
Xander baru saja turun dari lift bersama dua orang bodyguardnya, ia melihat Zeevana yang digendong oleh Axel dan ada seorang anak kecil disana yang jelas-jelas memanggil Zeevana dengan sebutan mommy.
Seketika di pikirannya timbul banyak pertanyaan tentang siapa anak laki-laki yang hanya dapat dia lihat punggungnya itu. Sepertinya usia anak itu sekitar 5 tahunan. Zeevana sudah punya anak? Apa dia sudah menikah? Sial! Memikirkannya saja membuat Xander kesal.
"Pak, kenapa bapak sengaja membiarkan nona pergi? Bukankah bapak ingin mengurungnya?" tanya salah satu bodyguard itu pada Xander, ia heran sebab Xander sengaja membiarkan Zeevana pergi.
"Karena aku bisa kembali dengan mudah menangkapnya." jawab Xander dengan sorot mata yang tajam pada Axel, Zeevana dan Aiden yang sudah naik ke atas mobil.
Tak lama kemudian, Xander menerima telpon dari orang kepercayaannya. Ia menunggu info tentang siapa Aiden. Dan orang itu mengatakan bahwa Aiden adalah putra dari Zeevana, lalu tentang status pernikahan Zeevana. Wanita itu tidak pernah menikah lagi dan Xander senang mendengarnya. Namun sekarang pertanyaannya, siapa anak yang bernama Aiden itu?
"Fredy, cari tau dengan lengkap tentang anak yang bernama Aiden. Aku ingin informasinya juga!" ujar Xander pada bawahannya itu.
"Baik pak." sahut Fredy dari sebrang sana.
Setelah itu Xander menutup telponnya, ia pun ikut pergi menyusul Zeevana ke rumah sakit. Walaupun ia sudah memperlakukan Zeevana dengan kasar, pria itu masih peduli padanya.
****
Di rumah sakit.
Zeevana terbaring lemah di atas ranjang, dia masih belum sadarkan diri. Dia terlihat lelah dan banyak luka di tubuhnya, terutama tangannya yang memar. Aiden menangis melihat mamanya seperti itu, ia mulai berpikir negatif bahwa Mommynya di aniaya oleh seseorang.
Dokter pun menjelaskan bahwa Zeevana hanya butuh tidur dan istirahat yang cukup, setelah dokter mengobati luka di bagian inti tubuhnya yang lumayan patah karena tindakan pemaksaan. Dokter menyarankan pada Axel untuk melaporkan kejadian ini pada polisi, sebab luka Zeevana bukan luka ringan. Dokter yakin bahwa Zeevana di setubuhi berkali-kali dengan cara yang kasar. Sontak saja Axel terkejut mendengarnya, pasalnya siapa yang sudah menyetubuhi Zeevana? Siapa orang gila itu?
"Uncle, disetubuhi itu apa? Dokter bilang disetubuhi?" tanya Aiden polos. Dia tidak mengerti apa arti kata itu. Sesaat Axel lupa ada Aiden disana, anak itu sudah pasti mendengar apa yang dikatakan dokter barusan. Padahal Axel sudah meminta Aiden menunggu mamanya di kamar, tapi Aiden malah mengikutinya keluar dari kamar.
"Eungh--itu..." Axel bingung bagaimana menjelaskannya dan akhirnya dia berdusta. "Itu seperti penganiayaan."
"Apa? Jadi benar ada yang melukai mommy?" tampaknya Aiden percaya dengan ucapan Axel, dia langsung mengalihkan pertanyaan ke yang lain.
"Iya, Aiden dengar sendiri kan apa kata dokter?" Axel tidak bisa menyembunyikan keadaan Zeevana, sebab Aiden juga sudah mendengar semuanya barusan.
"Siapa yang sudah melukai mommy? Tangan mommy sampai memar memar begitu. Dia pasti sangat jahat, uncle harus bantu Aiden...uncle harus menjebloskan orang itu ke penjara!" ujar Aiden dengan emosi yang meluap-luap. Ia tidak terima Mommynya dianiaya oleh siapapun juga.
"Aiden tenang saja, orang-orang uncle...sudah bergerak dan mencari siapa pelakunya." ucap Axel pada Aiden seraya tersenyum.
"Uncle memang baik, kenapa tidak uncle saja yang jadi Daddy Aiden...kenapa mommy tidak menerima cinta uncle, padahal uncle sangat baik." Aiden memeluk Axel, dia merasa Axel sangat baik untuk Mommynya. Tapi cinta pria itu terus ditolak oleh Zeevana.
'Mommy, aku akan balas orang yang sudah menyakiti mommy! Lihat saja, aku tidak akan tinggal diam kalau aku sudah tau siapa orangnya' batin Aiden marah.
Setelah itu Axel meminta Aiden untuk pulang bersama Elara, Axel sengaja memanggil Elara agar Raiden bisa dibawa pulang. Awalnya Aiden menolak, namun akhirnya ia mau ikut pulang dengan Elara dan mengatakan bahwa ia akan datang lagi besok, ya walau hatinya tidak tenang.
"Uncle, tolong jaga mommyku. Besok aku akan datang kesini lagi." kata Aiden pada Axel.
"Thanks uncle."
Aiden pun pergi bersama Elara untuk kembali ke rumah, tak lama setelah kepergian Aiden. Axel dikejutkan dengan kehadiran Xander disana. Tatapan mereka bertemu bagai kilatan petir dan api membara.
"Tadi kita tidak sempat bertanya kabar satu sama lain. Apa kabar tuan Rainer?" sapa Xander dengan wajah datarnya. Axel merasa bahwa Xander juga berubah, ia tampak dingin.
"Kabar baik. Dan bagaimana kabarmu tuan Dacosta?" tanya Axel berbasa-basi.
'Sepertinya dia belum melihat dengan Aiden. Kalau dia melihat Aiden, tidak mungkin dia diam saja. Dan aku juga bingung, jika ditanya soal Aiden. Harus Zee sendiri yang menjelaskannya' batin Axel.
"Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja. Aku sangat baik karena sudah kembali bertemu dengan istriku." kata Xander dengan satu sudut bibir yang tertarik keatas, menyunggingkan senyuman sinis dan arogan.
"Zee bukan istrimu, jangan bicara sembarangan! Kalian sudah berpisah." sanggah Axel dengan tangan yang mengepal kuat.
"Aku tidak pernah menceraikannya. Tapi apapun hubungan kami, itu tidak ada hubungannya denganmu." ketus Xander, lalu berjalan melewatinya menuju ke kamar Zeevana. Namun, Axel memegang tangannya.
"Tuan Dacosta, apa kau yang sudah melakukan semua ini? Kau--yang melecehkan Zeevana?"
"Tidak ada kata pelecehan di dalam hubungan suami-istri." balas Xander sengit.
BRUGH!
Detik berikutnya, Axel memukul Xander hingga pria itu terjengkang ke lantai. Axel marah saat tau bahwa Zeevana seperti ini karena ulahnya. "BRENGSEK! Kau BAJINGAN! Beraninya kau melakukan ini pada Zee! Kau tau seberapa dalam luka yang dia alami karenamu, dasar binatang!" maki Axel dengan tangan yang terus melemparkan bogem Mentan ke wajah tampan Xander.
"Apa yang dia alami belum seberapa dengan apa yang dia torehkan kepadaku?"
Axel tertawa sumbang, ia tidak terima dengan kata-kata Xander. "Hah! Jangan egois,jangan berlagak seperti kau yang tersakiti. Siapa yang memulai perselingkuhan? Siapa yang paling tersakiti disini, kau yang paling tau bukan? Kau sangat egois, pantas saja Zee meninggalkanmu!"
"DIAM!" teriak Xander marah lalu membalas pukulan dari Axel.
Cuih!
Axel meludah, ludahnya mengeluarkan darah akibat pukulan Xander barusan.
"Aku mengerti kau frustasi, kau sakit hati, tapi tidak seharusnya kau melukai Zee seperti ini. Kau bilang mencintainya...tapi sikapmu sama sekali tidak menunjukkan itu. Cinta tidak akan melukai, cinta tidak akan menyakiti orang yang mereka cintai, tuan Dacosta!" ujar Axel tegas dan membuat Xander membeku. Xander menyadari kesalahannya pada Zeevana. Dia benar-benar telah salah, dengan melakukan kekasaran ini malah membuat Zeevana makin jauh darinya.
Tak lama kemudian,beberapa orang berseragam polisi menghampiri Xander dan menangkapnya.
...****...