One Night Love With CEO

One Night Love With CEO
Bab 99



Bagian terindah dalam diri kamu adalah berada di bawahku.


Kevin~


***


Kevin, saat Melia mengangguk begitu saja tanpa pemberontakan. Tidak lama lagi, ia mulai melancarkan aksinya, memakas jarak dan menatapnya lama dengan hidung menempel tanpa sekat. Hembusan napas hangat menerpa, Melia rasa ini adalah tugas pertamanya sebagai istri dan dia hanya bisa menurut saat Kevin berusaha menggagahinya.


Sentuhan-sentuhan lembut dapat Melia rasakan, menghantarkan gelenyar-gelenyar aneh dalam tubuh hingga tanpa sadar tangannya mengalung begitu saja di leher Kevin.


Kevin terkekeh pelan melihat respon Melia, dia belai anak rambut yang mulai berantakan di wajah Melia karena ulahnya.


"Maaf, sudah menyakitimu." Kata itu terlontar begitu saja. Melia mengangguk, ia bahkan tak sanggup berkata saat Kevin terus mengusik area lehernya dan semakin turun.


"Kev, apa tidak apa-apa melakukannya?"


"Entah, tapi aku akan hati-hati agar tidak membuatnya sakit," ucap Kevin mengulas senyum seraya mengusap perut datar Melia.


Melia tidak tahu harus berekspresi seperti apa, ia malu saat dengan perlahan dan gerakan lembut tangan Kevin membuka kain penutup terakhirnya tadi. Hingga permukaan kulit hangat tubuh Kevin menempel, dan itu membuatnya sesak.


Perlahan wajah Kevin mulai turun, menyusuri perut Melia dan berhenti lama disana. Kevin tersenyum simpul, ia semakin tak sabar melihat anaknya.


"Aku mulai." Kevin mulai menerobos masuk, tidak mudah akan tetapi juga tak sesulit yang pertama, begitu kira-kira. Sementara Melia, mencengkam punggung Kevin dengan kuat, kedua kalinya dan terasa menghujam.


"Masih sangat sempit ya," goda Kevin.


"Ck!"


"Ayo sebut namaku." pinta Kevin seraya menaik turunkan tubuhnya.


"Heumm..."


"Kev..."


"Mel..."


"Aku sudah mau sampai," ujar Kevin.


"Kemana?"


"Kamu terlalu polos, Mel. Dan aku suka, aku suka semuanya, Melia yang polos, bar-bar jugaa berisik," ucap Kevin.


"Eum, Kev."


"Jangan pernah tinggalin aku," bisik Kevin, setelah menghentakan sisa tenaga akhirnya untuk mencapai puncak nik mat. Ia memeluk Melia dan memberikan ciuman bertubi-tubi di pucuk kepala.


***


Setelah puas menikmati malam pengantin di hotel tempat mereka menggelar resepsi, Kevin mengajak Melia menyambangi rumah kakeknya di pagi hari.


"Ingat untuk menegakkan pandanganmu, kamu sekarang istriku Mel, nyonya CEO sesuai keinginanmu."


"Ck, berhentilah menyidirku Kev." Melia mengalungkan tangannya di lengan kekar milik Kevin, mereka berjalan beriringan memasuki rumah utama dimana sang kakek duduk bersantai menunggunya.


"Pagi, Kek." Sapa Kevin, ada yang berbeda hari ini lantaran Kevin lebih banyak tersenyum, jelas karena ia sudah mendapatkan Melia seutuhnya.


Melia pun melakukan hal yang sama, menyapa kakek Kevin yang artinya sekarang menjadi kakeknya juga.


"Pagi kalian, selamat atas pernikahannya. Kakek masih tak menyangka, kamu yang notabenenya anti mengenal cewek malah sudah menikah." Louis tersenyum haru.


"Kamu benar-benar laki-laki yang bertanggung jawab, Kev! Kakek harap baik kamu atau Melia akan tetap sama-sama sampai tua, jangan ada saling menyakiti, atau berpaling, jika ada masalah selesaikan dengan kepala dingin." nasihat Louis.


"Kakek tenang saja, apapun yang terjadi baik aku maupun Melia akan menyikapinya dengan kepala dingin. Aku tidak akan membiarkan celah sedikit pun untuk orang lain masuk ke dalam rumah tangga kami."


"Kev..." bisik Melia. Kevin tahu istrinya itu tak nyaman berada di rumah kakeknya jika berhadapan dengan Gio, antara malu, ingin tertawa sekaligus merasa bersalah di saat yang bersamaan.


"Ehm, karena Mama dan Papa tidak ada. Maka aku dan istriku tak akan lama, Kek. Kami mau mampir ke rumah Melia juga." Pamit Kevin.


Louis menyodorkan sebuah kunci.


"Apa ini kek?" tanya Kevin.


"Kunci rumah, kalian tinggal menempatinya. Pengantin, tak akan nyaman tinggal di apartemen."


"Hm, tapi kan..." terhenti dan kini mereka saling pandang.


"Kalian bisa menempatinya kapan-kapan, semau dan senyaman kalian saja." bujuk Louis.


"Baiklah Kek, terima kasih banyak." Melia tersenyum manis, keluarga Kevin baik sebenarnya. Tapi entah karena hal apa, suaminya itu harus berseteru dengan Gio, pamannya.


Mereka berpamitan, Melia dan Kevin keluar dan mendapati Gio berjalan ke arahnya.


"Selamat ya kalian, semoga junior kamu nggak loyo berhadapan dengan gadis kecil ini." Gio berkata sambil mengedipkan mata ke arah Melia menggoda.


"Istri? hahaha... Tapi aku tertarik dengannya, tak peduli dia istrimu, bahkan jika ibu dari anak-anakmu," ucap Gio membuat Melia menatapnya tajam.


"Jaga bicaramu Paman, sepertinya pelajaran dariku satu bulan yang lalu masih belum cukup!" Melia bersuara, dan hal itu yang membuat Gio terkejut sekaligus menggelap.


"Maksudnya?" tanya Gio tak mengerti.


"Ck! Maksudnya adalah saat seseorang menendangmu di toilet bar, apakah kau tahu orangnya?" tanya Melia.


Gio dibuat tekejut dengan mata membulat sempurna, ia sudah menduga Kevin berada dibalik ini semua.


"Kau tahu?"


"Tentulah dia tahu, istriku yang melakukannya. Haha, bukankah itu bagus? istriku memang hebat, dan kamu paman? berharap dia mau tergoda olehmu? bahkan Melia memergoki dirimu berkencan dengan istri orang di bar, jangan berharap Melia akan tergoda karena hal itu tidak akan pernah terjadi."


"Hah?" Gio masih tercengang tak percaya, kini hancur sudah imagenya di depan Melia. Dan sudah pasti, niatnya merebut tidak akan pernah terlaksana.


"Oh oke, baiklah. Aku minta maaf telah merusuh di kehidupan kalian, aku sebenarnya hanya sedikit iri kepada Kevin dan memberinya pelajaran, itu saja. Masalah di bar, tolong jangan ungkit ke siapapun!" mohon Gio.


"Selama Paman tidak berulah, aku rasa kita juga tidak akan melakukannya, bukankah bagaimanapun kita saudara." Kevin menarik tangan Melia dan mengajaknya berlalu dari sana.


Gio mematung, ucapan Kevin selalu saja menohoknya, ya bagaimanapun mereka adalah saudara bukan?


Kevin menganggapnya saudara.


***


Sesampainya di rumah, Melia langsung menghambur ke pelukan Sintia dan menangis haru. Kevin menyaksikannya tak bisa berkata apa-apa, ia jadi berandai. Andai hubungannya dengan kedua orang tua seintim itu, mungkin akan sangat membahagiakan. Sejak mengenal Melia, semakin kesini Kevin semakin sadar bahwa bagaimanapun buruknya keluarga, mereka adalah tempat kembali, tempat kita menemukan kenyamanan dari perasaan resah, tempat kita mengadukan semua beban karena setelah jujur dengan keluarganya perasaan akan berubah lega seketika.


"Kamu baik-baik saja kan, nak? Melia Kevin, ayo makan dulu, ibu masak sesuatu hari ini."


"Ibu..." Melia semakin tak kuasa menahan kembali tangisnya. Biasanya jika ada dia, Melia akan membantu apapun pekerjaan rumah dan sekarang ia harus meninggalkan Sintia, ah tidak!


"Aku nggak mau pisah sama Ibu, Kev." Rengek Melia.


"Ish gak boleh gitu, Mel. Kamu kan sudah nikah, bagaimanapun harus nurut sama suami." Sintia tersenyum, ia tahu putrinya sudah berusaha menjadi kuat selama ini. Tapi, Sintia tak ingin menjadi penghalang kebahagiaan mereka, kehidupan mereka.


"Siapa yang mau misahin kamu sama Ibu? Nggak kok, justru aku mau minta sama ibu untuk tinggal sama kami. Rumah yang diberikan kakek besar sekali, tidak mungkin hanya kita berdua yang akan menempatinya?"


"Ah, iyakah? Ibu mau?" tanya Melia.


"Mau, tapi tidak hari ini ya nak. Ibu pasti mau, hanya saja besok Karina akan kesini sama..." Sintia melirik Kevin, besok adalah hari minggu Karina akan datang bersama asisten Kevin, tapi apakah Kevin sendiri mengetahui hubungan mereka?


"Oh, Karina sama Papa kesini. Yaudah gak papa, Bu. Nanti kapannya biar Kevin yang jemput ibu."


"Iya, Bu. Kapanpun, Ibu siap Kevin akan menjemput ibu," ucap Kevin penuh keyakinan.


Sintia pun tersenyum senang, ia lantas mengajak anak-anaknya menuju meja makan yang disana sudah tersedia masakan rumahan.


"Keliatan enak banget ini, Bu." puji Kevin.


"Makan yang banyak, kalian kan pengantin baru harus banyak tenaga." goda Sintia dengan senyum.


"Ish Ibu, gak gitu juga konsepnya." cibir Melia.


"Ibu benar kali, Mel." bela Kevin, dan Melia hanya bisa pasrah. Kevin makan dengan lahap, sementara Melia menjaga imagenya agar terlihat kalem di depan suami. Sintia yang melihat hal itu pun terkekeh geli, putrinya memang sangat jaim.


Setelah mengobrol dan menikmati waktu di rumah mertuanya, Kevin akhirnya mengajak Melia pamit. Malam ini mereka akan tidur di apartemen milik Kevin, barulah besok melihat rumah baru.


"Ehm, sebelum pulang kayaknya aku pengen makan, Kev!"


"Serius makan lagi?" tanya Kevin tak percaya pasalnya satu jam yang lalu mereka habis makan.


"Hehe iya, anak kamu nih bawaannya ngajak makan melulu gak tau apa mamanya takut gendut."


Kevin terkekeh, "tapi ini bukan jadiin anakku alasan doang kan Mel?"


"Ih, enggak. Emang laper, laper datangnya dari perut nah di perut aku itu ada anak kamu tau."


"Hahahaha." Kevin tak bisa menahan tawa.


"Teori dari mana itu?" tanya balik Kevin.


"Dari Nyonya Melia dong."


"Dasar kamu, jadi gemes aku pengen ngarungin."


Malam itu, tiba-tiba Melia ingin makan nasi padang, alhasil Kevin hanya bisa menuruti. Dan yang membuat Kevin terkejut adalah saat Melia memesan porsi jumbo dan menandaskannya dengan lahap.


.