One Night Stand With My Uncle

One Night Stand With My Uncle
Bab 58. Kandungan Zeevana



...πŸ€πŸ€πŸ€...


Setelah menyatakan perasaan masing-masing, hubungan Zeevana dan Xander semakin hangat saja. Antonio Dacosta juga mendesak cucunya, dia tidak sabar ingin bertemu dengan cucu menantu dan juga cicitnya yang hanya bisa dia lihat dari foto saja.


"Xander, kapan kau akan membawa Aiden dan Zeevana kemari? Kakek tidak bisa menunggu lebih lama lagi, kakek tidak sabar bertemu dengan mereka." kata Antonio dari seberang sana.


"Sebentar lagi kek, aku sedang menyiapkan surprise untuk istriku terlebih dahulu. Rencananya, sore ini aku akan menunjukkan surprise itu padanya." kata Xander berbisik-bisik saat bicara dengan Antonio di telpon.


"Baiklah, cepat lah bawa mereka kemari! Kakek tidak tahan hidup kesepian." gerutu Antonio sebal.


"Iya kek, tunggulah sebentar lagi." pinta Xander. "Dan kakek akan punya cicit baru yang lainnya," bisik Xander kemudian yang membuat Antonio terkejut bukan main di seberang sana.


"Apa maksudmu Xander? Cicit baru? Apa kau punya wanita lain dan wanita lain itu hamil?" sentak Antonio menuduh Xander.


"Oh my Gosh! Apa yang kakek katakan? Wanitaku, cintaku, istriku dan ibu dari anakku hanya satu, dia adalah Zeevana seorang saja. Kakek ini dasar... ckckck." Xander menjelaskan semua pada kakeknya bahwa hanya Zeevana satu-satunya wanita yang ia cintai dalam hidupnya.


Tanpa pria itu sadari, seseorang berada diambang pintu kamar mendengar perbincangan mereka sambil membawa nampan yang diatasnya ada secangkir teh. Dia masih berdiri disana sambil senyum-senyum sendiri.


"Kakek pikir kau mempunyai wanita lain lagi, jangan sampai kau berbuat kesalahan yang sama. Atau tidak ada ampun lagi bagimu! Kesempatan itu tidak datang dua kali, Xander. Jadi tolong hargai dan jaga apa yang kau miliki, oke?"


Begitulah Antonio Dacosta yang selalu menasehati cucunya untuk menjadi manusia yang baik, menghargai orang lain apalagi seorang wanita. Sebab wanita adalah mahluk paling mulia di muka bumi ini, mereka adalah seorang ibu dan istri. Antonio selalu mewanti-wanti Xander untuk selalu mencintainya Zeevana, wanita yang sudah bertaruh nyawa untuk melahirkan putranya.


"Iya kek, aku tidak akan pernah melakukan kesalahan yang sama lagi. Aku akan selalu mencintai istri dan anakku, selamanya sampai maut memisahkan." sahut Xander yang paham dengan nasehat kakeknya.


Ketika Xander sedang asyik menelpon, tiba-tiba saja ia dikejutkan dengan suara benda pecah. Pria itu sontak membalikkan badannya, dia menyimpan ponselnya diatas ranjang lalu berlari ke ambang pintu. Ia melihat Zeevana sudah jatuh terduduk sambil memegang perutnya dan didepannya juga ada cangkir pecah, nampan dan kopi yang sudah tumpah di lantai.


Disana juga ada Aiden dan Arsen, mereka melihat Zeevana yang kesakitan dan jatuh terduduk.


"Zee!" panggil Xander pada istrinya.


"Kak! Kakak kenapa? Maafkan aku kak, aku tidak sengaja!" kata Arsen merasa bersalah, dia memegang kedua tangan kakaknya.


"Mommy, ini salahku...maafkan aku mommy," Aiden juga meminta maaf pada ibunya. Tadi dia bermain kejar-kejaran bersama Arsen sebelum berangkat sekolah, tak sengaja Arsen mendorong Zeevana sampai wanita itu terjatuh ke meja nakas tak jauh di pintu kamar itu.


"Mommy tidak apa-apa sayang, mommy tidak apa-apa...ughh..." Zeevana memegang perutnya dan meringis kesakitan tapi tak mau membuat semua orang cemas, tadi perut Zeevana terkena ujung meja.


"Apa yang terjadi? Apa perutmu sakit, sayang?" tanya Xander begitu perhatian dan menatapnya cemas.


"Aku baik-baik saja Uncle, aku tidak apa-apa." jawabnya namun berkebalikan dengan keadaannya saat ini.


"Mommy maafkan aku!" Aiden merasa bersalah.


"Kakak, ada darah!" seru Arsen yang melihat di lantai ada darah, tepat di lantai yang diduduki Zeevana. Arsen dan Aiden mulai panik saat melihatnya, apalagi Xander.


GREP!


Dengan sigap dan cekatan, Xander menggendong istrinya ala bridal style. Dia melihat raut wajah sang istri yang pucat, Xander menebak bahwa istrinya mengalami pendarahan.


"Uncle... perutku sakit, anak kita... bagaimana anak kita?" Zeevana mengatakannya tanpa sadar, hingga Arsen dan Aiden mendengarnya.


Anak? Anak apa? Mereka berdua berpikir keras mencerna apa yang baru saja dikatakan oleh Zeevana.


"Anak kita akan baik-baik saja, mari kita pergi ke rumah sakit!" Xander menggendong istrinya dengan buru-buru. "Oh ya Arsen, aku titip Aiden, tolong antar dia ke sekolah." pesan Xander pada adik iparnya itu, lalu dia bergegas pergi tanpa menunggu jawaban Arsen. Hingga tanpa sengaja dia mengabaikan kedua mertuanya yang berada di ruang makan saat melewati ruangan itu.


Mereka melihat Xander menggendong Zeevana dengan buru-buru dan tanpa pamit. Savana dan Javier jadi khawatir melihatnya, pasti terjadi sesuatu.


"Ada apa dengan mereka hubby?" tanya Savana terheran-heran.


Tak lama kemudian Aiden dan Arsen juga berlari, hendak menyusul Zeevana dan Xander. Namun dua orang itu sudah naik ke dalam mobil yang melaju bersama supir keluarga Sanderix.


"Uncle, bagaimana ini?" Aiden menatap pamannya dengan mata berkaca-kaca. Arsen juga masih terlihat bingung, apa benar kakaknya hamil lagi? Makanya dia bicara begitu tadi. Arsen masih diam, tenggelam dalam pikirannya sendiri.


"Aiden, Arsen, ada apa? Kenapa Daddymu membawa mommymu seperti barusan? Apa mommymu baik-baik saja?" tanya Savana beruntun, karena dia sangat cemas.


"Grandma, bagaimana ini..." Aiden memeluk Savana sambil menangis, entah kenapa akhir-akhir ini Aiden menjadi manja dan cengeng. Padahal dia biasanya cuek dan jaim.


"Ada apa? Kenapa kau menangis sayang?" tanya Savana seraya mengusap lembut pipi Aiden.


Savana dan Javier sontak saja mengurutkan kening mereka ketika mendengar penjelasan dari Aiden yang masih belum mereka mengerti. Bayi? Bayi mommy? Apa maksudnya?


"Bayi mommy? Apa maksudmu, nak?" tanya Javier penasaran dan dia menginginkan penjelasan yang lebih lengkap.


Akhirnya Arsen yang menjelaskan semua yang terjadi barusan. Savana dan Javier terkejut manakala mereka mendengar cerita Arsen, mereka menebak bahwa Zeevana kemungkinan besar hamil lagi dan mengalami pendarahan. Tapi bagaimana bisa mereka tidak mengetahui tentang semua ini? Apa Zeevana dan Xander memang sengaja menyembunyikan tentang kehamilan wanita itu kepada keluarganya?


"Kalau begitu, kita harus segera ke rumah sakit." kata Savana pada suaminya.


"Iya, kita susul mereka." sahut Javier setuju dengan apa yang dikatakan oleh istrinya, bahwa mereka harus menyusul ke rumah sakit.


"Aku mau ikut!" kata Aiden dengan bibir yang mencebik.


"No! Kau harus sekolah diantar unclemu. Biar grandma dan grandpa yang menyusul ke rumah sakit." kata Savana pada cucu kesayangannya itu.


"But, Grandma...aku ingin tau keadaan mommy." rengek Aiden pada neneknya.


"Nanti grandpa dan grandma akan memberitahu padamu. Kau tenang ya, pasti semuanya akan baik-baik saja." ucap Javier seraya tersenyum pada Aiden. Pria yang sudah berumur itu, masih tampak gagah dan muda tak kalah dari anak muda. Wajahnya masih tampan, meski di rambutnya sudah ada beberapa uban terlihat.


Aiden pun menuruti ucapan kakeknya, dia pergi bersama Arsen ke sekolah dengan terpaksa. Meski dalam hati dia sangat mencemaskan keadaan Mommynya.


Setelah melalui perjalanan selama kurang lebih 15 menit, akhirnya Aiden dan Arsen sampai didepan sekolah dasar Chicago. Ya, setelah Zeevana memutuskan untuk menetap di Chicago, Aiden juga dipindahkan sekolah kesana.


"Uncle, aku mencemaskan mommy."


"Uncle pun sama, tapi--uncle percaya bahwa mommymu baik-baik saja." kata Arsen berusaha untuk berpikir positif tentang Zeevana. "Ya sudah, masuklah! Nanti kau terlambat, belajar yang benar ya!" pesan Arsen seraya tersenyum pada keponakannya itu.


Aiden mengangguk pelan lalu pergi masuk ke dalam lingkungan sekolahnya. Dia menundukkan kepalanya dan terlihat murung. Tak lama kemudian, seseorang menghampiri Aiden sambil memberikan permen lollipop padanya.


"Aiden, ini untukmu!" seru Natasha seraya tersenyum ceria pada anak laki-laki itu. Natasha juga sekolah disana dan dia tinggal bersama dengan Jonas karena kedua orang tuanya tidak mau mengurusnya. Tessa dan Dave mengacuhkannya anak itu.


"Jangan ganggu aku." kata Aiden datar, lalu terus berjalan melewati Natasha.


"Kau harus bawa dulu permennya, Aiden. Agar kau bisa tersenyum." Natasha tersenyum lebar, dia tidak menyerah untuk memberikan Aiden permen lollipop itu.


"Aku tidak mau." tolak Aiden dengan dingin.


"Disimpan dulu saja, kau bisa memakannya nanti. Rasanya sangat enak dan meledak-ledak di mulut." Natasha tetap memaksa Aiden untuk menerima permen pemberiannya. Gadis kecil itu menyimpan permen lolipop yang dia berikan ke saku baju seragam Aiden.


"Ish." dengus Aiden kesal.


"Oh ya Aiden, kenapa kau diantar oleh unclemu? Mommy dan Daddymu mana?" tanya Natasha yang tadi melihat Aiden diantar oleh Arsen dan Aiden terlihat murung.


"Bukan urusanmu." kata Aiden ketus.


"Ayolah Aiden, katakan padaku! Kau bisa cerita apa saja." kata Natasha ceria. Gadis kecil itu ingin berteman dekat dengan Aiden, namun Aiden selalu menolak dirinya. Mereka berdua pun masuk ke dalam kelas karena bel sudah berbunyi.


****


Di rumah sakit, Zeevana baru saja selesai di periksa oleh salah satu dokter kandungan di rumah sakit itu. Sebab Alice sedang tidak ada, maka temanya yang memeriksa kondisi Zeevana.


"Bagaimana keadaan istriku dan kandungannya dokter?" tanya Xander pada dokter itu.


"Untung saja kau cepat membawanya ke rumah sakit, dokter Xander. Sehingga pendarahannya masih bisa dihentikan dan janinnya tertolong." jelas dokter wanita paruh baya itu sambil mengoleskan gel ke perut datar Zeevana dengan hati-hati. Dia menatap layar monitor.


"Huft...syukurlah." Zeevana dan Xander menghela nafas lega, karena anak mereka di dalam sana ternyata baik-baik saja.


"Tapi ada satu hal lagi yang harus saya sampaikan, ini penting." kata Dokter itu sambil menarik tangannya dari perut Zeevana. Dia telah selesai memeriksa.


Zeevana dan Xander menatap dokter itu dengan cemas. Lalu dokter itu pun mulai berbicara, dia mengatakan bahwa kandungan Zeevana cukup lemah karena sebelumnya Zeevana pernah mengalami pendarahan hebat saat melahirkan. Xander cemas, dia tidak tahu tentang ini dan langsung bertanya pada istrinya.


"Honey, apa dulu saat melahirkan Aiden--kau mengalami pendarahan hebat?"


"Ya, aku mengalami pendarahan sampai aku sempat koma." jawab Zeevana seraya menundukkan kepalanya. Xander yang baru mengetahui semua ini terlihat sangat cemas, apalagi saat dokter mengatakan bahwa kandungan Zeevana lemah.


...****...