One Night Stand With My Uncle

One Night Stand With My Uncle
Bab 47. Jalan-jalan (1)



Maafkan kejujuranku, walau menyakitkan...


Dan mungkin takkan bisa kulupakan hingga akhir waktu...


Kulepaskan cinta ini ku rela berkorban tak mengapa namun, kau harus bahagia....


...🍁🍁🍁...


Dengan cepat sifat Xander berubah, tadinya dia seperti Terminator pembunuh yang siap membunuh Axel. Tapi sekarang dia mengajak Axel berteman. Xander sadar Axel menyukai istrinya, barusan dia hanya mengetes apakah dia cemburu atau tidak. Walau tindakannya untuk mencium Zeevana tetap tidak bisa dibenarkan dan Xander benar-benar emosi barusan, dia bisa saja lepas kendali dan membunuh Axel saat itu juga.


"Mari kita berteman, ah tidak--mari kita bersaudara." ucap Xander pada pria itu


Axel terkekeh, dia tidak bisa tersenyum lebar sebab bibirnya yang terluka akibat ulah Xander. "Maaf tapi aku tidak bisa berteman ataupun bersaudara denganmu."


"Kenapa?"


"Karena itu artinya kita akan semakin dekat dan bila semakin dekat--aku tidak melupakan perasaan pada istrimu." ungkap Axel jujur, dia menatap Zeevana yang juga menatapnya dengan sendu.


Sungguh hati Axel sangat besar, dia mencintai Zeevana namun tidak punya niat merebut gadis itu karena sudah ada pemilik hatinya. Selama ini Axel sudah berusaha agar wanita itu melihatnya, tapi semua tiada guna sebab dia hanya buang buang waktu. Zeevana tidak pernah melihatnya sebagai pria, hanya sebagai guru, mungkin juga sebagai seorang kakak.


Tiba-tiba saja Axel menarik tangan Zeevana dan berbisik padanya. "Zee, jangan terlalu cepat menerimanya...kau harus buat dia berjuang lebih dulu. 6 tahun tidak cukup, dan--aku harap kalian bahagia." ucap pria itu berusaha untuk rela.


Zeevana terharu dengan kata-kata Axel, lalu dia memeluk pria itu tepat didepan Xander. Sontak saja pria itu terbelalak melihat istrinya di peluk oleh pria lain, meski selain itu mengatakan bahwa dia telah menyerah akan perasaannya. Tetap saja Xander merasa cemburu.


"Hey! Lepaskan istriku!" Xander berteriak dan tangannya berusaha untuk melepaskan pelukan kedua orang itu. Namun Zeevana yang masih memeluk Axel.


"Pak Axel, apa kau mau menjadi kakakku? Kebetulan aku tidak punya kakak laki-laki." ucap Zeevana meminta dengan tulus. Selama ini pria itu telah banyak membantunya, bahkan dia juga yang membantu Zeevana mengurus Aiden, menyingkirkan pengganggu seperti Dave. Selama ini Axel sellau menjaga Zeevana dan Aiden.


"Aku mau, agar suamimu bisa memanggilku kakak ipar." ucap Axel dengan santainya. Hatinya perih, namun ia berusaha menutupi semuanya dengan senyuman. Karena kata orang Cinta Tidak harus memiliki dan Axel akan mencoba untuk ikhlas.


"Apa?!"


"Baiklah adik ipar, selamat bersenang-senang." ucap Axel pada kedua orang itu.


Ya, mungkinlah ini adalah akhir dari kisah cinta pertamaku. Kini aku menyadari, bahwa Cinta pertama tidak seindah yang dibayangkan. Cinta pertama bukan berarti cinta terakhir dan aku harus belajar untuk melupakan perasaanku ini. Batin Axel perih.


"Terimakasih kau sudah berbesar hati, jadi--aku tidak perlu membunuhmu. Terimakasih juga karena kau sudah menjaga istri dan anakku selama ini, jika kau membutuhkan bantuan. Kau bisa bicara padaku."


"Hem..." sahut Axel singkat.


"Pak Axel lukamu..." Zeevana mengkhawatirkan wajah Axel yang babak belur.


"Kau bisa memanggilku kakak dan kalian jangan khawatir, lukaku baik-baik saja." kata pria itu seraya menenangkan keduanya.


Setelah itu Xander meminta maaf pada Axel karena sudah memukul pria itu. Dia bertanggung jawab dengan menghubungi dokter untuk mengobati luka Axel. Dan terakhir dia berterima kasih pada pria itu karena sudah berbesar hati, dia mengucapkannya sampai berkali-kali. Axel mengatakan jangan pernah mengecewakan dan menyakiti Zeevana lagi, kalau Xander sampai melakukannya lagi maka Axel akan langsung menikahi Zeevana. Xander sangat takut dengan ancaman Axel, dia pastikan tidak akan ada pria yang bisa merebut Zeevana dan Aiden darinya. Mereka berdua adalah tujuan hidup saat ini.


Di depan kantor Rainer design itu, Zeevana dan Xander berdiri disana dengan saling berpandangan satu sama lain.


"Zee, tunggu!" Xander memegang tangan Zeevana. Menahan wanita itu untuk jangan pergi dulu.


"Ada apa lagi? Pasti Aiden sudah menunggu." Zeevana tau betapa inginnya Aiden pergi ke taman hiburan bersama dengannya dan juga Xander. Dari dulu dia ingin pergi ke sana sekeluarga.


"Sebentar saja."


"Apa?"


Xander mengecup kening Zeevana tanpa aba-aba lebih dulu. Hingga membuat gadis itu tercengang dengan mata melebar. "Uncle..."


"Terima kasih sudah memberiku kesempatan. Aku janji tidak akan menyia-nyiakannya, mulai sekarang hanya akan ada bahagia di dalam keluarga kecil kita. Kau mungkin tidak akan percaya dengan apa yang ku katakan dengan mudahnya, tapi kau bisa lihat ketulusanku mulai dari saat ini." ucap pria itu seraya menangkup wajah Zeevana dengan lembut.


"Baiklah, aku akan menantikannya. Aku akan melihatnya! Namun pertama-tama kau harus membuat Aiden tidak marah padamu dulu. Dia masih kesal. Tapi jangan khawatir, dia tidak akan lama marah padamu...kalau kau tau cara menanganinya."


"Bagaimana caranya sayang? Kau pasti lebih tau tentang anak kita! Beritahu aku!" ujar Xander pada istrinya.


Zeevana tersenyum lalu ia pun mengatakan hal-hal yang Aiden sukai. Berharap informasi ini bisa membantu Xander untuk meluluhkan Aiden.


****


Kini Zeevana dan Xander sudah berada di dalam mobil, mereka duduk di jok belakang mobil bersama dengan Aiden juga. Aiden berada ditengah-tengah mereka. Dia tidak mau Zeevana berdekatan dengan Xander.


"Mom, duduk disebelahku! Disini!" ujar Aiden langsung menarik Mommynya duduk di sebelah kiri dan Xander ada di sebelah kanannya.


Benar apa kata Zee, Aiden masih marah padaku. Dia mengira aku tidak menginginkan kehadirannya di dunia ini. Tidak! Kau salah nak...


"Oh ya sayang, kau ingin main apa nanti disana bersama Daddymu?" Zeevana berusaha untuk mencairkan suasana.


"Aku mau bermain dengan mommy, dia main saja sendiri." ucap Aiden dengan ketus dan membuat Zeevana melirik ke arah Xander.


"Hey son! Bagaimana kalau kita main ke dunia bawah air?" tawar Xander. "Atau...kita main ke rumah hantu?" kata pria itu lagi.


Rumah hantu? Dunia bawah air? Aku ingin kesana , tapi aku tidak mau dengannya. Aiden berkata dalam hatinya. Xander mendapatkan informasi kesukaan Aiden dari Zeevana dan dia tersenyum melihat raut wajah Aiden yang bingung.


"Itu bagus! Bukankah kau selalu ingin pergi ke rumah hantu? Nanti biar Daddymu saja menemanimu untuk pergi ke sana."


"Tidak perlu, aku tidak mau kesana karena mommy juga tidak akan pergi." Aiden tau benar bahwa Mommynya penakut, jadi Aiden tidak pernah mengajak mamanya bermain ke tempat-tempat yang berbau dengan mistis dan horor. Walaupun sebenarnya dalam hati dia sangat ingin pergi ke sana. Impiannya pergi ke dunia bawah air dan ke rumah hantu, adalah bersama ayahnya. Namun anak itu ilfeel saat mengetahui bahwa ayahnya mungkin tidak menginginkan kehadirannya dulu, dia bahkan berselingkuh dengan wanita lain saat ibunya mengandung dirinya dulu. Sungguh kata-kata Axel sangat mempengaruhinya.


"Kau pergi saja dengan Daddy." cetus Xander berusaha membujuk anak itu lagi


"Aku tidak akan pergi dengan paman." sarkas anak itu. Sementara Fredy yang duduk di kursi depan dan menyetir mobil, tersenyum getir dengan sikap Aiden pada Xander. Pasti Xander sakit hati.


"Kau tidak mau pergi dengan Daddy karena kau takut kan masuk ke rumah hantu itu?" tanya Xander.


"Tidak! Kata siapa aku takut?" sanggah Aiden cepat.


"Kalau tidak takut, lalu kenapa kau tak mau?" tanya Xander dengan tanya bersila didadanya. Tatapannya tertuju pada Aiden.


"Aku...aku..." Aiden gelagapan, ia tak suka ada siapapun yang merendahkan dirinya. Ia sama sekali tidak takut dengan rumah hantu ataupun hantu


"Sudah Daddy duga, kau memang penakut sama seperti ibumu!" Xander tersenyum meremehkan anaknya itu, tapi sebenarnya dia hanya ingin memancing Aiden untuk bermain berduaan dengannya.


"Aku tidak takut! Aku bukan penakut seperti mommy, baiklah aku akan ke rumah hantu denganmu." putus Aiden pada akhirnya.


"Baiklah! Nanti sorean kita ke rumah hantu, tapi pertama tama kita harus menjelajahi semua wahana yang ada disana terlebih dahulu." jelas Xander yang akhirnya tersenyum lebar setelah berhasil membujuk anaknya.


Tuan muda sangat mirip dengan pak Presdir, kalau ditantang seperti itu pasti dia akan melakukannya. Memang like father like son. kata Fredy dalam hatinya.


Zeevana melempar senyuman pada Xander, dia juga senang karena Xander berhasil membujuk Aiden yang notabenenya memang tidak jauh beda dengan Xander, terutama dalam hal sikap. Ketika diremehkan oleh orang lain ,pasti akan menyerang dan membuktikannya dengan membalas tantangan.


****


Seharian itu Zeevana, Xander dan Aiden menghabiskan waktu bersama di taman hiburan. Tak lupa Zeevana mengabadikan momen kebersamaan yang pernah tak terjadi ini, terutama dengan kehadiran Xander. Pria yang sudah mengisi hatinya selama 6 tahun, meski sempat ada rasa kecewa dan sakit karena pria itu.


Terlihat Xander dan Aiden mulai dekat, mereka bicara layaknya ayah dan anak yang bertengkar meski Aiden masih tidak mau memanggil Daddynya dengan sebutan yang semestinya.


"Ayo paman! Ayo kalahkan mommy!" seru Aiden yang duduk di pangkuan Xander, mereka sedang bermain bom-bom car dan bertanding dengan Zeevana yang naik sendirian. Aiden terlihat bahagia, dia merasakan kasih sayang ayahnya.


Jadi ini rasanya punya Daddy? Batin Aiden.


"Mommymu pasti akan kalah, dia kan payah dalam menyetir!" balas Xander sambil memutar setir kemudi bersamaan dengan Aiden.


Ya tuhan aku sangat bahagia dengan keadaan ini...aku ingin selamanya begini. Melihat kedua orang yang kucintai tersenyum bahagia.


"Hey! Aku bisa!" cetus Zeevana tidak terima dikatakan payah oleh Xander. Bibirnya mengerucut sebal.


"Pfut...paman benar, mommy itu payah dalam menyetir. Bukan payah lagi, tapi tidak becus!" Aiden ikut-ikutan mengejek Mommynya. Aiden tau Mommynya buruk dalam menyetir, bahkan sudah belajar puluhan kali pun masih sama.


"Kalian berdua benar-benar keterlaluan...baik! Akan mommy buktikan bahwa mommy bisa menyetir!" kata Zeevana dengan semangat berapi-api, dia menginjak pedal gas mobil bom-bom car nya dan memegang setir kemudi dengan asal.


****


Di Inggris, kediaman Dacosta. Antonio Dacosta sedang bersama dengan seorang wanita berambut merah panjang, wanita itu membawa seorang anak perempuan yang berambut coklat.


"Aku akan bicara pada cucuku untuk memastikannya. Sementara menunggunya kau pergi dari sini dan tinggalkan anak itu!" ujar Antonio Dacosta pada wanita itu.


"Tidak! Maaf tuan, aku tidak bisa pergi tanpa anakku. Aku akan tinggal disini bersamanya." ucap wanita itu sengit.


"Mom, apa kita akan bertemu Daddy disini?"


"Iya sayang, kita akan bertemu dengan Daddymu disini." ucap wanita itu pada anak perempuan yang ada disampaikan.


...****...


Tinggalkan jejak komen ya guys ☺️☺️❤️