One Night Stand With My Uncle

One Night Stand With My Uncle
Bab 38. Perkara obat tidur



...🍁🍁🍁...


Zeevana masih terdiam di dekat pintu kamarnya yang tak jauh dari ruang tengah. Dia masih mendengarkan percakapan antara Xander dan sektretaris pribadinya itu. Beruntung malam itu hening jadi Zeevana bisa mendengar jelas perbincangan antara kedua pria itu.


"Pak... sebaiknya bapak hentikan meminum obat-obatan ini, kalau bapak over dosis lagi--bagaimana?" tanya Fredy cemas mengingat Xander pernah overdosis 3 kali karena banyak mengkonsumsi obat tidur.


Wanita yang sedang menguping itu terkejut mendengarnya. Dia berusaha memasang kupingnya baik-baik, sepertinya ia tidak salah dengar. Zeevana yakin Fredy berbicara tentang overdosis.


"Tenanglah Fredy, walaupun beberapa kali mengalami overdosis... bukankah aku masih hidup sampai saat ini? Aku harus hidup, sebab aku harus kembali mendapatkan istri dan anakku." ucap Xander seraya tersenyum santai, menganggap kejadian overdosisnya dulu bukanlah hal yang parah.


"Pak, tolong Jangan menganggap kesehatan bapak adalah suatu candaan. Saran saya lebih baik bapak tidur didekat nyonya Zeevana, daripada harus meminum obat tidur setiap kali bapak ingin tidur." jelas Fredy memberikan saran pada Xander.


"Saran mu, seperti bunuh diri untukku Fredy." cetus Xander lagi. Dia yakin, kalau dia mengikuti saran dari sekretarisnya itu. Sudah pasti Zeevana akan semakin membencinya dan itu akan semakin untuk Xander mendekati anak dan istrinya lagi. Sudah susah payah ia tebal muka tinggal di rumah itu, ia baru saja memulai usahanya.


"Pak...maafkan saya, saya hanya--" Fredy menundukkan kepalanya. Dia mau minta maaf karena sudah memberikan saran yang mungkin bisa membuat pria itu berada dalam masalah.


"Ya, kau hanya mengkhawatirkanku. Aku paham itu--tapi aku baik-baik saja. Inilah adalah bagian dari karma ku. Oh ya, ini sudah malam dan sebaiknya kau cepat pergi dari sini. Besok saja kita bicarakan masalah pekerjaan." titah Xander pada Fredy.


"Baik pak."


"Oh ya satu lagi! Aku ingin pria itu dan keluarganya hancur." kata Xander mewanti-wanti.


Fredy tersenyum tipis dan dia langsung melakukan kepalanya seolah paham dengan apa yang dimaksud pria itu. Namun Zeevana yang mendengarnya hanya bertanya-tanya. Siapa pria yang dibicarakan oleh Xander dan Fredy?


Setelah Fredy pergi dari sana, Xander berjalan kembali menuju ke arah sofa ruang tengah sambil membawa botol obat tablet berwarna putih itu. Jumlahnya lumayan banyak, seperti vitamin tapi nyatanya bukan.


Xander mengambil air minum yang ada di atas meja di depannya, dia membuka botol obat itu dan mengambil satu tablet. Saat Xander akan meminum obatnya, Zeevana datang dan langsung mengambil botol obat itu juga obat yang ada di tangan Xander.


"Zee? Kau belum tidur?" Xander terkejut karena Zeevana ada disana.


Zeevana tidak bicara, ia menatap lekat obat yang ada didalam botol itu. Lalu ia memasukkan kembali ke dalam botol, satu tablet obat yang tadi akan diminum oleh Xander.


"Obat apa ini?" tanya Zeevana tajam.


"Itu bukan obat,tapi vitamin." dusta Xander dengan cepat, dia mengambil botol berisi butiran obat itu dari Zeevana.


"Kau masih saja bohong, sama seperti dulu. Jadi--bagaimana bisa aku mempercayaimu lagi?" Zeevana menatap tajam pria itu, dia dalam posisi berdiri sedangkan Xander duduk. Xander mendongak menatap istrinya.


"Aku tidak bohong!" sangkal Xander.


Terlihat raut wajah kecewa Zeevana, pria itu lagi-lagi berbohong padanya. Persis seperti dulu, saat pria itu mengaku pergi bekerja padahal menemui Tessa.


"Kau sama saja seperti dulu, katanya kau akan berubah. Itu baru kau katakan tadi pagi di rumah sakit. Tapi apa-apaan dengan sikapmu ini? Kau masih saja sama...kau masihlah pembohong. Dulu--kau juga sering membohongiku dengan hal-hal kecil, contohnya saat kau mengatakan pergi lembur, kau bekerja di rumah sakit dan meninggalkanku seorang diri. Tapi padahal kau menemui kekasihmu. Dan sekarang kau bohong juga?" air mata Zeevana mengalir membasahi pipinya. Xander langsung beranjak dari tempat duduknya, di menatap Zeevana dengan rasa bersalah sebab diingatkan dengan dosa masa lalu.


"Bagaimana aku bisa mempercayaimu jika hal kecil seperti ini saja kau berbohong? Aku jadi ragu untuk memberimu kesempatan." Zeevana, gadis itu melangkah pergi dengan sedih. Tentu saja Xander tidak akan membiarkan Zeevana pergi dengan keadaan menangis dan kecewa padanya seperti ini. Akhirnya Xander menahan tangan wanita itu.


"Kau...kau akan memberiku kesempatan? Apa benar?" tanya Xander dengan mata berbinar-binar. Ia fokus pada kata memberi kesempatan yang dilontarkan si cantik itu.


"Tidak jadi karena sikapmu saat ini." jawab Zeevana tanpa menoleh ke arah Xander.


"Jika aku jujur tentang obat ini. Apa kau akan mengurungkan niatmu untuk membatalkan memberiku kesempatan?" tanya Xander lagi, dengan tangan yang masih menahan Zeevana.


"Entah." kata Zeevana cuek.


Zeevana menoleh ke arah Xander. "Kau tidak bohong?" sebenarnya gadis itu hanya ingin menguji kejujuran Xander. Padahal dia sudah tahu bahwa pria itu berkata jujur.


"Tidak, kau bisa tanyakan pada Fredy kalau kau tak percaya padaku. Aku berkata jujur."


"Hem...ya sudah." sahut Zeevana sambil menahan air matanya yang akan kembali keluar.


"Jangan pergi dulu! Tolong katakan padaku bahwa kau akan memberiku--kesempatan kan?" tanya Xavier antusias, dibibirnya tersirat senyumnya yang tipis.


"Tergantung."


"Tadi kau bilang kau akan memberiku kesempatan bila aku berkata jujur."


"Mana ada, aku tidak pernah bicara begitu!" sangkal Zeevana.


"Tapi kau bicara begitu! Kau sudah janji."


"Apa ada buktinya kalau aku berjanji?" tanya Zeevana yang membuat Xander tersenyum. Ya, setidaknya Xander sudah tau bahwa masih ada kesempatan disini, dia tau bahwa selama ini Zeevana masih mencintainya. Hanya saja cinta itu terkikis oleh benci dan kecewa.


Tuhan maha membolak-balikkan hati manusia, Xander yakin bahwa hati Zeevana dan Aiden akan berubah seiring berjalannya waktu.


"Baiklah, aku akan menganggap kau memberiku kesempatan. Kalau begitu kembalikan obatku, aku harus tidur." pinta Xander dengan perasaan yang lega.


"Kau tidak boleh minum obat ini,"


"Tapi aku harus tidur."


"Tidak dengan memakan obat ini," ucap Zeevana peduli. Dia tidak akan memberikan obatnya pada Xander.


Mereka pun jadi berdebat kecil tentang obat tidur, bahkan Zeevana menjelaskan bahwa Xander adalah seorang dokter dan harusnya dia tau bahaya obat tidur. Sedangkan obat itu sudah dia konsumsi selama 4 tahun dengan 3 kali overdosis.


Xander pun membujuk Zeevana untuk menemaninya mengobrol agar dia tertidur. Zeevana menyanggupinya, mereka pun mengobrol dan Zeevana duduk tak jauh darinya. Mereka hanya mengobrol, lebih tepatnya Xander yang bicara maaf dan maaf terus atas kesalahannya di masa lalu dan saat malam panas di hotel Dacosta itu. Zeevana tidak banyak bicara dan hanya mendengarkan.


Akhirnya Xander pun tertidur tanpa obat tidur setelah Zeevana menggenggam tangannya. "Sebenarnya apa yang sudah terjadi padamu selama ini? Kenapa kau harus meminum obat tidur? Aku pikir kau sudah bahagia ketika kita berpisah, tapi setelah melihatmu begini...aku pikir tidak begitu." ucap Zeevana lirih, dia melepaskan genggaman tangannya dari Xander dengan perlahan. Gadis itu memakaikan selimut hangat pada tubuh pria itu, lalu dia melangkah pergi dari sana.


Tanpa mereka sadari, Savana dan Javier melihat itu diam-diam. Javier mengatakan pada Savana bahwa mereka masih mempunyai ikatan takdir.


****


Disebuah kamar di rumah mewah, terlihat seorang pria mengamuk dan melempar barang-barang di dalam kamar itu. Istrinya terlihat menangis dan mencoba menghentikannya.


Prang!


Bruk!


"Suamiku tenanglah..."


"TENANG KAU BILANG? KAU DAN ANAKMU ITU SUDAH MEMBUAT MASALAH UNTUK KELUARGAKU DAN KAU BILANG TENANG?!" hardik pria itu pada istrinya dengan penuh emosi.


...****...


Author mau crazy up πŸ˜‚πŸ˜˜jangan lupa komen, vote, gift nya guys...ini hari Senin ❀️