
...🍀🍀🍀...
"Mommy, apa mommy mau pergi bersama dengan Daddy Axelo?" tanya anak laki-laki itu pada Mommynya. Dia adalah Aiden Addison Sanderix. "Mom...ini hari libur."
"Maafkan mommy sayang, ada pertemuan penting dengan klien. Dan--Aiden, bukankah mommy sudah bilang bahwa paman Axelo bukan papamu. Dia adalah dosen mommy dan rekan kerja mommy."
"Habisnya mommy selalu menghabiskan waktu dengannya, aku pikir dia Daddyku! Lalu--kalau dia bukan Daddyku, siapa Daddy ku?" tanya Aiden begitu retoris dan lagi-lagi Zeevana tidak bisa menjawabnya.
"Mommy akan berangkat, kau baik-baiklah di rumah bersama dengan Elara. Elara, tolong jaga putraku." pinta Zeevana pada Elara, salah satu pelayan di kediaman mendiang nenek buyutnya yang ikut dengan Zeevana ke Australia untuk membantunya mengasuh Aiden.
"Baik nyonya." sahut Elara patuh.
Saat Zeevana akan mengecup kening Aiden, anaknya langsung menghindar dan menatap Zeevana dengan sengit, penuh kemarahan.
"Mom...aku ingin tau siapa Daddy ku." pinta Aiden dengan mata berkaca-kaca. "Kenapa mommy selalu menutupinya?! Siapa Daddyku mom? Apa dia orang jahat sampai mommy tidak mau mengatakannya padaku?" teriak Aiden marah, sudah berapa kali Aiden menanyakan tentang ayah kandungnya. Namun Zeevana tidak mau menjawab, mati atau hidup kah ayahnya. Zeevana tidak memberikan jawaban sama sekali.
"Dia bukan orang jahat--" ucap Zeevana begitu saja. Baginya Xander bukan orang jahat, pria yang membuatnya jatuh cinta untuk pertama kali. Terlepas dari semua yang pria itu lakukan padanya, nyatanya dia sama sekali tidak bisa melupakan Xander. Apalagi saat ia melihat sosok Aiden yang begitu mirip dengan pria itu. Ada yang bilang ketika hamil, ketika kita tidak menyukai seseorang atau sesuatu, bayi yang ada di dalam kandungan tersebut akan terpengaruh olehnya. Dan mungkin karena dulu Zeevana sedang dalam perasaan membenci Xander, makanya Aiden jadi sangat mirip dengan Xander.
"Lalu kenapa mommy tidak mengatakan siapa Daddyku? Apa Daddy meninggalkan mommy untuk wanita lain?" tanya Aiden menebak, tentu saja dengan sorot mata tajam pada putranya.
"Dia...mommy, mommy akan jelaskan nanti setelah mommy pulang kerja ya sayang." lirih Zeevana seraya mengusap lembut rambut Aiden.
"Mommy jangan bohong!" sentak Aiden marah.
Zeevana mendesah pelan. Mungkin ini saatnya Zeevana memberitahu tentang ayah kandung Aiden. "Mommy janji akan menceritakan tentang Daddymu, kau dan Elara jadi saksinya."
"Benarkah mom? Sepulang kerja kau harus memberitahuku tentang Daddy!" seru Aiden tegas.
"Mommy janji," jawab Zeevana seraya tersenyum lebar.
"Nyonya Elara, kau juga jadi saksi!" tegas Aiden pada pengasuhnya itu.
"Baik tuan muda." sahut Elara sambil tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Aiden sedikit tenang karena Zeevana sudah berjanji padanya akan menceritakan tentang ayah kandungnya. Selama ini dia selalu mengira bahwa Axel adalah papanya, karena Zeevana selalu bersama dengan Axel. Padahal mereka hanya rekan kerja saja. Memang sudah berulang kali Axel menyatakan cinta pada Zeevana, namun gadis itu selalu menutup hatinya. Axel tau bahwa di dalam hatinya, Zeevana masih mencintai mantan suaminya itu.
****
Sesampainya di perusahaan Rainer design, Zeevana tengah berjalan berdampingan bersama Axelo yang kini sudah jadi pemilik perusahaan besar. Sebenarnya setengah dari perusahaan itu adalah milik Zeevana juga, mereka membangunnya bersama. Namun Zeevana tidak mau ada namanya disana, dia lebih suka kerja di belakang. Dan dia mengambil posisi sebagai kepala design di sana, sedangkan Axel adalah pemimpinnya. Axel, sudah berhenti menjadi dosen dan memimpin perusahaan design ini. Design pakaian, rumah, dekorasi pernikahan juga termasuk di dalamnya.
"Zee, kenapa dari tadi kau melamun terus?" tanya Axel pada Zeevana yang tengah melamun saat menyiapkan bahan-bahan untuk persentasi bersama perusahaan asing bernama Dacosta grup, yang sekarang menempati posisi kedua perusahaan teknologi terbesar di seluruh dunia dan perusahaan fashion ke 5 terbesar di dunia.
"Ah...saya tidak apa-apa pak." gadis itu menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Apa ini masalah Aiden lagi? Dia menanyakan Daddy nya?" tanya Axel pada Zeevana yang tepat sasaran. Axel selalu bisa menebak yang bisa membuat Zeevana seperti ini pasti tentang Aiden.
"Hum, iya pak." sahut Zeevana dengan helaan nafas yang dalam.
Zeevana terdiam, dia membenarkan apa yang dikatakan oleh Axel. Memang Xander harus tau tentang Aiden, Aiden juga sama. Tapi apa nanti Xander tidak akan marah padanya karena dia baru tau sekarang.
"Jangan takut, kau harus katakan kebenarannya kalau nanti kau bertemu dengannya Zee." ucap Axel seraya memegang kedua bahu Zeevana.
"Iya, jika kami bertemu lagi--saya pasti akan mengatakannya. Setelah pulang dari persentasi, saya sudah berjanji pada Aiden untuk mengatakan tentang Daddynya." jelas Zeevana.
"Bagus, kurasa waktu sudah cukup untuk menyembuhkan luka di hatimu, bukan?" Axel tersenyum bijak, pria tampan itu masih menyimpan sorot mata mendalam pada Zeevana. Pria itu masih mencintainya, meski berkali-kali cintanya di tolak.
"Pak, CEO dari Dacosta grup sudah datang." ucap seorang wanita cantik bernama Prisa, di adalah sektretaris Axelo.
"Baik. Ayo Zee, kita harus semangat menenangkan tender ini. Dacosta grup adalah perusahaan besar yang bisa membantu perusahaan kita semakin besar." ajak Axel pada Zeevana.
"Iya pak."
'Zee, kenapa kau masih saja bicara formal padaku? Kenapa kau tidak bisa menerima hatiku?' batin Axel terluka dengan sikap Zeevana yang selalu menganggapnya orang asing. Bahkan 6 tahun saja tidak cukup membuat gadis itu luluh padanya.
*****
Di sebuah ruang rapat, sebuah hotel mewah di negeri kangguru itu. Terlihat beberapa orang dari perusahaan design besar selain perusahaan Rainer design berada di sana untuk bersaing mendapatkan tender dari Dacosta grup. Perusahaan teknologi yang adidaya tersebut.
Zeevana, Prisa dan Axel sudah berada disana. Mereka berharap bahwa perusahaan Rainer terpilih untuk menangani desain perusahaan Dacosta.
Ceklet!
Pintu ruangan itu terbuka lebar, menampilkan seorang pria tampan berwibawa dengan hidung mancung dan kulitnya yang putih bersih dan jangan lupakan matanya yang berwarna abu-abu itu.
Semua orang menyambutnya dengan hormat, pria itu adalah CEO dari Dacosta grup yang akan menjadi sumber persaingan para perusahaan design disana.
"Selamat pagi pak Dacosta."
Pria itu berwajah datar, tidak menyahut sapaan dari semua orang. Hingga ada seseorang yang berhasil mencuri atensinya. Wanita itu adalah Zeevana.
Deg!
Zeevana tercekat saat melihat dengan seksama pria yang disebut sebagai CEO dari Dacosta grup itu. Dia adalah cinta satu malamnya, Xander.
'Uncle? Kenapa dia ada disini?'
Xander sendiri, dia tidak mengalihkan pandangan dinginnya pada Zeevana. Memastikan apakah benar wanita didepannya ini, adalah wanita yang sudah membuatnya gila selama bertahun-tahun.
'Jadi selama ini, kau bersembunyi disini Zeevana?'
...****...
Author mau up 1 lagi, jangan lupa komennya kakak kakak ☺️☺️☺️