One Night Stand With My Uncle

One Night Stand With My Uncle
Bab 36. Obrolan ayah dan anak



...πŸ€πŸ€πŸ€...


Apa yang membuat Xander dan Zeevana berpisah? Apakah ia harus memberitahu pada Aiden semuanya? Lalu setelah itu apakah Aiden akan marah padanya? Namun bukankah Aiden berhak tau apa yang terjadi sebelum dia tau dari mulut orang lain. Dan nampaknya Aiden tidak mendengar cerita apapun tentang Xander. Pasti Zeevana tidak menceritakan tentangnya pada Aiden, ya pasti wanita itu masih kecewa dan marah padanya. Jadi mana mungkin Zeevana akan bercerita.


"Daddy dan mommy berpisah karena..."


🎢🎢🎢


Dreett...dreett...


Terdengar suara dering telpon dan membuat Xander belum sempat menjelaskan semuanya pada Aiden. Dia mengambil ponselnya yang ada didalam saku dan melihat siapa yang meneleponnya. "Aiden, kamu lanjutkan saja makannya...jangan pedulikan daddy." Xander tersenyum seraya menyentuh kepala Aiden sebentar.


'Aneh...kenapa di sentuh olehnya aku merasa nyaman? Ah...apa karena tadi dia membelaku di sekolah makanya aku merasa nyaman? Ah...tidak! Aku tidak boleh terharu, aku tidak boleh luluh, bukankah dia yang sudah membuat mommy masuk rumah sakit' batin Aiden berusaha menepis rasa kagumnya pada sosok Xander yang tadi membelanya di sekolah, bagaimana cara pria itu menyelesaikan masalah. Bagi Aiden dia sangat keren.


Xander mengangkat telpon agak sedikit menjauh dari Aiden, namun matanya tak lepas dari anak itu. "Halo."


"Dimana Aiden? Kau bawa kemana dia, uncle?" suara Zeevana terdengar marah diseberang sana.


"Ternyata kau tau nomor telpon ku."


"Uncle jawab?!" sentak Zeevana.


"Tenanglah, dia sedang makan siang. Dia baik-baik saja. Jangan marah-marah, kau masih sakit...nanti kau malah tambah sakit." nasihat Xander perhatian.


"Karena siapa aku begini?! Sudahlah, setelah selesai makan--bawa Aiden ke rumah. Aku yakin kau tau dimana rumahku."


"Baik sayang." kata Xander cengengesan. "Tapi apa kau sudah keluar dari rumah sakit?"


"Siapa yang kau panggil sayang? Aku tutup!" Zeevana menolak menjawab pertanyaan Xander.


Zeevana langsung menutup telponnya dengan marah. Sementara Xander menghela nafas sambil tersenyum. "Baiklah sayang, ini baru dimulai. Aku akan kembali mendapatkan kalian berdua. Harus!"


Setelah selesai makan,Xander mengajak Aiden pergi dulu ke hotel tempatnya tinggal. Pria itu lega karena Aiden mau ikut dengannya, pertanda bahwa anaknya itu mulai percaya padanya walau sedikit. Xander pergi ke kamar hotel bukan tanpa alasan, ia mengemasi barang-barangnya yang ada disana agar dia bisa tinggal bersama dengan Aiden dan Zeevana.


Xander bahkan mengatur semua ulang jadwalnya, dia harusnya kembali ke Inggris Minggu ini. Namun sebelum kembali kesana, Xander harus membawa Aiden dan Zeevana juga, keputusan ada pada mereka. Dia disini akan berjuang lebih dulu untuk mendapatkan kepercayaan mereka dan juga maaf.


"Kenapa kau membawa koper? Apa kau mau pindah tuan?" tanya Aiden polos.


"Yeah son, tentu saja aku harus pindah."


"Kemana?"


"Ke rumahmu, son. Maksudku rumahmu, rumah mommy, rumahku juga." jawab Xander sambil menggandeng tangan kecil putranya.


"Mommy tak akan setuju."


"Maka--daddy akan tetap disana." ucap Xander.


"Daddy tau, mommymu memang keras kepala dan galak. Tapi dia sebenarnya dia berhati lembut. Dulu dia tidak seperti ini, dulu dia sangat lembut dan penyabar. Daddy yang membuatnya berubah." ucapnya lirih.


"Paman benar, mommy galak padaku tapi mommy sebenarnya sangat baik. Setelah memarahiku dia pasti memberikan ku makanan yang enak dan merasa bersalah. Tapi--itu semua karena aku nakal. Oh ya, tentang hari ini jangan beritahu mommy!" seru Aiden cepat. Biasanya dia tidak bicara sebanyak ini, tapi entah kenapa dia nyaman bicara dengan Xander.


"Maaf son, sepertinya mommymu sudah tau dari pihak sekolah. Tapi kau tenang saja, daddy akan menolongmu bila mommymu marah." Xander menghibur anaknya itu.


Tak terasa mereka sudah berada di dalam mobil di jemput oleh Fredy dan dalam perjalanan ke rumah Zeevana. Di dalam mobil Aiden tiba-tiba menangis.


"Son, ada apa? Kenapa kau menangis?" Xander khawatir melihat anaknya menangis. Bagaimana pun juga Aiden masihlah anak yang berusia 5 tahun.


"Aku...tidak menangis...hiks."


"Katakan pada daddy, ada apa nak?"


"Pria itu...ayahnya Raphael, dia selalu menggoda mommy. Bahkan melecehkan mommy, tapi mommy selalu mengabaikannya dan uncle Axel membantunya...tapi aku tetap benci ayah Raphael!" sentak Aiden, akhirnya menumpahkan semua emosinya yang sedari tadi dia tahan.


Rahang Xander mengeras, gigi atas dan bawahnya merapat dan tangannya terkepal marah. Ia tidak tahu bahwa pria yang bernama Dave Satigo itu masih terobsesi dengan Zeevana dan dia ada di negara ini. Xander bersumpah tidak akan membiarkannya bebas begitu saja.


"Kau tenang saja son, kau akan mendengar kabar tentangnya di surat kabar besok."


"Maksud paman apa?"tanya Aiden seraya mengusap air matanya.


"Nantikan saja besok ya." Xander tersenyum seraya menghibur Aiden yang menangis.


****


Tak lama kemudian Xander, Fredy dan Aiden sampai di rumah Zeevana. Mereka disambut oleh Javier dan Savana lebih dulu. Savana masih seperti biasanya, dia jutek pada Xander.


Begitu masuk ke dalam rumah, Zeevana langsung mencecar banyak pertanyaan pada Aiden terutama tentang perkelahiannya disekolah. Aiden tidak bicara, tapi Xander yang membantunya bicara.


"Ini bukan salahnya, anak itu...dia yang mulai lebih dulu. Jangan marah padanya." ucap Xander membela.


"Apa alasannya? Kenapa dia begitu? Kenapa kau berkelahi nak?" tanya Zeevana.


"Zee, bicaranya nanti saja. Kasihan Aiden, dia butuh istirahat." Xander membela lagi putranya.


Aiden berlindung di belakang Xander begitu melihat raut wajah Mommynya yang marah. Zeevana, Savana dan Javier heran melihat Aiden terlihat dekat dengan Xander. Apa ini yang namanya ikatan darah.


"Lalu kenapa kau membawa koper?" tanya Savana sinis, dia baru sadar bahwa Xander masuk ke dalam rumah dengan membawa koper.


"Oh...ini...aku akan tinggal disini mulai hari ini dan seterusnya, ibu mertua." Xander tersenyum tak tahu malu. Tapi ketahuilah bahwa tidak tahu malu ini mungkin akan membawanya kembali memiliki keluarga yang utuh.


Zeevana, Javier dan Savana tercengang mendengar jawaban Xander. Apalagi saat melihat wajahnya yang tidak runtuh meski mendapatkan tatapan tajam dan sinis sekalipun.


...****...