One Night Love With CEO

One Night Love With CEO
Bab 95



Tidak masalah, jika kamu masih meragukan perasaanku! Aku hanya perlu pelan-pelan, asal kamu di sisiku kelak cinta itu akan datang sendirinya.


Dan aku akan membahagiakanmu dengan versi terbaikku.


~Kevin Reyhan Louis.


"Lihatlah pipimu sampai memerah," ucap Kevin dengan gerakan tangan mengusap lembut pipi Melia.


"Ish, enggak. Kamu kok jadi hobi banget ngeledekin aku."


"Aku gak ngeledek, aku cuma gemes aja lihat ekspresi kamu." Kevin mengulum senyum.


"Hm, iya iya."


"Kita makan dulu ya, keburu dingin makanannya aku juga takut anakku kelaparan di dalam."


"Ck!" ingin rasanya Melia berdecak. Bukan kesal, melainkan sejujurnya ia tak bisa menahan godaan Kevin. Laki-laki itu terlihat manis akhir-akhir ini.


Melia dan Kevin pun akhirnya menikmati makan malam bersama di balkon yang sudah Alan persiapkan spesial. Karena Kevin memang ingin membahas pernikahannya di ruang privasi yang tentunya nyaman. Rasanya balkon apartemen mewah dengan pemandangan Jakarta di malam hari cukup menarik. Ia bisa merasakan sepi juga keramaian di waktu yang sama.


"Kamu yang nyiapin ini semua?" tanya Melia saat selesai makan, perutnya kenyang hingga menghadirkan rasa nyaman. Mendadak ia menjadi rakus jika di depan Kevin karena nafsu makannya melipat.


"Bukanlah, Alan yang menyiapkan ini semua."


"Sudah ku duga." Melia terkekeh, karena meski Kevin sudah dewasa, mana mungkin seorang CEO mau direpotkan ini itu.


"Heh, kamu sedang membatin ya? jangan karena apa-apa aku sama Alan jadi kamu berfikir aku gak bisa apa-apa, salah satu keahlianku kamu sudah tahu." Kevin menyeringai.


"Kamu tau aku sedang membatin, Kev? Ck! keahlian apa memangnya yang dimiliki Tuan CEO yang tampan ini?" Melia memajukan wajahnya, menjadikan tangan sebagai penompang dagu lalu tersenyum sangat manis.


"Apalagi, hehehe." Kevin menyeringai, lalu melakukan hal yang sama bahkan kini wajah mereka hanya berjarak beberapa senti.


"Apa, hm?" tantang Melia.


"Membuatkanmu anak, itu keahlianku yang sudah terbukti." bisik Kevin.


Melia langsung terdiam.


Hahahaha...


Kevin tertawa, karena ia berhasil membuat wajah Melia memerah bak udang rebus.


"Kamu ini ya, aku pindahin nih ke perut kamu." ancam Melia.


"Hehe, jangan dong. Nanti yang cari nafkah siapa kalau aku yang hamil?"


Keduanya pun terkekeh bersama.


Kevin mengajak Melia ke ruang tamu, menunjukan satu persatu hotel rekomendasi dari Alan untuk pernikahan mereka, juga beberapa desain baju pengantin dan konsepnya.


"Kamu pilih yang kamu suka, kamu mau yang mana hm?"


"Kev, aku terserah kamu aja. Aku apapun mau," ucap Melia yang merasa tidak enak lantaran semua yang menjadi pilihan memang bagus semua.


Kevin menggeleng-gelengkan kepala heran.


Disaat semua wanita ingin menuntut ini itu saat menikah, Melia justru sangat sangat berbeda. Mendadak Kevin jadi teringat bahwa ia pernah berasumsi jika Melia adalah wanita matre yang hanya menginginkan harta. Tak disangka, ia benar-benar salah menilainya, Melia adalah gadis polos meski sedikit bar-bar dalam bertingkah.


"Kamu cukup tunjuk aja yang mana, atau mau kita lihat hotelnya satu-satu? Dan gaun pengantinnya, kita bisa ke butik besok."


"Kev, ini seperti mimpi tahu." Melia menatap Kevin lekat-lekat.


"Awww, kok dicubit." protes Melia mengusapi pipinya.


"Sudah percaya kan kalau bukan mimpi?" ledek Kevin, Melia menekuk wajahnya akan tetapi sejurus kemudian tersenyum mengiyakan.


***


Esoknya, Kevin menjemput Melia untuk ke butik. Ia sengaja tidak datang ke kantor karena ingin mengajak Melia fitting baju lalu mengenalkan Melia kepada keluarganya setelah pulang nanti.


"Sudah siap?" tanya Kevin yang duduk di ruang tamu.


"Sudah, Kev. Ayo?"


"Tante, saya izin bawa Melia dulu ya." pamit Kevin, lalu mencium punggung tangan Sintia. Begitupun juga Melia. Bersyukur kondisi Sintia semakin baik hingga Melia tak perlu khawatir lantaran Kevin meminta pengawal berjaga selama ia membawa Melia.


"Ayo?" Kevin membukakan pintu mobil yang disambut dengan senyum oleh Melia.


Tak butuh waktu lama, mobil sport itu melaju meninggalkan gang dimana rumah Melia berada.


"Aku gugup, bagaimana kalau keluargamu tak menyukaiku," gumam Melia seraya menautkan kedua tangannya.


"Aku akan menggenggam tanganmu agar lebih tenang," ucap Kevin tersenyum menggoda.


"Ish bukan itu, Kev! Bagaimana kalau aku ditolak? aku sama kamu itu berbeda, terlebih dengan keadaan keluargaku yang..."


"Stttt..."


Kevin menghentikan mobilnya, menempelkan jari telunjuknya di bibir Melia.


"Apa kamu akan menyerah sebelum berperang? Apapun yang aku inginkan, tidak ada satu orang pun yang bisa membantah termasuk keluargaku. Bukankah kamu calon nyonya CEO? menjadi nyonya CEO harus mempunyai tingkat percaya diri yang tinggi karena aku tidak suka kamu bersikap pesimis seperti ini. Orang tuaku bukan orang tua yang kejam seperti novel-novel yang memandang setiap wanita dari satu sisi. Kamu tahu, mamaku pernah menjodohkanku dengan Laras? Tapi keinginannya itu bukanlah hal yang wajib aku lakukan, karena setiap orang punya pilihan."


"Tapi, bagaimanapun..."


"Tegakkan kepalamu mulai sekarang."


"Baiklah."


Meski begitu, Melia tetap dilanda khawatir dan Kevin terlihat tenang dengan pandangan fokus pada jalan.


"Kita ke butik dulu, Mel. Ayo turun kita sudah sampai."


"Hah, sampai?" Melia menoleh, benar saja tampak sebuah butik brand ternama di depan mata.


"Ayo, kamu pasti akan sangat cantik dengan baju pengantin."


"Kau membuatku besar kepala akhir-akhir ini," ucap Melia.


"Hm, dan inilah aku sebenarnya." jawab Kevin, lalu membukakan pintu mobil untuk Melia.


"Selamat pagi Tuan muda Louis, Nona! Manager sudah menunggu anda di dalam." sapa seseorang karyawan membungkuk hormat.


Melia tertegun, baru selangkah masuk ia sudah dibuat berdecak kagum.


"Terima kasih."


Kevin mengajak Melia menemui manager butik, setelah saling sapa akhirnya manager membawa Kevin juga Melia menuju ke sebuah ruangan. Lagi dan lagi Melia dibuat kagum lantaran manager butik membawanya ke ruang dimana ada banyak baju pengantin edisi terbaru dan sangat berkelas.


"Ini adalah koleksi terbaik kami, Tuan. Anda dan calon istri anda bisa mencobanya, mana yang cocok."


Kevin mengangguk.


"Kamu mau yang mana, Mel?" tanya Kevin, tapi si empu justru mematung tanpa sepatah kata.


"Mel..."


"Eh, iya ya yang mana aku bingung."


"Anda punya rekomendasi untuk calon istri saya?" tanya Kevin kepada manager.


"Suatu kehormatan tuan, saya akan coba memperlihatkan satu persatu."


"Yang ini bagaimana?" Melia mencoba gaun pertama.


"Jangan, dadanya terlalu terbuka." protes Kevin.


"Kalau yang ini?" tanya Melia di gaun kedua.


"No, punggungmu keliatan sayang."


Melia menghela napas kesal.


"Bukankah tadi ia bilang pilih mana yang ku mau? heh, kenapa jadi begini?" batin Melia.


"Yang ini?" tanya Melia dengan ekspresi menekuk wajahnya kesal.


"Kamu sangat cantik Mel. Tapi aku takut pas acara jadi cuma fokus ke kamu."


"Hm."


"Bagaimana denganku?" tanya Kevin yang ikut mencoba jass senada dengan gaun pengantin yang dipilih Melia.


"Kamu jelek," ucap Melia menahan tawa.


"Hah?" Kevin bengong.


"Aku bercanda hehe. Kamu pakai apapun keren." puji Melia seraya mengacungkan dua jempolnya. Mereka pun selesai fitting baju, Kevin mengajak Melia melihat-lihat.


Tanpa Melia sadari, Kevin membelikan beberapa gaun yang sempat menarik perhatian Melia.


"Kev, seingatku ini gaun yang aku pegang tadi.


?" tanya Melia setelah masuk ke dalam mobil.


"Iya memang, kenapa kamu diam aja?" tanya Kevin.


"Karena harganya aja nggak murah, ini sih gajiku satu tahun juga gak akan cukup."


"Benarkah?" tanya Kevin, Melia mengangguk.


"Kelak, aku akan pastikan kamu tidak kekuarangan apapun."


Melia membeku, perkataan Kevin benar-benar menyihirnya. Simple dan terasa manis, kadang Melia bertanya apa itu semua karena rasa cinta?


***


Rumah keluarga Louis.


Kevin baru saja sampai dan memarkirkan mobilnya. Melia menatap tak berkedip bangunan mewah dengan tiga lantai juga pekarangan yang luas. Mendadak tubuhnya membeku tak bisa bergerak, akan tetapi dalam hati ia sedang merapalkan doa demi mengurangi kegugupannya.


"Akhirnya kalian datang juga." Sambut mama Kevin dengan sumringah. Melia menatap diri, dress seharga 800rb melekat di tubuhnya, apa ia terlihat jelek? atau kampungan?


"Siang Tante, Om." sapa Melia mengulurkan tangan kepada orang tua Kevin.


"Siang sayang, panggil Mama ya. Kamu kan sebentar lagi jadi istrinya Kevin."


"Iya, panggil saya Papa juga," ucap Papa Kevin.


"Ck! benar-benar ya kalian." desis Kevin.


"Ayo masuk, Mel. Aku kenalkan kamu sama kakek." ajak Kevin.


"Sana, Kev! jangan lama-lama, mama juga pengen mengenal dekat Melia."


"Iya iya, Ma." Jawab Kevin sambil menarik tangan Melia.


Kevin mengajak Melia bertemu dengan Louis. setelah mencari kemana-mana, rupanya sang kakek sedang di teras samping bersama Gio. Tampak Louis marah. Namun, terhenti saat Kevin datang membawa Melia.


Deg!


Melia tertegun.


"Dia beneran pamannya Kevin kah? Sial kenapa dunia ini sempit sekali." batin Melia.


LIKE KOMEN, DAN VOTE GIFTNYA GUYS😊🤗😚