
...Jika aku bisa...ku akan kembali, ku akan merubah takdir cinta yang ku pilih......
...Meski pun tak mungkin, walau pun ku mau....membawa kamu lewat mesin waktu......
...****...
"Sayang, son...ini Daddy...sayang, dengarkan Daddy nak!" seru Xander pada bayinya, si bayi itu terpejam dan tidak bergerak sama sekali. Sungguh hati Xander sakit melihatnya. "Son...Daddy mohon kembalilah sayang," bisik Xander lembut pada bayinya yang baru lahir itu. Ia menepuk-nepuk pelan pipi bayi mungilnya yang terpejam.
Hingga suara mesin medis yang menakutkan itu kembali terdengar. "Dokter Yoshua! Siapkan defribilator!" ujar Alice pada dokter Yoshua.
"Tidak...Zee!!" teriak Xander saat melihat dokter Alice menekankan alat itu pada tubuh istrinya. Dia juga masih menggendong bayinya yang mungkin tidak bernyawa.
Kepanikan dan ketegangan terasa di dalam ruangan itu, terutama Xander. Dia menggendong bayinya dan sekarang keadaan Zeevana berada di ujung tanduk. Para dokter berusaha menyelamatkannya, alat pacu jantung sudah dikerahkan sebagai bentuk terakhir pertolongan untuk Zeevana. Wanita itu masih belum menunjukkan perubahan.
"Suster, tolong pegang bayiku dulu." ucap Xander pada seorang suster yang ada disana. Dia menyerahkan bayi itu pada suster. Kini ia berusaha mengesampingkan perasaan sedihnya karena bayi laki-lakinya. Dan berusaha menolong istrinya yang sedang berada diambang kematian.
"Satu....dua....tiga...." Alice masih berusaha membuat dekat jantung Zeevana kembali. Namun tidak ada respon dari Zeevana, tidak sama sekali. Hanya bunyi yang sering disebut bunyi kematian itu, terdengar panjang menggema di ruangan itu.
Xander semakin tegang, dia memegang tangan istrinya guna memberikannya kekuatan. Jangan tanyakan lagi bagaimana air matanya saat ini, seakan-akan banjir disana. "Sayang, aku mohon....aku mohon... kembalilah kumohon....sayang...hiks...jangan tinggalkan aku dan anak-anak kita. Aku dan anak-anak membutuhkanmu, kumohon..." mohon pria itu pada istrinya yang terbaring tak berdaya di meja operasi. "Please...jangan seperti ini...kumohon....jangan..." Xander terisak.
"Catatan kematian pasien, pukul 16.30." kata dokter Yoshua sambil melihat jam ditangannya. Alice juga tak kuasa menahan tangisnya, dia tidak menyangka bahwa Zeevana akan meninggalkan dunia ini.
"APA YANG KAU KATAKAN? INI TIDAK BENAR! SIAPA YANG MENINGGAL?!" Xander histeris, dia mengambil alat pacu jantung itu dengan kedua tangannya sendiri.
"Dokter Xander, apa yang akan kau lakukan?!" tanya Alice pada Xander. Namun pria itu tidak menggubris ucapan Alice seakan dia tuli.
Xander menekan alat pacu jantung ke dada sang istri dengan kedua tangannya sendiri. Buliran air mata terus jatuh membasahi wajahnya. "Kumohon jangan tinggalkan aku! Apa kau lupa janji kita sayang? Kau janji akan selalu bersamaku dan anak-anak kita....bukankah kita akan menua bersama...ayolah sayang jangan buat aku begini."
Sementara itu di luar ruangan itu juga terasa berduka saat mereka melihat bayi laki-laki yang dibawa oleh suster tidak selamat. Ya, bayi itu adalah bayi kembar Zeevana. Savana, Antonio, Javier berduka melihat bayi mungil itu telah meninggal dunia.
"Ya Tuhan...suamiku, cucu kita..." Savana menangis melihat bayi baru lahir itu di dalam gendongan Javier saat ini.
Tak lama kemudian, Aiden, Laura dan Arsen baru saja kembali dari makan siang mereka. Mereka melihat Javier dan Savana menggendong bayi, mereka bertiga tersenyum. Namun sesaat kemudian, senyuman mereka memudar manakala melihat salah satu bayi itu matanya terpejam dan terlihat pucat.
*****
Di dalam sana, Xander masih belum berhenti berjuang, dia masih berusaha menyelamatkan istrinya. Meski Yoshua dan Alice sudah berulang kali memintanya untuk berhenti karena Zeevana sudah tiada. Tentu aja kenyataan ini tidak bisa Xander terima, ini terlalu berat untuknya.
"Dokter Xander, aku mohon....hentikan! Relakan dia!" seru Alice pada Xander. Alice tau bagaimana sulitnya menerima kenyataan, dia pernah mengalami itu saat suaminya tiada. Rasanya sakit dan dunia seakan runtuh, namun orang yang sudah tiada tidak akan senang melihat orang yang ia cintai menangis dan sulit menerima kenyataan.
"Tidak! Kau harus bertahan, kau harus bertahan untukku dan anak-anak. Kau sudah janji, kau janji akan bersamaku sampai akhir! Kau sudah janji...Zee sayang aku mohon, aku mohon..." Xander memeluk tubuh istrinya, kepala Zeevana berada di dadanya. Xander terisak saat Zeevana berada di pelukannya. Dia ingat hari-hari indah bersama Zeevana.
#Flashback
Beberapa bulan yang lalu...
Kini Zeevana dan Xander sudah berada di dalam mobil, mereka duduk di jok belakang mobil bersama dengan Aiden juga. Aiden berada ditengah-tengah mereka. Dia tidak mau Zeevana berdekatan dengan Xander.
"Mom, duduk disebelahku! Disini!" ujar Aiden langsung menarik Mommynya duduk di sebelah kiri dan Xander ada di sebelah kanannya.
Benar apa kata Zee, Aiden masih marah padaku. Dia mengira aku tidak menginginkan kehadirannya di dunia ini. Tidak! Kau salah nak...
Zeevana melihat raut wajah Xander yang muram, ia tersenyum lalu mengisyaratkan kepada Xander untuk sabar dan berjuang. Xander balas tersenyum, ia lega setidaknya Zeevana mulai bersikap lembut padanya. Dia tidak sabar dengan Zeevana yang dulu, yang lembut dan penuh kasih sayang padanya.
"Oh ya sayang, kau ingin main apa nanti disana bersama Daddymu?" Zeevana berusaha untuk mencairkan suasana.
"Aku mau bermain dengan mommy, dia main saja sendiri." ucap Aiden dengan ketus dan membuat Zeevana melirik ke arah Xander.
"Hey son! Bagaimana kalau kita main ke dunia bawah air?" tawar Xander. "Atau...kita main ke rumah hantu?" kata pria itu lagi.
Rumah hantu? Dunia bawah air? Aku ingin kesana , tapi aku tidak mau dengannya. Aiden berkata dalam hatinya. Xander mendapatkan informasi kesukaan Aiden dari Zeevana dan dia tersenyum melihat raut wajah Aiden yang bingung.
"Itu bagus! Bukankah kau selalu ingin pergi ke rumah hantu? Nanti biar Daddymu saja menemanimu untuk pergi ke sana."
"Tidak perlu, aku tidak mau kesana karena mommy juga tidak akan pergi." Aiden tau benar bahwa Mommynya penakut, jadi Aiden tidak pernah mengajak mamanya bermain ke tempat-tempat yang berbau dengan mistis dan horor. Walaupun sebenarnya dalam hati dia sangat ingin pergi ke sana. Impiannya pergi ke dunia bawah air dan ke rumah hantu, adalah bersama ayahnya. Namun anak itu ilfeel saat mengetahui bahwa ayahnya mungkin tidak menginginkan kehadirannya dulu, dia bahkan berselingkuh dengan wanita lain saat ibunya mengandung dirinya dulu. Sungguh kata-kata Axel sangat mempengaruhinya.
"Kau pergi saja dengan Daddy." cetus Xander berusaha membujuk anak itu lagi
"Aku tidak akan pergi dengan paman." sarkas anak itu. Sementara Fredy yang duduk di kursi depan dan menyetir mobil, tersenyum getir dengan sikap Aiden pada Xander. Pasti Xander sakit hati.
"Kau tidak mau pergi dengan Daddy karena kau takut kan masuk ke rumah hantu itu?" tanya Xander.
"Tidak! Kata siapa aku takut?" sanggah Aiden cepat.
"Kalau tidak takut, lalu kenapa kau tak mau?" tanya Xander dengan tanya bersila di dadanya.Tatapannya tertuju pada Aiden.
"Aku...aku..." Aiden gelagapan, ia tak suka ada siapapun yang merendahkan dirinya. Ia sama sekali tidak takut dengan rumah hantu ataupun hantu
"Sudah Daddy duga, kau memang penakut sama seperti ibumu!" Xander tersenyum meremehkan anaknya itu, tapi sebenarnya dia hanya ingin memancing Aiden untuk bermain berduaan dengannya.
"Aku tidak takut! Aku bukan penakut seperti mommy, baiklah aku akan ke rumah hantu denganmu." putus Aiden pada akhirnya.
"Baiklah! Nanti sorean kita ke rumah hantu, tapi pertama tama kita harus menjelajahi semua wahana yang ada disana terlebih dahulu." jelas Xander yang akhirnya tersenyum lebar setelah berhasil membujuk anaknya.
Tuan muda sangat mirip dengan pak Presdir, kalau ditantang seperti itu pasti dia akan melakukannya. Memang like father like son. kata Fredy dalam hatinya.
Zeevana melempar senyuman pada Xander, dia juga senang karena Xander berhasil membujuk Aiden yang notabenenya memang tidak jauh beda dengan Xander, terutama dalam hal sikap. Ketika diremehkan oleh orang lain ,pasti akan menyerang dan membuktikannya dengan membalas tantangan.
****
Seharian itu Zeevana, Xander dan Aiden menghabiskan waktu bersama di taman hiburan. Tak lupa Zeevana mengabadikan momen kebersamaan yang pernah tak terjadi ini, terutama dengan kehadiran Xander. Pria yang sudah mengisi hatinya selama 6 tahun, meski sempat ada rasa kecewa dan sakit karena pria itu.
Terlihat Xander dan Aiden mulai dekat, mereka bicara layaknya ayah dan anak yang bertengkar meski Aiden masih tidak mau memanggil Daddynya dengan sebutan yang semestinya.
"Ayo paman! Ayo kalahkan mommy!" seru Aiden yang duduk di pangkuan Xander, mereka sedang bermain bom-bom car dan bertanding dengan Zeevana yang naik sendirian. Aiden terlihat bahagia, dia merasakan kasih sayang ayahnya.
Jadi ini rasanya punya Daddy? Batin Aiden.
Ya tuhan aku sangat bahagia dengan keadaan ini...aku ingin selamanya begini. Melihat kedua orang yang kucintai tersenyum bahagia.
"Hey! Aku bisa!" cetus Zeevana tidak terima dikatakan payah oleh Xander. Bibirnya mengerucut sebal.
"Pfut...paman benar, mommy itu payah dalam menyetir. Bukan payah lagi, tapi tidak becus!" Aiden ikut-ikutan mengejek Mommynya. Aiden tau Mommynya buruk dalam menyetir, bahkan sudah belajar puluhan kali pun masih sama.
"Kalian berdua benar-benar keterlaluan...baik! Akan mommy buktikan bahwa mommy bisa menyetir!" kata Zeevana dengan semangat berapi-api, dia menginjak pedal gas mobil bom-bom car nya dan memegang setir kemudi dengan asal.
Kenangan demi kenangan yang pernah tercipta, sungguh membuat Xander tidak rela bila semuanya hilang karena Zeevana pergi. Xander tidak rela.
#End flashback
Xander masih memeluk Zeevana, dia menangis histeris. Hingga tangisannya terdengar sampai keluar ruangan. "TIDAK! Tuhan kumohon....kumohon bawa dia kembali, aku belum sempat membahagiakannya. Aku mohon...jangan pergi....jangan...hiks..." Xander tidak bisa menahan tangisnya lagi, dia semakin mengeratkan pelukannya pada Zeevana.
Mendengar suara Xander, Aiden langsung berlari masuk ke ruang operasi. Jantungnya berdebar dan takut, ini pertama kalinya Aiden mendengar tangisan histeris Xander, tangis yang penuh kesedihan.
"Aiden!" Laura dan Arsen menyusul Aiden ke dalam ruang operasi.
Antonio, Savana dan Javier juga ikut menyusul ke dalam. Mereka juga merasa takut dengan sesuatu yang buruk, sekarang saja tubuh mereka sudah lemas. Mereka semua mematung dengan mata berderai cairan bening mengalir deras, melihat Xander memeluk Zeevana.
"Kumohon... kembalilah sayang...kumohon..." Xander memohon dengan isak tangis yang keras. Xander bahkan tidak menyadari bahwa semua keluarganya sudah berada disana, termasuk Aiden.
"MOM!" teriak Aiden seraya menghampiri Daddynya yang tengah memeluk Mommynya. "Mommy kenapa dad? Mommy kenapa?!" sentak Aiden panik melihat Daddynya memeluk Zeevana sambil menangis.
Savana, Javier, Laura, Arsen dan Antonio juga tidak bisa menahan air mata mereka lagi. Mereka berharap bahwa ini semua adalah mimpi, Zeevana dan salah satu anak kembarnya telah tiada.
"Sayang, putri kita...dia...." Savana menatap suaminya dengan buliran air mata kesedihan.
Javier tidak bicara sepatah kata pun, namun matanya menyorotkan luka yang sangat mendalam karena kehilangan putri yang sangat dicintai. Bukan hanya putri, tapi cucunya juga.
"Mommy....mommy...huaahh...mommy..." Aiden menangisi Mommynya juga.
Terdengar isak tangis keluarga Zeevana disana, Alice dan Yoshua membiarkannya. Mereka berdua tau bahwa saat ini keluarga Zeevana sedang berduka.
Bayi perempuan Zeevana yang baru lahir itu menangis keras secara tiba-tiba. Mungkin bayi itu merasa sedih seperti orang-orang disekitarnya.
Tak lama kemudian terdengar suara mesin medis berubah. Tidak lurus seperti barusan, sontak saja semua orang langsung tercengang, termasuk Xander. Kedua dokter yang ada di sana juga tidak menyangka ini akan terjadi. Benar-benar sebuah keajaiban.
"Detak jantungnya kembali," ucap Yoshua sambil melihat layar monitor di
"Sayang, terima kasih... terimakasih sudah kembali." ucap Xander lirih, dia merasa separuh jiwanya sudah kembali lagi meski belum sepenuhnya. Setelah itu semua orang pergi keluar dari ruangan Zeevana, mereka menyerahkan semua perawatan Zeevana pada ahlinya.
Zeevana dinyatakan masih hidup, namun dia dalam keadaan koma. Zeevana dibawa ke ruang rawat, namun keadaannya tetap tidak membuat Xander lega. Sebab dia juga tidak tahu kapan Zeevana akan siuman. Kini keluarganya masih ditimpa duka karena kehilangan salah satu bayi kembar Zeevana dan bayi perempuannya juga di masukkan ke dalam inkubator.
3 hari berlalu setelah bayi laki-laki Zeevana Xander yang sudah diberi nama Ainsley Dacosta itu di makamkan. Dan sudah 3 hari berlalu, Zeevana masih dalam keadaan koma. Jika Zeevana sadar nanti, dia harus segera melakukan pengobatan kemoterapi. Beruntung keajaiban datang untuk Zeevana karena dia masih diberikan kesempatan hidup, kesempatan mendapatkan pengobatan. Padahal logisnya, dia tidak akan bertahan dalam keadaan sakit dan melahirkan bayinya kemarin. Sayang, salah satu bayi Zeevana tidak selamat karena mengalami kelainan paru-paru.
"Sayang, sampai kapan kau akan seperti ini? Aku dan anak-anak kita menunggumu disini sayang. Kau belum melihat putri kita, dia sangat cantik...sangat mirip denganmu. Aku rasa dia juga akan cerewet sama sepertimu. Aku belum memberikan nama untuk putri kita, karena kau mengatakan padaku...bila bayinya perempuan, kau mau memberikannya nama juga. Jadi aku menunggumu untuk memberikan nama putri kita bersama-sama." Xander masih setia menunggu Zeevana yang masih belum sadar dari komanya. Meski dia menunggu Zeevana, Xander tidak melupakan kewajibannya sebagai ayah pada Aiden.
"Dad, mom masih tidur ya?" tanya Aiden pada Daddynya.
"Iya Son."
Sontak saja Xander menoleh ke arah Aiden yang datang bersama dengan Savana dan Javier kesana. Xander tersenyum dan langsung menyapa kedua mertuanya. Savana dan Javier menanyakan kondisi Zeevana pada Xander.
"Dokter Yoshua bilang apa, Xander? Apa dia tau kapan Zee akan siuman?" tanya Savana yang paling mencemaskan putrinya.
"Dokter bilang keadaan Zee stabil, tapi belum tau kapan Zee akan sadar. Tapi aku percaya mom, aku percaya bahwa istriku akan kembali siuman." ucap Xander seraya tersenyum, dia bahkan sudah lebih kuat sekarang.
"Iya, kami juga percaya." sahut Savana.
"Maafkan Zee, Xander. Dia memang selalu menyembunyikan segalanya sendiri dari dulu, bahkan hal sebesar ini pun dia sembunyikan. Kau pasti sangat khawatir padanya." jelas Javier yang tau benar bagaimana sifat putrinya itu.
"Aku tau dad, seharusnya aku lebih memahaminya. Tapi aku kurang peka dalam memahaminya." Xander menatap Zeevana yang masih terbaring koma dengan alat-alat terpasang di tubuhnya. Dia tau sifat Zeevana dari kecil, anak itu memang keras kepala dan selalu berusaha menjadi dewasa. Apalagi dia adalah seorang kakak untuk Arsen.
"Jangan menyalahkan dirimu dan percayalah bahwa Zee akan segera sadar. Dia akan kembali pada kita semua," Javier dan Xander saling menguatkan satu sama lain. Mereka percaya bahwa Zeevana akan segera sadar dari komanya, entah kapan itu--yang jelas mereka percaya akan keajaiban.
Tak lama kemudian, Alexa dan Leo datang untuk menjenguk Zeevana juga. Mereka datang dari Chicago.
****
Di bandara negara Inggris. Dave, Joana, Raphael dan Natasha baru saja turun dari pesawat. Mereka datang ke Inggris bukan tanpa tujuan, itu karena mereka akan menjenguk Zeevana. Setelah kejadian di Australia waktu itu, Joana dan Zeevana sering berkomunikasi dan mereka menjadi teman. Tentang Joana, saat ini kandungannya menginjak 6 bulan.
"Kenapa kau lama sekali?" tanya Dave pada Natasha yang masih berjalan di belakangnya dan juga Joana.
"Ma-maaf dad..." lirih Natasha dengan menundukkan wajahnya, dia selalu saja dimarahin oleh Dave. Mungkin Dave membencinya, walau dia mengatakan ingin mengurus Natasha.
"Ayo!" ajak Joana seraya menggandeng tangan Natasha sama seperti dia menggandeng tangan Raphael.
Walaupun aku tidak suka pada anak selingkuhan suamiku, tapi aku kasihan juga kepadanya. Anak ini tidak bersalah dan tidak seharusnya aku melimpahkan kemarahanku padanya. Joana rupanya cukup dewasa dibandingkan dengan Dave. Jika bukan karena Joana dan Jonas yang meminta Dave memasukkan nama Natasha ke dalam kartu keluarga, sudah pasti Dave tidak akan meminta pada Tessa hak pengasuhan Natasha.
Natasha juga tidak minta dilahirkan dari rahim Tessa dan benih Dave. Dia tidak mau dilahirkan dari perselingkuhan, kalau tau rasanya sesakit ini. Natasha masih anak kecil yang tidak tahu apa-apa.
"Mom, kenapa mommy menggandeng tangan anak haram itu? Lepaskan mom! Anak mommy itu cuma aku!" sentak Raphael dengan tatapan nyalang penuh kebencian terhadap Natasha.
"Jaga bicaramu Raphael! Dia adikmu." ujar Joana pada Raphael.
"Adikku apanya? Bahkan Daddy pun tidak mengakuinya." ketus Raphael seraya menatap Natasha dengan sinis.
Sepertinya setelah ini aku harus bicara pada Dave, untuk memperlakukan putrinya dengan lebih baik. batin Joana yang merasa kasihan pada Natasha.
Tak lama setelah keluarga Satigo meninggalkan bandara, terlihat tentang wanita memakai tudung hitam dan kacamata hitam baru saja keluar dari persembunyiannya.
...*****...