
"Ehm," Melia berdehem, ia memalingkan wajah karena tiba-tiba sikap Kevin berubah lebih lembut.
"Tidak sakit, aku sudah terbiasa dari kecil. Dari kecil hidupku sudah sangat keras, aku harus menjadi orang yang kuat untuk diriku sendiri juga ibuku. Aku sudah sering berantem, dan luka ini cuma luka biasa," ucap Melia, meskipun sebenarnya sekujur tubuhnya terasa sakit semua.
"Apakah dari kecil, kamu sudah suka mencari masalah?" tanya Kevin.
"Bukan mencari masalah, aku hanya membalas orang yang menindasku juga ibuku," jawab Melia membela diri.
"Hm, aku setuju denganmu!" Tiba-tiba Kevin teringat dengan mamanya, mama yang ingin selalu ia lindungi tapi malah menorehkan luka terdalam di hati Kevin, itulah sebabnya ia bersikap dingin dan tak mengenal perempuan.
Kevin bisa melihat jikalau Melia sedang berusaha terlihat baik-baik saja, dan tetap menampilkan senyum. Kevin hendak menyentuh wajah Melia akan tetapi dengan cepat tangan Melia memegangnya.
"Jangan, ini ehm."
"Ck!" Kevin berdecak. Namun, dengan bibir menahan senyum, ia bisa melihat rona merah di pipi gadisnya meski penuh lebam, Kevin pun kembali melajukan mobilnya.
Namun, Kevin bukanlah orang yang tak memiliki hati nurani. Meskipun Melia tak mengeluh, bukan berarti ia tak peka.
"Aku akan mengantarmu pulang, tapi sebelum itu aku akan membawamu ke rumah sakit untuk mengobati luka-luka itu," ucap Kevin.
Melia tertegun, akan tetapi sejurus kemudian ia teringat sesuatu.
Melia memegang tangan Kevin, hingga membuat laki-laki itu kembali menghentikan mobilnya.
"Bisakah aku minta tolong, bilang sama ibuku kalau aku sedang bersamamu beberapa hari kedepan, jangan sampai ibu tahu kalau aku babak belur begini karena aku nggak mau buat ibu sedih dan drop lagi," ucap Melia memohon. Kevin tampak berfikir kemudian menggeleng.
Melia menekuk wajahnya mendengar penolakan Kevin, "kenapa?"
"Aku tidak terbiasa berbohong." elak Kevin.
"Tapi ini kan demi kebaikan," gerutu Melia, mendengar alasan Kevin yang tidak terbiasa berbohong membuatnya teringat sesuatu.
Melia masih teringat saat melihat Kevin bersama dengan seorang perempuan di toilet bar, Kevin pernah bilang pada Laras bahwa wanita itu sama sekali tak pantas untuknya, apa sekarang Kevin sudah tobat? Apa hal itu tidak bisa disebut berbohong?
Melia kembali dilema, melihat sikap Kevin padanya dan mengaitkan hal-hal yang pernah Melia lihat apa itu semua kebetulan.
"Tidak mungkin, kalau kamu tak terbiasa berbohong! Pasti ada alasan lain."
"Ck! Aku ingin melihat kamu dihajar ibumu." jawab Kevin membuat mata Melia seketika terdiam, perasaan suka karena Kevin hari ini begitu melindunginya pun mulai menguar.
Tak terasa mobil Kevin sudah memasuki gerbang rumah sakit, Melia yang sedari tadi diam pun mendongkak dan terkejut. Rupanya laki-laki itu benar membawanya ke rumah sakit untuk mengobati luka. Meski begitu, Melia tetap menekuk wajahnya karena Kevin menolak berbohong pada ibunya.
"Ayo," Setelah keluar, Kevin memutar tubuh dan membukakan pintu untuk Melia, tangannya sudah siap menyambut gadis itu.
Mau tak mau, Melia pun mengulurkan tangan terlebih ia begitu kesusahan turun karena kakinya juga sakit akibat terkena senapan bius.
"Pelan-pelan," ucap Kevin, Melia mengangguk. Dengan perlahan laki-laki itu mengamit tangannya berjalan menyusuri parkiran yang hanya diterangi cahaya lampu temaram.
"Sepi ya," gumam Melia menatap sekeliling.
"Ya sepi, orang kita datangnya udah mau pagi."
Mereka pun melewati lorong menuju meja resepsionis.
"Permisi Tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya suster yang berjaga.
"Ini," Kevin menunjuk wajah Melia, tanpa bertanya suster itu pun mengerti maksud perkataan Kevin.
"Mari ikut saya," ucap susternya dengan ramah. Melia pun menurut, sedangkan Kevin mengurus administrasinya lebih dulu.
"P-Pak Ke..."
"Iya, urus semuanya!" ujar Kevin menyodorkan kartu black card.
Perawat itu mengangguk lantas segera memprosesnya, setelah selesai ia menyusul Melia. Kevin berdiri diambang pintu kala seorang suster sedang membersihkan luka.
Melia hanya mengangguk pasrah, sementara di bawah cahaya lampu yang terang Kevin bisa melihat wajah Melia yang penuh lebam.
"Dia tetap cantik meskipun wajahnya begitu," batin Kevin dalam hati yang memperhatikan luka Melia.
Kevin baru sadar kalau Melia masih mengunakan seragam kerjanya, membuat Kevin mengerutkan alis karena Melia menggunakan pakaian berjass serba hitam.
"Apa benar dia pelayan bar?" tanyanya dalam hati.
Tak berselang lama, dokter Revan masuk dengan membawa beberapa obat di tangan.
"Melia," ucap dokter Revan tak kalah terkejut, akan tetapi yang lebih mengejutkan adalah orang yang bersama dengan Melia.
"Pak Kevin?"
Melia hanya mampu meringis menyaksikan keterkejutan dokter Revan, sementara Kevin tak perduli soal itu karena ia yakin mereka kenal sebatas kenal sebab Revan adalah dokter di rumah sakit ini, dimana ibu Melia juga dirawat.
"Hm, saya akan tunggu di luar!" ucap Kevin tiba-tiba, dokter Revan yang dilanda kebingungan pun hanya bisa mengangguk.
Perlahan ia mulai mengolesi obat luka lebam di wajah Melia, dari jarak sedekat ini membuat Revan dipenuhi tanda tanya kenapa bisa Melia terluka seperti ini.
"Apa aku boleh tahu, kamu kenapa?" tanya dokter Revan menatap Melia.
"Ini hanya kecelakaan kerja kecil, tolong jangan kasih tau ibu saya, Dok!" pinta Melia, di balik jendela Kevin menperhatikan interaksi mereka, tanpa sadar ia berdecak kesal.
Revan tampak berfikir sebentar, meski diliputi penasaran, dokter tak kalah tampan dari Kevin itu akhirnya mengangguk.
"Sudah, ini resep obatnya. Apa ada luka lain?" tanya Revan.
Melia menggeleng, ia pun permisi.
Baru saja langkahnya sampai di depan pintu, Kevin langsung menariknya.
"Kita kemana?" tanya Melia, Kevin hanya diam.
Bahkan sampai mobil melaju pun Kevin masih sama terdiam.
Hingga mobilnya berhenti tepat di gang masuk depan rumah Melia.
"Aku tak ingin pulang," ucap Melia.
"Kalau mau membohongi ibumu, setidaknya ganti baju dulu!" titah Kevin.
"Kalau begitu, pulanglah aku akan bertemu temanku sendiri!" titah Melia.
"Aku antar sampai depan," ucap Kevin.
"Aku ingin memastikan kau sampai rumah, jika mau ke tempat temanmu jam 8 nanti aku jemput dan aku antar."
Melia mengangguk.
Setelah memastikan Melia masuk ke dalam rumah, Kevin kembali ke dalam mobil dan melesatkan mobilnya untuk pulang.
Sesuai janji, Kevin benar-benar mengantarkan Melia ke kampus dimana temannya itu kuliah.
"Aku harus minta tolong sama Gisell, kalau Hanna tau aku babak belur bisa-bisa dia melapor pada ibu." batin Melia.
Gisell adalah teman sekolah Melia juga Hanna, sejak kecil mereka pernah berjanji akan kuliah sama-sama, sayangnya hanya Gisell yang berhasil kuliah sedangkan Melia harus bekerja menghidupi diri sendiri dan ibunya.
Internasional Modeling School atau IMS, Melia turun dan menghubungi Gisell, mengatakan jika sudah berada di depan kampus. Kevin hanya memastikan Melia benar-benar menemui temannya dari dalam mobil. Setelah melihat sosok perempuan sebaya dengan Melia berlari kecil, ia baru percaya.
"Mel..." Gisell melambaikan tangannya antusias, segera berlari kecil kemudian memeluk Melia.