
...πππ...
"Ya, kau harus menjelaskannya sayang. Terutama tentang Natasha anak kita." ucap Tessa sambil berjalan dengan langkah percaya diri mendekat ke arah Natasha, Xander, Aiden dan Zeevana yang berdekatan. Semua tamu undangan yang hadir disana tercengang saat mendengar apa yang dikatakan Tessa.
"Dia pasti kemari mau mengacau acara pernikahanku dan menyakiti aunty Zee!" Rachel, si pengantin wanita bersungut-sungut melihat Tessa.
"Sayang, sabar! Jangan ikut campur, biarkan uncle Xander yang menangani semua ini." ucap Robby pada istrinya yang sudah siap-siap menjadikan Tessa ayam geprek atau tisu toilet mungkin.
Hati Zeevana mendadak nyeri saat Tessa mengatakan bahwa anak perempuan itu adalah anak Xander. Dia menatap curiga pada suaminya itu, apa kali ini dia dikecewakan lagi?
"Zee, kau harus percaya padaku!" ucap pria itu sambil menatap intens pada sang istri yang berdiri tepat disampingnya.
"Jika anak perempuan itu terbukti anakmu, aku akan segera mengurus perceraian kita!" ucap Zeevana sambil memalingkan wajahnya. Dia tidak mau disakiti lagi oleh Xander, sedikit apapun.
Mendengar ancaman dari Zeevana, sontak saja membuat Xander berubah menjadi panik dan pucat pasi. Namun dia kembali tenang sebab anak itu bukan anaknya dan dia yakin. Kakek dan orang-orang kepercayaannya sudah mengkonfirmasi itu.
"Daddy, aku merindukan Daddy! Selama ini aku hanya bisa melihat Daddy dari foto di ponsel mommy, tapi sekarang aku bisa melihat Daddy dari dekat. Daddy sangat tampan!" kata Natasha sambil memegang tangan Xander, anak yang tidak tahu apa-apa itu tersenyum ceria pada Xander. Dia begitu polos dan hanya mendengarkan ucapan mommynya tentang Xander, bahwa pria didepannya ini adalah ayah kandungnya.
"Daddy? Siapa yang kau panggil Daddy?" tanya Aiden dengan wajahnya yang marah.
"Eh...ada anak tampan. Kau sangat mirip dengan Daddyku...ah ya mommy pernah bilang aku punya saudara laki-laki, apa itu kau?" tanya Natasha sambil mendekati Aiden, dia terpesona melihat wajah tampan Aiden yang mirip dengan Xander.
Aiden semakin mendelik sinis, dia tidak suka ada yang sok akrab dengannya. Apalagi Natasha datang dengan wanita yang sudah menyakiti mommynya. Oh--Aiden tak suka itu.
"Aku bukan saudaramu!" sentak Aiden sinis.
"Kakak jangan malu-malu, namaku Natasha!" kata gadis kecil itu sambil mengulurkan tangannya pada Aiden. Namun Aiden menepisnya dan mendorong tubuh Natasha hingga jatuh ke tanah.
Zeevana tidak tega melihatnya dan membantu Natasha berdiri. Bagaimana pun juga Natasha adalah anak kecil, walau Zeevana tidak suka dengan ibu dari anak itu. "Kau tidak apa-apa nak?"
"Terimakasih aunty baik!" Natasha sambil tersenyum.
Dengan cepat Tessa menarik tangan Natasha menjauh dari Zeevana, dia menatap sinis pada Zeevana seolah wanita itu adalah serangga. "Jangan sentuh anakku! Aku tau kau pasti akan menyakitinya!" tuduh Tessa pada Zeevana.
"Hey! Beraninya kau menuduh adikku seperti itu! Dasar bitchh!" sentak Elena yang sudah terbakar emosi, ia tak sabar menjambak rambut Tessa. Namun suaminya menahannya.
"Xander, Natasha dia adalah anak kita...aku membawanya kesini untuk bertemu denganmu. Aku tidak bisa menyembunyikan ini lagi, bagaimanapun juga Natasha membutuhkan sosok ayahnya."
"Ya, aku tau. Kebetulan ayahnya ada disini." sahut Xander.
"Benar, kau ada disini." Tessa tersenyum senang.
"Ya, tapi bukan aku ayahnya." kata pria itu dengan suara dinginnya. Senyuman di bibir Tessa perlahan menghilang saat mendengarnya.
"Xander..."
"Haruskah aku bongkar disini atau kita bicara ditempat yang lebih privasi?" tanya Xander yang tidak gentar dengan tatapan Tessa, ia tau apa yang dikatakan dan dilakukan wanita itu semuanya palsu.
"Apa maksudmu--"
Apa Xander sudah tau tentang Natasha? Rasanya tidak mungkin.
Tessa menjadi gugup dan tegang manakala dia melihat wajah Xander yang tenang dan sama sekali tidak terganggu dengan apa yang dia lakukan saat ini. Pria itu tidak terlihat takut, seperti dia sudah mengetahui sesuatu. Tak lama kemudian, Fredy datang bersama seorang dokter dan juga membawa sebuah dokumen di tangannya. Sementara Zeevana dan keluarga Sanderix yang lain sedang menantikan apa yang akan terjadi selanjutnya. Mereka menunggu Xander yang katanya akan menjelaskan semuanya tentang Tessa dan Natasha.
"Bagus, kalau kau tidak mau bicara secara pribadi tentang siapa ayah kandung kandung putrimu itu. Biarkan dokter ini yang berbicara!" seru Xander pada Tessa.
"Xander, apa yang kau lakukan? Aku tau kau melakukan semua ini karena kau tidak mau mengakui anak kita, kau sangat keterlaluan..."
Tadinya Xander ingin menyeret Tessa agar tidak mengacaukan hari pernikahan orang lain. Namun wanita itu tidak mau diajak bicara baik-baik, maka Xander tak ada pilihan lain untuk mempermalukannya. Sebab dia tidak mau rumah tangganya hancur lagi seperti dulu.
"Fredy! Bagikan apa yang kau bawa pada semua orang!" Titah Xander pada sekretarisnya itu. Fredy menganggukkan kepalanya, dia membagikan selebaran yang ia bawa pada semua orang, termasuk Zeevana.
Zeevana tercengang melihat apa yang tertera di selebaran itu. Tes DNA Xander dan Natasha, lalu hasil tes DNA Natasha dan seseorang yang tidak terduga. Xander tersenyum melihat wajah Zeevana yang lega.
"Aku sudah bilang, mengkhianatimu, menyakitimu, hanya cukup satu kali. Jika aku menyakitimu lagi, aku bukan manusia." Xander menatap lekat istrinya dengan tatapan intens. Zeevana terharu dengan kata-kata Xander, benarkah pria itu sungguh mencintainya?
"Kau ternyata adalah wanita itu, kau--yang dulu mengaku hamil pada suamiku!" seru Joana sambil menghampiri Tessa dengan langkah besar dan wajahnya tampak emosi.
Joana yang ada di pesta itu bersama suami dan anaknya juga melihat selebaran yang mengatakan bahwa Natasha adalah anak kandung suaminya dan Tessa. Joana terlihat marah, dia marah pada suaminya dan menyerang Tessa. Semua orang disana tidak menyangka bahwa Dave adalah ayah dari anak Tessa.
Sedangkan anak-anak kecil dan tamu undangan lainnya tengah menikmati pesta. Zeevana menjaga Natasha dan Raphael selagi orang tua mereka sedang berbicara serius.
"Aunty, jadi sebenarnya aku tidak bersaudara dengan kakak tampan ini...tapi aku bersaudara dengan dia." Natasha bertanya pada Zeevana seraya melihat ke arah Raphael.
Zeevana bingung bagaimana menjelaskannya, anak ini begitu polos dan tidak tahu apa-apa. Kasihan sekali dia, pikir Zeevana dalam hatinya. Dia yang baik memiliki ibu seperti iblis.
"Aku tidak mau bersaudara dengan anak haram sepertimu." kata Raphael sarkas pada Natasha.
"Mau tidak mau--kau adalah saudaraku. Karena kita punya ayah yang sama." cetus Natasha berani menjawab.
"Sudah, jangan bertengkar! Lebih baik kalian makan kue saja ya. Atau mau makan yang lain?" tawar Zeevana berusaha mengalihkan perhatian.
"Lebih baik kalian ikut aunty saja, aunty juga mau makan." ajak Laura yang tiba-tiba muncul bersama Arsen disana. Laura menangkap isyarat dari Xander, bahwa dia harus membawa anak-anak pergi dari sana karena dia ingin bersama dengan Zeevana.
"Tapi--"
"Zee, biar aku dan Arsen yang bawa anak-anak. Kau juga belum makan kan? Makanlah dulu." kata Laura sambil menggandeng tangan Natasha dan Aiden, sementara Arsen menggandeng tangan Raphael.
Mereka berempat pun pergi ke stand cemilan kecil untuk mendapatkan makanan. Natasha juga merengek ingin eskrim.
Sementara itu Zeevana dan Xander masih duduk duduk di bangku itu. Xander mulai berbicara para Zeevana. "Sayang, kenapa kau diam saja?"
"Ehm--aku hanya kasihan pada Joana." jawab Zeevana.
"Kenapa kau kasihan pada orang yang sudah menghinamu waktu itu?" tanya Xander heran dengan kebaikan hati Zeevana. Dia bahkan baik pada Natasha, padahal gadis kecil itu anak dari wanita yang sudah menghancurkan rumah tangganya di masa lalu.
"Uncle, bagaimana pun juga aku seorang wanita...jika aku tau suamiku mempunyai anak dengan orang lain. Hati siapa yang terluka? Joana--dia sebenarnya baik hanya saja kenapa harus Dave brengsek yang menjadi suaminya." tutur wanita itu yang turut prihatin dengan apa yang dialami oleh Joana.
"Aku yakin dia akan mengambil keputusan setelah ini. Tapi jika kau jadi dirinya, apa yang akan kau lakukan?" Xander menatap dalam pada Zeevana.
"Jika aku jadi Joana, aku akan menghapus Dave dari hidupku. Aku mungkin akan menikah lagi dan mempunyai Daddy baru untuk Aiden, tentunya Daddy yang lebih baik dan--aakhh!"
Zeevana terkesiap manakala kedua lengan kekar Xander mengangkat tubuhnya ke atas pangkuannya. "Uncle! Ini didepan umum!" serka Zeevana seraya melihat-lihat tamu yang hadir. Mereka tampak sibuk dengan urusan masing-masing, sepertinya tidak memperhatikan Zeevana dan Xander. Akan tetapi Zeevana tetap cemas.
"Uncle..."
"Jangan bicara tentang Daddy baru untuk Aiden! Kau hanya boleh membicarakan tentang adik baru untuk Aiden!" seru Xander dengan bibir mengerucut. Wanita itu tersipu malu, padahal Xander yang mengucapkannya tapi dia yang malu.
"Apa yang kau katakan?"
"Kalau kau berani bicara tentang menikah lagi, akan aku buat kau hamil sekarang juga! Kau tau kan sekali tembak, langsung jadi..." ucap Xander seraya menggoda istrinya. Dia suka sekali melihat mata sang istri yang berbinar-binar itu.
"Hentikan! Aku mau mengambil makanan dulu," Zeevana beranjak dari pangkuan Xander, dia mendorong dada bidang sang suami. Namun sebelum itu, Xander mencuri kecupan di pipi Zeevana.
Cup!
"Uncle!" sentak Zeevana sambil memegang pipinya yang baru saja di kecup itu.
"Ayo kita cari makan bersama, atau kau mau aku ambilkan?" tawar Xander.
Setelah masalah Tessa dianggap clear, pasangan suami-istri itu berjalan ke arah stand beragam makanan disana. Mereka jalan beriringan, hingga mereka tiba di stand steak. Tiba-tiba saja Zeevana merasakan perutnya bergejolak.
"Hoekkk..."
"Sayang! Kau kenapa?" Xander memegangi kedua baru istrinya. Ia melihat raut wajah Zeevana yang pucat.
"Aku tidak apa-apa uncle... hoekkk...." Zeevana berlari terburu-buru mencari tempat mandi, dia seperti ingin memuntahkan sesuatu. Xander menyusulnya, ia takut terjadi apa-apa pada istrinya itu.
****
Joana, Dave dan Tessa masih dalam pembicaraan mereka. Tentang fakta mencengangkan Natasha anak Dave dan Tessa. Joana sungguh terluka dengan fakta itu, hingga kesabarannya sudah berada diambang batas.
"Aku lelah Dave, aku lelah... menunggumu untuk mencintai diriku. Sedangkan aku hanya mencintaimu seorang diri. Aku ingin kita berakhir sekarang juga." ucap Joana dengan berderai air mata membasahi pipinya. Mendengar kata berakhir dari Joana, sontak saja membuat Dave panik.
...*****...