One Night Stand With My Uncle

One Night Stand With My Uncle
Bab 66. Baby twins



Bagi yang sudah tau flashback di bab ini, boleh di skip dikit...🙏🤭


...****...


"Memilih? Apa yang harus ku pilih?!" sentak Xander seraya menatap tajam ke arah Alice.


Alice memintanya memilih, memilih apa? Entah kenapa feeling Xander tidak baik dengan pilih memilih ini. Terlihat jelas wajah Alice yang gelisah dan menimbulkan banyak pertanyaan. Percayalah, bahwa saat ini pria itu juga sedang gelisah, cemas, takut, sama seperti dirinya.


"Dokter Xander, kau harus memilih--"


Tiba-tiba saja terdengar suara mesin medis dengan satu nada panjang yang membuat semua orang yang berada di ruang rawat itu terkejut bukan main. Xander, sontak menoleh ke arah istrinya yang masih terbaring di ranjang rumah sakit dalam keadaan lemah dengan beberapa selang oksigen terpasang di tubuhnya.


Xander tau benar, bunyi yang menandakan apa itu. Dia adalah seorang dokter, dan sudah lama bekerja di rumah sakit. Tentu dia tau, bahwa bunyi seperti ini adalah bunyi pertanda yang tidak baik.


"Dokter Alice! Kita harus segera melakukan operasi terhadap nyonya Dacosta!" ujar Yoshua kepada dokter Alice.


"Dokter Alice, dokter Yoshua,tolong selamatkan istri dan anakku!" seru Xander meminta pada kedua dokter itu.


"Segera pindahkan nyonya Dacosta ke ruang operasi!" titah Alice pada beberapa perawat yang ada di ruangan itu. Mereka pun patuh dan membawa Zeevana ke ruang operasi.


Di luar ruangan itu, Alice dan Xander terlihat berbicara serius. Dokter spesialis kandungan itu menyerahkan beberapa surat kepada Xander, dia mau minta pria itu untuk memilih antara menyelamatkan bayi atau ibunya.


"Kau tau kan, dalam dunia medis... sebagai dokter terkadang kita harus memilih dan mengambil keputusan yang berat kepada pasien. Dan kali ini aku melakukannya kepadamu, kau harus mengambil keputusan. Kita tidak punya banyak waktu, operasi harus segera dilakukan...kalau tidak, nyawa keduanya akan berada dalam bahaya."


Xander bimbang, pria itu tertegun untuk beberapa saat, hingga kemudian dia pun mengambil keputusan tanpa ragu. "Dokter Alice, kau harus mendahulukan istriku...selamatkan dia." ucap Xander Setelah dia menandatangani surat persetujuan untuk mengeluarkan bayinya lebih awal dan lebih memilih nyawa istrinya. Bukan karena Xander tidak menyayangi bayi yang ada di dalam kandungan istrinya, namun dia ingin istrinya lebih dulu yang selamat. Tapi percayalah, di dalam hatinya Xander ingin semuanya selamat. Zeevana dan kedua bayi kembar yang belum Xander tau jenis kelaminnyaa.


Setelah mengambil keputusan itu, operasi persalinan di lakukan di dalam ruang operasi. Xander berada didepan ruangan itu, tak hentinya dia meneteskan air mata. Dalam hati ia bertanya-tanya, apa arti dirinya untuk Zeevana, hingga wanita itu menyembunyikan penyakit ini darinya. Kenapa Zeevana tak mau terbuka padanya? Dia ini suaminya.


"Kenapa? Kenapa kau menyembunyikan semua ini dariku? Aku sebenarnya... berarti apa dalam hidupmu Zee? Apa arti diriku? Apa aku tidak bisa menjadi tempat bersandar untuk dirimu? Kenapa kau lakukan ini kepadaku? Kenapa Zee?" Xander mengusap-usap rambutnya dengan gusar. Dia memikirkan bagaimana nasib Zeevana didalam sana yang sedang berjuang melawan maut.


"Kenapa kau menahan semua rasa sakitnya seorang diri? Kenapa aku tidak tahu bahwa selama ini kau sakit? Kenapa aku tidak tahu?" Xander kecewa pada dirinya sendiri karena tidak tahu apa-apa tentang Zeevana.


Tak lama kemudian, Aiden dan Antonio juga Fredy datang ke rumah sakit. Mereka melihat Xander menangis dengan duduk jongkok didepan ruang operasi. Terlihat jelas kehancuran di dalam dirinya, bahkan pria itu sampai terisak.


"Dad!"


Saat mendengar suara putranya, Xander buru-buru menyeka air matanya dan bangkit. Dia tidak ingin membuat putranya cemas. Dia memasang senyum palsu, namun Aiden tidak dapat dibohongi. Aiden melihat kesedihan di mata Daddynya.


"Aiden? Kenapa kau datang? Kau tidak sekolah?" tanya Xander pada putranya.


"Maafkan kakek, Aiden bersikeras ingin melihat mommynya. Maaf karena kakek tidak bisa mencegahnya." Antonio memohon maaf.


"Tidak apa, aku tau dia keras kepala seperti aku." jawab Xander seraya tersenyum.


"Dad, bagaimana keadaan Mommy? Mommy dan adik bayi baik-baik saja kan?" tanya Aiden dengan raut wajah cemas.


"Mommy dan adik bayi akan baik-baik saja, kau jangan cemas. Mommy sedang ada di dalam dan diperiksa dokter."


"Kenapa mommy berada di ruang operasi? Apa benar mommy baik-baik saja? Dad, jangan bohong padaku." Aiden memang cukup pintar untuk di bodohi. Aiden peka dan yakin ada sesuatu dengan Mommynya. Sebab dia melihat raut wajah Xander yang sedih.


"Aiden...kita doakan saja yang terbaik untuk mommy dan adik bayi." kata Antonio seraya mengusap-usap lembut kepala Aiden. Antonio melihat Xander terdiam, dia yakin bahwa terjadi sesuatu pada Zeevana. Meski Antonio belum tau apa yang terjadi pada Zeevana di dalam sana.


Semoga kau baik-baik saja nak.


****


Di dalam sana, tim medis sedang berusaha untuk mengoperasi Zeevana walau keadaannya disana sangat menegangkan. Peluh keringat membasahi wajah Alice dan Yoshua, beberapa kali mereka dibuat tegang karena detak jantung wanita hamil itu yang tidak karuan.


Semua ini tidak mudah bagi mereka, Alice dan Yoshua melakukan operasi pada ibu hamil yang mengalami penyakit kanker darah stadium 3. Meski Xander telah memilih menyelamatkan Zeevana, namun semuanya tergantung takdir tuhan dan tidak ada yang tau bagaimana ke depannya.


Operasi itu tidaklah mudah, waktu yang diperlukan juga tidak sebentar. Operasi ini bukan operasi sesar biasa.


Setelah melalui perjalanan jauh, keluarga besar Sanderix pun datang kesana. Semuanya telah berkumpul disana, mereka langsung menanyakan bagaimana keadaan Zeevana.


"Xander, apa yang terjadi? Kenapa Zee bisa seperti ini?" tanya Savana dengan dada bergemuruh dan tidak enak hati.


"Mom, Zee mengidap penyakit kanker darah."


Savana tersentak kaget mendengar jawaban Xander yang bagaikan pedang menghunus jantungnya. Badan Savana lemas, dia jadi teringat dengan mendiang neneknya Martha yang mengidap penyakit kanker sama seperti Zeevana. Rasa takut kehilangan orang tercinta, sangat sakit.


#Flashback


Bertahun-tahun lalu saat Savana pernah buta.


"Elena, mana ponselku? Cepat, aku ingin bicara dengan nenek." kata Savana semangat dan ia sudah rindu dengan Martha.


Wajah Elena, Javier dan Steve memucat saat mendengar pertanyaan dari Savana. Mereka saling melirik dengan bingung, harus bagaimana menjelaskan pada gadis itu tentang Martha.


"Kenapa kalian malah diam?" tanya Savana karena semua orang tiba-tiba hening.


Tiba-tiba atensi Savana tak sengaja melihat sosok Grace, orang kepercayaan Martha ada di depan ruangan itu dan disana ada ranjang beroda yang membawa seseorang dan tubuhnya ditutupi kain putih.


"Ibu asuh? Kenapa dia ada disini?" gumam Savana lalu ia beranjak dari ranjangnya.


"Kau mau kemana Savana?" tanya Javier seraya menahan Savana dengan memegang tangannya.


"Om, itu ada ibu asuh, maksudku ibu Grace... om tau kan dia orang kepercayaan nenek? Dia ada disana." tunjuk Savana pada Grace yang masih berada didepan ruangannya dan terlihat dari kaca. Dari kejauhan Savana bisa melihat Grace menangis.


"Kau pasti salah lihat, mana mungkin dia ada disini. Bukankah nenekmu sedang liburan? Pasti kau salah lihat, Savana." kata Elena berusaha menutupi dengan gugup.


"Itu ibu asuh!" cetus Savana tajam. Ia memang gadis keras kepala, ia menepis tangan Javier lalu melangkah buru-buru ke depan sana untuk menghampiri Grace. Javier, Elena dan Steve buru-buru menyusulnya.


Grace menangis, ia berbicara dengan seorang dokter dan seorang suster membawa mayat diatas ranjang beroda itu.


"Jadi jenazah nyonya Martha mau dibawa ke Chicago?"


"Benar dok, nyonya Martha akan dimakamkan di sana. Di tanah kelahirannya," jelas Grace yang terdengar oleh Savana, Javier, Elena dan Steve.


Bisa dipastikan Savana terkejut bukan main, ia syok sampai matanya tak berkedip dan tubuhnya mematung menatap ranjang dengan seseorang terbujur kaku diatasnya. Savana berdebar.


"Ibu asuh!"


Grace menoleh ke asal suara yang tidak asing ditelinganya itu. Grace tercengang melihat Savana ada di ambang pintu, tengah berjalan menghampirinya.


"Apa yang kalian katakan? Jenazah nyonya Martha?!" hardik Savana.


"Nona..."


"Tidak mungkin! Bukankah ibu asuh sedang liburan bersama nenek ke Inggris? Kenapa ibu asuh ada disini?"


"Nona..." lirih Grace yang tidak mampu menjelaskan situasi disana. Ia tak mau melihat Savana sedih, tapi semua terlanjur basah.


"Saya akan membawa jenazah nyonya Martha ke kamar mayat." ucap seorang perawat sambil mendorong ranjang itu. Namun Savana menahannya.


"Tunggu!"


"Savana, tenang nak." Steve berucap sambil memegang pundak putrinya. Tapi Savana seakan tuli, ia mendekati jenazah itu lalu membukanya dengan berat hati.


"NENEK!!"


"Savana, tenang nak." Steve berucap sambil memegang pundak putrinya. Tapi Savana seakan tuli, ia mendekati jenazah itu lalu membukanya dengan berat hati.


"NENEK!!" jerit Savana histeris melihat mayat sang nenek terbujur kaku di atas brankar. Takut terjadi sesuatu pada Savana, Steve buru-buru menghampiri Savana.


"Savana, sayang... tenanglah nak." Steve memegangi tangan Savana dengan erat. Gadis itu menangis terisak-isak. Ia tidak percaya dengan fakta yang ada didepan matanya.


"Tidak pa, ini tidak mungkin... tidak! Nenek...nenek sedang liburan. Nenek tidak mungkin...tidak mungkin...hiks...nenek..."


Tak berselang lama kemudian, tubuh Savana pun ambruk. Beruntung ada Steve yang menopang tubuh anaknya itu.


"SAVANA!" Elena dan Javier panik melihat Savana jatuh pingsan. Sudah pasti Savana syok dengan kenyataan ini. Padahal mereka berniat untuk memberitahukan tentang Martha nanti saja. Namun rupanya Tuhan tak sabar ingin memberitahu Savana tentang Martha, sang nenek yang sudah menjadi pelita dalam hidupnya selama ini. Pengganti ayah dan ibunya yang meninggalkan dirinya.


"Sayang, bangun nak! Savana!" Steve menepuk-nepuk pipi Savana, ia cemas melihat putrinya seperti ini.


Siang itu....


Kediaman Martha, tampak dipenuhi orang-orang yang ingin melayat dan berbela sungkawa atas kepergian wanita tua itu. Savana terus menangis di pelukan Javier. Kenapa di pelukan Javier? Sebab saat itu Steve belum datang.


"Kalian mau bawa kemana nenekku? Kenapa nenekku di masukkan ke dalam peti?! Apa kalian pikir nenekku sudah mati?!" hardik Savana pada beberapa orang yang akan mengangkut peti mati Martha.


Orang-orang yang mengangkat peti mati itu langsung terdiam dengan raut wajah terheran-heran.


"Savana tenang, nenek harus di makamkan. Dia akan beristirahat ditempat terindah, tempat terakhirnya. Savana, mengertilah." lirih Javier yang berusaha menenangkan Savana namun gadis itu malah semakin terisak


"Tidak! Kau tidak boleh meninggalkanku seperti ini, nek! Percuma aku bisa melihat lagi kalau kau TIADA! Aku tidak butuh mata ini, lebih baik aku buta selamanya!" kata Savana sambil melihat sang nenek terbaring damai di peti mati. Savana begitu hancur dan tambah hancur saat dia melihat dokumen tentang siapa pendonor matanya. Neneknya, ia yang sudah memberikan mata untuk Savana. Memberikan dunia baru penuh warna untuknya, bahkan sampai akhir pun Martha sangat menyayangi cucunya itu.


"Jangan bicara begitu Savana, aku mohon." bisik Javier seraya menepuk-nepuk punggung Savana. Berharap gadis itu berhenti menangis, sungguh rasanya sakit hati Javier melihat kekasihnya menangis. Tapi siapa yang tidak akan sedih kalau ditinggalkan orang tercinta? Savana tidak menyangka penyakit kanker darah akan merenggut nyawa neneknya. (Cerita lengkapnya ada di novel Terjerat Pesona Ayah Sahabatku)


#End flashback


Savana sesak saat teringat kembali sosok Martha dan sekarang Zeevana yang mengalami semua ini. "Tidak...Zee akan baik-baik saja pasti. Ya kan suamiku?"


"Iya sayang, Zee anak kita akan baik-baik saja." ucap Javier seraya mengusap-usap punggung Savana. Javier tau benar apa yang ada didalam pikiran Savana saat ini.


Ya Tuhan, kenapa Zee harus mengalami penyakit yang sama dengan nenek? Bukankah selama ini Zee baik-baik saja? Zee adalah anak yang sehat. Bahkan dia jarang sakit. Kenapa ini harus terjadi pada Zee? Kenapa bukan aku saja Tuhan?


Disisi lain Arsen dan Laura berusaha untuk membujuk Aiden untuk makan siang terlebih dahulu. Anak itu belum makan siang sama sekali, bahkan Xander tidak bisa membujuknya. Akhirnya dengan bujukan Laura, Aiden luluh dan mau makan siang bersama Laura dan Arsen, meski hari itu sudah bukan siang lagi.


"Jagoannya uncle, kau mau makan apa? Apa kau mau ke tempat fried chicken?" tanya Arsen pada Aiden.


"Kemana saja boleh, uncle." jawab Aiden lesu.


"Baiklah jagoanku. Ayo kita pergi kesana." Arsen berusaha tetap tersenyum meskipun hatinya cuma mencemaskan keadaan kakaknya. Tapi hatinya juga sakit melihat Aiden murung.


"Ayo sayang, kita harus makan agar bisa menguatkan mommy dan adik-adikmu yang sedang berjuang disana. Jangan bersedih, berdoalah untuk keselamatan mereka." kata Laura seraya tersenyum pada anak laki-laki itu. Biasanya Aiden menanggapi ucapan Laura, kali ini anak itu hanya diam dan keningnya sedari tadi terus berkerut. Ia mencemaskan mommy dan adik-adiknya.


****


.


.


Pintu ruang operasi terbuka dan sontak saja semua orang menoleh ke arah pintu untuk melihat apa yang terjadi. Terlihat dua orang wanita berpakaian medis dengan menggunakan masker keluar dari sana. Mereka tergesa-gesa dan terlihat panik.


"Dokter Alice! Apa yang terjadi?" tanya Xander seraya berjalan mendekat ke arah Alice.


"Dokter apa yang terjadi pada putriku?" tanya Savana cemas.


"Siapa disini yang memiliki golongan darah Ab Rhesus negatif? Pasien mengalami pendarahan dan membutuhkan transfusi darah segera!" ujar Alice yang secara langsung sudah menjelaskan segalanya.


"Saya dokter!" Savana mengacungkan tangannya. "Saya bisa kan mendonor darah saya?" tanyanya.


"Mari kita periksa di dalam, nyonya." jawab Alice seraya meminta salah seorang perawat membawa Savana untuk masuk ke ruang operasi untuk di periksa dan jika hasil kesehatannya bagus, darah cocok, maka Savana akan mendonorkan darahnya untuk Zeevana.


Sementara Savana di dalam sana, Xander gelisah menunggu diluar karena belum di perbolehkan untuk masuk. Ya, itu karena Alice tau bahwa Xander tidak akan tenang di dalam sana.


Di dalam ruang operasi, Savana berbaring di atas ranjang tepat disamping putrinya yang masih terbaring tak sadarkan diri. Darah Savana sedang di ambil untuk di donorkan pada Zeevana, putrinya.


"Sayang, kau harus bertahan...kau dan anak-anakmu harus baik-baik saja nak." gumam Savana berdoa untuk putrinya, dia melihat Zeevana dengan khawatir. Air matanya luruh begitu saja tanpa diminta.Putri kesayangannya kini berada di antara hidup dan mati. Dia juga berharap kedua cucunya yang ada didalam perut akan selamat.


Setelah mendonorkan darah untuk putrinya, Savana keluar dari ruangan itu dengan lantai gontai. Suaminya dengan sigap menangkap tubuhnya dan memintanya beristirahat juga makan sesuatu. Namun ia menolak untuk makan karena tidak berselera.


"Sayang, ayolah makan dulu. Aku mohon, jangan begini...nanti kau sakit sayang." mohon Javier seraya menyodorkan roti coklat pada Savana.


"Aku tidak bisa tenang dan makan dengan lahap, sebelum Zeevana dan calon cucu kita baik-baik saja." Savana menggelengkan kepalanya. Dia menatap ruang operasi dengan sedih.


"Sayang, Zee akan sedih bila kau seperti ini. Ayolah makan sayang, sedikit saja....hem...." ucap Javier berupaya membujuk lagi istrinya agar mau makan.


Savana akhirnya mau makan meski hanya makan roti, dia tidak mau anaknya didalam sana cemas dengan keadaannya disini. Savana harus kuat untuk anaknya.


Disisi lain Xander masih tampak gusar, karena belum ada tanda-tanda operasi akan berakhir. Lampu operasi masih menyala, dia terus berdoa dalam hatinya agar Zeevana dan kedua anaknya baik-baik saja.


Kumohon sayang... kumohon Tuhan, jangan ambil istri dan anak-anakku. Kumohon selamatkan mereka, aku belum sempat membahagiakan mereka lebih lama. Kumohon...Xander membatin.


Hingga tak lama kemudian terdengar suara tangisan bayi yang cukup keras disana. Semua orang yang sedang duduk di ruang tunggu lantas berdiri.


"Owaa....owaa...."


"Cucuku..." gumam Javier dan Savana bersamaan. Antonio juga tampak mengembangkan senyumannya.


Saat Xander akan masuk ke dalam, seorang suster keluar dari ruang operasi dan menggendong seorang bayi mungil ditangannya. Xander tersenyum bahagia melihat anaknya selamat.


"Dia sangat cantik, dia mirip dengan Zee..." gumam Savana saat melihat cucunya ditangan suster. Suster itu pun menyerahkan bayinya pada Savana. Javier, Antonio dan Savana terlihat bahagia melihat bayi perempuan yang cantik dan tampak tenang itu.


"Bayinya selamat dan sehat, namun maaf...nyonya tidak bisa menggendong bayinya lama-lama karena bayinya harus dibawa ke inkubator." ucap suster itu menjelaskan. Bayi perempuan itu memiliki bobot tubuh yang kecil dan itulah yang membuatnya harus berada di inkubator.


"Dokter Xander! Silahkan masuk ke dalam, Zee membutuhkanmu saat ini!" ujar Alice pada Xander. Sontak saja senyuman Xander pada putri kecilnya yang baru lahir itu, sirna. Berubah menjadi tegang dan panik.


"Mom, aku titip bayiku dulu...aku akan menemani Zee." pesan Xander pada ibu mertuanya lalu ia pun masuk ke dalam ruang operasi.


****


Perut Zeevana masih sedikit buncit, ya disana masih ada satu bayi lagi yang belum lahir. Xander memegang tangan istrinya dengan erat. Sedangkan Alice dan Yoshua sedang berusaha mengeluarkan bayi yang satunya disana.


10 menit kemudian, Alice berhasil mengeluarkan bayi kedua. Seorang bayi laki-laki yang tampan, namun bayi itu tidak menangis dan matanya terpejam.


"Ya Tuhan.... bayinya tidak menangis." kata Alice yang masih berusaha mencoba menolong bayi itu. Xander juga menggendong bayi itu, dia berusaha membangunkan putranya.


"Sayang, son...ini Daddy...sayang, dengarkan Daddy nak!" seru Xander pada bayinya, si bayi itu terpejam dan tidak bergerak sama sekali. Sungguh hati Xander sakit melihatnya. "Son...Daddy mohon kembalilah sayang," bisik Xander lembut.


Hingga suara mesin medis yang menakutkan itu kembali terdengar. "Dokter Yoshua! Siapkan defribilator!" ujar Alice pada dokter Yoshua.


"Tidak...Zee!!" teriak Xander saat melihat dokter Alice menekankan alat itu pada tubuh istrinya. Dia juga masih menggendong bayinya yang mungkin tidak bernyawa.


...*****...