau tidak salah, aku yang salah karena masih belum bisa meluluhkan hatimu sepenuhnya." kata Xander lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Zeevana. Xander menatap bibir merah itu dengan nanar. Tinggal beberapa Senti saja untuk menempel, suara bel berbunyi sontak saja menjauhkan mereka.


"Itu pasti dokter Alice, tunggu disini. Akan aku bawakan minuman hangat sekalian." Xander mengecup kening Zeevana sekilas. Zeevana terhenyak dengan sikap Xander kepadanya, sebenarnya ia sudah luluh tapi hatinya masih ragu.


...****...