
...πππ...
Zeevana berada di dalam taksi, dia berniat pergi ke kantor untuk menjelaskan pada Axel, kenapa dia izin pergi saat ada rapat penting. Tadi Zeevana belum sempat menjelaskan pada Axel dan Prisa tentang pertemuannya dengan Joana. Ya, wanita itu memohon-mohon ingin bertemu dengannya. Bahkan ia sampai menunggu di sekolah dan akhirnya mereka bertemu di cafe itu.
Mrs. Sanderix, di dunia ini ada yang namanya kesempatan dan saya sedang memberikan kesempatan itu kepada suami saya. Dan--saya punya anak yang membutuhkan kasih sayang ayahnya, sayang tidak bisa egois dan memikirkan perpisahan seenaknya.
Kata-kata Joana terus terngiang di kepalanya seperti kaset yang di putar berulang-ulang. Jujur saja, Zeevana mencelos mendengar apa yang dikatakan wanita itu. Wanita yang bertahan berumah tangga dengan pria bernama Dave Satigo. Seorang pria playboy dan dengan alasan anak. Hati Joana kuat dan di hadapan Joana, Zeevana merasa payah. Dia tidak bisa sekuat Joana yang bisa bersama dengan pria seperti itu. Dave bisa dikatakan sebagai playboy, Casanova atau apalah itu. Zeevana tau pria itu dari SMA, Dave tidak pernah serius dalam menjalani hubungan. Itu yang Zeevana tau tentangnya.
Kata-kata Joana berhasil membuat Zeevana terus kepikiran dan mempengaruhinya. Seandainya dia sekuat Joana untuk memaafkan, untuk berbesar hati. Tapi sayangnya dia sekuat itu. Melihat video suaminya bercumbu dengan wanita lain, sungguh meremukkan hatinya. Zeevana jadi teringat lagi dengan one night stand bersama unclenya itu. Dimana Xander meracaukan nama Tessa. Memang, dulu Zeevana tidak sakit hati saat itu, namun ketika cinta mulai hadir maka rasa sakit itu mulai timbul. Pernah dengar, bahwa orang yang berpeluang paling. besar untuk menyakiti hati kita adalah orang yang kita cintai itu sendiri? Itulah yang Zeevana rasakan.
"Sayangnya aku tidak sekuat itu, aku tidak bisa...aku tidak bisa melupakannya dari kepalaku. Bayang-bayangmu bercumbu dengan wanita lain, itulah yang tidak bisa aku lupakan. Entah--mungkin hatiku yang terlalu sempit atau aku belum memaafkan diriku sendiri. Saat kau memanggil namanya dalam tidurmu, aku terluka uncle...aku terluka...aku belum bisa memaafkanmu." di dalam taksi, tangis Zeevana pecah. Supir taksi didalam mobil itu tidak berani berkomentar apapun tentang Zeevana.
Namun dengan cepat Zeevana mengontrol emosinya lagi, dia tidak mau terlihat lemah. "Bagaimana ini? Mataku jadi sembab begini, lebih baik aku jangan langsung pulang ke rumah."
Zeevana memutuskan untuk pergi ke tempat lain untuk menenangkan dirinya terlebih dahulu. Dia meminta supir taksi mengantarnya ke rumah temannya yang ada di Australia. Di dalam perjalanan menuju ke rumah temannya, Zeevana mengecek ponselnya di dalam tas yang sedari tadi dia silent.
Banyak pesan masuk dan panggilan tidak terjawab disana. Pesan dari Mommynya, Axel, Prisa dan yang paling banyak adalah dari Xander. Panggilan telpon sebanyak 80 kali.
"Apa dia sudah gila? Menelpon sampai 80 kali?" gerutu Zeevana.
...Angkat telponku, kalau tidak aku akan menghukummu....
Wanita itu tak sengaja membuka salah satu pesan dari Xander. Namun di memutuskan untuk mengabaikan pesan itu walau sudah dibacanya.
Dreett...
Dreett...
πΆπΆπΆ
"Woah... dia menelponku lagi?!" sentak Zeevana saat melihat Xander begitu gigih menelponnya. "Apa dia tidak ada kerjaan?"
Tulisan nomor Xander disana adalah. "Jangan diangkat."
Wanita itu kembali mengabaikannya, ia lebih memilih membalas pesan dari Axel. Namun baru saja mengetik beberapa kata, sebuah pesan masuk dari jangan diangkat.
Angkat telpon, kalau kau tidak mau perusahaan Rainer design bangkrut.
"Halo." kata Zeevana.
"Kau dimana?"
"Mau apa?"
"Temui aku di cafe xx sekarang juga, kita perlu bicara."
"Tapi aku--"
"Temui aku. Aku yakin ada yang ingin kau bicarakan padaku." tegas Xander yang memangkas ucapan Zeevana.
"Baiklah."
Wanita itu langsung menutup telponnya begitu saja. Ya, memang ada yang ingin dia bicarakan pada Xander.
****
Di rumah Zeevana, Axel terlihat sedang berduaan dengan Aiden di taman belakang. Sebenarnya Aiden sengaja mengajak Axel kesana karena dia ingin bicara berdua saja dengan pria itu.
"Paman tau kau mau bicara sesuatu. Jagoan, apa yang mau kau bicarakan?"
"Paman selalu bisa menebak ya...baiklah aku akan mengatakannya. Paman tolong beritahu aku kenapa mommy dan uncle Xander berpisah?" tanya Aiden langsung pada intinya. Dan Axel terdiam saat mendengarnya, haruskah ia beritahu semua ini pada Aiden?
...****...
Bab ini memang dikit, nanti dilanjutkan lagi yaπ€§π€§
Terimakasih buat komen kalian...β€οΈβ€οΈπ
Sedikit spoiler buat bab berikutnya...
"Aku benci paman! Tidak akan aku biarkan kau kembali pada mommyku! Tidak AKAN!"