
...πππ...
Javier dan Savana terkejut melihat sosok Xander yang sudah dua tahun tidak dilihatnya setelah Xander kembali pada keluarga kandungnya, Antonio Dacosta.
Tanpa rasa takut dan keberanian di dalam dirinya untuk kembali berjuang mendapatkan hati semua orang di masa lalunya, Xander harus tebal muka.
"Apa kabar ayah mertua, ibu mertua? Sudah lama tidak bertemu." sapa Xander ramah, jangan lupakan senyuman dibibir yang menambahkan keramahannya.
Savana menaikkan satu alisnya, matanya menyipit melihat Xander. Savana menatapnya tak suka, sejak Xander mengingkari semua janjinya pada Zeevana, Savana kehilangan respek pada pria itu.
'Kenapa dia ada disini? Apa dia sudah tau keberadaan Zee, makanya dia berada disini?' batin Savana bertanya-tanya.
"Kabar baik. Tapi--kenapa kau ada disini tuan Dacosta?" tanya Javier sinis. Menyinggung nama Dacosta, membuat hati Xander terluka. Sebab walaupun dia menyandang nama belakangnya menjadi Dacosta, namun ia masih menganggap dirinya bagian dari Sanderix. Nama Dacosta itu membuat dirinya seperti orang asing bagi Javier.
"Aku pun baik. Dan mengenai kedatanganku kemari, sudah jelas untuk bisnis. Namun tanpa disangka-sangka aku bertemu dengan anak dan istriku disini, bagus kan?" Xander bicara penuh penekanan, ia menatap pasangan suami-istri itu dengan tajam. Sebelumnya mereka selalu berbohong ketika Xander memohon-mohon dan bertanya dimana Zeevana, mereka selalu menjawab tak tahu. Apalagi tentang keberadaan Aiden di dunia ini, mereka juga menyembunyikannya.
Javier dan Savana tertohok dan tercekat mendengar ucapan Xander tentan istri dan anak. Batin mereka bertanya-tanya, apakah Xander sudah tau semuanya? Dan Xander menangkap bahasa tubuh dari ibu dan ayah mertuanya itu, dia yakin bahwa Aiden adalah anaknya bahkan tanpa tes DNA sekalipun.
"Aku bertemu istri dan anak yang bahkan aku tidak tahu bahwa dia ada di dunia ini. Sungguh--sangat bagus. Sedangkan beberapa orang menyembunyikannya dariku, tapi aku tidak akan menyalahkan anak kalian. Ini juga salahku yang sudah membuat anak kalian kecewa." Xander marah pada Zeevana dan keluarganya yang sudah menyembunyikan tentang Aiden, namun di sisi lain dia juga mengakui bahwa dirinya juga bersalah. One night stand bersama dengan Tessa itu tak mudah dilupakan begitu saja, karena satu kesalahan itu adalah kekhilafannya yang terdalam dan sulit untuk mendapatkan ampunan.
Savana sama sekali tidak tersentuh dengan kata-kata Xander, dia mendekati pria itu lalu menampar wajahnya. Sampai Xander terhuyung.
Plakk!
"Jangan banyak bicara! Aku dengar bahwa kau yang sudah membuat putriku masuk rumah sakit. Kau apakan lagi dia?!" hardik Savana emosi.
"Sayang...tenang!" serka Javier seraya memegangi tangan istrinya.
"Tenang? Kau suruh aku tenang ketika putriku terluka? Dan dia terluka setiap ada PRIA INI disampingnya!" teriak Savana terluka dengan penderitaan Zeevana selama ini.
"Savana..."
"Kau tidak boleh bertemu dengan putriku, KAU PAHAM?" sentak Savana seraya menunjukkan jarinya tepat ke wajah Xander.
"Maafkan aku ibu mertua, aku tidak bisa melakukan itu. Aku tak bisa jauh dari anak dan istriku lagi."
"Apa yang kau katakan, HAH!" bentak Savana marah.
"6 tahun...aku berpisah dari istri dan anakku. Ketika bertemu dengan mereka, mana bisa ibu mertua menyuruhku pergi?" balas Xander sengit. Terlihat ada luka di matanya.
"Kau tidak berhak bicara soal anak dan istrimu, setelah apa yang kau lakukan padanya...Xander." kali ini Javier ikut bicara, namun sebenarnya dia tidak ingin ikut campur urusan rumah tangga anaknya. Hanya saja ia tidak mau Zeevana terluka lagi oleh Xander.
Sebab orang yang paling berpeluang menyakiti hati kita adalah orang yang kita cintai itu sendiri. Dan orang yang bisa melukai Zeevana begitu dalam, adalah Xander. Orang yang ia cintai.
"Aku akui aku salah ayah mertua, tapi aku akan memperbaiki semuanya, memulainya dari awal. Aku tidak mau kesepian lagi." ucap Xander dengan bibir gemetar.
"Ya sudah, aku ada urusan dulu. Ayah, ibu, aku titip istriku...dia sedang tidur didalam. Dia baru diperiksa oleh dokter, nanti sore dia sudah boleh pulang!" pesannya pada Javier dan Savana, ia tersenyum lalu pergi dari sana untuk menyelesaikan beberapa urusan.
Savana dan Javier melihat kepergian Xander dengan bingung. Mereka melihat penyesalan dan kesedihan dibalik sikap pria itu.
"Kenapa aku melihat penyesalan dan kesedihan? Bukankah orang yang selingkuh saat istrinya sedang hamil itu tidak punya perasaan??" ketus Savana.
"Mungkin dia sudah berubah sayang, mungkin--dia ingin kesempatan. Lebih baik kita tidak ikut campur dengan hubungan mereka."
"Bukan begitu maksudku...sudahlah baby, mari kita masuk ke dalam dan temui anak kita. Jangan bahas ini dulu." ucap Javier tidak mau banyak bicara lagi. Namun pria itu menyadari bahwa selama ini istrinya banyak ikut campur dalam keputusan Zeevana saat itu.
'Xander...apa kau benar-benar menyesali semua perbuatanmu? Apa kau serius?' batin Javier.
*****
Siang itu Zeevana terbangun dari tidurnya dengan keadaan tubuh yang lebih baik. Ia melihat kedua orang tuanya sudah berada di ruang rawatnya sedang duduk di sofa. Zeevana terkejut, mengapa orang tuanya berada disana? Apa dia bermimpi?
"Mom...dad..." lirih Zeevana lalu berusaha untuk duduk di atas ranjang tersebut. Javier dan Savana langsung beranjak dari tempat duduk mereka, kemudian menghampiri Zeevana yang baru saja bangun.
'Kenapa mommy dan Daddy ada disini? Apa mereka sudah tau tentang uncle? Tidak! Mereka tidak boleh sampai tahu apa yang uncle lakukan padaku kemarin, yang ada mereka akan semakin membenci uncle' batin Zeevana gelisah.
Wajah kedua orang tua wanita itu terlihat sangat cemas, setelah mendengar dari Elara saat mereka baru saja tiba di Australia, bahwa Zeevana masuk rumah sakit. Niat mereka datang ke Australia untuk melihat keadaan Zeevana dan Aiden.
"Sayang, bagaimana keadaanmu? Apa yang sakit hm?" tanya Savana seraya mengusap kepala putrinya dengan lembut penuh perasaan. Savana masih menganggap dan memperlakukan wanita berusia 25 tahun itu sebagai anak kecil yang masih belum mandiri. Terkadang Zeevana risih dengan kasih sayang Savana yang berlebihan.
"Sayang...apa yang terjadi? Kau terluka?" tanya Javier pada putrinya.
"Aku baik-baik saja, aku hanya kelelahan saja dad..mom." dusta wanita itu.
"Kenapa kau selalu melindungi pria itu? Mommy dan daddy sudah tau semuanya, bahwa dia yang menyebabkanmu seperti ini. Ayo katakan pada kami, apa yang dia perbuat kali ini?" Savana mencecar putrinya dengan banyak pertanyaan. Zeevana terdiam, dia bingung harus berkata apa. Apa dia katakan saja tentang pemerkosaan malam itu? Tidak! Zeevana lebih baik menutupinya, dia tidak mau Xander kembali di seret ke kantor polisi.
Percayalah, bahwa saat ini dia sedang bimbang. Bimbang dengan permohonan maaf dan permintaan Xander tentang kesempatan untuk memulai hubungan mereka kembali. Demi Aiden, demi keluarga yang utuh. Zeevana sedang memikirkannya. Besok ia akan memberikannya jawaban.
"Zee sayang, ayo bicara!" pinta Savana.
"Tidak ada apa-apa mom, hanya kesalahpahaman saja. Aku juga tidak terluka parah. Kumohon jangan bertanya lagi."
"Sayang, mommy hanya peduli padamu...mommy--"
Javier langsung memangkas ucapan istrinya begitu dia melihat Zeevana tampak pusing dan bingung. "Sayang, stop! Kau tidak lihat, Zee masih sakit. Kita bicara nanti."
Savana pun mendesah pelan, baiklah ia akan mencoba memahami perasaan dan keadaan Zeevana saat ini. Tapi dia tetap tidak suka pada Xander.
****
Di sekolah TK tempat Aiden bersekolah. Terlihat dua anak laki-laki tengah berkelahi sengit saat jam istirahat, mereka berdua di kerumuni oleh anak-anak lain.
Dua orang anak laki-laki itu adalah Aiden dan salah seorang teman sekelasnya. Mereka terlihat seumuran. "Beraninya kau mengatakan hal seperti itu tentang mommyku! Rupanya kau mau mati!!" hardik Aiden yang terus memukul anak laki-laki itu.
"Memang ibumu itu jalangg! Kata ibuku, dia berani menggoda papaku! Bahkan kau juga tidak jelas anak siapa!" teriak anak laki-laki itu mengejek Aiden. "Kau tidak punya ayah yang jelas karena ibumu jalangg!"
"Kurang ajar kau!" seru Aiden lalu menghajar lagi temannya sampai terluka. Aiden tidak terima ibunya di hina.
Perkelahian mereka berhenti manakala salah seorang guru melerai dan pada akhirnya mereka berdua dibawa ke ruang guru.
"Ibu sudah menelpon orang tua kalian dan sebentar lagi mereka akan datang!" ujar Bu guru pada kedua anak itu. Keduanya terlihat kacau dengan luka di wajah dan tangan.
...****...