One Night Stand With My Uncle

One Night Stand With My Uncle
Bab 28. Penuh hukuman



Warning!


...****...


Tubuh Zeevana gemetar saat melihat Xander telah melucuti pakaiannya sendiri dan menyisakan celana bahan hitam dengan ikat pinggang yang melingkar disana. Tubuh Xander masih terlihat sixpack meski Zeevana rasa ,tubuh uncle-nya itu terlihat lebih kurus. Bukankah seharusnya Xander gemukan karena bahagia telah berpisah darinya. Lalu kenapa dia seperti orang yang frustasi?


"Siapa kau bilang istrimu? Kita sudah bercerai uncle!" sergah Zeevana yang berusaha melepaskan tangannya dari ikatan dasi milik Xander itu dan dari kungkungan tubuh kekar Xander. Namun pria itu begitu kuat menindih tujuh mungilnya sampai tak bisa berkutik.


"Kita tidak pernah bercerai, sampai nafasmu berhenti pun...kau akan tetap menjadi istriku." ucap Xander lalu ia kembali mencium bibir Zeevana dengan bebas seakan tanpa perlawanan. Sebab gadis itu tidak bisa bergerak leluasa dengan tangan terikat dan tubuhnya yang di tindih oleh si pria.


'Apa maksudnya tidak pernah bercerai? aku dan uncle--kami kan sudah berpisah' batin Zeevana bingung.


Xander menggigit bibir atas dan bawah agar Zeevana membuka mulutnya dan memberikan akses padanya untuk berperang saliva. "Buka mulutmu, sayang. Biarkan aku menciummu." pinta Xander dengan tegas dan satu tangannya mencengkram kedua pipi Zeevana.


"No! Don't do this Uncle--jangan lakukan ini paman. Aku benci kau!" seru Zeevana marah, buliran air mata mulai jatuh membasahi wajah cantiknya.


"Harusnya aku yang membencimu karena kau berani meninggalkanku!"


"Baiklah kalau kau mau cara yang kasar, as your wish Miss Dacosta!" ujar Xander lagi memanggil nama Zeevana dengan nama Dacosta. Sungguh Zeevana tidak mengerti mengapa Xander memanggil nama belakangnya dengan nama Dacosta dan nama siapa Dacosta ini?


Tangan Xander mulai bergerilya membuka blazer milik Zeevana, lalu kemejanya dan menampakkan dua gunung kembar dibalik penyangganya yang berwarna ungu itu dan tampak menonjol. Zeevana malu, ia ingin menutupi dua benda sintal miliknya. Namun apa daya, kedua tangannya terkunci.


Tidak! Zeevana tidak mau malam panas itu terjadi lagi. Malam yang membuatnya merasakan luka terdalam dalam hidupnya karena telah melabuhkan hati pada pamannya sendiri.


"Uncle, jangan lakukan ini!" seru Zeevana marah, dengan wajah merah dan mata menatap tajam pada pria yang berada di atas tubuhnya itu.


Xander tidak peduli dengan penolakan yang terus dilakukan oleh Zeevana. Xander hanya ingin menuntaskan semua hasrat, rindu, kecewa dan kemarahannya pada wanita ini. Wanita yang sudah membuatnya gila, wanita yang berbohong padanya untuk menunggu di menara Eiffel tapi dia tak datang dan malah surat cerai yang datang. Sampai saat ini Xander tidak pernah bisa menerima semua pengkhianatan Zeevana, meskipun ia juga sama saja saat berkhianat dengan Tessa. Tapi tidak, Xander sudah memutuskan segala hubungan yang berkaitan dengan Tessa. Dia bahkan tidak pernah bertemu lagi dengan mantan kekasihnya itu sejak Zeevana menghilang 6 tahun yang lalu.


Tentang Dacosta? Mengapa Xander berganti nama belakang menjadi Dacosta? Itu karena keluarga kandung Xander bermarga Dacosta dan dia baru menemukan keluarga kandungnya saat di tahun ke 2, ia kehilangan Zeevana. Xander pun berhenti dari pekerjaannya sebagai dokter dan memulai karir sebagai pemimpin Dacosta. Sebab ia adalah satu-satunya keturunan Dacosta yang masih muda, hanya tersisa dirinya dan kakeknya saja, Antonio Dacosta. Zeevana sama sekali tidak tahu tentang hal ini, dia menutup semua berita tentang Xander dan tidak mau mendengarkan siapapun yang berusaha mengatakan berita tentang Xander padanya. Termasuk keluarganya sendiri.


"BRENGSEK kau! Bajingan! Lepaskan aku!" teriak Zeevana saat pria itu berhasil membuka bagian atas tubuhnya dan mengecupi wajah, leher, bibir dan dadanya sampai meninggalkan jejak kemerahan disana. Zeevana menangis, tapi Xander tidak peduli.


"Ya, aku memang brengsek, aku bajingan. Dan kita lihat sampai berapa lama si bajingan ini menggagahimu! Istri pembangkang!" hardik Xander dengan mata berkaca-kaca, namun menyiratkan beragam rasa di dalamnya.


Srek!


Srek!


Pria itu berhasil merobek baju Zeevana, bahkan sekarang ia menyelipkan satu tangannya ke dalam bagian inti tubuh wanita cantik itu. "Angghh--lepas... brengsek...aku membencimu!" lenguh gadis itu ketika Xander mulai memainkan pusat tubuhnya dengan jari-jarinya dan membuat ia menggelinjang tak berdaya.


"Kau sangat cantik sayang, cantik sekali. Dan kau masih sangat sempit--sayang sekali dulu aku menyatu denganmu dalam keadaan sadar. Tapi sekarang--aku sangat sadar dan aku akan menikmati percintaan ini." bisik Xander dengan seringai dibibirnya. Pria itu tampan berhasrat, tak sabar ingin segera menggagahi Zeevana.


"Jika kau berani menggagahiku, aku akan melaporkanmu pada pihak yang berwajib dan akan aku katakan pada mereka bahwa kau memperkos*ku!" ancam Zeevana saat Xander mulai menurunkan rok span miliknya ke bawah. Ia benar-benar takut Xander akan memaksanya.


"Teriak saja! Katakan pada semua orang bahwa aku memperkosamu! Kau istriku, jadi apa yang salah dengan itu?" Xander menerima tantangan gadis itu dengan senang hati.


"Aku bukan is--"


"KYAAKK!! Akhh!!" pekik Zeevana saat merasakan benda laras panjang tiba-tiba saja masuk ke dalam tubuhnya. Ia merasakan sensasi perih yang luar biasa, ini adalah pemaksaan. Tanpa Zeevana sadari, pria itu sudah menurunkan celananya dan melesakkan miliknya ke dalam sana.


Akhirnya mereka pun berbagi peluh diatas ranjang itu, tak peduli dengan waktu. Xander menuntaskan semua amarahnya pada gadis itu, hukuman ini belum seberapa untuknya.


"Aakhh...kumohon...hentikan ini...sakit..." Zeevana meringis kesakitan, serangan pria bertempo cepat itu belum kunjung berhenti juga. Padahal sudah 2 jam berlalu.


"Sakit ini belum seberapa dengan sakit hatiku, mulai sekarang aku akan menghukummu. Sampai kau melahirkan anakku, kau tidak boleh pergi!" seru Xander tegas.


Xander kembali memompa tubuh wanita itu dengan kecepatan tinggi, tidak peduli dengan erangann dan dessahan Zeevana. Hingga ia sampai pada titik puncaknya dimana ia mengosongkan semua miliknya ke dalam goa viana milik si cantik Zeevana, berharap benih yang ia tanam akan menjadi sesuatu di dalam sana dan bisa mengikat gadis itu selamanya.


Gadis itu lelah, ia langsung tertidur ketika Xander selesai menggagahinya. Mereka berdua sudah basah oleh keringat cinta. "Maafkan aku sayang, aku hanya ingin kau kembali padaku." Xander mencium kening Zeevana dengan lembut, ia sangat merindukan wajah cantiknya ini. "Aku akan memperbaiki semuanya, aku tidak akan melepaskanmu lagi." lirihnya pelan seraya membuka dasi yang mengikat kedua tangan Zeevana. Ia pun mengoleskan salep pada pergelangan tangan wanita itu yang memar.


Setelahnya, Xander pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Sementara Zeevana masih tertidur tak berdaya setelah penyiksaan itu.


Tak terasa hari berganti menjadi malam, Zeevana masih pulas dalam tidurnya. Xander juga tengah duduk di sofa sambil menghisap rokok miliknya. Tak hentinya ia memandangi wajah cantik itu, wanita yang ia rindukan selama 6 tahun. Dan Xander tidak akan pernah membiarkannya lari lagi, ia akan mengurungnya disana dan membawanya pergi ke Inggris, tempat tinggalnya sekarang.


"Aiden...Aiden..."


Xander tercekat mendengar satu nama yang disebutkan oleh Zeevana dalam tidurnya. Nama seorang pria dan ia yakin itu. Xander langsung mematikan puntung rokok yang sedang dipegangnya, lalu ia berjalan mendekati Zeevana yang tertidur di ranjang. Wanita itu mengigau nama yang sama.


"Aiden...sayang...tidak...jangan pergi sayang..."


"Sial! Siapa si sialan bernama Aiden ini?!" Hardik Xander, ia mulai berpikir yang bukan-bukan tentang nama Aiden dan panggilan sayang dari bibir Zeevana untuknya.


Xander langsung mengambil ponselnya yang ada diatas nakas, kemudian dia menghubungi seseorang.


"Cari tau siapa orang yang bernama Aiden dan dekat dengan Zeevana! Aku ingin informasi tentangnya, secepatnya!" ujar Xander, lalu dia menutup teleponnya begitu saja dengan marah.


****


Sementara itu di rumah Zeevana, Aiden terlihat berada di depan rumah ditemani oleh Elara. Anak itu gelisah karena Mommynya belum pulang padahal ini sudah malam. Dan Mommynya sudah janji untuk pulang lebih awal, tapi dia belum datang.


...****...