One Night Stand With My Uncle

One Night Stand With My Uncle
Bab 64. Gangguan jiwa



...πŸ€πŸ€πŸ€...


Tessa tertawa-tawa tidak jelas, ia senang melihat raut wajah semua orang yang sedang cemas dan panik itu.


"Lepaskan putriku! Dasar sialan! Kau sudah di kepung!" sentak Savana yang berjalan mendekat ke arah putrinya. Namun Tessa kembali mengancamnya dengan Zeevana. Tessa mendorong-dorong Zeevana ke arah ujung gedung lantai 20 itu.


"Aaakhhh!!" pekik Zeevana terkejut, jantungnya berdebar kencang saat Tessa mendorong-dorong tubuhnya. Zeevana bisa melihat bawah gedung hotel itu dari atas sana, amat tinggi dan menyeramkan.


Bukan dirinya yang dia khawatirkan, melainkan nasib janin yang ada di kandungannya saat ini. Keadaannya juga lemah karena penyakit yang dideritanya, dia tidak mau sampai kehilangan bayinya.


"TESSA HENTIKAN!" Teriak Xander panik melihat istrinya berada di ujung gedung, hanya tinggal sedikit di dorong saja oleh Tessa, maka wanita hamil itu pasti akan jatuh.


Semua orang ketakutan melihat Zeevana berada dalam posisi seperti itu. Apalagi Aiden, Natasha, Jonas dan Laura yang baru datang kesana. Aiden cemas melihat mamanya disana bersama Tessa. Natasha juga tidak percaya bahwa Mommynya akan berbuat jahat pada mommy Aiden, temannya.


Mommy, kenapa mommy jahat? Batin Natasha sedih melihat mommynya begitu.


"Mommy!" seru Aiden yang hendak berlari menolong mommynya, namun dengan cepat Arsen menangkapnya.


"Lepaskan aku uncle! Aku mau menolong mommy!" sentak Aiden meronta-ronta didalam pelukan Arsen.


"Bahaya! Biarkan Daddymu yang melakukannya." tegas Arsen pada Aiden.


"Arsen maafkan aku, aku tidak menjaga Aiden." ucap Laura menyesal karena telah membiarkan Aiden melihat semua ini.


"Ini bukan salahmu, tidak apa." kata Arsen pada kekasihnya itu.


"Tessa, lepaskan dia! Akan aku lakukan apapun yang kau mau!" teriak Xander dengan wajah gelisah yang tak mau lenyap itu.


"Aku ingin kau bercerai dengannya dan menikah denganku!" Tessa mengatakannya dengan lantang. Ia hanya ingin Xander bercerai dengan Zeevana dan menikahinya.


"Oke, tapi itu butuh persiapan. Tidak bisa dilakukan secara mendadak. Lebih baik kau lepaskan dulu istriku." Xander mengiyakan dulu permintaan dari Tessa agar wanita itu menurunkan kewaspadaannya.


Sepertinya keluarga Sanderix juga paham akan hal itu, apa yang diucapkan Xander tidak benar-benar dalam hatinya.


"Suruh polisi-polisi itu pergi dari sini!" pinta Tessa pada Xander.


"Hey kau--" Savana melotot, dia sudah berwajah garang dan siap bila harus adu mulut maupun adu jotos dengan wanita yang berani menyentuh putrinya.


"Mom, biar aku saja." Xander menghentikan kemarahan Savana. "Mommy percaya padaku bukan?" tanya Xander pada ibu mertuanya.


Savana tidak bicara, dia hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanda bahwa ia setuju dan percaya dengan Xander.


"Cepat suruh mereka pergi! Dan siapkan gaun pengantin untukku sekarang juga!" Titah Tessa pada Xander. Tampaknya wanita itu sudah gila, dia ingin Zeevana dan Xander bercerai saat itu juga dan dialah yang akan menikahi Xander.


"Baik!"


Xander pun meminta semua petugas kepolisian yang berada di sana untuk pergi dari atas gedung. Lalu dia pun meminta bantuan kepada Laura untuk membelikan gaun pengantin yang ada disekitar hotel itu. Sementara Zeevana masih berada dalam cengkraman Tessa. Semua orang tidak dapat berbuat apa-apa, sebab Tessa benar-benar serius dan nekat ingin mencelakai Zeevana.


Tak lama setelah polisi pergi, lebih tepatnya bersembunyi dari Tessa. Laura datang membawakan gaun pengantin untuk Tessa, wanita stress itu tersenyum bahagia dengan mata yang berpindah-binar menatap gaun pengantin itu.


"Xander sayang, kita akan menikah hari ini." kata Tessa bahagia.


Dasar wanita tidak waras. Batin Savana kesal


Bukan hanya Savana saja yang mengira bahwa Tessa sudah tidak waras. Namun semua orang yang ada di sana juga mengira begitu.


"Ya, kita akan menikah...jadi lebih baik kau lepaskan dia dan pakai gaun pengantinmu." bujuk Xander pada wanita itu.


"Benar, aku harus memakai gaun pengantinnya dulu." kata Tessa sambil nyengir tidak karuan dan ini memperkuat dugaan bahwa wanita itu memang telah mengalami gangguan jiwa.


Tessa menyeret Zeevana bersamanya, dia akan membawa wanita itu turun dari gedung. Xander dan yang lain menunggu Tessa lengah. Akhirnya wanita itu lengah saat akan berganti pakaian di lobi hotel. Tessa pun ditangkap oleh polisi dan Zeevana bebas dari cengkeramannya.


Selain memanggil polisi, Tessa akan diperiksa oleh pihak rumah sakit jiwa karena sepertinya kejiwaannya terganggu.


"Lepaskan aku SIALAN! XANDER, KAU TIDAK BOLEH BAHAGIA BERSAMA SI ****** ITU! KAU ADALAH MILIKKU! MILIKKU! KAU HANYA MENCINTAIKU!" tak hentinya Tessa berteriak mengklaim bahwa Xander adalah miliknya. Hingga dia menjadi pusat perhatian semua orang di sana.


Xander sama sekali tidak mempedulikan apa yang dikatakan oleh Tessa, atensinya semua tertuju pada Zeevana. Wanita hamil itu terlihat lemas dan pucat.


"Mommy!" Aiden memeluk Mommynya dengan cemas.


"Sayang, kau tidak apa-apa? Sayang!" Xander memegang pipi Zeevana dan menepuk-nepuknya.


"Aku baik-baik saja...aku..." Zeevana terlihat lemas, hidungnya mengeluarkan darah, lalu dia pun jatuh pingsan di pelukan suaminya.


"Zee!" teriak Xander dan semua orang panik saat melihat Zeevana jatuh pingsan.


"Xander, cepat bawa Zee ke rumah sakit! Cepat!" teriak Javier.


Dengan sigap Xander menggendong istrinya ala bridal style. Dia membawa sang istri ke rumah sakit terdekat dengan Fredy yang saat itu menyetir mobilnya. Sementara Aiden ada bersama dengan Laura dan Arsen.


"Mommy, aku ingin melihat mommy...mommy tidak sadarkan diri." ucap Aiden cemas, dia terisak melihat kondisi Mommynya tadi.


"Iya, kita akan menyusul mommymu. Uncle dan aunty Laura akan mengantarmu ke sana." kata Laura seraya memegang tangan Aiden.


"Aiden tunggu," seorang anak perempuan memegang tangan Aiden dan menghentikan langkahnya. Siapa lagi kalau bukan Natasha. Aiden menepis tangan Natasha, dia menatap anak perempuan itu dengan dingin dan tajam.


"Aiden aku minta maaf, maafkan mommyku Aiden..." lirih Natasha yang merasa bersalah karena Tessa, ibunya sudah membuat ulah.


"Kalau sampai terjadi sesuatu pada mommyku, aku tidak akan memaafkannya!" sentak Aiden marah. Lalu dia pun pergi bersama Laura dan Arsen untuk menyusul ke rumah sakit.


Natasha menatap kepergian Aiden dengan buliran air mata membasahi wajahnya. Jonas berusaha untuk menghibur cucunya yang sedang sedih itu.


"Kakek, Aiden membenciku... bagaimana ini?" Natasha terisak, tak mau Aiden membencinya.


"Tidak, dia hanya marah saja. Bukannya membencimu, kau jangan cemas. Mommy Aiden juga pasti akan baik-baik saja." ucap Jonas menghibur.


"Kakek...kenapa mommy jahat? Kenapa mommy jahat pada uncle Xander dan aunty Zeevana. Hiks..hiks...semoga aunty Zee baik-baik saja." Natasha terisak, dia mendoakan semoga Zeevana baik-baik saja.


****


Di rumah sakit, Zeevana masih terbaring lemah diatas ranjang. Luka ditangannya sudah di obati oleh dokter. Alice juga mengatakan bahwa bayinya baik-baik saja. Tapi Alice belum memberitahukan tentang kankernya. Pada akhirnya resepsi pernikahan Zeevana dan Xander harus terganggu juga karena Tessa, namun setidaknya acara itu sudah berlangsung sesuai keinginan Zeevana dan Xander, walau tidak sampai akhir


"Katamu istrimu baik baik saja, lalu kenapa dia masih belum siuman?" tanya Xander yang masih belum melepaskan genggaman tangannya dari Zeevana.


"Sebentar lagi dia akan siuman." jawab Alice.


"Zee dan anak kami benar-benar baik-baik saja kan?" tanya Xander pada Alice, entah sudah berapa kali dia bertanya. Dia cemas pada kondisi Zeevana, apalagi istrinya itu sedang hamil muda.


"Iya, dia baik-baik saja." ucap Alice seraya tersenyum menenangkan Xander. Alice jujur untuk kali ini, memang kondisi Zeevana dan bayinya untuk saat ini baik-baik saja. Tapi entah bagaimana nanti.


Tak lama kemudian, Zeevana mulai membuka matanya dia merasakan ada tangan yang menggenggamnya dengan penuh kasih. Matanya melirik sosok itu yang kini tengah menangis untuknya. Tunggu--Xander menangis?


"Bunny..."


"Sweetie! Kau sudah bangun?" Xander mendongak melihat ke arah Zeevana ternyata sudah membuka matanya.


"Aku...di rumah sakit?" tanyanya lirih seraya melihat-lihat ke sekelilingnya. Dia menemukan sosok lain disana yaitu dokter Alice.


Alice mengisyaratkan sesuatu pada Zeevana, wanita itu paham dan langsung mengangguk kecil. Dia menatap suaminya yang saat ini masih mencecarnya dengan banyak pertanyaan tentang keadaannya.


"Sayang, mana yang sakit?"


"Tidak ada yang sakit, tapi aku ingin sesuatu bunny."


"Kau mau apa sayang?" tanya Xander pada sang istri seraya mengusap keningnya lembut.


"Aku ingin cake keju dan jus apel, bisakah kau bawakan untukku? Aku ingin sekarang."


"Baiklah, nanti akan kubawa kan. Aku tunggu yang lain datang, aku tak bisa meninggalkanmu sendiri." ucap Xander yang tidak akan pergi dari sana sebelum ada seseorang yang menjaga Zeevana di rumah sakit.


"Ada aku disini, kau jangan cemas. Aku juga sekalian akan memeriksanya. Lebih baik kau segera pergi dan penuhi keinginan istrimu, dia sedang mengidam." ucap Alice membantu Zeevana agar mengusir Xander secara halus dari sana.


"Hem...baiklah, aku tidak akan lama sayang. Dokter Alice, tolong jaga istriku." ujar Xander berpesan pada Alice untuk menjaga Zeevana. Alice menganggukkan kepalanya, lalu Xander pun buru-buru pergi dari sana.


Setelah yakin Xander sudah pergi, Zeevana beranjak duduk diatas ranjang itu. Matanya mulai bertemu pandang dengan Alice, menyiratkan sebuah keseriusan. "Apa yang ingin dokter Alice bicarakan pada saya?" tanya Zeevana langsung pada intinya.


"Zee, aku masih membicarakan masalah yang sama. Ini tentang keselamatan dan kesehatan bayimu kelak. Kalau kau tetap bersikeras melahirkannya, mau kau melakukan pengobatan atau tidak. Bayimu akan terpengaruh oleh obat-obatan itu, jadi lebih baik untuk meluruhkannya lebih awal. Kau tenang saja, kau masih bisa hamil lagi setelah kau sembuh dari penyakitmu. Kumohon jangan keras kepala Zee, kalau kau tetap seperti ini...kau bisa membahayakan nyawamu dan nyawa bayimu juga." tutur Alice menjelaskan segala kemungkinan yang bisa saja terjadi kalau Zeevana tidak melakukan kemoterapi. Bayi yang ada didalam kandungannya akan tetap terpengaruh dengan obat-obatan yang diminum Zee setiap dia kesakitan, namun pengaruhnya tidak sebesar efek kemoterapi.


Zeevana terdiam dan memegang perutnya yang masih datar. Dia bingung, dia meminta Alice untuk mengerti posisinya bahwa ia seorang ibu dan di dalam perutnya ada nyawa yang sedang tumbuh, amanah dari tuhan.


"Jika memang meminum obat pereda rasa sakit itu bisa membuat janinku terpengaruh, aku tidak akan meminum lagi obat itu." ucap Zeevana sungguh-sungguh.


"TIDAK Zeevana. Bukan itu maksudku,"


"Dokter, aku tidak akan membunuh anakku...tidak mau." kata Zeevana terisak sambil memegang perutnya.


"Kau benar-benar...baiklah, aku tidak bisa memaksamu lagi. Tapi cepat atau lambat, semua orang akan tau. Xander dan keluargamu pasti akan memintamu melakukan hal yang sama dengan apa yang aku katakan saat ini." Desah Alice sambil memijit pelipisnya, dia pusing memikirkan kondisi Zeevana dan keras kepalanya.


Setelah Zeevana dinyatakan baik-baik saja, dia langsung pulang bersama suaminya. Zeevana telah mengambil keputusan bahwa dia ingin nanti bayinya sehat dengan tidak meminum obat anti kanker dan pereda sakitnya. Atau mungkin dia akan jarang meminumnya.


Demi menenangkan istrinya setelah apa yang terjadi, Xander lantas membawa istrinya pergi ke hotel untuk beristirahat. Rencananya nanti mereka akan berbulan madu, ke Inggris sekalian menetap disana bersama keluarga kecil mereka.


*****


Malam itu...


Di salah satu rumah sakit jiwa, Chicago.


Tessa berada di dalam sebuah kamar, ruang rawatnya. Setelah dia dinyatakan mengalami gangguan jiwa, wanita itu langsung di masukkan ke dalam RSJ dan akan menetap disana entah sampai kapan.


"Aku tidak gila...aku tidak GILA!" teriak Tessa begitu dia di kurung di dalam kamarnya oleh petugas rumah sakit jiwa.


Tak lama kemudian, seorang pria dan seorang wanita datang bersama suster rumah sakit jiwa. Dia datang untuk mengunjungi Tessa. Pria dan wanita adalah orang yang tidak terduga.


"Dave? Joana? Baguslah, kalian ada disini...kalian kesini untuk membebaskanku kan?" tanya Tessa dengan secercah harapan, matanya berbinar menatap pasangan suami-istri itu.


Tapi bagaimana bisa mereka bersama-sama? Bukankah mereka bercerai? Joana dan Dave tidak jadi bercerai, sebab saat ini Joana tengah mengandung dan Joana memutuskan untuk memberikan Dave kesempatan kedua. Lalu untuk apa mereka mendatangi Tessa?


"Tessa, aku dan Joana kemari untuk mengatakan sesuatu padamu tentang Natasha." ucap Dave dibalik pintu besi tempat Tessa berada saat ini.


"Natasha?" Tessa mengerutkan keningnya, kenapa mereka membahas Natasha.


"Kami sudah memutuskan akan merawat Natasha, istriku juga sudah menerimanya dan membuat Natasha masuk ke dalam kartu keluarga Satigo. Jadi kami kesini ingin memintamu menandatangani surat pemutusan hubungan keluarga dengan Natasha!" Dave menunjukkan secarik kertas pada Tessa.


Tessa, wanita itu melihat suratnya. Dia tertawa getir, sedetik kemudian dia langsung berteriak-teriak histeris. "KALIAN SEMUA SUDAH GILA! KALIAN KEJAM KEPADAKU!!"


"Tessa, aku tidak mau putriku sepertimu. Jadi--cepatlah tandatangani suratnya!" ujar Dave pada Tessa, sementara Joana hanya diam saja dan menatap tajam pada Tessa.


"PERGI! PERGI KALIAN SEMUA! KALIAN JAHAT! JAHAT!!"


Melihat Tessa yang mengamuk dan tidak bisa diajak untuk bicara saat ini, akhirnya pasangan suami istri itu pun pergi meninggalkan ruangan tempat Tessa dirawat. Di dalam perjalanan pulang, pasangan suami istri itu mengobrol tentang keadaan Tessa. Sepertinya memang benar bahwa wanita itu menderita gangguan jiwa.


****


3 hari kemudian, Zeevana, Xander dan juga akan Aiden pamit pergi untuk meninggalkan Chicago dan pergi ke Inggris. Disana mereka akan tinggal bersama dengan Antonio. Otomatis Aiden pun harus pindah sekolah lagi dari Chicago ke Inggris.


Hari itu adalah hari terakhir Aiden di sekolah, ia tidak berpamitan pada teman-temannya. Sebenarnya Aiden juga sedih karena harus pindah sekolah dan berpisah dengan Theo, Luna juga Natasha teman terdekatnya. Setelah tau Aiden sudah pergi ke Inggris, Natasha, Luna dan Theo menangis karena Aiden pergi tanpa pamit.


"Huaahh...Aiden jahat sekali, dia tidak pamit pada kita, kita sebenarnya dianggap apa olehnya?" Luna terisak, dia menangis tersedu-sedu.


"Iya...hiks...tega sekali Aiden pergi." Natasha, gadis kecil itu juga sama sedihnya dengan Luna. Mereka berpelukan saat ini. Ya, walaupun Aiden sempat menitipkan surat dan hadiah untuk mereka bertiga, tetap saja mereka sedih dan bilangnya Aiden pergi tanpa pamit.


"Sudah...hiks...jangan menangis lagi. Bagaimana kalau kita susul Aiden ke Inggris nanti? Bagaimana?" usul Theo pada kedua sahabatnya.


"Iya ayo...nanti kita ke Inggris. Nanti pasti kita akan bertemu lagi." sahut Natasha seraya menganggukkan kepalanya. Luna juga ikut menganggukkan kepalanya. Mereka pasti akan bertemu lagi suatu saat nanti.


****


Sesampainya di Inggris, Zeevana dan Xander lantas menitipkan Aiden pada Antonio dan juga orang-orang kepercayaannya selama beberapa hari untuk berbulan madu disana.


"Sayang, apa tidak apa-apa bila kita menitipkan Aiden pada kakek?" tanya Zeevana pada suaminya yang saat ini sedang rebahan di atas ranjang. Xander tampak seksi dengan menggunakan bathrobe saja. Zeevana juga memakai gaun tidur yang tipis.


Xander memeluk Zeevana dari belakang, dia mengecupi bahu dan leher putih mulus milik sang istri. "Tenang saja sweetie, kakek malah senang bisa mengasuh cicitnya. Dan lebih baik kita segera mulai ritual kita, sebab tak lama lagi aku harus kembali ke kantor." bisik Xander dengan sensual.


Bulu roma Zeevana meremang, ia tau ini adalah kode dari suaminya untuk melakukan ritual suami-istri. Wanita itu tersenyum, kemudian dia merasakan ada sesuatu yang menempel dibibirnya. Zeevana membalas pagutan itu dengan menggebu, tangannya membuka bathrobe milik sang suami dan akhirnya...


Terpampanglah sesuatu yang indah, sesuatu yang sering disebut sebagai roti sobek. Zeevana menatap suaminya dengan penuh cinta. "Aku akan pelan," bisik Xander lalu mengecup kening Zeevana.


...****...