
...πππ...
Malam pertama itu mereka lewati dengan tidur sambil berpegangan tangan, tidak lebih. Tidak seperti pengantin baru pada umumnya yang menggebu-gebu melakukan hal intim di atas ranjang. Itu karena mereka sudah sepakat untuk memupuk perasaan yang diantara mereka secara perlahan, mengubah hubungan dari paman-keponakan, menjadi suami-istri lalu saling cinta. Dan ya, berkencan adalah salah satu solusinya. Alias pacaran setelah menikah.
Pada pagi buta itu, Zeevana terbangun manakala ia merasakan perutnya kembali bergejolak. Wanita berusia 19 tahun itu turun dari ranjangnya dengan buru-buru, ia berlari menuju ke kamar mandi.
Menyadari pergerakan di ranjang itu, Xander akhirnya terbangun. Ia mendengar suara Zeevana dari arah kamar mandi.
"Uwekkk...uwekkk..."
Xander segera beranjak turun dari ranjang, ia ikut masuk ke dalam kamar mandi yang pintunya tidak ditutup itu. Xander cemas melihat istrinya yang sedang muntah-muntah, tapi hanya muntah cairan saja.
"Uwekkk...uwek..."
Tangan Xander mengusap pelan punggung Zeevana, naik turun dengan lembut. Berharap bahwa sentuhannya ini akan sedikit meredakan mulanya. Tak lama kemudian, mual-mual wanita itu mulai berhenti. Dengan perhatian Xander mengusap basah di sudut bibir Zeevana tanpa rasa jijik. Dia sempat tenggelam dalam pikirannya, ia tidak menyangka bahwa gadis kecil yang dulu adalah keponakannya kini telah berganti status menjadi istrinya.
"Apa kau menginginkan sesuatu? Nanti kita check up ke dokter kandungan ya, Zee." Xander memegangi tangan Zeevana dengan sigap, takut-takut kalau istrinya limbung. Kasihan gadis itu, pagi-pagi begini sudah leman dan mual-mual. Tapi Xander paham, ia seorang dokter. Xander tau gejala ini yang disebut sebagai morning sickness.
"Aku tidak mau apa-apa uncle." lirih Zeevana pelan.
"Baiklah, tapi mau harus sarapan. Setelah sarapan kita ke rumah sakit untuk memeriksakan kandunganmu." jelas Xander perhatian.
Zeevana terenyuh dengan perhatian Xander padanya, gadis itu juga sedang mencoba membuka hatinya pada Xander. Sepertinya akan cepat untuk gadis polos itu membuka hatinya, sebab ia mudah luluh dengan hal-hal yang kecil seperti ini. Sebagai nilai plus, Xander juga tampan dan cerdas.
Kini pasangan suami istri itu duduk di ranjang, Xander meminta Zeevana untuk berbaring saja. Tak tega rasanya Xander melihat wajah istrinya yang pucat.
"Kau mau sarapan apa? Aku akan suruh pegawai hotel untuk mengirimkannya." Xander memang gagang telpon diatas nakas, bersiap untuk menghubungi petugas dapur hotel.
Gadis itu menggelengkan kepalanya. Xander mendesah, matanya menatap tajam pada sang istri yang memberikan reaksi penolakan ketika di tawari makan.
"Zee, kau harus makan! Kau tidak boleh sampai tidak makan, kau tidak satu tubuh lagi sayang. Ada bayi kita disini, paham." seloroh Xander mengingatkan. Ia tidak mau Zeevana dan bayinya kenapa-napa.
"Aku tidak bilang aku tidak mau makan."
"Lantas?" Xander menatap istrinya.
"Aku mau makan, tapi--entah kenapa aku tidak mau makan disini." jawab Zeevana polos.
"Lalu kau mau makan dimana?"
"Uncle--kalau kau tidak keberatan. Aku ingin makan di tempat yang ramai." jawab Zeevana seraya tersenyum polos. Dan tentu saja Xander tidak bisa berkata tidak untuk istrinya ini.
Setelah mandi dan berganti pakaian, pasangan suami-istri itu keluar dari kamar hotel. Xander terus menggenggam tangan sang istri, dia begitu protektif takut Zeevana terjatuh, takut Zeevana ini itu.
"Uncle, aku sedang hamil...bukannya sakit. Kau tidak perlu menggenggamku seerat ini." kata Zeevana ceria.
"Ya aku tau, tapi siapa yang akan mengira bahwa kau sedang hamil? Tubuhmu masih langsing begini," canda Xander.
"Nanti juga aku jadi gemuk, uncle...hehe."
"Gemuk juga kau tetap cantik," Xander tersenyum, tulus memuji istrinya.
"Ish...uncle!"
"Sudahlah, kucing galak...ayo kita makan. Kasihan anak kita lapar." cetus Xander pada istrinya.
Xander terus memandangi foto USG anaknya, ia senang akan menjadi seorang ayah meski caranya seperti ini. Ia janji akan menjadi ayah dan suami yang baik, ia tidak mau menjadi ayah seperti ayahnya yang membuang Xander ke jalanan.
****
Hari demi hari telah terlewati dengan damai, hingga tak terasa 2 bulan telah berlalu sejak pernikahan mereka. Itu artinya usia kandungan Zee juga sudah menginjak usia 3 bulanan.
Zeevana dan Xander tinggal di sebuah apartemen di Paris, sebab Zeevana masih belajar desain disana dan Xander yang mengalah. Ia pindah rumah sakit kesana. Tapi masalahnya, disana juga adalah kota tempat Tessa tinggal. Bicara soal Tessa, wanita itu tidak terlihat sejak satu bulan terakhir. Hubungan Xander dan Zeevana juga aman-aman saja. Malah Xander semakin perhatian pada Zeevana. Meski mereka belum sampai melakukan hubungan intim.
"Kau sedang masak sayang? Apa bau masakan sudah tak masalah?" Xander melingkarkan tangannya di perut sang istri. Zeevana masih memakai celemek hello Kitty nya. Ia sangat suka yang berbau hello Kitty.
"Uncle sudah bangun? Aku sedang membuatkanmu sarapan dan makan siang, hehe."
"Tidak usah repot-repot, kita bisa memesan makanan saja." kata Xander tidak masalah, ia tau Zeevana tidak biasa memasak. Gadis itu selalu bagai putri raja di rumahnya. Tapi dia mencoba keras selama dua bulan ini untuk memasak, ia bahkan meluangkan waktunya untuk ikut kelas memasak setiap hari Rabu dan Minggu.
"Aku harus belajar, apalagi makanan kesukaanmu uncle. Agar uncle bisa segera jatuh cinta padaku."
"Zee..." Xander lepaskan pelukannya dari tubuh sang istri, dia menatap lekat manik mata Zeevana dengan rasa bersalah. Dia akui masih belum ada cinta di hatinya untuk Zeevana dan hanya ada kewajiban saja.
"Aku tau uncle belum cinta padaku, tapi aku yakin kalau tak lama lagi...uncle pasti akan mencintaiku, hehe." Zeevana tertawa namun ucapannya mengandung luka.
"Maafkan aku Zee," lirih Xander seraya mengusap lembut pipi Zeevana.
"Aku tau, aku tau uncle tidak akan berbohong dan uncle juga tidak bisa menyembunyikan perasaan uncle. Aku tau uncle dari dulu, jadi jangan pernah berkilah." kata Zeevana tajam seraya menepis tangan Xander. "Sudah, ayo kita sarapan bersama dan lakukan aktivitas kita seperti biasa."
"Hem...baiklah."
'Zee, maafkan uncle' Xander membatin.
****
Pagi berganti malam, Zeevana telah berada di apartemen mereka bersama suaminya. Mereka baru saja selesai dengan aktivitas mereka, Zeevana ke kampus dan suaminya ke rumah sakit.
"Wah... kelihatannya masakan ini sangat lezat." puji Xander saat melihat masakan istrinya sudah tersaji di atas meja makan.
"Kau tidak akan tau sebelum mencobanya," Zeevana tersenyum lalu menyodorkan sendok pada suaminya. Ia sangat berharap Xander suka masakannya.
Xander tersenyum dan mengambil sendok itu, namun sebuah vibrasi ponsel membuat Xander beratensi pada ponsel itu. Raut wajahnya berubah menjadi tegang.
"Uncle, ada apa?"
"Maafkan aku Zee, aku ada urusan penting. Aku harus pergi," Xander panik, ia beranjak dari tempat duduknya.
"Ada apa? Kenapa wajah uncle--"
"Nanti aku jelaskan!"
Xander buru-buru pergi dari sana meninggalkan istrinya seorang diri. Zeevana terlihat kecewa dan curiga, mau kemana suaminya malam-malam begini?
...****...
Harus kuat konflik ya guys, aku teruskan lagi kalau banyak komen πͺπͺ