One Night Stand With My Uncle

One Night Stand With My Uncle
Bab 61. Menuju hari Bahagia



...🍁🍁🍁...


"Zee, akan sulit untukmu mengandung bayi ini. Semakin besar kandunganmu...nyawamu dan bayimu akan berada dalam bahaya. Zee aku menyarankan ini sebagai seorang dokter, kau harus segera di rawat dan mendapatkan perawatan."


"Dokter Alice, tolong jangan bicara lagi tentang ini. Beri saya waktu, biarkan saya sendiri yang bicara pada suami dan keluarga saya." kata Zeevana sambil menahan buliran air mata yang menggenang di bawah matanya.


"Zee..."


"Dokter Alice, ini permintaan saya sebagai seorang pasien. Saya ingin ini dirahasiakan!" ujar Zeevana tegas. Zeevana tidak akan membiarkan hari-hari bahagia keluarganya harus hancur karena mengetahui tentang ini. Zeevana yakin dia akan sembuh.


Alice hanya bisa setuju pada permintaan Zeevana, sebagian dari kode etiknya. Bahwa dia harus memenuhi keinginan pasien, bila pasien ingin merahasiakan penyakitnya. Maka dia hanya profesional dan melakukannya.


"Baiklah, akan aku rahasiakan ini. Tapi kau harus tetap melakukan pengobatan." kata Alice pada wanita itu.


Zeevana tak hanya meminta hal itu pada Alice, dia juga meminta agar Alice membuat surat lab palsu yang menyatakan bahwa kandungannya baik-baik saja hanya tidak boleh terlalu lemah. Alice setuju, walau terpaksa. Namun dia memaksa Zeevana untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis kanker kenalannya, yaitu dokter Yoshua. Pria muda yang ada disampingnya ini.


"Saya Yoshua,"


"Saya Zeevana, dokter." kata Zeevana seraya mengulurkan tangannya pada dokter yang berusia tak jauh beda dengan suaminya itu. Masih cukup muda untuk menjadi dokter spesialis kanker.


"Sepertinya kita harus bertukar kontrak, Bu Zeevana."


"Baiklah dok." Zeevana mengambil ponselnya yang ada disaku baju pasiennya. Dia dan dokter Yoshua bertukar nomor ponsel dengan Zeevana, untuk mempermudah untuk mereka berkomunikasi.


Setelah itu Zeevana kembali ke ruang rawatnya dengan hasil gelisah, tepat saat dia berada di depan ruang rawat. Xander sudah berdiri disana bersama Aiden.


"Bunny..." Zeevana terkejut, namun lebih ke berdebar karena dia baru saja diberitahu hal penting oleh dokter Alice dan dokter Yoshua. Dia yang Xander tau.


"Kau dari mana saja sweetty? Dari tadi aku dan Aiden mencarimu." kata Xander dengan raut wajah khawatir yang tidak bisa disembunyikan.


"Iya mommy, mommy darimana saja? Aku dan Daddy mencemaskan mommy, takut terjadi sesuatu pada Mommy." cetus Aiden dengan wajah cemberutnya.


"Aduh aduh...dua kesayanganku ini tampaknya sangat mencemaskanku ya?" Zeevana berusaha bersikap biasa saja, dia malah mencubit pipi Xander dan Aiden dengan gemasnya.


"Mommy, kami serius bertanya. Mommy darimana saja huh?" tanya Aiden dengan nada interogasinya.


"Mommy habis jalan-jalan saja, hehe. Ah sudahlah, mommy lapar... sepertinya baby didalam sini juga lapar." wanita itu berusaha mengalihkan perhatian, dia tidak mau ditanyai yang macam-macam lagi oleh putra dan suaminya. Dia memang memegang perutnya yang masih datar.


Mommy akan mempertahankanmu, nak. Mommy janji. Batin Zeevana.


"Ya sudah, mari kita bicara didalam dan makan. Kami sudah bawakan makanan untukmu, sweetie." kata Xander pada Zeevana sambil tersenyum.


Mereka pun masuk ke dalam ruang rawat Zeevana, makan bersama dan bercanda tawa seperti biasa. Zeevana bisa menyembunyikan rasa gelisahnya, dia tidak mau membuat orang disekitarnya merasa sedih. Apalagi keluarga mereka sudah sepakat akan melaksanakan resepsi pernikahan Zeevana dan Xander untuk yang kedua kali, tentu dengan rasa yang berbeda. Sebab dulu mereka menikah tanpa cinta dan sekarang menikah dengan cinta. Janji suci mereka yang sekarang adalah janji yang sesungguhnya. Dan inilah yang Zeevana juga Xander inginkan.


***


Setelah dirawat selama 3 hari di rumah sakit Zeevana pun kembali ke rumahnya di jemput oleh Xander dan Aiden. Begitu sampai di kediaman Sanderix, Xander, Aiden dan Zeevana terkejut melihat kedatangan seseorang yang tidak terduga. Ya, dia adalah Antonio Dacosta.


Pria tua itu sangat bahagia melihat Aiden dan Zeevana, dia selalu ingin melihat langsung cicit pertamanya dan juga cucu menantunya. Walaupun Antonio pernah melihat Zeevana dan Aiden selama beberapa kali di video call. Melihat langsung kan rasanya beda.


"Kalian sudah pulang? Mana cucu menantuku yang cantik dan cicitku yang tampan!" Antonio tersenyum lebar, dia merentangkan kedua tangannya berharap Aiden akan memeluknya. Namun anak laki-laki itu terdiam dan cuek, dia tidak manja seperti anak-anak lain.


"Aiden, ayo sapa kakek buyut!" ujar Zeevana pada putranya.


"Iya mom." jawab Aiden.


"Halo kakek buyut, apa kabar?" tanya Aiden sambil tersenyum. Bukan mendapatkan jawaban dari Antonio, tubuh Aiden malah melayang karena di gendong pria tua itu secara tiba-tiba.


"Kau ini...persis seperti ayahmu, dia juga selalu cuek pada kakek buyutmu ini! Astaga...kalian benar-benar copy paste." Antonio tersenyum lebar, ia senang melihat cicitnya itu. Tampan, cerdas, sama seperti Xander dan pastinya dia akan menjadi pewaris perusahaan Dacosta juga kelak.


"Huh...kenapa orang dewasa selalu melakukan ini padaku?" gerutu Aiden sebal karena orang-orang dewasa ini selalu saja menggendongnya.


Zeevana, Xander, Savana, Javier dan Arsen tersenyum melihat Aiden yang digendong oleh Antonio.Pastinya Aiden akan menjadi kesayangan Antonio untuk saat ini. Sebab pria itu baru memiliki satu cicit.


"Aku dan bayiku baik-baik saja kakek," jawab Zeevana.


Walau sebenarnya tidak baik-baik saja. Tentu saja Zeevana hanya bisa mengatakan ini didalam hati.


"Baiklah, tolong jaga kesehatanmu dan bayimu nak. Xander, kau juga tak boleh membiarkan cucu menantuku bekerja dalam keadaan seperti ini. Kau harus membuatnya nyaman dan aman, paham?" Antonio mewanti-wanti pada cucunya itu.


Xander tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Tentu saja kakek, kakek jangan khawatir."


"Ya sudah, ayo kita semua duduk dan makan siang dulu. Lalu kita bicarakan tentang resepsi pernikahan Zeevana dan Xander." kata Savana pada semua orang disana.


"Baiklah nyonya Sanderix."


"Tuan Dacosta, anda bisa memanggil saya Savana." Savana tersenyum.


"Kalau begitu kau juga tidak boleh memanggilku tuan. Tapi kakek..."


Sontak saja semua orang tertawa mendengarkan candaan dari Antonio. Mereka pikir Antonio adalah orang yang kaku seperti Xander, tapi rupanya pria tua itu adalah kebalikan dari si es batu.


****


Waktu pun berlalu, resepsi pernikahan antara Zeevana dan Xander akan segera dilaksanakan 2 hari lagi. Semua persiapan dilakukan oleh Laura dan Arsen, mereka menawarkan diri untuk membantu Zeevana dan Xander karena kondisi pasnagan suami-istri itu tidak memungkinkan melakukan ini. Savana juga ikut membantu persiapannya.


Kini Xander dan Zeevana berada di salah satu butik milik teman Savana untuk mencoba baju pengantin. Xander mencoba bajunya terlebih dahulu. Pria itu tampak tampan dengan setelan tuxedo berwarna putih.


"Bagaimana penampilanku sayang?" tanya Xander pada istrinya yang kini menatapnya tanpa berkedip. Pria itu sungguh bagaikan bak dewa Yunani, dia sangat tampan.


"Sudah ku bilang bahwa kau cocok memakai stelan jas putih. Kau keren bunny." Zeevana tersenyum manis, dia tulus memuji calon suamimu itu.


"Oke, yeah...aku tau aku memang tampan. Itu sudah dari lahir." seloroh Xander sangat percaya diri.


"Cih! Dipuji sedikit, langsung melayang setinggi langit. Kau benar-benar, ckckck." Zeevana terkekeh, menertawakan kepercayaan diri suaminya itu.


"Ya kan aku memang tampan." goda Xander lalu menarik Zeevana ke dalam pelukannya. Tak peduli ada dimana dan sedang apa mereka saat ini.


"Bunny, kita ada dibutik! Tolong tahan dirimu!" bisik Zeevana pada suaminya, dia malu dengan tatapan beberapa pegawai butik kepadanya dan Xander yang tampak intim.


"Kalau begitu, nanti di rumah--atau di kamar?" goda pria itu sambil menciumi pipi Zeevana.


"Iya iya...sekarang lepaskan dulu aku ya? Aku harus mencoba gaun pengantin." pinta Zeevana pada suaminya.


"Oke, aku akan melepaskanmu kali ini. Tapi tidak lain kali." Xander benar-benar melepaskannya, tidak hentinya dia tersenyum menyambut hari bahagia mereka yang akan datang dua hari lagi.


Zeevana dan seorang pelayan butik itu masuk ke ruang ganti dan membantu Zeevana untuk memakai gaunnya. Sementara Xander menunggu pengantinnya sambil duduk duduk disana, dia dan Zeevana tidak pernah melalui moment seperti ini dengan perasaan. Dulu saat memilih gaun saja mereka asal.


Lalu seorang pegawai butik membuka tirai didepan Xander, memperlihatkan seorang wanita cantik memakai gaun putih menjuntai panjang dengan kerah yang menutupi lehernya, namun lengannya terbuka.


Xander terperanjat melihat istrinya, wanita itu begitu cantik dan sempurna di matanya. Dia bahkan tidak berkedip.


"Kau sangat cantik." puji Xander tulus.


"Terima kasih bunny."


"Kau adalah wanita tercantik, pengantin tercantik di dunia inilah sweetie." kata pria itu lagi sambil tersenyum. Beberapa pegawai butik juga ikut tersenyum saat Xander memuji Zeevana.


Setelah yakin dengan gaun pengantinnya, Zeevana dan Xander pergi ke ruang ganti untuk mengganti pakaian mereka seperti semula.


Tiba-tiba saja saat Zeevana baru selesai mengganti baju, hidung wanita itu mengeluarkan darah.


...****...