One Night Stand With My Uncle

One Night Stand With My Uncle
Bab 40. Bad mood



...πŸ€πŸ€πŸ€...


Xander nampak santai saat ayah mertuanya menunjukkan berita di koran tentang saham perusahaan Satigo grup menurun dan kemungkinan besar perusahaan tersebut akan diakuisisi oleh Dacosta grup.


"Oh...itu hanya berita tentang Satigo grup." sahut Xander santai.


"Hanya berita?" Javier ternganga, dia tidak percaya bahwa Xander menganggap kebangkrutan grup Satigo adalah hal sepele.


Zeevana mendengar nama Satigo disebut-sebut, ia pun mengambil koran yang ada di atas meja lalu melihat isinya. Zeevana terkejut melihat berita tentang kebangkrutan Satigo grup, sebenarnya apa yang terjadi. Zeevana melirik ke arah Xander, pria itu hanya tersenyum tipis.


'Apa dia yang melakukan ini? Apa ada sesuatu yang tidak aku tau? Apa benar uncle melakukan ini hanya karena kejadian kemarin?'' batin Zeevana bingung. Zeevana hanya tau kejadian perkelahian Aiden disekolah karena rebutan mainan, bukan karena penghinaan yang dilakukan oleh Raphael.


"Uncle, ikut aku!" ujar Zeevana seraya bangkit dari tempat duduknya. Xander tersenyum, akhirnya dia bisa mendapatkan perhatian dari wanita itu.


"Baik istriku." jawab Xander dengan santai. Tak peduli mendapatkan lirikan sinis dan tajam dari Savana disana.


Zeevana berjalan ke taman belakang rumah itu dengan Xander yang mengikutinya dari belakang. Zeevana menarik nafas dalam-dalam sebelum dia bicara pada pria itu.


"Ada apa my wifey?" tanya Xander dengan suara lembutnya yang lirih.


"Uncle, apa kau yang membuat perusahaan Satigo bangkrut?" Zeevana langsung bertanya tanpa basa-basi.


"Iya, apa kau kurang puas dengan apa yang ku lakukan? Aku bisa melakukan hal yang lebih dari itu." Pria itu tersenyum, namun setiap ucapannya adalah serius.


"Bukan itu yang aku permasalahkan! Apa harus membuat sebuah perusahaan yang memiliki banyak ribuan pegawai bergantung pada perusahaan itu, menjadi bangkrut hanya karena perkelahian anak-anak?" cecar Zeevana yang membuat Xander tersentak kaget. Senyuman di bibir pria itu kini menghilang, matanya nyalang dan tersirat kemarahan disana.


"Hanya karena perkelahian anak-anak? Hah! Andai saja hanya karena itu, tapi sayangnya semua tidak sesimple itu." cetus Xander sinis.


"Apa maksudmu?"


"Haruskah aku mengatakan tentang anak kita yang menangis dan dihina kemarin oleh orang lain?"


"Uncle! Langsung saja bicara pada intinya, jangan berputar-putar!" sergah Zeevana yang semakin penasaran.


Xander langsung menceritakan semua kejadian kemarin yang menimpa Aiden. Xander mengatakan semuanya dengan jujur. Zeevana berkaca-kaca saat mendengar cerita dari Xander. Dia jadi merasa bersalah karena Aiden dihina seperti itu oleh temannya dan juga ibu temannya. Zeevana marah dan tidak terima, apalagi Xander yang ada disana saat kejadian.


"Jadi kau paham kan kenapa aku berbuat begini? Masih mau menyalahkanku?" tanya Xander dengan nafas yang naik turun karena marah, teringat kejadian kemarin yang menyakiti hatinya.


Zeevana tidak bicara, namun dari raut wajahnya terlihat bahwa ia marah dan sedih. Xander pun mendekati Zeevana. "Aku bukan hanya berusaha untuk mendapatkan cintamu lagi, tapi juga cinta Aiden. Aku ingin memberikan keluarga yang utuh untuk kalian. Dan aku tidak mau hal ini sampai terjadi pada Aiden, jadi kumohon terima aku lagi ya?"


Sontak saja wanita itu menjauh. Apa yang dikatakan oleh Xander memang benar. Keluarga yang utuh juga memang selalu diinginkan Aiden selama ini. Termasuk sosok Daddy yang anak itu rindukan. Tapi menerima Xander kembali, itu tidak akan mudah.


"Jangan berharap lebih uncle--aku belum bisa menerimamu."


Deesah kecewa terdengar dari bibir pria itu, ia juga tau bahwa ini takkan mudah. Tapi setidaknya masih ada kesempatan untuknya. Waktu akan menjadi jawaban dari semuanya, waktu akan meluluhkan hati yang beku dan sebelumnya mati rasa itu.


"Aku tau, maafkan aku sudah mendesakmu. Dan tentang perusahaan Satigo, aku tidak akan melepaskan mereka."


"Aku akan berusaha memaafkan mereka, jadi aku mohon jangan memperpanjang masalah lagi." pinta Zeevana lembut. Dia tidak mau mempersulit hidup orang lain.


'Kau memikirkan perasaan orang lain, tapi kau tidak memikirkan perasaanku saat kau meninggalkanku dulu bersama anak kita' batin Xander sakit hati.


"Maaf Zee, aku tidak bisa membuat masalah ini singkat. Si bajingan Dave itu--dia sudah mengganggumu dan aku tidak akan membiarkan hal ini." tegas Xander lalu dia pergi meninggalkan Zeevana seorang diri disana.


Usai sarapan pagi, Javier dan Savana mengatakan bahwa Rachel akan menikah. Dan ini adalah salah satu tujuan mereka datang ke Australia, untuk memberitahu tentang ini pada Zeevana.


"Rachel akan menikah? Itu bagus dad, mom...aku pasti akan datang nanti." kata Zeevana sambil tersenyum.


"Iya, dia akan menikah dengan Rizz. Mommy rasa dia akan jadi suami yang baik dan dia sangat mencintai Rachel." jelas Savana.


"Aku turut bahagia mendengarnya."


"Oh ya Zee, mommy juga akan setuju bila kau cepat meresmikan hubunganmu dengan Axel. Dia pria yang baik dan dewasa." tiba-tiba Savana mengatakannya dan membuat Xander tak nyaman.


"Ibu mertua, tolong perhatikan ucapan ibu mertua...aku masih menantumu dan akan selalu menjadi menantumu." kata Xander sopan, namun matanya menampakkan kekesalan. Xander berusaha sabar, ibu mertuanya ini memang tidak mudah.


'Apa harus meluluhkan hati ibu mertuaku lebih dulu?' batin Xander.


"Oh, begitu ya? Seingat ku kau dan putriku sudah berpisah 6 tahun yang lalu." ketus Savana.


Javier berusaha menghentikan istrinya dengan menyenggol tangan Savana. Dan akhirnya Savana pun diam.


"Mom..." Zeevana angkat bicara.


"Baiklah, aku akan diam." gerutu Savana lalu mengambil air minum di dalam gelas dan meneguknya.


Setelah sarapan pagi, Xander langsung bergegas mengajak Aiden dan Zeevana masuk ke dalam mobilnya. Ia ingin mengantar Aiden ke sekolah dan mengantar Zeevana untuk bekerja.


Awalnya ibu dan anak itu menolak, namun Xander selalu punya cara untuk memaksa. Dan dia selalu bisa. Apalagi Aiden yang perlahan mulai luluh padanya walau sikapnya cuek.


Di dalam perjalanan, Xander membahas tentang kerjasama perusahaannya dan juga perusahaan Rainer, tempat Zeevana bekerja.


"Apa kau benar-benar akan bekerjasama dengan perusahaan Rainer?"


"Ya, itu sudah keputusanku." jawab Xander.


"Bukan karena aku kan? Tapi karena memang perusahaan Rainer pantas bekerjasama dengan perusahaan Dacosta." tutur Zeevana. Dia tidak mau perusahaan Rainer bekerjasama dengan Dacosta karena dirinya bukan karena profesionalitas dan performa perusahaan.


"Ya, itu karena aku ingin lebih sering melihatmu..." lirik Xander pada wanita yang duduk di samping Aiden.


"Uncle!" serka Zeevana.


"Aku hanya bercanda! Aku mengambil keputusan ini karena memang perusahaan Rainer adalah perusahaan terbaik diantara perusahaan design lainnya." jelas Xander jujur. "Dan salah satu hal lainnya,memang karena kau sayang."


"Jangan panggil aku sayang, jangan sok kenal padaku saat nanti kita bertemu lagi." kata Zeevana mengingatkan.


"Baiklah," jawab Xander enteng. Namun entah apa yang akan dilakukan pria itu nanti. Sedangkan Aiden melihat kedua orang tuanya dengan bingung, ia tak tahu harus bagaimana karena ia mulai menyukai Xander. Tapi dia harus mencari tau tentang perpisahan kedua orang tuanya dulu.


'Mommy dan uncle...kenapa mereka berpisah? Padahal aku lihat uncle sangat mencintai mommy...apa aku salah?' batin Aiden saat melihat merasakan cinta di dalam diri Xander untuk Zeevana. Aiden tidak mengerti kenapa kedua orang tuanya berpisah.


'Ah...apa aku tanya grandpa saja nanti. Grandpa pasti tau apa yang terjadi pada mommy dan uncle dulu.'


Beberapa menit kemudian mereka sampai di sekolah Aiden. Aiden berpamitan pada Zeevana, Xander dan juga Fredy. Cara pamitnya berbeda, pada Zeevana dan Fredy sangat ramah tapi pada Xander begitu jutek.


"Aku pamit dulu mom, uncle Fred."


"Belajar yang benar ya sayang, jangan berkelahi lagi." pesan Zeevana pada Mommynya.


"Kau bisa berkelahi untuk melindungi diri, tidak apa." ucap Xander berkebalikan dengan apa yang ucapan Zeevana. Sontak wanita itu menoleh sinis padanya.


"Anak laki-laki tumbuh besar dengan berkelahi, son." celetuk Xander lagi dan membuat Aiden tersenyum tipis.


"Jangan dengarkan dia! Jadilah anak baik ya?" Zeevana menatap putranya. Aiden menganggukkan kepalanya.


"Kalau begitu aku pergi dulu."


"Tunggu Aiden! Apa kau tidak akan pamit pada Daddymu?" tanya Xander yang merasa dirinya dilupakan.


Aiden acuh, dia melangkah pergi memasuki TK. Anak laki-laki itu terlihat begitu dewasa di usianya yang masih muda, bahkan kemarin adalah pertama kalinya dia menangis didepan Xander.


"Lihatlah anak kita sayang, dia mirip denganmu." kata Xander sambil menatap kepergian Aiden dengan yang lainnya.


"Terserah." sahut Zeevana cuek.


Kini tujuan mereka adalah pergi ke gedung perusahaan Rainer. Tak lama kemudian Zeevana turun dari mobil, dia mengucapkan terimakasih pada Fredy tapi tidak pada Xander.


"Terimakasih tuan Fredy,"


"Hehe... seharusnya anda mengucapkan itu pada pak Presdir." jawab Fredy kaku, ia melihat tatapan tajam dari Xander padanya.


'Ini bukan salah ku pak, bukan salahku kalau nyonya tidak mengucapkan terimakasih padamu' batin Fredy takut.


"Tidak usah, kau kan yang menyetir mobil. Bukan dia." jawab Zeevana, lalu dia pergi begitu saja dari sana.


Setelah Zeevana pergi, barulah Xander menunjukkan kemarahannya.


"Fredy, bonusmu bulan ini aku kurangi."


"A-apa? Kenapa pak? Apa salah saya?!" Fredy tersentak kaget dengan apa yang baru saja dia dengar, bak petir disiang bolong. Astaga! Salah apa dia?


"Aku sedang tidak dalam mood yang bagus, jadi bonusmu di kurangi. Apakah itu masalah?" Xander tampak badmood. Ternyata jadi orang sabar susah juga.


"Tapi pak..." Fredy merengek seperti akan menangis. Beginilah imbasnya bila sang bos sedang bad mood.


"Membantah, aku potong gajimu!" sentak Xander kesal, ia bahkan berusaha menetralkan nafasnya yang memburu karena kesal.


Waktu pun berlalu, kini sudah memasuki siang hari. Waktunya pertemuan wakil-wakil dari para perusahaan design yang ingin bekerjasama dengan Dacosta grup. Namun Zeevana tidak ada disana, dia entah pergi kemana.


...****...