
...πππ...
Alice dan Axel melihat Xander dengan miris. Pria yang berstatus sebagai seorang suami dan dokter kepala di rumah sakit itu, terlihat seperti tidak ada apa-apanya dihadapan Javier dan Savana. Mereka paham kenapa Javier dan Savana bersikap seperti ini, orang tua mana yang tidak akan terluka dan hancur hatinya bila melihat putri mereka disakiti sedalam ini. Bahkan sampai kecelakaan dan sekarang dalam keadaan koma.
"Kak Alice, apa Zee akan baik-baik saja? Apa dia dan bayinya akan selamat?"
"Axel, aku bukan Tuhan." sanggah Alice cepat.
"Aku bukan bertanya pada Tuhan kak, aku bertanya padamu. Pendapatmu sebagai seorang dokter kepada pasiennya. Dia dan bayinya, akan baik-baik saja kan?" tanya Axel penasaran dan cemas tentang keadaan Zeevana. Alice tau benar kalau adik sepupunya itu sangat menyukai Zeevana, meski pria itu mengetahui bahwa gadis pujaannya sudah menikah dan sedang hamil. Namun semua itu tidak mengurangi rasa suka Axel padanya. Bukankah setiap orang berhak untuk mencintai? Asalkan tidak terobsesi dan tidak memaksakan, cinta dalam diam saja sudah cukup untuk Axel.
"Aku tidak tahu Axel, namun melihat cedera kepalanya yang parah. Aku tidak yakin dia akan bangun dalam waktu 3 hari, kandungannya juga sangat lemah. Dan apa kau tau--jika dia tidak bangun dalam waktu 3 hari, aku harus mengeluarkan janin itu dari rahimnya." Alice menjelaskan dengan hati sedih. Axel yang mendengarnya, sangat terkejut dengan penjelasan Alice. Ternyata apa yang dialami Zeevana sangat menyakitkan.
****
2 hari berlalu, Zeevana gadis itu masih terbaring di atas ranjang rumah sakit dan belum menunjukkan tanda-tanda dia akan siuman. Selama 2 hari itu, Savana dan Javier selalu melarang Xander untuk menjenguk Zeevana. Besok adalah hari terakhir dimana Alice akan mengeluarkan janin dari rahim Zeevana, bila gadis itu masih belum bangun dari komanya.
Demi melihat keadaan istrinya sendiri, pria itu rela menunggu sampai semua orang pergi terlebih dahulu. Dia dibantu oleh Darren, adik dari Zeevana. Bagaimana pun juga Xander masih berstatus suami sah dari Zeevana.
"Terima kasih Dare, kau sudah mengizinkan uncle bertemu dengan Zee." kata Xander pada adik iparnya itu.
"Aku tidak akan bercerai dengan kakakmu, aku akan mempertahankan pernikahan kami." ucap Xander menepis perkataan Darren tentang perceraian. Sumpah demi Tuhan, ia tidak mau bercerai dengan gadis itu.
"Bercerai atau tidak, itu urusan uncle dan kakakku nanti. Tapi sepertinya--tidak akan mudah." kata-kata Darren sempat meruntuhkan semangat Xander, apalagi sekarang tidak ada orang yang mau mendukungnya. Baiklah, ini memang pantas dia dapatkan. Namun Xander yakin, ketika ia meminta kesempatan kedua pada Zeevana. Gadis itu pasti akan memberikannya.
Xander pun masuk ke dalam ruangan Zeevana setelah mendapatkan izin dari Darren dan tentunya tanpa sepengetahuan kedua orang tua mereka.
"Sayang, aku datang." pria itu mendudukkan tubuhnya diatas kursi, tepat disamping ranjang dimana istrinya terbaring disana. Tangannya menggenggam tangan cantik yang ada selang infus terpasang disana.
"Sayang maafkan aku, maaf atas khilafku di malam itu. Aku tidak bermaksud mengkhianatimu dan anak kita. Aku benar-benar tidak sengaja berhubungan dengannya. Bukannya aku tidak mau jujur, aku hanya tidak mau menyakitimu dan anak kita. Tapi aku salah, rupanya kebohonganku lebih menyakitimu dan anak kita. Maafkan aku Zee...izinkan aku egois selalu lagi, kumohon berikanlah aku kesempatan untuk mempertahankan rumah tangga kita berdua. Sekarang...aku sadar bahwa aku mencintaimu, aku sudah tidak ada perasaan apapun padanya. Sejak malam itu, perasaanku padanya sudah hilang. Sungguh Zee, aku bersumpah...aku menyesal sudah menyakitimu...izinkan aku memperbaiki semuanya." pria itu menundukkan kepalanya, ia menangis sampai air matanya mengalir deras membasahi punggung tangan gadis itu. "Kumohon....bangunlah, demi aku...demi anak kita... izinkan aku menebus semua air matamu dengan senyuman."
Tanpa ia sadari, si cantik membuka matanya dan menatap kearahnya dengan mata berkaca-kaca. Setelah Xander kembali mengangkat wajahnya untuk melihat Zeevana, gadis itu segera menutup matanya dan berpura-pura tidur.
Xander mengusap lembut wajah Zeevana, kemudian memberikan forehead kiss untuk sang istri. Setelah hampir satu jam berada disana, Xander keluar dari sana sebab ia ada jadwal operasi di ruangan lain. Tak berselang lama kemudian setelah Xander pergi, Zeevana membuka matanya kembali dan meneteskan buliran air hangat dari kedua matanya itu.
"Maafkan aku, kesempatan itu tidak ada untukmu...uncle...aku bisa memaafkanmu, tapi aku tidak bisa melupakan rasa sakit di hatiku. Maaf karena aku egois, aku hanya tidak mau sakit hati. Bahkan aku tidak tahu saat ini kau tulus padaku atau tidak." gumam Zeevana yang sudah memutuskan sebuah keputusan besar dalam rumah tangganya.
...*****...