One Night Stand With My Uncle

One Night Stand With My Uncle
Bab 19. Murkanya orang tua



Kejadian itu terjadi begitu cepat, Xander pun tidak dapat menggapai tubuh Zeevana yang kini telah tergeletak di atas aspal dengan kondisi mengenaskan.


Entah bagaimana ceritanya, Savana, Javier dan juga Laura berada di seberang jalan itu. Mereka melihat jelas kejadiannya, dimana tubuh gadis itu melayang ke atas tertabrak mobil dan endingnya tergeletak di aspal.


"ZEE! Putriku! TIDAK!!" teriak Savana histeris, dia berlari menghampiri putrinya.


Xander lebih dulu menghampiri istrinya yang tergeletak di sana dengan kondisi kepala penuh luka. Darah juga mengalir dari pangkal pahanya. Xander memeluk Zeevana, menaikkan kepala wanita itu ke atas pangkuannya. Wajah Xander pucat dan ia syok dengan kejadian ini.


"Zee...sayang...maaf--maafkan aku...Zee..." lirih Xander dengan berurai air mata, kedua tangannya membelai pipi istrinya yang mengalir darah deras. Zeevana masih membuka mata, meski tampak sayu dan lemah.


"Ja-ngan...me--nangis..." lirih Zeevana lemah. "Kau...harus--nya ba--hagia..." ungkapnya lagi terbata. Terlihat sorot mata wanita itu penuh kemarahan dan heran, kenapa pria itu harus menangis untuknya.


"Jangan...bilang begitu...jangan...aku mencintaimu Zee..." akhirnya Xander jujur bahwa dia mulai merasakan cinta pada gadis itu. Tapi Zeevana hanya tersenyum miris saat mendengarnya.


"Pem...bo...hong..." Zeevana menutup mata di pangkuan suaminya. Tangannya terkulai lemah, hingga tak lama kemudian Savana, Javier dan Laura menghampiri mereka berdua.


Laura menutup mulutnya yang ternganga melihat kondisi Zeevana seperti ini. Ia tidak sanggup dengan banyak darah ditubuh sahabatnya, pasti itu sangat menyakitkan.


"Zee! Putriku...hiks...bangunlah nak." Savana menggoyangkan tujuh putrinya yang sudah terbaring tak sadarkan diri. Hati ibu mana yang tidak akan terluka melihat putrinya terluka parah, tertabrak mobil didepan matanya.


"Savana tenang, kita harus bawa Zee ke rumah sakit sekarang." kata Javier berusaha menenangkan istrinya, meski di dalam hatinya ia juga panik.


Si penabrak itu keluar dari mobil, ia seorang pria muda. Pria itu meminta maaf, tapi tentu saja maaf tak cukup. Javier ingin selalu menghajarnya, tapi saat ini kondisi putrinya lebih urgent.


****


Zeevana di larikan ke rumah sakit terdekat dengan kondisi luka yang cukup parah, Xander berniat menangani istrinya. Namun salah seorang dokter menghentikannya, itu karena Xander terlihat emosional. Takutnya Xander malah membuat kesalahan di saat panik. Akhirnya Zeevana ditangani oleh dokter lain, salah satunya adalah Alice selalu dokter kandungan yang selalu menangani Zeevana selama ini.


Di ruang UGD, disanalah Zeevana berada saat ini. Ditangani beberapa dokter dan tim medis lainnya di dalam sana. Sementara semua keluarganya berada didepan ruang UGD, menunggu dengan cemas dan berdoa semoga Zeevana dan bayinya baik-baik saja.


Xander terdiam sambil berdiri didepan ruang UGD, kemeja putihnya penuh dengan darah. Pria itu menangis, tidak ada senyuman sedikit pun dibibirnya. Dia sangat menyesal tidak bicara jujur dari awal. Dialah penyebab semua ini, Xander mengakuinya.


Tiba-tiba saja Laura yang tadi sedang duduk sambil melihat ponsel, tiba-tiba saja berdiri dan memukul wajah Xander. Savana dan Javier turut menoleh ke arah mereka dengan heran.


"Kau benar-benar pria yang buruk! Kau penyebab semua ini terjadi! Jika terjadi sesuatu yang buruk pada Zee, sahabatku. Aku tidak akan tinggal diam, BAJINGAN!" hardik Laura dengan nafas naik turun, menahan amarah. Xander juga tidak menyangkal, dia diam dan menangis.


"Bagaimana bisa kau melakukan ini disaat Zee sedang hamil? Bagaimana bisa kau mempermainkan hati gadis polos sepertinya?" Laura memakai pria itu, dengan buliran air mata yang terus mengalir.


"Ada apa ini Laura? Kenapa kau marah-marah pada Xander?" tanya Javier terheran-heran melihat sikap Laura yang begitu marah pada Xavier. Javier dan Savana baru datang, jadi mereka belum tau apa yang sebenarnya terjadi.


"Ma...pa...maafkan aku..." hanya itu yang bisa Xander ucapkan pada kedua mertuanya itu. Xander tak mampu menjelaskan lebih jauh, sungguh ia tak sanggup menceritakan bagaimana buruknya ia selama ini memperlakukan Zeevana.


"Jangan bicara maaf saja! Katakan semuanya, katakan pada om dan Tante bahwa kau sangat buruk!" sergah Laura dengan mata penuh kilat kemarahan. Seakan ia yang merasakan apa yang dirasakan sahabatnya.


Laura gereget melihat Xander diam saja, akhirnya dia yang membuka ponselnya dan menunjukkan pada kedua orang tua Zeevana, bukti perselingkuhan Xander. Savana dan Javier terkejut melihat video berdurasi sekitar 15 menit yang menunjukkan pergulatan ranjang antara Xander dan Tessa. Mereka bumi terkejut lagi saat melihat waktu yang tertera di video itu. Javier dan Savana sungguh terluka, marah dan kecewa pada Xander. Bagaimana bisa pria itu menyakiti Zeevana seperti ini?


"KAU! SUDAH KU PERINGATKAN PADAMU, SUDAH KU KATAKAN PADAMU, KAU AKAN MATI JIKA MENYAKITI PUTRIKU! KAU SANGAT JAHAT...JAHAT XANDER!" Savana berteriak keras, ia memukuli menantunya tanpa ampun, ia murka dan kecewa. Xander tidak melawan, meski wajahnya kini sudah babak belur oleh Savana. Ini belum apa-apanya dengan apa yang ia lakukan pada Zeevana.


Kini giliran Javier yang menumpahkan semua kekesalannya pada Xander, ia menarik tubuh pria itu. Menatapnya dengan benci. "Xander, kau adalah adikku dan juga menantuku. Tapi jika terjadi sesuatu pada Zee, maaf--mungkin setelah ini kau bukan lagi menantuku ataupun adikku lagi."


"Kakak....aku....maaf..."bibir Xander gemetar, ia merasa bersalah, dadanya sesak. Sampai tak mampu bicara apapun selain maaf.


"Tidak, jangan minta maaf. Ini semua adalah salahku yang sudah menikahkan putriku denganmu, ku pikir kau baik ternyata kau BAJINGAN. Sungguh, kau membuatku kecewa. Setelah ini, segera ceraikan putriku. LEPASKAN dia." kata Javier dengan setiap kemurkaan dalam ucapannya.


"Tidak...kakak aku mohon, berikan aku kesempatan kak...aku janji, aku akan membahagiakan Zee dan calon anak kami. Aku tidak akan mengulanginya lagi, tidak akan!" tangan Xander memegang baju CEO dari Sanderix grup itu. Javier menepisnya, ia menatap tajam pada pria itu dan mengatakan bahwa keputusannya sudah mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.


Ceklet!


Tak lama kemudian, pintu ruang UGD terbuka dan memperlihatkan seorang dokter berdiri disana dengan raut wajah yang kurang baik. Laura, Javier, Xander dan Savana segera menghampiri dokter itu.


"Dokter Tom, bagaimana keadaan--"


"Dokter, bagaimana keadaan Putri saya dan calon cucu saya?" tanya Savana memotong ucapan Xander. Ia sudah benci pada Xander.


Dokter itu menghela nafas, ia menjelaskan bahwa kondisi Zeevana kritis dan ia mengalam ia koma karena luka parah yang di deritanya. Namun beruntung bayi yang ada di dalam kandungan Zeevana selamat, meski keadaannya lemah. Savana, Laura, Javier dan Xander sangat sedih mendengar berita itu.


"Namun...jika nona Zeevana belum bangun dalam waktu 3 hari. Kami terpaksa harus mengeluarkan janin yang ada didalam kandungannya."


Savana lemas, ia langsung jatuh pingsan mendengar kabar itu. Putrinya koma dan bayinya juga terancam di gugurkan. Sungguh hancur hati Savana dan Javier sebagai orang tua, mendengar kondisi putri kesayangan mereka terbaring koma dengan kondisi hidup atau mati.


Dan untuk Xander, pria itu juga merasa bersalah dan terluka, melihat istrinya seperti ini. Nyawa istri dan anaknya terancam karena kesalahannya.


"Xander bodoh... Xander....ini semua salahmu." gumam pria itu sambil mengacak-acak rambutnya dengan frustasi. "Aarghh!!!"


...****...


Author double up, kalau komen lebih dari 20 😂sekian dan terima kasih 🤧