One Night Stand With My Uncle

One Night Stand With My Uncle
Bab 56. Mulai ngidam



...πŸ€πŸ€πŸ€...


Usai mempersilahkan Alice untuk masuk ke dalam rumah dan menyiapkan air hangat juga. Xander langsung meminta Alice untuk memeriksa kondisi istrinya di dalam kamar. Awalnya Alice terkejut karena tiba-tiba Xander menghubunginya, setelah sekian lama mereka tidak berkabar. Namun Alice lebih terkejut ternyata apa yang dikatakan sepupunya Axel memang benar, Xander dan Zeevana kembali bersama.


"Sayang, minum dulu." ucap Xander seraya membangunkan tubuh Zeevana untuk duduk. Tak lupa dia menyodorkan air minum hangat itu untuk sang istri. Setelah meminumnya sedikit, Zeevana kembali berbaring diatas ranjang. Zeevana terlihat pucat dan lemah.


"Tolong periksa kondisi istriku, Alice." ujarnya kemudian kepada Alice.


Alice menganggukkan kepalanya, lalu dia mulai mengecek kondisi Zeevana dengan stetoskop yang dia bawa. Selain itu, Alice juga mengecek tensi darah Zeevana. Tak berselang lama kemudian, Alice terdiam beberapa saat.


"Sepertinya kau hamil lagi, Zee." terang Alice sambil tersenyum.


Zeevana terbelalak manakala dia benar-benar mendengar kondisi kehamilannya dari Alice. Tidak pernah terpikirkan oleh Zeevana bahwa dia akan hamil lagi dengan cara seperti ini. Harusnya tidak begini. Xander melihat raut wajah Zeevana yang bingung, bukannya senang seperti dirinya saat ini.


"Tapi untuk memastikannya lebih akurat, kau harus memeriksakan dirimu ke rumah sakit dengan alat USG." Alice tersenyum, ia kembali menerangkan kondisi Zeevana. Sebenarnya Alice juga terkejut dengan pertemuan pertamanya lagi dengan Zeevana, ia tau wanita itu hamil.


"Selamat ya Zee, Xander." kembali wanita itu berbicara, namun suami-istri itu tidak merespon dan malah sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.


'Ada apa dengan mereka? Kenapa aku merasa bahwa mereka tidak senang dengan berita ini? Apa ini hanya perasaanku saja?' batin Alice heran.


"Alice, bagaimana keadaan istriku? Apa tidak ada masalah di kandungannya? Dia mengeluh pusing dan tadi mual-mual cukup parah." ucap Xander untuk mencairkan suasana dan menghilangkan rasa penasarannya.


"Itu adalah gejala biasa ibu hamil muda, morning sickness. Namun jika gejala mual-mual dan pusingnya cukup parah sampai membuat pingsan dan sulit untuk beraktivitas. Maka patut di waspadai!" jelas Alice yang membuat Xander menganggukkan kepalanya. "Dan usia kandungannya sudah menginjak satu bulan."


"Terimakasih dokter Alice," kali ini Zeevana bicara sambil tersenyum.


"Jaga kondisimu, jangan sampai stress ya. Kau juga, sebagai suami-- jangan pernah membuatnya sedih lagi." tegur Alice pada Xander.


"Iya, tidak perlu kau ingatkan juga--aku pasti akan membuat istriku bahagia." Xander menyahuti dengan senyuman.


Setelah diberikan resep vitamin oleh Alice, Xander mengangkat Alice sampai ke depan rumah. Lalu Xander pun kembali ke dalam kamarnya menemui Zeevana disana.


"Kau tidak senang dengan kehamilan ini?"


"Aku bukannya tidak senang, aku hanya bingung."


"Baiklah aku paham." jawab Xander dingin, senyuman bahagianya hilang dalam sekejap. Zeevana merasakan sikap Xander yang mulai dingin padanya.


"Aku akan ada di luar, jika kau membutuhkan sesuatu." ucap Xander dengan suara datar. Dia pun melangkah pergi dari sana, namun Zeevana langsung beranjak dari tempat tidur dan menahan pergelangan tangan Xander.


"Apa? Apa kau membutuhkan sesuatu?" tanya Xander masih dengan suara dingin yang sama. Aneh, Zeevana merasa tidak nyaman di diamkan seperti ini dan dia tidak bisa.


"Kau marah?" tanya Zeevana dengan hati berdebar-debar.


"Apa aku berhak marah?" Xander malah bertanya balik.


"Uncle--"


"Walaupun kau tidak mau menerima bayi itu, kau harus mempertahankannya. Setidaknya sampai bayi itu lahir!" seru Xander memotong ucapan Zeevana yang belum selesai.


"Bukannya aku tidak senang, tapi--"


Ucapan Zeevana lagi-lagi terpotong oleh Xander, pria itu pergi begitu saja setelah menepis tangan Zeevana. Sungguh Zeevana tidak nyaman dengan keadaan ini. Pertama kalinya ia melihat Xander marah lagi setelah bersikap manis akhir-akhir ini.


"Uncle kau salah paham, bukannya aku tidak mau dengan bayi ini." tanpa sadar Zeevana memegang perutnya yang datar. Air matanya perlahan luruh karena sikap Xander padanya. Tak heran akhir-akhir ini dia gampang emosian karena kehamilannya.


****


Di pesta itu, Natasha, Raphael dan Aiden masih bersama dengan Laura dan Arsen. Arsen terus saja menggoda Laura dengan candaannya, dia serius para wanita itu tapi Laura sama sekali tidak menganggapnya serius.


"Jangan bercanda terus! Pergilah pada Robby dan Rachel, bukankah kau belum memberikan mereka ucapan selamat secara langsung." usir Laura pada Arsen.


"Baiklah Laura."


"Jangan panggil aku Laura, tapi kakak! Aku seumuran dengan kakakmu!" Laura meralat ucapan Arsen.


"Hanya beda dua tahun saja dan aku lebih suka memanggilmu sayang." Arsen senyum lebar sampai menunjukkan deretan giginya yang rapi.


"Kau--" Laura melotot, dia langsung menunjukkan tangannya yang sudah terkepal gemas ingin menyumpal mulut Arsen.


"Baiklah baiklah! Kau jaga ketiga anak kita ya." canda Arsen lagi seraya melihat ke arah Aiden, Natasha dan Raphael yang masih duduk duduk sambil makan-makan.


Laura tidak menjawab dan langsung memalingkan wajahnya. Gadis itu menyembunyikan pipinya yang merona. Lama kelamaan candaan dari Arsen membuatnya terbawa perasaan, pikir Laura dalam hati.


Arsen pun pergi menghampiri si calon pengantin lalu memberikan kado untuk pasangan pengantin itu yang sudah disiapkannya dari jauh hari. Tak lupa dia memberikan ucapan selamat pada Rachel dan Robby.


"Woah...ternyata uncle kecil bisa perhatian juga pada keponakannya!" kata Rachel sambil melihat kotak berukuran kecil berwarna merah yang diterimanya dari Arsen.


"Thanks,budy!" Robby tersenyum dan berterimakasih pada sahabatnya sekaligus uncle dari istrinya itu. Sekarang mereka adalah keluarga.


"Sama-sama, tapi apa kalian tidak penasaran dengan apa isinya?" goda Arsen sambil tersenyum lebar pada pasangan pengantin baru itu.


"Paling hanya prank, ya kan?" tebak Rachel pada pamannya yang terkadang memang suka jahil.


"Kalau penasaran--kenapa tidak langsung dibuka saja?" tanya Arsen yang mempromosikan pasangan suami-istri itu untuk membuka kadonya disana, saat itu juga ,ketika banyak tamu yang datang.


Jujur saja Robby dan Rachel tertarik untuk melihat isi kado yang diberikan oleh Arsen, karena Arsen selalu punya cara untuk membuat seseorang tertawa dan juga membuat seseorang kesal. Tak lama kemudian, setelah habis berpikir pendek. Rachel membuka kado dari Arsen dan sontak saja wanita itu juga suaminya terkejut melihat saat membuka isi kotak tersebut. Terlihat sepasang sepatu bayi disana, sangat imut berwarna biru.


"Uncle, kenapa kau memberikan ini? Masih terlalu lama untuk ini--" Rachel bicara setengah berbisik, pandangan orang-orang mulai tertuju kepadanya dengan curiga. Rachel langsung menyimpan sepatu bayi itu kembali ke dalam kotak, namun terlambat karena semua orang sepertinya sudah melihat itu termasuk Elena dan Mark.


"Apanya yang masih lama? Tiga bulan lagi juga sudah bisa dipakai," kata Arsen dengan keras dan sontak saja membuat para tamu tercengang.


"Jadi pengantin wanitanya sudah hamil?" bisik seorang wanita paruh baya.


"Wah..."


"Uncle Arsen!!" teriak Rachel kesal pada unclenya itu. Setelah membuat masalah Arsen turun dari pelaminan sambil melambaikan tangannya, dia tersenyum lebar.


"Kau sangat menyebalkan!!" sentak Rachel emosi. Dan kini semua orang jadi tau tentang kehamilannya. Termasuk kedua orang tua Rachel dan ibu Robby yang belum tau tentang ini.


"Sayang jangan marah-marah, tidak baik untuk janinmu." ucap Robby sambil memegang perut Rachel yang memang terlihat membuncit kalau dilihat dari dekat. Dan tentang minum-minum di club malam, Rachel tidak minum alkohol saat itu. Dia hanya minum jus bukan alkohol.


****


Setelah acara pernikahan usai, Dave, Joana dan juga Jonas berbicara tentang masa depan mereka berdua terutama Natasha dan Raphael. Joana sudah memutuskan untuk berpisah, dia akan membawa Raphael dan tidak mau mengurus Natasha padahal Jonas sudah menawarkan pada Joana untuk mengurus Natasha.


"Aku tidak sebaik itu Pa, aku tidak bisa mengurus anak dari selingkuhan suamiku. Sudah cukup Pa! Kumohon jangan paksa aku lagi untuk bersama dengan Dave." wanita itu menangis sambil mengatupkan kedua tangannya dihadapan ayah mertuanya.


"Baiklah Joana, Papa tidak akan memaksamu untuk kembali bersama Dave lagi. Maaf selama ini bila Papa terlalu memaksakan kehendak Papa." terang Jonas yang menyesal dengan perjodohan Joana dan Dave, malah membuat menantunya menderita. Ia pikir dengan menikah, Dave akan berubah dari penyakitnya terhadap wanita.


"Pa! Jangan asal memutuskan, aku tidak mau berpisah dari Joana." kata Dave menolak perpisahan itu.


"Enough Dave! Jangan buat Papa malu lagi," Jonas membentak putranya itu. Dia sama sekali tidak berubah meski sudah menjadi seorang ayah. Ya, ini salahnya juga karena dulu dia juga seorang playboy.


Joana terheran-heran sebab Dave menolak berpisah darinya, bukankah selama ini Dave menginginkan ini? Namun Joana tak mau bertanya, dia berusaha untuk tidak peduli lagi pada Dave.


"Pa, aku mohon pada Papa untuk tidak menahan warisan untuk Dave, meskipun aku dan Dave sudah bercerai kelak." ucap Joana kembali memohon pada ayah mertuanya.


Kurang baik apa Joana, dia selalu sabar menghadapi Dave dan dia juga tidak mau Dave hidup susah. Wanita itu selalu mementingkan kebahagiaan Dave dan memaafkan semua kesalahannya, tapi tidak dengan kesalahan yang satu ini.


Jonas pun mengambil keputusan, bahwa dia akan mengizinkan Dave bercerai dengan Joana. Dia juga akan mengurus Natasha karena terbukti bahwa Natasha adalah cucunya juga. Sedangkan Dave dia tidak mau bercerai dari Joana, dia menolak perceraian itu.


****


Setelah acara pernikahan, setelah kejadian dimana Alice memeriksa kondisi Zeevana. Xander mulai bersikap dingin pada Zeevana, namun dia tidak mengabaikan wanita itu, dia tetap perhatian padanya. 3 hari kemudian Zeevana akan kembali ke Australia dan meneruskan bisnisnya disana, sementara keluarganya membujuk Zeevana dan Aiden untuk menetap di Chicago saja agar tidak perlu berjauhan lagi. Zeevana mengatakan bahwa dia akan menyelesaikan urusan disana terlebih dahulu lalu menetap di Chicago.


Dan tentang Xander, pria itu meminta izin pada kakeknya untuk mengalihkan pekerjaan pada orang kepercayaan kakeknya. Sebab dia harus membujuk Zeevana, Aiden dan semua keluarga Sanderix agar mereka berdua tinggal di Inggris bersamanya. Xander pastikan Zeevana dan Aiden harus yakin 100 persen padanya.


"Uncle..." Zeevana memanggil suaminya yang sedang berada di ruang kerja rumah Sanderix.


"Ya?"


"Uncle, aku ingin bicara..."


"Bicara saja." ucap Xander yang masih terkesan cuek. "Kau mau sesuatu?"


"Iya."


"Apa? Kau mau makanan apa?"tanya Xander yang mulai mengalihkan atensinya pada Zeevana yang kini bicara di ambang pintu dan Xander duduk di atas kursi kerja.


"Bukan makanan." cicit Zeevana pelan.


"Lalu? Mau apa?"


"Aku mau...mau Uncle--" Zeevana terdengar ragu-ragu saat akan mengatakannya. Xander menghela nafas, kemudian dia beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri sang istri.


"Apa ada yang sakit?" tanyanya cemas sebab ia melihat Zeevana gelisah. "Kau mau apa hem?" tanyanya lagi.


"Aku mau uncle mengelus perutku." Xander terbelalak mendengar permintaan istrinya dan sebenarnya ia bahagia.


...****...